MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Film dan Rekayasa Filosofi


Film dan Propaganda

‎”Gedung hanya simboI, seoIah-oIah itu aksi meruntuhkan pemerintahan. SimboI-simboI diberi kekuatan oIeh rakyat. Tanpa dukungan rakyat, sebuah simboI tidak berarti.”

Dialog antara Evey dengan V dalam film V for Vendetta tahun 2005 saat Evey bertanya kepada V kenapa ia melakukan aksi perlawanan terhadap pemerintahan Inggris dengan cara meledakkan gedung-gedung pusat pemerintahan.

Ini adalah contoh bagaimana film yang merupakan penjelmaan semiotik akan tetapi turut membahas perihal esensi dan relasi semiotika dalam isi karya visual rekaannya.

Kata seorang teman, setelah release film ini, Evey yang diperankan dengan apik oleh Natalie Portman, aktris lulusan jurusan psikologi Harvard University ini diundang oleh Columbia University, New York, untuk mengisi kuliah umum di Columbia University dengan tema tentang “Kekerasan dan negara”. 

Dalam kultur modern, film atau sering disebut sinema telah menjadi jembatan baru penghubung untuk mendistribusi ide. Dari ide “pemalsuan” kehebatan Rambo di Vietnam, Arab yang penuh dengan terrorist, Korea Utara yang mencekam, Robot-robot Amerika yang menyelamatkan dunia, hingga film G-30-S PKI ala perspektif Soeharto.

Kini film tak hanya berbicara tentang muatan seni visual rekaan belaka, tapi jauh lebih dari itu. Kini film telah membonceng kepentingan banyak hal, dari industri kecanggihan alat teknologi, majunya kualitas pendidikan hingga propaganda suatu negara.

Dalam film Janji Joni (2005), Joni yang saat itu diperankan oleh Nicholas Saputra, dalam suatu dialog pernah berucap sesuatu tentang film. bagi Joni;

“Film mungkin anugrah seni terbesar yang pernah dimiliki manusia – Janji Joni”

Bisa jadi apa yang dikatakan oleh Joni di film Janji Joni itu benar. Toh kini kenyataannya film adalah senjata paling ampuh untuk menciptakan propaganda dan menarik minat massa dibandingkan pengaruh senjata-senjata pemusnah massal manapun.

Film menghadirkan proses pengaburan ide tanpa kita sadari sehingga secara tak sadar kitapun akan serta merta mengikuti.

Dulu ketika masih ada film kenegaraan tentang PKI, maka pikiran kita bekerja untuk menciptakan kesimpulan jika setiap orang yang bersentuhan dengan unsur PKI harus mati!

Apa yang dikatakan oleh Cina, pemeran utama pria dalam film Cin(t)a (2009) bisa jadi benar.

“generasi kita adalah generasi ‚got the philosophy from the movie“

Generasi kita adalah generasi yang menjadikan film sebagai acuan, sehingga terkadang tak memiliki saringan dalam pikirannya untuk memahami yang mana filosofi hasil rekayasa terencana dan mana filosofi yang bermakna kenyataan bermuatan kebaikan yang sesuangguhnya.

2 comments on “Film dan Rekayasa Filosofi

  1. jaka
    14 Juni 2012

    Salam Kenal Ya Untuk Semuanya..🙂

  2. firzakoetaradja
    11 September 2012

    tulisan bagus🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Juni 2012 by in Opinion.
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: