MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Sepakbola, Fanatisme dan Industri Olahraga


product_thumbnailSubuh kemarin Madrid saya menahan imbang Barcelona 2-2 di drama lanjutan kisah perseteruan simbol keagungan dua kota besar di tanah raja Philip, Spanyol.

Di laga tandang subuh kemarin, Madrid menunjukkan sedikit dari keseluruhan kualitas yang dimilikinya. Walaupun terpaksa bermain dengan kenyataan delapan pemain terkena kartu kuning dan pada akhirnya berujung dengan dikeluarkannya Sergio Ramos. Euforia babak pertama kemenangan Barcelona yang mampu melahirkan dua gol ke gawang Iker Casilas dalam selang waktu hanya beberapa menit akhirnya terbayarkan ketika di tengah pertandingan babak kedua Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema mengimbangi gol Barcelona itu juga dengan gol yang memiliki jeda kedekatan waktu yang sama.

Bagi saya, subuh kemarin itu pemenangnya adalah Madrid. Subjektif memang, tapi itulah kenyataannya menurut saya. Setidaknya ini menjadi kemanangan atas pembuktian kualitas individual bagi C. Ronaldo, setelah sebelumnya kalah dalam perebutan trofi pemain terbaik dunia (Ballon d’or) di Paris beberapa minggu lalu dari Lionel Messi. Semalam C. Ronaldo menunjukkan kualitasnya, ia ikut membobol gawang Barcelona dalam dua pertandingan terakhir. Dan, ini tak berlaku untuk Messi. Satupun gol pun tak lahir dari kaki mungilnya dalam dua laga pertandingan el-clasico terakhir ini.

Gol Ronaldo menjadi pembuktian, jika anak emas The Special One Jose Mourinho ini memang patut mendapatkan pujian. Setidaknya semalam Ronaldo membuktikan jika rumour pemberitaan tentang Mourinho yang terlalu membela pemain yang satu negara dengannya tak perlu terlalu dipermasalahkan lagi. Ronaldo menjadi pembuktian jika tak salah juga bila Mourinho membela si anak emas Portugal itu, toh dalam dua pertandingan belakangan di Copa Del Rei ia yang menjadi sang “Messias”, sang juru selamat bagi kubu Madrid yang di dominasi oleh pemain Timnas Spanyol yang juga juara Piala Dunia 2010. Julukan “messias” milik Lionel Messi berpindah ke Ronaldo dalam dua pertandingan belakangan ini.

Di Spanyol, ada satu rekor yang menurut saya tak akan sanggup dipecahkan dan direbut oleh Messi dari Ronaldo. Tahun lalu Ronaldo menjadi pemain pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Liga Spanyol selama satu musim. Ini tak hanya menjadi rekor satu musim, tapi juga menjadi rekor dalam liga Spanyol sepanjang masa.

Minggu lalu saya pernah berkata kepada salah seorang teman jika laga kontra antara Real Madrid dan Barcelona jika dicari kesamaannya, maka akan sama seperti laga antara Persiraja Banda Aceh melawan PSAP Sigli. Kenapa saya bisa “memaksakan” untuk memiripkan antara kedua rival kontra klub yang berbeda kelas ini? Kenyataan menyebutkan jika laga Real Madrid dan Barcelona tak hanya sekadar laga selebrasi sepakbola biasa, tapi lebih dari itu. Laga antara kedua klub raksasa dunia ini mewakili eksistensi keberadaan rivalitas antara dua kekuatan politik yang memiliki basis politik, sejarah dan nasionalisme yang kuat.

Rivalitas kedua klub ini mewakili institusi semangat kebangsaan yang kental, antara Barcelona yang mewakili Catalunia versus Real madrid yang mewakili Kastillia/Spanyol. Dalam hal ini, ketika pertarungan kekuatan politik tak bisa lagi dilakukan secara terang-terangan antara kedua kubu yang memiliki kepentingan nilai kebangsaan yang berbeda, pada akhirnya dibutuhkan suatu simbolisasi tertentu untuk melestarikan semagat rivalitas itu. Semangat rivalitas yang sebelumnya diwakili oleh pertarungan tentang eksistensi kebangsaan, kekuatan politik dan militer kini ditransfer dan di manifestasikan dalam bentuk pertarungan-pertarungan dalam dunia yang penuh simbolisasi akan sesuatu, dan dalam hal ini olah raga yaitu Sepak bola adalah mediumnya. Sepakbola menjadi simbol perjuangan antara setiap kelas politik dan kelas perjuangan dalam mengukuhkan eksistensinya.

Lalu hubungan dengan Persiraja dan PASP-nya dimana? Bagi saya, yang terjadi di kedua klub Aceh ini setidaknya sama dengan apa yang terjadi di Spanyol sana. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, jika ingin di samakan, bisa dikatakan jika Persiraja adalah perwakilan dari keberadaan Banda Aceh/Aceh dan PSAP mewakili keberadaan Sigli/Pidie. Irisannya bertemu dalam makna historis, saat eksistensi masyarakat Pidie bertemu dengan eksistensi masyarakat Aceh, walaupun kenyataannya kini keduanya telah melebur menjadi satu.

Dalam sejarahnya, Pidie adalah simbolisasi dari perwakilan politik atas keberadaan historik kejayaan masa lalu. Hingga kini, Pidie tak pernah menyebut diri mereka sebagai Aceh Pidie. Pidie tetaplah menjadi Pidie. Mewakili sejarah keberadaan institusional kerajaan Pedir yang tak sama dengan Kerajaan Aceh, walaupun akhirnya Kerajaan Pedir Ikut bergabung dengan Kerajaan Aceh ketika mengusir Portugis. Keberadaan sentimen historik seperti ini pada akhirnya melahirkan implikasi lain dari eksistensi akan suatu kepercayaan dan kebanggaan yang tak pernah punah.

Sama seperti yang terjadi di Spanyol, kini transformasi rivalitas antara eksistensi kedua kerajaan ini dulunya ber-reinkarnasi menjadi rivalitas baru di lapangan hijau. Kita menamakan rivalitas baru ini dengan nama industrilialisasi sentimen yang bernamakan Sepak Bola. Para pendukung Persiraja dan PSAP tentu paham betul bagaimana rivalitas ini berlaku.

Hal ini kini juga bisa dikaitkan dengan keberadaan Persipura misalnya yang kini menjadi klub nomer 1 di indonesia yang mewakili tanah dan bangsa Papua dengan klub semisal Persija Jakarta yang mewakili simbolisasi rivalitas keberadaan hegemoni yang beberapa orang menyebutnya dengan istilah hegemoni “indias java.”

Ini kait-kaitan, yang walau menurut beberapa orang mungkin terkesan dipaksakan, tapi mengandung kesamaan. Beberapa teman saya yang paham politik menyebut jika alasan mereka menjadi pendukung Barcelona dikarenakan adanya semangat perlawanan Catalan di dalamya. Bagi mereka, Catalan itu ibarat seperti Aceh yang melakukan perlawanan kepada Indonesia/Jakarta. Jadi semangat perlawanan itu menjadi alasan dukungan selain kualitas dari Barcelona itu sendiri. Tepatnya, pertarungan Nasionalisme versus Nasionalisme yang lain.

Ungkapan semisal “Catalan its not spain” maknanya hampir sama dengan ungkapan “Pidie, bukan Aceh Pidie”, “Papua bukan Indonesia”, “Aceh bukan Indonesia”. Di zaman modern, pertarungan yang dulunya di dominasi oleh kekuatan militer mau tidak mau kini bergeser ke ranah yang lebih halus yaitu perlawanan akan eksistensi symbolisasi tertentu. Baik budaya, kebangsaan ataupun eksistensi lainnya.

Kini, di Davos, Swiss, World Economic Forum sedang digelar. Forum ini adalah forum ekonomi tertinggi di dunia yang akan membahas perihal perkembangan ekonomi ataupun hal-hal lain yang menjadi penghambatnya. Tahun ini isu utama pertemuan WEF Davos adalah perihal restrukturisasi hutang negara-negara Eropa, semisal Yunani, Italia, Irlandia, Spanyol, Portugal dan beberapa negara lain.

Krisis Eropa yang terjadi belakangan ini yang disebabkan oleh gagal hutang yang dialami oleh Yunani menyebabkan timbulkan kepanikan di Zona Euro. Konsekuensi dari keberadaan zona Euro mau tidak mau menimbulkan dampak tersendiri ketika ada negara yang menjadi bagiannya mengalami krisis keuangan. Kebangkrutan Yunani menyebabkan sentimen serupa menular ke seluruh negara Eropa, berimbas ke semua negara yang memiliki tingkat hutang yang tinggi. Yang tak bisa dikesampingkan, krisis Zona Euro pada akhirnya juga akan mempengaruhi situasi iklim finansial dunia, hal ini disebabkan karena Zona Euro adalah zona ekonomi terbesar di dunia, disusul oleh Amerika Serikat.

Yang menariknya dari setiap krisis yang ada, industri yang hampir tidak terkena dampak langsung adalah industri olahraga. Kini olahraga tak hanya sekadar industri permainan, tapi telah berubah menjadi industri show bussiness (Showbiz) yang diintegrasikan dengan berbagai macam sarana teknik marketing moderen. Permintaan akan keberadaan produk dari industri ini baik selalu stabil dan bahkan meningkat. Manusia tak mungkin bisa berpaling dari hiburan, dan kini penguasa dunia hiburan itu adalah industrialisasi olahraga.

Industri olah raga semisal Sepak bola dari tahun ke tahun selalu menampakkan pertumbuhan nilai kapital yang begitu tinggi. Tiap tahun, rekor biaya transfer pemain selalu terpecahkan. Sepak bola menjadi ranah bisnis yang begitu menguntungkan.

Kembali lagi ke laga kontra antara Real Madrid versus Barcelona, jika sebelumnya saya menyebut pertarungan antara kedua klub raksasa ini adalah sentimen yang mewakili keberadaan identitas politik, maka kini baiknya kita melihat hal ini dari sudut pandang lain, susut pandang sesungguhnya, yaitu uang (kapital).

Berbicara industri adalah berbicara perihal kapital, hasil produksi dan keuntungan. Sama seperti melihat pertarungan antara Real Madrid versus Barcelona subuh kemarin. Apa yang kita saksikan bukan hanya sebuah peragaan atraksi keahlian skill individual atlit sepak bola, kemampuan pengelolaan taktik dan sentimen fanatisme fans.

Yang kita lihat subuh kemarin adalah bagaimana kapitalisme memamfaatkan olahraga sebagai sarana untuk menggeruk uang. Ada hak siar, iklan televisi, sponshorship, endoresment, industri media dan perjudian. Untuk yang pertama, yang paling penting bagi saya adalah kenyataan bahwa jika pertandingan el- clasico kemarin subuh adalah pertandingan antara klub dengan peringkat pendapatan nomer 1 di dunia yaitu Real Madrid melawan Barcelona yang menjadi Klub dengan pendapatan kedua tertinggi di dunia.

Untuk sementara, kita simpan dulu banyaknya jumlah koleksi piala yang dimiliki oleh Barcelona dibanding dengan real Madrid dalam beberapa tahun belakangan ini. Kenyataannya, dalam pembukuan keuangan, banyaknya piala yang dimiliki oleh Barcelona tidak berbanding lurus dengan posisi peringkat pendapatan yang mereka terima.

Barcelona bisa saja menjadi juara La-liga, juara Liga champion, juara piala dunia antar club, tapi dalam pembukuan keuntungan, Real Madrid tetap menjadi nomer 1 dalam hal ini. Dalam dunia bisnis, muara sesungguhnya bukanlah pada prestasi, tapi pada kauntungan.

Kapitalisme berbicara bukan tentang citra, tapi tentang berapa banyak keuntungan yang didapatkan dalam mengusahakan sesuatu hal. Untuk musim 2010 saja, Madrid membukukan keuntungan sebanyak 442,3 juta euro, meninggalkan Barcelona di peringkat kedua dan Manchester united di peringkat ketiga.

Kemampuan mesin uang yang dimiliki oleh Real Madrid meliputi banyak hal, salah satu yang paling penting adalah bagaimana kemampuan mereka menggunakan fungsi kehumasan dan sport communication dalam memuluskan rencana bisnis. Klub sepakbola semisal Madrid adalah klub yang begitu profesional dalam membentuk dan memepengaruhi ketertarikan publik akan sesuatu.

Kemampuan mengelola rumour, baik tentang isu konflik pemain, transfer pemain, kepindahan dan publisitas yang dimiliki menjadi unjung tombak dalam melahirkan pundi. Kini menurut rilis terbaru Forbes, Cristiano Ronaldo adalah pemain bola yang paling berpengaruh di dunia. Ia membukukan pendapatan tertinggi melampuai Lionel Messi yang menjadi pemain terbaik dunia dua kali berturut-turut sekalipun.

Di Youtube, Facebook maupun Twitter, jumlah pengakses, fans page dan follower yang dimiliki oleh Ronaldo adalah yang tertinggi dari atlit manapun di dunia ini. Dalam penelitian, kecendrungan-kecendrungan kesuksesan seperti ini bisa dijadikan acuan dan asumsi tentang value dan kemampuan menghasilkan uang dari seseorang.

Jika sebelumnya Madrid memiliki David Beckham yang menjadi mesin uang, kini mesin itu berubah menjadi Ronaldo. Penjualan jersey atas nama Ronaldo kini menjadi salah satu sumber pendapatan tertinggi bagi Madrid.

Bukankah ini baru tentang pendapatan internal klub?

Jika dilihat lagi, pertandingan el-clasico kemarin subuh itu menjadi ajang pertarungan dua korporasi raksasa industri peralatan olahraga, antara Adidas versus Nike. Real Madrid adalah klub yang disponsori oleh Adidas dan Barcelona disponsori oleh Nike. Hal ini menandakan betapa meriah dan rumitnya industrialisasi olah raga sepak bola. Dari keberadaan pertarungan memperebutkan si kulit bundar, sebenarnya ada banyak pertarungan-pertarungan lain yang terjadi.

Kapitalisme selalu berbicara tentang daya cenkram penghasilan. Di akhir piala dunia 2010, Adidas, perusahaan apparel terbesar asal Jerman ini membukukan pendapatan sebanyak 1,4 milyar euro dari total pendapatan global mereka, ini belum lagi pendapatan yang dimiliki oleh Nike yang menjadi apparel nomer 1 di dunia.

Masih banyak hal lain lagi yang berdiri di balik industri ini. Kita belum lagi berbicara tentang pendapatan negara, pajak dan nilai putaran uang yang didapatkan dari induatri judi ataupun iklan produk bir yang menjadi sponsor klub besar.

Kapitalisme itu begitu halus, kita mencintainya lebih adari apa yang kita pikirkan. Kita terjebak did alamnya lebih dari apa yang kita sadari.

Ini baru sedikit hal yang kita ketahui tentang apa saja yang berada di balik industrialisasi Sepak bola. Sepak bola tak hanya mengenai tendangan dan goal ke gawang lawan. Sepak bola adalah berbicara tentang bagaimana memamfaatkan fnatisme fans yang rela tak tidur semalaman demi memelihara keberlangsungan industri multy billion dollar.

Kapitalisme itu begitu melenakan, ia membuat kita memikirkan dan berteriak kegeringan terhadap apa yang sebenarnya tak penting untuk kita ikuti.

Kapitalisme membuat kita yang berada di Indonesia, di Banda Aceh, menjadi orang-orang fanatik yang kehilangan akal sehat ketika beberapa pemain dari klub negara bangkrut seperti Spanyol menendang bola ke gawang lawan.

Enjoy Capitalism.

Muda Bentara

January 27, 2012

One comment on “Sepakbola, Fanatisme dan Industri Olahraga

  1. gea laksita
    7 Januari 2014

    mau tanya, dimana bisa mendapatkan buku di atas ya?
    saya memerlukan buku tentang fanatisme untuk penelitian saya.

    terimakasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 27 Januari 2012 by in Aceh and tagged , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: