MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Antara Pemilukada dan Bencana Dalam Bilik Warnet


anfrel
anfrel

Malam ini saya ingin berucap; Persetan dengan Politik Pemilukada! Tadi siang saat mengupdate berita dari lapangan untuk website www.fisip-aceh.com mengenai Pemilukada di Aceh Timur di salah satu warnet yang ada di kampung Rukoh, saya menemukan dalam bilik warnet beberapa anak kecil yang sedang menggunakan satu PC (Personal Computer) untuk online bersama teman-temannya.

Ketika saya bertanya mereka sedang apa, mereka menjawab jika mereka sedang mencari code untuk game Point Blank. Di sdepan PC itu ada 4 orang anak kecil, ketika saya bertanya berapa umur dan dimana mereka bersekolah, satu persatu mereka menjawab; “Saya kelas 2 bang, saya kelas 3, saya kelas 1,” dan yang paling mengejutkan adalah yang menjawab paling akhir, si anak kecil yang gigi depannya ompong itu menjawab jika dia masih TK dan berumur hampir 5 tahun. Saya tidak ingat nama TK yang dia lafalkan, TK nya kalau tak salah bernamakan Islam.

Setelah bertanya kepada mereka, akhirnya mereka bertanya balik ke saya, “abang ini punya poin gak, bagi lah bang, sok kali abang ini lah”. Pertanyaan bertubi-tubi mengenai game mereka lancarkan. Saya tidak banyak menjawab, hanya tersenyum.

Lalu setelah itu saya beralih bertanya ke anak kecil yang masih TK itu tentang apa saja yang mereka lakukan ketika online di warnet. Dengan suara yang besar dan lepas dia menjawab jika kadang-kadang dia dan kawan-kawannya membuka gambar dan menonton video dewasa. Kata si anak TK itu, hal itu diawali ketika kawannya iseng mengetikkan kata-kata di mesin pencari Google. Kawannya itu awalnya mengetikkan kata (maaf) “BH”, sehingga keluar semua content yang berhubungan dengan kata yang mereka ketikkan.

Semenjak kejadian itu mereka sering membuka konten-konten begitu di sela permainan game online mereka.

Mengedngar pengakuan anak-anak kecil yang bahkan masih TK itu mengenai mereka yang begitu mudan dan sudah mengakses konten porno. Di pikiran saya, Pemilukada hari ini sungguh menjadi tak berarti lagi. Persetan dengan Pemilukada. Bagi saya, apa yang dilakukan oleh anak-anak kecil itu, yang saya berbicara dengannya di siang hari tadi sungguh merupakan sebuah duka nan begitu dalam. Hal ini melebihi konflik politik manapun yang sedang kita jalanai dalam beberapa bulan ini.

Siang hari tadi, setidaknya mata saya menjadi terbuka betapa longgarnya dan tak adanya pengawasan orang tua terhadap anak-anaknya. Dengan modal 5.000 rupiah, anak-anak kecil itu bisa bermain game dan mengakses internet selama lebih dari dua jam. Mengakses internet dan bermain game yang sesekali diselingi mengakses konten dewasa yang mereka bahasakan dengan istilah “melihat hal-hal bandot”.

Bagi saya hal ini yang patut direnungkan. Di Banda Aceh ini, ada ratusan anak kecil yang berumur dibawah 10 tahun yang menggilai game online saban hari. Mereka bahkan ada yang TK. Tiap hari dijejali uang jajan oleh ibunya dan mendatangi warung internet untuk melepaskan hajat keinginan bermain game dan mengakses hal yang tak layak mereka dapatkan.

Bagi saya, Pemilukada hari ini adalah pertarungan politik tingkat tinggi nan tak penting. Toh pemimpin baru akan selalu mengalami siklus pembaruan setelah lima tahun berjalan.

Apa yang saya saksikan tadi siang di salah satu bilik warnet yang ada di sudut kota menjadi hal yang sungguh menyedihkan. Kita semua terlalu lalai dengan hajatan politik, pesta demokrasi ini dan itu. Di sisi lain kita malah melupakan jika pengawasan dan pendidikan untuk anak-anak kecil yang ada di lingkungan kita jauh lebih penting dari pemenuhan aspirasi politik yang kita miliki setiap lima tahun sekali.

Mungkin, para pemimpin negeri ini dulunya bisa mengkakses konten dewasa ketika mereka berumur 20 tahun. Lalu ketika berumur dan memangku jabatan maka mereka menjadi pribadi nan korup. Lalu, jika melihat kondisi seperti yang saya lihat tadi siang, dimana anak 5 tahun mampu mengakses konten dewasa dengan bebas ria, apa jadinya nasip mereka 20 bahkan 30 ataupun 40 tahun mendatang? Mau ikutan korup? Bahkan jika kualitas kehidupan masa kecil mereka tak dipedulikan, mereka malah bisa lebih rusak dari para pemimpin saat ini yang hari ini ibu bapak mereka dengan riang gembira mencoblos foto mereka di dalam bilik suara.

Untuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang memiliki anak kecil nan manis dan lucu-lucu yang saban hari menggilai game online di warung internet kesayangan. Hendaknya anda-anda semua bisa membuka mata lebih lebar jika mengawasi anak anda di bilik warnet jauh lebih penting dari sekedar melepaskan hajatan aspirasi politik lima tahunan yang anda lakukan di bilik suara.

Oh ya, bencana politik berada dalam bilik suara ketika anda salah menitipkan aspirasi politik. Dan yang paling penting anda ketahui, kini bencana generasi muda berada dalam bilik internet yang saban hari anak anda akses tanpa lelah.

Persetan dengan Pemilukada hari ini. Persetan dengan ibu dan bapak anak-anak yang tak peduli dan tak mau tahu dengan keberadaan anak-anak kecil mereka yang lalai mengakses konten dewasa di bilik warnet.

Selamat malam.

One comment on “Antara Pemilukada dan Bencana Dalam Bilik Warnet

  1. Hendra Yulisman
    10 April 2012

    Astagfirullah…inilah akibat dari penerapan Islam secara setengah2…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 April 2012 by in Aceh and tagged , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: