MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Bahasa Yang Masih Muda


bahasa

bahasa

Lambat laun, jika tak bisa dikatakan punah, maka Bahasa Indonesia yang kita gunakan kini akan segera melemah dan kelamaan akan mati suri. Kini, Bahasa Indonesia telah “dikudeta” oleh berbagai ragam gaya bahasa baru yang menumpang hidup dalam khazanah Bahasa Indonesia.

Kini, para peneliti luar negeri lebih banyak tertarik untuk datang ke Malaysia dan mempelajari Bahasa Malaysia dan sastera Melayu di sana. Kita tak bisa memungkiri jika Bahasa Indonesia ini memang sebuah Bahasa Baru. Keberadaannya mungkin tak lebih 100 tahun, atau bisa jadi belum mencapai 100 tahun.

Bagunan Bahasa Indonesia saat ini adalah bangunan dari Bahasa Melayu yang diubah dan disesuaikan dengan macam keragaman bahasa yang ada di Indonesia. Bahasa Melayu yang sebelumnya hanya mengadopsi pemahaman dari khazanah dunia Melayu, di Bahasa Indonesia diubah menjadi sesuatu yang baru. Disesuaikan dengan banyak gaya serapan bahasa baru.

Bahasa Indonesia ketika keluar dari pakem Bahasa Melayu, mengadosi banyak kata dari ratusan bahasa lainnya yang ada di Indonesia ataupun luar negeri. Untuk tak menjadikan Bahasa Indonesia dominan Melayunya, maka hal ini perlu dilakukan. 400-an bahasa yang ada di Indonesia sedikit banyak turut menyumbangkan sepatah-dua patah kata terhadap Bahasa Indonesia.

Mungkin tak salah jika banyak peneliti yang lebih tertarik untuk mengkaji Bahasa Malaysia dibandingkan Bahasa Indonesia. Bahasa Malaysia adalah bahasa rumpun Melayu yang masih lumayan asli, termasuk bahasa yang lumayan tua. Dan Bahasa Melayu adalah induk dari Bahasa Indonesia.

Indonesia kini meletakkan Bahasa Melayu sebagai sebuah bahasa milik salah satu suku bangsa yang berdomisili di Indonesia, diantara ratusan suku bangsa lainnya. Indonesia mereduksi Bahasa Melayu menjadi bahasa sebuah suku bangsa, sehingga keberadaannya sama seperti ratusan yang lain.

Pada awalnya, hal ini dilakukan sebagai tujuan penyatuan dari keragaman yang dimiliki oleh banyak suku yang mendiami ribuan pulau di Indonesia ini. Bahasa Melayu diangkat dan diadopsi menjadi bahasa nasional yang bisa dijadikan pemersatu.

Tapi, lambat laun, keberadaan Bahasa Melayu dikembalikan lagi sebagai bahasa sebuah suku bangsa ketika Bahasa Indonesia yang notabene adalah Bahasa Melayu telah begitu kuat membangun eksistensinya ketika banyak menerima dan melakukan pengadopsian suku kata bahasa lain. Dalam hal ini, Bahasa Melayu awalnya digunakan sebagai sarana untuk mempererat bangunan nasionalisme dari sebuah komunitas yang memimpikan negara yang satu.

Malaysia berbeda dengan Indonesia. Bangunan kenegaraannya tak didasari atas keberadaan ratusan suku bangsa seperti Indonesia. Keberadaan Malaysia yang dominan akan suku Melayu menjadikan pemerintah Malaysia dengan mudah dalam menerapkan “politik bahasa”. Bahasa Melayu diadopsi sebagai bahasa yang paling utama, walaupun kemudian Bahasa Melayu namanya diubah menjadi Bahasa Malaysia.

Akan tetapi, melihat Malaysia adalah melihat Melayu. Melihat bahwa Malaysia adalah negara yang masih kuat memegang akar budaya. Setidaknya hingga kini mereka masih memiliki institusi kerajaan dalam memelihara adat istiadat, termasuk khazanah bahasa.

Keberadaan Bahasa Melayu yang lumayan tua, politik bahasa yang kuat, keberadaan Melayu sebagai mayoritas dan kesadaran pemerintah akan pentingnya menjaga eksistensi bahasa dalam menyiapkan pertarungan dalam kancah global, menjadikan Malaysia menjadi lebih unggul dari Indonesia dalam memmerlakukan bahasa nasional yang dimiliki.

Kini, jangan heran jika banyak anak muda urban lebih senang menggunakan bahasa gaul, bahasa slank atau bahasa 4L4Y dalam melakukan interaksi sehari-hari. Kenyatannya, Bahasa Indonesia ini memang masih muda, masih belum begitu kuat dan membutuhkan banyak waktu untuk mampu membuktikan eksistensi keberadaannya.

Pada akhirnya, Bahasa Indonesia hanya menjadi milik tim perumus KBBI dan pegiat di lembaga dan dewan bahasa. Terkadang, orang-orang pintar yang menjadi tim perumus itu juga seperti orang yang tak tahu apa yang mereka rumuskan.

Dengan serampangan mereka memaksakan semua hal yang tak ada dalam Bahasa Indonesia untuk segera di Indonesiakan, tanpa memikirkan tujuan akhir dari bahasa itu sendiri, apakah fungsi bahasa untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah dimengerti ataukah malah hanya untuk sekedar mengejar eksistensi untuk dianggap lengkap, tapi nyatanya malah melahirkan kerumitan baru.

Pengindonesiaan istilah di dunia internet misalnya. Bukan malah menyerderhanakan dan mempermudah, tapi malah membuatnya menjadi sekelumit hal nan rumit.

Bahasa kita nan masih muda. Masih memiliki banyak gejolak, mungkin.

Muda Bentara

February 7, 2012

One comment on “Bahasa Yang Masih Muda

  1. dua-samudera
    17 Maret 2014

    iya, terkadang miris juga dengan keberadaan bahasa Indonesia. misal saja, pengalaman yang sering kita jumpai, kalau kita mendaftar kelulusan program strata-1 (S-1), kita dituntut untuk melampirkan sertifikat TOEFL / IELTS, padahal toh belum tentu kan kita bekerja pada bidang yang membutuhkan kemampuan bahasa Inggris. Kenapa tidak setifikat BIPA saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Februari 2012 by in Prime and tagged , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: