MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Tentang Korea, Gangnam Style dan Mau dibawa kemana Hallyu Wave/Korean Wave nantinya.


MadgePSYBeberapa puluh menit yang lalu, di program berita Suara Anda Metro TV yang dipandu oleh Gadiza Fauzi ada salah satu berita yang menarik, berita ini tentang PSY, rapper nyentrik asal Korea Selatan yang terkenal dengan tembang Gamnam Style dan tarian “invisible horse dance” miliknya.

Berita ini berisikan informasi mengenai PSY yang masuk menjadi nominasi “Person Of The Year” majalah Time. Di nominasi tahunan paling prestisius ini, PSY akan bersaing dengan 40 kandidat lainnya, sebut saja Obama, Muhammad Mursi, Marissa Mayer, Michael Phelp dan Malala Yousafzai.

Berita mengenai PSY ini mengingatkan saya pada materi kuliah umum di Pascasarjana IAIN Ar-Raniry tadi siang yang menghadirkan Prof. Shin Sanghyong (Andong National University Korea Selatan) sebagai guest lecturer dengan mengangkat topik “KOREAN WORK ETHICS” sebagai bahasan.

Kuliah umum tadi siang dilaksanakan pukuk 10.30 WIB, di gedung Pascasarjana IAIN Ar-Raniry, acara ini terselenggara atas kerjasama antara ICAIOS, Forum Peneliti Aceh dan Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry.

Ketika membahas tentang bagaimana dan apa yang dimaksud debagai Korean Work Ethics, Prof. Shin memulainya dengan membahas “What Korea Is” terlebih dahulu. Ketika membahas mengenai hal ini, Prof.Shin menanyakan kepada kami apa yang kami pikirkan tentang Korea, dalam satu kata. Beberapa peserta memberikan pendapatnya tentang Korea yang mereka tahu, dari menyebut K-Pop, kemajuan ekonomi, kemajuan budaya dan inovasi.

Dalam pemaparan Prof. Shin tentang Korea Ethics, Prof. Shin terlihat begitu subjektif dalam membahas mengenai negaranya. Bahasan-bahasan awal yang ia bahas meliputi tentang kemajuan ekonomi Korea yang kini pendapatan perkapitanya menyentuh angka 20.000 US$, kemajuan pendidikan dimana lima universitas yang ada di Korea masuk 500 universitas terbaik di dunia dan terakhir mengenai kuatnya posisi perusahan-perusahaan teknologi semisal Samsung yang kini menjadi salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Dalam hal person individu, Prof. Shin mencontohkan keberadaan Ban Kii Moon sebagai Sekjen PBB asal Korea Selatan yang kini memimpin organisasi terbesar di dunia, selain itu Prof.Shin juga tak lupa membahas mengenai fenomena K-Pop yang kini sedang booming di banyak belahan dunia dan juga fenomena gadis-gadis Korea yang katanya cantik-cantik.

Ketika tadi menikmati paparan Prof. Shin yang subjektif mengenai negaranya, saya yang tak begitu setuju dengan pemaparan Prof.Shin yang terlalu subjektif dan berusaha memositifkan Korea dalam kuliah umum itu akhirnya mengajukan pertanyaan ketika sesi pertanyaan dibuka.

Ada beberapa hal yang saya tak sepakat dengan pemaparan Prof. Shin, pertama adakah mengenai judul paparan materi yang ia berikan mengenai Korean Work Ethics, bagi saya judul yang tepat untuk pemaparannya adalah South Korean Work Ethics, toh yang dibahas oleh Prof. Shin kala itu mengenai perspektif work ethic yang dimiliki oleh Korea Selatan, bukan Korea keseluruhan yang meng-include kan Korea Utara.

***

Itu sedikit gambaran mengenai kuliah umum yang saya ikuti tadi siang, akan tetapi kini saya tak ingin membahas mengenai Korea dalam bingkai pemaparan Prof. Shin tadi siang, tapi akan melihat Korea dalam perspektif saya yang non Korea.

***

Beberapa bulan lalu, dalam sebuah pertemuan tingkat nasional di Jakarta, tim Kemkominfo yang menjadi partner terselenggaranya acara itu membawa serta sekitar 15-an mahasiswa Korea Selatan ke pertamuan yang saya hadiri, fisik dari mahasiswa-mahasiswa Korea Selatan itu cenderung lebih tinggi dari apa yang saya bayangkan. Mereka memiliki tinggi badan rata-rata diatas 1,70 centimeter.

Jika kata Prof.Shin di kuliah umum tadi siang para perempuan Korsel cantik cantik, dari 15 anggota rombongan mahasiswa Korsel yang hadir di forum itu, sebagiannya adalah perempuan itu, dan saya tak melihat ada yang cantik dari mereka.

Semenjak berakhirnya perang Korea di tahun 1953 yang pada akhirnya memisah semenangjung korea menjadi Korea Utara dan Selatan, Korea Selatan tumbuh menjadi negara miskin yang dari tahun ketahun semakin maju. Semua ini bermula dari tangan dingin Park Chung-Hee yang mengalirkan modal asing ke perusahaan perusahaan nasional Korsel sehingga melahirkan kedigdayaan raksasa teknologi dan otomotif seperti Samsung, LG, KIA dan Hyundai.

Pertumbuhan ekonomi yang pesat, membuat Seoul yang pada tahun 1970-an berpenduduk lima juta jiwa, di tahun 2000-an kini penduduk Seoul melonjak menjadi 10 juta jiwa. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi berdampak pada peningkatan kualitas hidup 50-an juta masyarakat Korea Selatan. Akibat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, dengan posisi GDP yang menduduki posisi 10 dunia, kini harapan hidup masyarakat Korea Selatan yang dulunya 51 tahun kini meningkat menjadi 79 tahun, lebih tinggi setahun dari tingkat harapan hidup masyarakat Amerika Serikat. Bahkan kini dampak pertumbuhan ekonomi yang melebihi 8 % selama beberapa dekade terakhir juga berdampak pada kualitas pertumbuhan fisik masyarakat Korea Selatan. Anak lelaki Korea masa kini ber­tubuh 15 sentimeter lebih jangkung daripada dulu. Apa yang saya lihat beberapa bulan lalu di Jakarta mengenai rombongan mahasiswa korea yang memiliki tubuh nan tinggi adalah kenyataan akan dampak tingginya pertumbuhan kualitas hidup di Korea Selatan.

Adanya pernyataan dari Prof. Shin yang menyebut gadis-gadis korea cantik-cantik adalah sesuatu hal yang sangat artificial. Kini ditengah boomingnya fenomena K-Pop dan Korean Wave, hal ini menjadikan masyarakat korea selatan berusaha mati matian untuk mewujudkan kersempurnaan invasi budaya yang kini mereka galakkan. Tak perlu heran jika kini korea selatan dijuluki sebagai Republic of Surgery, hal ini diakibatkan oleh tingginya praktik operasi plastik yang dijalani oleh penduduk korea. Kini dipenjuru kota semisal Seoul dan Busan, akan amat mudah ditemui tempat tempat klinik bedah plastik yang akan senantiasa memenuhi harapan masyarakat korea selatan untuk menghadiahkan kepada dunia bentuk korean wave sesempurna mungkin.

Kini invasi budaya korea yang dijuluki Hallyu Wave/ Korean Wave yang berkembang pesat harus dibayar mahal dengan hilangnya esensi mendasar dari nilai nilai yang ada di dalam kehidupan masyarakat korea selatan. Kini ditengah tingginya pertumbuhan ekonomi, tingkat jumlah orang bunuh diri pun juga tinggi di korea. Per 30 menit, satu individu korea melakukan aksi bunuh diri. Tak hanya itu, ditengah semakin tingginya pertumbuhan ekonomi, kini 40-an % masyarakat korea selatan adalah penganut atheisme.

Keberadaan Korean Wave yang begitu berkembang kini menjadikan nilai nilai tradisional yang ada dalam diri masyarakat korea yang dulunya tradisional dan agamis lambat laun semakin hilang. Traditional culture korea selatan kini tergantikan dengan keberadaan pop culture yang semakin digemari di penjuru negeri. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kestabilan politik, kebebasan berekspresi dan berpendapat menjadikan masyarakat korea moderen sama halnya dengan typikal masyarakat barat moderen di belahan dunia berbeda.

Tingginya tingkat bunuh diri di korea menandakan jika tingkat kesejahteraan ekonomi yang mereka miliki tak berbanding lurus dengan tingkat kebahagiaan yang mereka miliki.

Kini, artis artis korea selatan semisal PSY telah menjadi magnet baru dari keberadaan korean wave yang sedang berusaha menginvasi dunia. Di tahun 2010, di laman youtube, pengakses video video musik korea hanya berjumlah 800 juta akses, di tahun 2011 video video musik K-Pop dilihat sebanyak 2,28 milyar sedangkan di tahun 2012, sejak july hingga november saja, video Gangnam Style milik PSY saja telah dilihat sebanyak 840 juta. Vidoe PSY kini menjadi video yang paling banyak dilihat dan di sukai di dunia yang ada di laman youtube. Video musik PSY mampu dilihat sebanyak 840 Juta kali hanya dalam kurun waktu lima bulan, sedangkan video milik Justin Bieber yang sebelumnya menduduki posisi pertama, butuh wakti 3 tahun untuk meraup viewer sebanyak 800 juta.

Kini pertanyaannya adalah, akan kemana Korean Wave nantinya, apakah invasi budaya ala korea ini akan sustainable ataukan akan berhenti pada fase tertentu?

Kini, terlepas dari kesuksesan PSY dengan Gangnam Style-nya, kini banyak pihak yang memprediksi jika fenomena Hallyu Wave/Korean Wave tak akan bertahan lama. Artikel milik KoreaTimes menyebut jika “Enam dari 10 orang asing percaya tren terakhir untuk budaya Korea – K-pop, film dan drama TV – akan menurun selama beberapa tahun ke depan,”

Harapan akan keberlanjutan booming Korean Wave dalam jangka panjang menjadi hal yang amat sulit untuk direalisasikan. Fenomena invasi Korean Wave yang berbasiskan pada produk seni populer semisal musik dan program televisi yang menghadirkan kemasan nan apik sebagai jualan utama pada akhirnya dapat berdampak buruk terhadap perkembangan Korean Wave secara berkelanjutan.

Pola ini amat berbeda dengan invasi budaya yang dihadirkan oleh Amerika Serikat dengan Pop Culturenya, produk budaya yang dihadirkan oleh Amerika memiliki banyak icon yang menguatkannya. Amerika memiliki duta duta budaya yang keberadaan pesona mereka bertahan sepanjang masa. Amerika memiliki Marilyn Monroea, Michael Jakcson, Elvis Presley, Whitney Huston yang walaupun mereka telah tak ada lagi di dunia ini tapi karya karya mereka tetap menjadi duta bagi mesin invasi budaya milik amerika. Dan mirisnya, hal ini tak dimiliki oleh Korean Wave, budaya pop yang berbasiskan pada industri boyband dan girlband atau sinema yang mengelapliotasi kecantikan fisik pada akhirnya berujung dan bertahan hanya dalam tempo waktu tertentu.

Membangun invasi budaya dengan model kemasan budaya yang temporer pada akhirnya semakin cepat mematikan laju invasi budaya tersebut. Dalam sejarah panggung industri pop dunia, keberadaan boyband dan girlband hanya bertahan dalam tempo waktu beberapa tahun, dikarenakan sebab esensi utama dalam keberadaan mereka bukan pada karya tapi pada kemasan yang ada, semisal tampilan fisik dan usia. Sedangkan dalam pola invasi budaya yang dimiliki oleh amerika, karya menjadi penentu, maka jangan heran ketika seniman duta duta budaya Amerika tak ada lagi di dunia, tetap saja keberadaan karya seni mereka menjadi duta budaya yang tak pernah ada matinya.

Kini Korean Wave mendapatkan tantangan yang amat berat kedepan. Jika ingin bertahan dalam skema invasi budaya korean wavenya, Korea Selatan harus membuat rumusan ulang mengenai bentuk ragam icon budaya yang bisa menjadi senjata invasi budaya yang bertahan lama.

Bagi saya, Korean Wave kini hanya bubble culture dan temporary culture, belum bisa suistinable.

*Ditulis dengan ponsel.

One comment on “Tentang Korea, Gangnam Style dan Mau dibawa kemana Hallyu Wave/Korean Wave nantinya.

  1. Ping-balik: 2017 Toyota Land Cruiser Redesign

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 11 Maret 2013 by in Kelas Kuliah, Opinion, Prime.
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: