MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Musim Semi di Dunia Tengah (Arab Spring)


arab spring by arabiangazette.com

arab spring by arabiangazette.com

Pukul 4 dini hari tadi, Reuters, AP, BBC, Guardian dan AFP dalam waktu yang hampir bersamaan menurunkan berita perihal kerusuhan pertandingan sepak bola yang menewaskan 75 orang di Mesir. Kerusuhan ini terjadi antara supporter klub Al-Ahly dengan supporter dari klub Al-Masry di stadion Port Said, setelah kemenangan 3-1 Al-Ahly terhadap klub tuan rumah. Saya melihat berita ini melalui update-an berita dari akun official masing-masing raksasa media dunia itu via akun Twitter saya.

Ketika membuka link yang di update oleh Reuters dan AP subuh tadi itu, hal pertama yang terbayang di kepala saya adalah jika berita ini adalah duka nan mendalam bagi warga Mesir yang pada tanggal 25 Januari lalu merayakan 1 tahun revolusi penggulingan Husni Mubarak yang hampir 40 tahun memegang tampuk kuasa di negeri Musa itu.

Dalam video berita yang di rilis oleh media-media besar itu, terlihat orang-orang yang berlarian di tengah lapangan, beramai-ramai turun dari tribun, melakukan baku hantam dan terlihat pihak polisi hanya diam saja tanpa berusaha keras untuk melerai kerusuhan yang terjadi.

Setelah beberapa saat raksasa media seperti Reuters dan AP merilis berita ini, di Youtube, beberapa rekaman tentang video ini sudah banyak yang di upload. Orang-orang merespon dengan berbagai macam komentar. Yang pasti, respon itu kebanyaan berupa perasaan simpati.

Setelah berita ini turun, banyak berita lanjutan yang menyusul. Salah satu isi berita itu menyebutkan jika kerusuhan ini adalah hasil kerja dari kubu yang pernah ditumbangkan demi menciptakan kekacauan baru sehingga membuat pemilu presiden Mesir yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat menjadi ditunda. Berita yang lain lagi menyebutkan kerusuhan ini bertujuan untuk memperburuk kondisi revolusi Mesir.

Bagi saya, melihat kejadian ini, banyak kemungkinan yang bisa diamati. Bisa jadi, ini adalah efek dari transisi kepemimpinan yang ada di Timur tengah. Proses transisi penggantian sistem kepemimpinan di negara yang sebelumnya dikuasai oleh rezim pemerintahan yang otoriter dan berkuasa penuh.

Ini salah satu dari efek fenomena Arab Spring yang melanda Timur Tengah. Tergulingnya Ali Abdullah Saleh di yaman, Ben Ali di Tunisia, Husni Mubarak di Mesir, Muammar Khadafi di Libya dan kini menyusul usaha penggulingan presiden Syria, Bashar al-Assad.

Pasca kehancuran Kekhalifahan Turki Utsmani di tahun 1924 oleh Inggris dan sekutunya, negeri Arab menjadi terpecah belah menjadi puluhan negara-negara kecil. Negara-negara kecil ini terbagi dalam beberapa sistem pemerintahan. Ada yang menganut sistem kerajaan dan sistem pemerintahan republik yang menjadikan presiden sebagai kepala negara.

Namun, pasca kehancuran Utsmani di tahun 1924 itu, keberadaan puluhan negara-negara arab yang memiiki teritori dan kekuatan militer yang kecil itu dijadikan oleh beberapa negara besar sebagai negara “koloni” baru dalam penguasaan sumber daya eknonomi, yaitu energi. Negara-negara besar semisal Amerika Serikat, Inggris, Belanda, dan Prancis saling berbagi kue kekuasaan dalam penggerukan hasil sumber daya alam. Exxon, Mobil Oil, Royal Dutch Shell, British Petroleum, Caltex dan Aramco menjadi penguasa sumber daya alam disana dengan bekerja sama dengan penguasa-penguasa baru jazirah Arab yang sebelumnya telah dipisahkan dengan sengaja dari kekuasaan Kekhalifahan Turki Utsmani/Ottoman.

Kerjasama-kerjasama itu, hingga kini masih berlangsung. Di Saudi misalnya, Abdul Aziz bin Saud dibantu untuk meraih kekuasaan kawasan Hijaz, mengkudeta Syarif Makkah, dan setelah berkuasa, bersama Amerika Serikat membentuk Aramco, yang berkerja sama dengan beberapa perusahaan eksplorasi minyak Amerika untuk mengeksploitsi minyak dari negara penghasil minyak terbesar di dunia itu.

Transisi pemerintahan di Timur Tengah telah berlangsung selama beberapa kali dalam kurun waktu 90 tahun terakhir. Dari awalnya berupa pemisahan dari kekuasaan tunggal Utsmani yang merupakan negara penganut sistem Teokrasi, hingga menjadi diktatorian dan kini berubah menjadi yang disebut transisi menuju negara demokrasi yang lebih modern.

Pola di tahun 1920-an, bisa jadi sama seperti apa yang terjadi di tahun 2010-2011 lalu. Yaitu, dimana revolusi diciptakan oleh suatu kelompok kekuatan negara yang memiliki kepentingan tertentu akan sumber daya tertentu.

Pada akhir kekuasaan Khadafi, share penguasaan minyak di Lybia kebanyakan dikuasai oleh Gazprom Russia dan Petro China. Exxon Mobil, Shell dan BP yang sebelumnya menjadi penguasa, belakangan dikalahkan oleh keberadaan Gazprom dan Petro China.

Cina dan Russia yang kini tergabung dalam Zona BRIC (Brazil, Russia, India, China) adalah negara emerging market yang memiliki kekuatan ekonomi paling kuat saat ini di dunia. Kekuatan ekonomi mereka mengalahkan Amerika Serikat dan Zona Europe. Dari keempat negara zona BRIC ini, kesemuanya memiliki perusahaan eksplorasi minyak dan gas peringkat 10 besar dunia. Jika China dengan Petro China-nya, Russia dengan Gazprom, Brazil dengan Petrobras, maka india memiliki ONGC (Oil & Natural Gas Corporation).

Kini, Petro China adalah perusahaan eksplorasi minyak dan gas nomor 3 terbesar di dunia, disusul oleh Gazprom di posisi 4 dan Petrobras di posisi ke 5. Posisi pertama tetap diduduki oleh Exxon-Mobil milik Amerika Serikat dan peringkat kedua di duduki oleh Royal Dutch Shell milih Belanda yang mewakili Zona Europe. Akan tetapi, dalam posisi market value, Petro China dan Gazprom adalah peringkat kedua dan ketiga dunia, mengalahkan Shell dalam hal market value yang berada di posisi 4.

Industri eksplorasi minyak dan gas bagi negara-negara besar adalah industri yang paling penting. Ini bertujuan untuk mengamankan supply kebutuhan keberlangsungan lini produksi industri dan stabilitas ekonomi yang ada di dalam negeri. Kasus Oil Shock yang melanda dunia di dekade 70-an yang disebabkan oleh ancaman penghentian ekspor minyak oleh Raja Fadh dari Arab Saudi menjadi pelajaran berharga akan penting dan strategisnya keberadaan industri eksplorasi minyak dan gas bagi sebuah negara besar. China, Russia, Brazil dan India adalah negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi dan produksi industri paling tinggi di dunia. Pertumbuhan ini akan selalu berbanding lurus dengan permintaan pemenuhan supply akan energi, yaitu minyak bumi.

Hal ini juga disebabkan oleh besarnya jumlah penduduk yang mereka miliki, sehingga dengan adanya jumlah penduduk yang besar, maka kemampuan untuk penetrasi akan market produk pun begitu tinggi ( jika dilihat dari rasio ekspor yang mereka miliki ). Jumlah penduduk yang begitu tinggi menjadi market yang amat menentukan keberlangsungan ekonomi negara zona BRIC.

Kenyataannya, kini dari total penduduk empat negara zona BRIC ini saja, jumlah total penduduk mereka sudah hampir menyentuh angka 50 % total penduduk dunia yang di 2011 menyentuh angka 7 milyar jiwa. Hal ini menjadi alasan kuat bagaimana keempat negara ini menempatkan industri eksplorasi minyak dan gas mereka sebagai industri utama negara selain industri Banking. Karena keberadaan industri minyak dan gas mereka ini adalah penentu supply energi dari total keseluruhan lini produksi bagi 3 milyar penduduk yang ada di zona BRIC (Brazil, Russia, India, China).

BRIC adalah zona ekonomi yang begitu kuat dan dengan cakupan pasar paling besar. Zona ini tidak begitu terpengaruh dengan keberadaan resesi ekonomi yang melanda Amerika Serikat ataupun zona Europe. Kekuatan ekonomi domestik yang begitu kuat menjadikan zona ini menjadi zona yang susah untuk disusupi oleh lini industri atau unit usaha dari beberapa negara kuat lainnya. Kini, Brazil, Russia, India dan China adalah negara dengan kekuatan ekonomi 10 besar dunia. Bahkan China kini berada di posisi kedua kekuatan ekonomi dunia, dibawah Amerika Serikat.

Dalam hal politik minyak, keberadaan industri minyak dan gas dari negara BRIC begitu mengancam zona Europe dan Amerika. Industri minyak dan gas di zona BRIC begitu tertutup, karena kuota yang mereka hasilkan hanya cukup diperuntukkan untuk memasok energi bagi 3 milyar jumlah penduduk di zona mereka, BRIC. Hal ini tentu dapat mengancam kelangsungan ekonomi dari zona negara maju lain yaitu Zona Europe dan Amerika.

Kini data statistic U.S. Energy Information Administration menyebutkan jika Amerika Serikat adalah negara dengan tingkat konsumsi minyak tertinggi di dunia, yaitu 19.5 juta barel per hari dari total konsumsi minyak dunia yang mencapai 87 juta barel per harinya di tahun 2010. Jika dikonversikan dalam persen, maka angka ini membuktikan jika Amerika Serikat adalah pengkonsumsi 23 % dari total keseluruhan produksi minyak dunia dalam sehari.

Di bawah Amerika menyusul Cina dengan konsumsi minyak yang mencapai 7,8 juta barel per hari. Untuk China, konsumsi minyak sebesar 7,8 juta barel per hari adalah suatu kewajaran, mengingat Cina kini menjadi pusat relokasi industri negara-negara maju yang menjadi korban resesi ekonomi. Pun secara statistik jumlah penduduk, Cina adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, yaitu sebanyak 1,4 milyar jiwa.

Jika melihat rasio produksi minyak dunia, Arab Saudi sebagai negara penghasil minyak bumi tertinggi di dunia hanya sanggup menghasilkan 10,6 juta barel minyak bumi perhari. Jika keseluruhan total produksi minyak Arab Saudi itu di ekspor hanya untuk Amerika Serikat saja, maka keseluruhan total produksi minyak Arab Saudi hanya mampu memenuhi 55 % supply kebutuhan Minyak Amerika Serikat dalam sehari.

Kalkulasi ini menjelaskan jika untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negerinya saja, Amerika Serikat membutuhkan supply minyak dari puluhan negara lainnya untuk tetap bisa mempertahankan proses produksi yang ada di negerinya. Kenyataan ini mengharuskan negara seperti Amerika, mau tidak mau harus berusaha bekerja sama ataupun memaksakan kekuasaannya (dengan cara apapun) terhadap negara lain untuk bisa mengeruk hasil produksi minyak untuk mampu memenuhi kebutuhan minyak yang mencapai 20 juta barel perharinya itu. Termasuk upaya “Blood for oil”, seperti yang kini terjadi di beberapa negara Jazirah Arab.

Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki produksi minyak 1,1 juta barel per hari dengan tingkat konsumsi minyak yang juga berkisar 1 juta barel perhari. Amerika 20 kali lebih banyak membutuhkan pasokan minyak perharinya untuk melancarkan kehidupan setiap lini di negara itu.

Kembali mengenai perihal transisi politik di Timur Tengah. Bisa di asumsikan transisi politik yang ada di sana masih sama keadaannya seperti pada masa awal tahun 1920-an yang lalu. Jika yang terjadi pada awal abad 20 itu dipicu oleh kehadiran Revolusi industri di abad 17-18 di Eropa yang melahirkan fenomena modernisasi industrialisasi lini produksi dan ekonomi, karena banyaknya lini usaha yang membutuhkan pasokan minyak untuk bisa berproduksi. Bisa jadi yang terjadi di Timur Tengah kini sama seperti yang terjadi pada awal abad 20 lalu, yaitu transisi politik dipicu oleh tingginya permintaan terhadap pemenuhan akan unsur energi dalam industri dan ekonomi.

lalu bagaimana relasinya dengan Mesir?. Dalam hal oil economic ataupun oil politic, mesir tidak memiliki pengaruh yang kuat dalam hal ini. Dalam sehari Mesir hanya mampu menghasilkan minyak sebanyak 667 ribu barel. Sedangkan Syria dan Yaman hanya mampu memproduksi minyak dibawah 500 ribu barel per harinya.

Dalam hal ini, melihat proses transisi politik di Mesir, memiliki kemunhkinan jika ini memang terjadi karena efek dari kulminasi dari tekanan akan keberadaan sebuah rezim represif yang terlalu lama berkuasa.

Tekanan yang begitu lama ini pada akhirnya hanya membutuhkan sedikit pemicu untuk mampu meledak dan melahirkan keriuhan dan histeria massa dalam bentuk revolusi. Masalahnya kini, bagaimana barat dan media massanya mengalihkan makna dari revolusi ini menjadi makna akan harapan dan keinginan masyarakat terhadap kehadiran sistem demokrasi di Timur Tengah. Revolusi ini digaungkan kepada seluruh dunia sebagai bentuk kerinduan akan demokrasi.

Hal ini pada akhirnya membentuk opini umum dari kalangan dunia internasional jika pasca transisi politik, hal yang harus dilakukan adalah bagaimana menciptakan culture demokrasi dalam sistem politik masyarakat Timur Tengah. Negara-negara Eropa dan Amerika menjadi penentu akan keberlangsungan ini. Opini akan demokrasi yang seperti apa ditentukan oleh seperti apa Amerika dan Eropa memandang demokrasi itu sendiri.

Demokrasi menjadi celah untuk dapat ikut campurnya beberapa negara besar dalam konflik transisi politik Timur Tengah.

Kembali ke perihal berita kematian 70-an suporter di kerusuhan sepak bola Mesir. Kejadian ini bisa dikatakan adalah buntut dari revolusi yang belum selesai. Ketidakjelasan pemerintahan, euforia kemenganan yang tak terkendali, struktur sosial yang berantakan menjadikan masyarakat cenderung berpikir instan dalam melakukan sesuatu hal. Kejadian ini juga mewakili gambaran apa-apa yang terjadi di Yaman, libya dan Syria yang menjadi objek Arab Spring.

Kemarin (1/2), Desi Fitriani, wartawan Metro TV yang kini sedang berada di Timur Tengah, melaporkan dari Sana’a (Yaman) mengenai betapa mudahnya untuk mendapatkan senjata api di sana. Dalam laporan itu, Desi melaporkan jika dengan uang sekitar 6 hingga 9 juta rupiah saja, seorang warga Yaman dengan mudah bisa mendapatkan senjata sejenis AK-47. Bahkan menurut laporan Desi itu, setiap warga laki-laki Yaman memiliki senjata, ada yang memiliki satu hingga tiga senjata jenis Avtomat Kalashnikova (AK).

Desi melaporkan berita ini secara langsung dari Sana’a
dimana semua orang yang berada di dekatnya ketika menyiarkan laporan itu menenteng satu persatu senjata AK buatan Russia ataupun Cina.

Laporan Desi dari Sana’a, Yaman itu menjadi gambaran bagaimana kondisi pasca revolusi yang ada di sana. Kini, euforia kelanjutan dari revolusi yang belum selesai menimbulkan masalah baru tersendiri bagi negara-negara yang disinggahi musim semi Arab (Arab Spring).

Di Mesir misalnya, ketika lebih dari setahun ini masyarakat sudah terbiasa melakukan protes, melakukan bentrokan dan kemudahan akses senjata dalam melakukan advokasi terhadap sesuatu hal, maka hal itu lambat laun akan berlanjut menjadi masalah sosial baru yang bisa jadi jauh lebih besar jika instrumen politik dan struktur sosial yang ada di sana belum juga diperbaiki dan berjalan secara normal.

Masyarakat Mesir kini adalah masyarakat yang begitu merdeka, yang lepas dari kukungan otoritarianisme rezim Husni Mubarak yang begitu represif dan mengekang. Kerusuhan di pertandingan sepakbola ini bisa menjadi salah satu implikasi dari kebebasan tak terkontrol yang dihasilkan oleh sebuah revolusi.

Di Guatemala, konflik yang terjadi sejak dekade tahun 1960-an (yang diciptakan oleh Amerika Serikat) menyebabkan terciptanya pola kehidupan masyarakan yang bisa dikatakan mencintai kekerasan. Walaupun konflik ini bisa diredakan, tapi karena tak terselesaikannya rekonsiliasi politik antara pihak yang berkonflik dengan masyarakat, menyebabkan terbentuknya pola kehidupan masyarakat yang begitu keras.

Hal ini terjadi karena ranah perdamaian yang diusahakan oleh dunia international dan PBB atas konflik di Guatemala hanya dikhususkan untuk memediasi lini instrumen politik tingkat tinggi (High Politic), tapi tak menyentuh usaha-usaha untuk mendamaikan dan menenangkan masyarakat yang terlibat langsung dan menjadi korban dari konflik itu sendiri (Low Politic). Di dekade tahun 2000-an saja, ada ratusan bahkan ribuan perempuan Guatemala yang menjadi korban pembunuhan dari kalangan masyarakat yang belum pulih dari trauma konflik yang dialami sebelumnya.

Trauma akan konflik yang tak terselesaikan menyebabkan adanya pengulangan kejadian serupa pada waktu-waktu berikutnya. Yang terjadi di Guatemala, bisa jadi sama seperti apa yang terjadi di Mesir. Masyarakat menjadi liar dan susah dikendalikan diakibatkan oleh belum adanya rekonsialiasi akibat konflik yang selesai yang mampu memberikan ketentraman bagi semua pihak.

Dalam beberapa kasus. Negara-negara besar selalu menggunakan instrumen konflik untuk mengukuhkan hegemoni kekuasaan. Konflik adalah salah satu cara paling ampuh untuk dapat ikut mencampuri situasi politik negara tertentu.

Terlebih seperti Mesir, yang beberapa waktu lalu Pemilu parlemen yang mereka laksanakan dimenangkan oleh 40% dari perwakilan kekuatan politik Islam Ikhwanul Muslimin yang bagi banyak negara barat dianggap kelompok Islam Radikal dan bisa dianggap begitu mengancam keberadaan mereka untuk selalu bisa memperngaruhi Mesir sebagai negara pemegang otoritas kekuatan politik terbesar Timur Tengah.

Menguasai Mesir berarti menguasai Timur Tengah. Dan mungkin, baiknya Timur Tengah juga ditentukan oleh baiknya Mesir.

Kita tunggu saja perkembangan terbaru dari Musim Semi, Arab Spring.

Muda Bentara

February 2, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: