MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Dahlan Iskan, Sepatu Politik dan Politik Sepatu. (Politik Sepatu dari Dahlan, Jusuf Kalla, Fidel Castro, hingga Muhammad Hatta.)


Ini foto yang saya potret dua hari yang lalu (Senin, 11/03/2013). Sebuah foto berita yang dimuat di halaman 12 harian Serambi Indonesia. Di foto ini terlihat seorang pramuniaga perempuan yang sedang menjajakan sepatu kepada seorang lelaki paruh baya. Caption foto ini menjelaskan penjualan sepatu “Demi Indonesia” yang disingkat “DI” di Bandar Lampung, di lokasi senam sehat bersama Dahlan Iskan, meneg BUMN.

Sepatu seharga Rp.300.000 ini terjual ratusan pasang selama kedatangan Dahlan Iskan ke Lampung.

Di kredit hak cipta foto ini, tertera info jika foto berita ini adalah milik LKBN Antara. Jika Antara dan harian Serambi Indonesia milik Group Kompas menulis kepanjangan akronim sepatu “DI” sebagai sepatu “Demi Indonesia”, maka lain halnya apa yang dilakukan oleh jaringan-jaringan media milik Jawa Pos Group, jaringan media yang dimiliki Dahlan Iskan ini, dalam pemberitaan Jawa Pos mengenai sepatu “DI” ini, pihak Jawa Pos dengan gamblang mengartikan jika akronim “DI” itu bermakna “Dahlan Iskan” dan bukan bermakna “Demi Indonesia”.

Sepatu “DI” ini adalah sepatu hasil desain pabrikan sepatu League bekerjasama dengan Jawa Pos. League adalah brand pabrikan sepatu milik Berca Group, group konglomerasi milik Siti Hartati Murdaya dan suaminya Murdaya Poo. Sebelum mendirikan pabrikan League, lini anak usaha Berca ini adalah pengelola pabrikan sepatu Nike di Indonesia, salah satu pabrikan yang memproduksi sepatu Nike terbesar di dunia.

Dalam keluarga Dahlan, branding diri melalui sepatu bukanlah hal yang baru, beberapa tahun lalu pabrikan League telah lebih dulu menjadikan anak Dahlan yaitu Azrul Ananda yang juga Direktur Utama Jawa Pos untuk diadopsi namanya menjadi nama edisi spesial sepatu basket pabrikan League.
Untuk kasus Azrul, alasan League lumayan kuat, sebab Azrul adalah pencetus liga bola basket terbesar bagi siswa Indonesia yaitu DBL (Duta Basketball league), pun selain itu Azrul juga pengelola turnamen NBL (National Basketball League), liga bola basket pengganti IBL (Indonesia Basketball League).

Keberadaan sepatu “DI” bagi Dahlan dan League adalah sebuah simbiosis mutualisme yang amat menguntungkan, kolaborasi antara kecerdasan bisnis, teknik marketing hingga pencitraan politik tingkat tinggi.

Bagi pabrikan League, tak ada sedikitpun kerugian dalam menjadikan Dahlan sebagai brand edisi spesial sepatu produksi mereka. Dalam hal ini League sepertinya amat paham, keberadaan jaringan media Dahlan Iskan yang merupakan terbesar di Indonesia yang mencapai 200-an media dan tersebar dari Sabang sampai Merauke menjadikan hal ini sebagai sebuah simbiosis kejelian bisnis yang amat tinggi.

Ketika League bekerja sama dengan Jawa Pos dalam mendesain sepatu edisi Dahlan Iskan, maka otomatis ratusan media yang menjadi lini bisnis dan pencitraan Dahlan Iskan akan bekerja sebagai agen-agen yang akan menjadi media promosi bagi produk “sepatu politik” League ini.

Sedangkan bagi Dahlan, keberadaan sepatu pabrikan League yang menggunakan inisial namanya akan menjadi pelengkap bagi politik citra yang belakangan kerap ia gunakan menggunakan jaringan media Jawa Pos ataupun buku-buku mengenai dirinya yang diterbitkan penerbit Gramedia.

Bagi saya, hal ini amat jelas dalam menggambarkan bagaimana Dahlan Iskan telah menjadikan sepatu pabrikan League ini sebagai sebuah komoditas pencitraan politik, pencintraan yang bertujuan untuk memuluskan ambisinya untuk menjadi calon president Indonesia di 2014.

Jika Dahlan menerapkan “politik sepatu” seperti ini, maka lain halnya bagi Jusuf Kalla. Dalam sebuah acara penyampaian visi-misi calon president pada tahun 2009 yang ditayangkan Metro TV, saat itu JK yang menjadi calon yang harus menyampaikan visi-misinya, dalam sesi tanya jawab di acara itu, JK ditanya oleh Rina Fahmi Idris, yang saat itu menjabat sebagai ketua IWAPI (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia).

Saat itu Rina bertanya kepada JK bagaimana pandangannya terhadap pegiat ekonomi mikro seperti sektor UMKM. Menjawab pertanyaan Rina, para peserta acara yang terdiri dari para pengurus APINDO, KADIN, HIPMI dan IWAPI menjadi tercengang dengan aksi JK. Ketika menjawab pertanyaan Rina, JK membuka sepatunya dan menampakkan kepada khalayak jika sepatu yang digunakannya adalah buatan lokal, buatan sentra kejajinan sepatu di Jawa Barat dan bermerek JK Collection.

Mendengar pemaparannya itu Rina dan peserta lainnya menjadi tercengang, pun setelah itu JK melanjutkan jawabannya dengan menantang Rina menampakkan merek sepatu yang ia kenakan, apakah buatan lokal atau bukan. Dengan malu-malu Rina mengakui jika sepatu yang ia kenakan bukan buatan lokal. Aksi JK saat itu membuat acara orasi politik yang kaku menjadi meriah dengan tertawaan dan tepuk tangan.

Itu adalah gaya Jusuf Kalla berkenaan dengan sepatunya. Dalam hal sepatu bermerek JK Collection yang ia kenakan, merek itu bukanlah merek yang ia sengaja untuk mendongkrak citranya, sebab merek sepatu JK Colection yang ia kenakan adalah produksi sentra sepatu rumahan yang menggunakan nama JK sebagai merek produknya. Ketika berkunjung ke sentra produksi sepatu rumahan yang menggunakan namanya itu, JK kerap memborong beberapa sepatu, selain untuknya ia juga membeli untuk para ajudannya.

Bagi JK ia tak mempermasalahkan penggunaan namanya sebagai merek sepatu oleh pengrajin sepatu rumahan itu, toh hal ini juga demi mengangkat kesejahteraan para peranjin sepatu rumahan yang kerap mengeluh karena digempur serbuan sepatu import yang semakin hari semakin menjadi penguasa pasar.

Dalam hal ini, JK lebih “tulus” dalam menempatkan “politik sepatu”, yang bertujuan untuk memajukan sentra ekonomi rakyat kelas bawah, tanpa menggunakan jaringan media ataupun kerjasama resmi beserta MoU dengan pabrikan sepatu milik konglomerasi kapitalis besar seperti halnya yang ditampakkan oleh League bersama Dahlan Iskan.

Tentang bagaimana seorang politisi memposisikan sepatu dalam keberadaannya sebagai tokoh politik, saya teringat dengan film besutan Oliver Stone yang ia buat tahun 2003 berjudul “Commandante” yang berkisah tentang Fidel Castro.

Di film dokumenter yang dibuat oleh sutradara kelas atas hollywood ini, Castro ditampilkan apa adanya. Selama dua hari Oliver mengikuti setiap kegiatan Castro, mewawancarainnya dan menanyainya tentang apa saja, dari artis kesukaan hingga kisah mengenai karibnya, Ernesto “Che” Guevara.

Ada kisah menarik yang diceritakan dan ditampilkan oleh Oliver, yaitu saat pemimpin politik negara sosialis yang begitu anti terhadap Amerika Serikat ini menggunakan sepatu Nike dalam sebuah sesi wawancara.

Bagi yang melihat kisah dan visualisasi mengenai Castro oleh Oliver Stone itu, keberadaan sepatu Nike dalam keseharian kehidupan Castro adalah sebuah kontradiksi yang nyata. Menggambarkan bagaimana salah seorang pemimpin politik paling berpengaruh di dunia ini yang dikenal sebagai simbol anti kapitalisme ala Amerika ini menggunakan produk sepatu yang menjadi icon hegemoni kebudayaan pop Amerika atas dunia.

Sepatu Nike yang dikenakan Castro mengisahkan ia yang realistis dalam hidup, atau juga bagaimana ia tak bisa lepas dari cengkraman Amerika, sekecil apapun, walau ia mampu selamat dari belasan rencana aksi pembunuhan yang digagas intelijen Paman Sam.

Jika Nike milik Castro menghadirkan cerita mengenai bagaimana politik dan sepatu menjadi alat pengukur eksistensi ideologi politik, maka dalam hal keberadaan kita sebagai warga nagara Indonesia, ada satu contoh lain yang tak bisa kita lupakan ketika mengamati kehadiran figur politik dan sepatu yang melekat dalam hidupnya.

Tokoh yang ingin saya ceritakan selanjutnya adalah Muhammad Hatta, yang lahir dengan nama Muhammad Athar. Hatta adalah founding father negeri ini, proklamator dan juga wakil president Indonesia pertama. Sarjana lulusan Belanda yang gemar membaca dan punya koleksi buku hampir 10.000 judul ini memilih pensiun di tahun 1956 setelah 11 tahun menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia.

Ada kisah haru mengenai keberadaan beliau sebagai figur politik kuat di negeri ini berkenaan dengan sepatu. Ketika beliau menjadi penguasa, beliau amat ingin sekali membeli dan memiliki sepatu merek Bally, saking inginnya ia memiliki sepatu itu, ia menggunting iklan sepatu itu yang ada di koran dan ia letakkan di halaman buku hariannya.

Akan tetapi, hingga akhir hayatnya di tahun 1980, ia tetap tak mampu membeli sepatu itu, walaupun ia adalah figur wakil president, berpengaruh kuat dan punya link pergaulan di dunia internasional yang luas, dengan gaji yang sedikit tetap tak mampu membuat ia untuk memiliki sepatu itu, walau hanya satu.

Hatta lebih memilih memendam dahulu keinginannya untuk memiliki sepatu Bally karena harus mengalihkan uang tabungannya untuk membantu kerabat dan saudara yang membutuhkan bantuan.

Hatta amat tahu diri jika politik adalah bentuk pengabdian tulus, tanpa pamrih. Ia tidak mau memamfaatkan pengaruhnya untuk memenuhi keinginannya yang begitu amat sederhana. Bagi Hatta, integritas adalah segalanya.

Putrinya berkisah jika hingga akhir hayatnya di umur 78 tahun, Hatta ayahnya tetap menyimpan mimpi untuk memiliki sebuah sepatu Bally, sepatu yang hanya ia miliki iklannya dalam bentuk guntingan koran dalam diary hingga ia mati sebagai pahlawan sejati.

Ini sepenggal cerita, atau mungkin kisah dari empat orang manusia dengan sepatunya, dari yang menjadikan sepatu sebagai sarana pencitraan politik seperti Dahlan, menjadikan sepatu sebagai sarana mendongkrak perekonomian kaum bawah seperti JK, menjadikan sepatu sebagai bentuk simbol dominasi politik yaitu Castro, hingga seperti Hatta yang menjadikan sepatu sebagai bentuk dari sebuah pengabdian yang tanpa pamrih, tanpa manipulasi, tanpa pencitraan disana sini, tanpa publikasi di media sana dan sini.

Bagi saya, kualitas Dahlan jauh tertinggal dari JK, Castro apalagi Hatta. Hatta menampilkan kepada kita untuk menjadi negarawan besar tak perlu memaanipulasi citra, apalagi mempolitikkan hal sesederhana sepatu.

Mungkin, seorang figur politik tak boleh kita lihat hanya dari pencitraan dan basa basi politik semata, tapi harus kita lihat dengan sederhana, sesederhana ia memposisikan sepatunya.

*ditulis dengan ponsel.

2 comments on “Dahlan Iskan, Sepatu Politik dan Politik Sepatu. (Politik Sepatu dari Dahlan, Jusuf Kalla, Fidel Castro, hingga Muhammad Hatta.)

  1. Moersalijn
    28 Mei 2013

    Tulisan yang menarik….:)

  2. saeful
    16 September 2013

    tulisan yang menarik , menambah wawasan saya ,

    strategi branding semua tokoh menguasai dan mampu menggolah menjadi branding yang kuat,

    kini sepatu DI akan diproduksi oleh pengrajin sepatu di tangerang banten,

    pengrajin sepatu tanggerang siap siap kebanjiran order, karena dahlan iskan akan mengalihkan produksinya ke pengrajin lokal,

    dan jika dilihat dari segi dunia pulitik, memang jadi ruwet, selah pulitik adalah tujuan yang paling utama dalam hidup ini,

    betapa ruginya dahlan iskan jika hanya ambisinya karena politik,

    betapa hebatnya dahlan karena orang lain mengaluarkan uang untuk berpolitik dia sebaliknya mendapatkan uang (kalaupun dia masih mengambil keuntungan),

    saya ingin semua pencipta branding mengikuti gaya baik JK maupun DI,

    karena ini belibatkan dan menguntungkan berbagai pihak

    http://kabar-banten.com/news/detail/12956

    http://www.bidikkasus.com/dahlan-iskan-promosikan-sepatu-pengrajin-tangerang/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Maret 2013 by in Prime and tagged , , , , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: