MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Dari Golkar hingga NasDem; Fragmen-Fragmen Politik Surya Paloh Dan Obsesi Kekuasaannya.


suryapalohSejak awal dekade 1970-an, Golongan Karya (Golkar) adalah partai yang mendapatkan dukungan penuh  dari penguasa Orde Baru, yaitu Soeharto. Hal ini terlihat dari kebijakan yang dikeluarkan oleh rezim Orde Baru berkenaan dengan aturan Monoloyalitas yang “mewajibkan” Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk menyalurkan aspirasi politiknya kepada Partai Golkar.

Kebijakan monoloyalitas ini pada akhirnya menjadi salah satu hal utama yang mengantarkan Golkar sebagai pemenang rentetan periode Pemilu di Indonesia, sejak tahun 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, hingga pemilu tahun 1997.

Sejak mundurnya Soeharto selaku presiden Republik Indonesia pada 21 Mei 1998 setelah 32 tahun memegang tampuk kekuasaan. Di setiap pemilu setelah turunnya Soeharto, suara Golkar dalam setiap pemilu menjadi semakin tidak stabil, cenderung fluktuatif dan tak lagi menjadi pemenang tetap seperti di beberapa periode sebelumnya.

Di pemilu pertama pasca turunnya Soeharto yaitu pada tahun 1999, di pemilu yang dilaksanakan di masa pemerintahan Presiden BJ. Habibie, Golkar menduduki peringkat kedua perolehan suara, berada dibawah PDI Perjuangan pimpinan Megawati Soekarno Putri yang menjadi pemenang pemilu tahun 1999.

Di tahun 2004 ketika sistem pemilihan umum presiden Indonesia yang bersifat langsung mulai diterapkan, peruntungan Golkar kembali membaik. Di tahun 2004 Golkar kembali melejit menjadi pemenang pemilu legislatif, akan tetapi di pemilu eksekutif calon presiden yang diusung oleh Partai Golkar kalah telak dari calon yang diusung oleh partai baru yang bernama Partai Demokrat yang saat itu mengusung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla (JK kader Golkar tapi keberadaanya sebagai Cawapres SBY saat itu tak didukung Golkar) sebagai capres dan cawapres.

Ada hal menarik yang dilangsungkan oleh Partai Golkar yang saat itu diketuai Akbar Tanjung di penghujung tahun 2003. Di tahun 2003 itu, untuk pertama kalinya Golkar menyelenggarakan konvensi pemilihan calon presiden yang akan mereka usung menjadi presiden Republik Indonesia. Di konvensi terbuka itu ada beberapa nama petinggi Golkar yang muncul ke lantai bursa konvensi calon presiden partai beringin ini. Mereka-mereka diantaranya adalah Akbar Tanjung, Wiranto, Aburizal Bakrie, Surya Paloh, dan Prabowo Subianto.

Konvensi yang dilangsungkan Rabu, 21 April 2003 ini memakan waktu dua putaran. Di putaran pertama Akbar Tanjung mengungguli keempat calon lainnya. Di putaran pertama konvensi calon presiden itu Akbar Tanjung memperoleh 147 suara, Wiranto (137), Aburizal Bakrie (118), Surya Paloh (77), dan Prabowo Subianto (30).

Perolehan suara di putaran pertama ini menghasilkan dua calon yang akan bertarung di putaran kedua dan kedua calon itu adalah Akbar Tanjung dan Wiranto, sebagai dua calon dengan suara tertinggi. Akan tetapi di pemilihan putaran kedua, komposisi suara malah berbalik, jika di putaran pertama Akbar unggul memperoleh raihan suara di urutan pertama, maka di putaran kedua Wiranto mampu mengungguli Akbar dengan raihan suara sebanyak 315 suara dan Akbar Tanjung meraih 227 suara.

Dengan kemenangan di putaran dua konvensi ini, Wiranto terpilih menjadi calon presiden yang diusung oleh Partai Golkar yang di tahun 2004 ia berpasangan dengan Solahuddin Wahid (adik kandung Gusdur, kini ia menjadi pengasuh pesantren Tebuireng) sebagai cawapres.

Setahun berselang, di penghujung tahun 2004, tepatnya tanggal 19 Desember, di Musyawaran Nasional (Munas) ke-7 Partai Golkar yang dilangsungkan di Nusa Dua Bali, Jusuf Kalla yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang juga fungsionaris Golkar, di Munas itu Jusuf Kalla terpilih sebagai ketua umum Golkar untuk periode 2004-2009. Dalam pemilihan ketua umum di munas Golkar ke-7 itu, Jusuf Kalla meraih 323 suara, jauh meninggalkan Akbar Tanjung yang hanya mampu meraih 156 suara. Kemenangan Jusuf Kalla di munas Golkar ini menjadikan ia penguasa partai pemenang pemilu legislatif 2004 yang memegang masa jabatan dari 2004 hingga 2009.

Ketika Jusuf Kalla terpilih sebagai Ketua Umum Golkar untuk periode 2004-2009, ia memberikan posisi ketua Dewan Penasehat Partai Golkar kepada Surya Paloh, fungsionaris Golkar yang di tahun 2003 hanya mampu meraup 77 suara di putaran pertama konvensi calon presiden Republik Indonesia dari Partai Golkar.

Status sebagai partai pemenang pemilu legislatif di tahun 2004 ternyata tak berlanjut di pemilu legislatif dan pemilu presiden tahun 2009. Di tahun 2009 peruntungan Golkar kembali diuji, di pemilihan legislatif tahun 2009, Golkar hanya mampu menduduki peringkat dua perolehan suara legislatif terbanyak, berada dibawah perolehan suara Partai Demokrat yang menjadi pemanang pemilu Legislatif 2009.

Sebelum pemilu tahun 2009, beberapa petinggi Golkar membuat beberapa manuver politik. Dua orang kader senior Golkar yang belatar belakang militer dan jenderal lapangan menggagas pembentukan dua partai baru.

Seorang Jenderal bintang empat yaitu Wiranto yang juga mantan Panglima ABRI dan mantan calon presiden yang diusung Golkar tahun 2004, pada 14 November 2006 Wiranto mendirikan partai baru yang diberi nama Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat) dan seorang jendral lagi yaitu Letnan Jendral Prabowo Subianto mendirikan Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya) pada 6 Februari 2008.

Pada pemilu legislatif tahun 2009 kedua partai yang didirikan oleh dua mantan kader senior Golkar ini sama-sama mampu meraih suara diatas 3%, dengan total kursi di DPR RI yang diraih Hanura sebanyak 18 kursi dan Gerindra sebanyak 26 kursi legislatif.

Di penghujung tahun 2009 (07 November), setelah pelaksanaan tahapan pemilu legislatif, Golkar melaksanakan Musyawarah Nasional untuk memilih ketua umum baru di Riau. Jusuf Kalla yang sebelumnya menjabat sebagai ketua umum Golkar dari tahun 2004 hingga tahun 2009 dan baru saja kalah dalam pemilu presiden 2009 (berpasangan dengan Wiranto, diusung Golkar dan Hanura) tak mencalonkan diri lagi untuk maju di pemilihan ketua umum Golkar periode kedua.

Pada Munas Golkar tahun 2009, ada beberapa nama calon yang mengemuka ke permukaan, calon-calon itu adalah Surya Paloh (sebelumnya ia ketua Dewan Pembina Partai Golkar di masa Jusuf Kalla), Aburizal Bakrie (Saat itu Menko Kesra) Yudi Chrisnandi (kader muda Golkar) dan Tommy Soeharto, anak mantan penguasa Orde Baru yang saat itu baru bebas dari penjara.

Pertarungan perebutan jabatan ketua Umum di Munas Golkar tahun 2009 saat itu sebenarnya adalah perseteruan perebutan kekuasaan antara Aburizal Bakrie dan Surya Paloh dan pertarungan gengsi antara Jusuf Kalla dan Akbar Tanjung.

Saat itu Surya Paloh didukung oleh Jusuf Kalla (karena pada periode kepengurusan Kalla, Surya Paloh adalah Ketua Dewan Penasehat Golkar) dan Aburizal Bakrie didukung oleh seteru Jusuf Kalla yang ia kalahkan di munas 2004 di Nusa Dua Bali yaitu Akbar Tanjung.

Munas Golkar yang saat itu dilaksanakan di Pekanbaru Riau akhirnya dimenangkan oleh Aburizal Bakrie yang meraih 296 suara dari 537 total suara, sedangkan Surya Paloh meraih 240 suara. Aburizal Bakrie mengungguli Surya Paloh dengan 56 suara lebih tinggi, sedangkan Yudy dan Tommy dalam pemilihan itu tak meraih satu suarapun.

Pasca kemenangan Aburizal Bakrie di Munas Golkar tahun 2009, di tahun 2010, tepatnya tanggal 1 Februari 2010, Surya Paloh menggebrak panggung dinamika politik Indonesia dengan membuat dan menginisiasi gerbong politik baru, ia dengan mengajak puluhan tokoh dan politisi nasional mendeklarasikan sebuah organisasi masyarakat (ormas) yang diberi nama Nasional Demokrat. Entah sengaja atau kebetulan, logo ormas yang didirikan oleh Surya Paloh yang menggandeng Sri Sultan Hamengkubuwono X (fungsionaris Golkar) sebagai salah satu ketua ini memiliki kemiripan warna dengan logo Metro TV, stasiun TV berita milik Surya Paloh.

Berbulan-bulan Surya Paloh membesarkan ormasnya dengan berorasi dari satu panggung ke panggung yang lain, puluhan DPW Ormas Nasional Demokrat ia dirikan, ratusan DPC berdiri se-Indonesia hanya dalam jangka waktu tak sampai dua tahun, dengan slogan “Restorasi Indonesia,” ia menjadikan Nasional Demokrat sebagai ormas baru yang begitu populer.

Tentu ada hal menarik dibalik pendirian Ormas Nasional Demokrat ini, ketika mendirikan ormas ini disinyalir Surya Paloh harus menguras kocek begitu dalam hingga harus memecat 198 karyawan Hotel Papandayan yang ia miliki di Bandung berhubung sebagian dana operasional lini bisnisnya itu ia alihkan untuk mensubsidi ormas baru yang ia dirikan.

Setahun berlangsung, akhirnya kekompakan Surya Paloh dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X akhirnya retak di tanggal 6 July 2011, di tanggal itu Hamengkubuwono yang juga pendiri Nasional Demokrat memutuskan mundur sebagai pengurus Nasional Demokrat. Mundurnya Hamengkubuwono X dikarenakan ia yang kecewa karena Nasional Demokrat berubah menjadi partai politik yang tentunya akan berorientasi kepada kekuasaan. Setelah mundur dari ormas Nasional Demokrat, Hamengkubuwono aktif kembali menjadi fungsionaris Partai Golkar dibawah kepimimpinan Aburizal Bakrie.

Tepat seperti apa yang dikatakan Sultan, pada tanggal 26 July 2011, Partai NasDem (Nasional Demokrat) resmi lahir sebagai partai politik baru.

Menariknya, ketika Partai NasDem lahir, Surya Paloh yang sebelumnya mengatakan jika Ormas Nasional Demokrat yang dipimpinnya tak ada kaitannya dengan Partai NasDem malah menduduki jabatan Ketua Majelis Tinggi Partai NasDem. Jabatan sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai NasDem itu ia semat ketika pada tanggal tanggal 7 September 2011 ia memutuskan keluar dari Partai Golkar setelah selama 43 tahun aktif di Partai berlambang beringin itu.

Dalam pendeklarasian partai politik baru ini, Surya Paloh menggandeng Patrice Rio Capela (hal ini diakui oleh Capela mengenai Paloh yang memberinya amanah sebagai Ketua Partai NasDem pertama), mantan politisi Partai Amanat Nasional asal Bengkulu. Di Bengkulu, Patrice pernah menjabat sebagai ketua DPW PAN.

Pada tanggal 9 Oktober 2011, empat bulan setelah pendirian Partai NasDem, Hary Tanoesoedibjo, CEO Global Mediacom (induk MNC Group) bergabung dengan Partai NasDem dan dipercaya sebagai Ketua Dewan Pakar Partai NasDem.

Akan tetapi, tak sampai sebulan setelah satu-satunya partai baru yang lolos verifikasi KPU ini meraih nomor urut 1 di pemilu 2014, pada tanggal 20 Januari 2013, Hary Tanoesoedibjo sang Ketua Dewan Pakar yang telah bergabung selama 14 bulan di Partai NasDem ini akhirnya memutuskan mengundurkan diri dari Partai NasDem. Mundurnya Hary Tanoe ini diikuti oleh Ahmad Rofiq (Sekjen Partai Nasdem), Saiful Haq (Waseksen Partai NasDem) dan seorang ketua internal Partai Nasdem.

Mundurnya Hary Tanoe, dalam penjelasannya saat menggelar konferensi pers di tanggal 20 Januari 2013 itu disebabkan karena Surya Paloh yang ingin mengambil alih jabatan Ketua Partai NasDem dari Patrice Rio Capela, sedangkan Hary bersikeras ingin mempertahankan kepengurusan Partai NasDem yang ada saat itu, yang menurutnya akan lebih baik jika partai yang 70% kadernya adalah politisi muda ini dipimpin oleh Patrice dan bukannya kaum tua (Paloh).

Sebelum mundurnya Hary Tanoe, gencar tersiar kabar jika di internal Partai NasDem telah terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu pendukung Surya Paloh dan kubu pendukung Hary Tanoe. Disinyalir perpecahan itu terjadi karena Hary Tanoe juga berkeinginan untuk menjadi calon ketua Partai NasDem yang pada tanggal 25 January 2013 akan melakukan Musyawarah Nasional (Kongres). Perpecahan ini diawali dengan pemecatan sekjen organisasi sayap Partai NasDem, yaitu Garda Pemuda NasDem, pemecatan Sekjen Garda Pemuda NasDem, Saiful Haq, disinyalir karena ia telah melakukan tindakan insubordinasi yang berupaya mendukung Hary Tanoesoedibjo sebagai calon ketua Partai NasDem.

Mundurnya Hary Tanoe pada akhirnya makin memuluskan rencana Surya Paloh untuk mengambil alih jabatan Ketua Umum Partai NasDem dari Patrice Rio Capela. Akan tetapi, kemunduran Hary Tanoe juga berdampak negatif terhadap sumber daya media publikasi yang dimiliki Partai NasDem.

Saat Hary Tanoe masih bergabung di Partai Nasdem, jumlah spot iklan politik Partai NasDem di jaringan televisi milik Hary Tanoe (MNC Group), perbulannya bisa mencapai ribuan iklan, akan tetapi ketika Hary Tanoe keluar dari Partai NasDem, semua tayangan iklan politik Partai NasDem di jaringan televisi terbesar di Indonesia ini otomatis dihentikan oleh Hary Tanoe. Kontribusi Hary Tanoe terhadap belanja iklan Partai NasDem ini terlihat dalam rilis riset Niesen tahun 2012, dimana NasDem disebut melakukan belanja iklan sebanya 425 milyar rupiah selama periode tahun 2012, dimana total belanja itu tersebar sebagian besar di jaringan televisi milik Tanoe.

Pada musyawarah nasional pertama (konggres) Partai NasDem yang dilangsungkan pada tanggal 25-26 January 2013, Surya Paloh secara aklamasi terpilih sebagai ketua umum Partai NasDem untuk periode tahun 2013-2018. Kongres yang dilangsungkan di Jakarta Convention Center (JCC) ini menghadirkan 5000 peserta. Dalam sambutannya, Patrice Rio Capela selaku Ketua Partai NasDem sebelumnya memaparkan bagaimana kronologi terbentuknya Partai ini dan peralihan suksesi yang akan dan sedang terjadi, dalam pidatonya itu, Patrice berucap;

“Dahulu Bapak Surya Paloh yang memberikan mandat untuk membangun partai ini kepada saya, dan sekarang mandat itu saya kembalikan kepada beliau selaku orang yang telah mengamanahkan.”

Semenjak terpilih sebagai ketua Partai NasDem, maka lengkap sudah pencapaian hasrat politik Surya Paloh yang telah ia bangun selama hampir 50 tahun berkarir di dunia politik, sejak bergabung bersama Sekber Golkar di tahun 60-an, ketika saat itu Golkar masih berupa ormas dan belum bertransformasi menjadi partai politik.

Mungkin, menjadi ketua Partai NasDem hampir menyempurnakan perjalanan karir obsesi politik putra Aceh ini, dari menjadi peserta konvensi calon presiden dari Golkar tahun 2003 (walaupun kalah), menjadi Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar 2004-2009 (partai pemenang pemilu legislatif 2004) , menjadi calon Ketua Umum Golkar di tahun 2009 (kalah dari Aburizal Bakrie), mendirikan dan menjadi ketua ormas (Nasional Demokrat), menjadi Ketua Dewan Pakar Partai NasDem dan terakhir menjadi Katua Partai NasDem.

Surya dan Golkar adalah symbol obsesi akan politik di negeri ini. Jika Surya adalah pelakonnya, maka Golkar adalah filmnya. Golkar sebagai kesatuan dan Surya sebagai fragmen dan sempalan yang selalu berpotensi membahayakan.

***


*Ditulis dengan ponsel pada 28 Januari 2013, berteman film Transformer dan bubur jagung.

8 comments on “Dari Golkar hingga NasDem; Fragmen-Fragmen Politik Surya Paloh Dan Obsesi Kekuasaannya.

  1. Ping-balik: Fragmen-Fragmen Politik Surya Paloh dan Obsesi Kekuasaannya

  2. Fazlun Hasa
    21 April 2014

    Relasi Oms

  3. nandegaonlinestore
    22 April 2014

    SuryaPaloh dan HaryTanu, yang satu founding father, yang satu donator >.<, lagi ribut siapa yg paling penting…

    Jual sepatu lokal Bandung original,FREE ongkir pulau Jawa. DISKON setiap hari.BBM: 75570084 , Whatsapp: 085727336911.

    http://sepatulokalbandung.wordpress.com/
    http://nandegastore.blogspot.com/

    BANGGA DENGAN PRODUK DALAM NEGERI

  4. nandegaonlinestore
    9 Mei 2014

    Nitip jemuran ya kak :
    Barang kali membutuhkan Jasa Edit Foto, Edit Background, Rekonstruksi Foto dll.
    Kunjungi saya disini.

    http://kask.us/hDQ66
    http://himbolicious.blogspot.com/2014/05/jasa-edit-foto-edit-background.html

    terimakasih

  5. Martha Andival
    23 Mei 2014

    Tulisan Muda makin lama makin “berat”

    Hehehe

    • Monza Aulia
      21 Juni 2014

      Kalau ngga berat bukan mudabentara namanya😀

  6. Ping-balik: 2017 Toyota Land Cruiser Redesign

  7. Ping-balik: Brother MFC-J450DW Driver Download - Printer Driver

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: