MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Hitler dan Pesona Retorika


Hitler ChildrenDM_708x800“Setiap gerakan besar di dunia ini selalu dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago tulisan.”

Ini adalah kalimat milik Adolf Hitler yang termuat dalam bukunya yang berjudul Mein Kampf (Perjuanganku). Mein Kampf adalah buku yang ditulis oleh Hitler saat ia dipenjara di dekade tahun 20-an.

Saya membaca petikan kata-kata dari Hitler ini beberapa saat yang lalu, saat membolak-balik sampul buku yang ada di kamar saya. Bagi saya, kalimat milik Hitler ini begitu memesona dan mengandung ambiguitas tersendiri. Secara eksplisit dari kelimat ini Hitler ingin menjelaskan betapa hebatnya seorang yang disebutnya sebagai ahli pidato dibandingkan dengan jago-jago tulisan. Jelasnya, gerakan-gerakan besar lebih membutuhkan para ahli pidato dibanding jago tulis.

Awalnya saya setuju dengan kalimat Hitler ini. Kenyataannya memang banyak gerakan besar di dunia ini yang berkembang dikarenakan adanya ahli-ahli pidato yang menjadi pionernya. Tapi, kenyataan lain juga menyebutkan jika banyak juga gerakan-gerakan besar di dunia ini yang dikembangkan oleh jago-jago tulisan.

Saya tidak tahu tepatnya, apakah Hitler ini sadar atau tidak ketika mengeluarkan statementnya ini. Karena kenyataannya, kalimatnya ini adalah kalimat yang tertera di dalam buku Mein Kampf yang ia tulis. Mein Kampf adalah sebuah buku, dan buku adalah produk dari eksistensi tulisan. Lalu, bagaimana kita bisa mencerna makna dari kalimat “Setiap gerakan besar di dunia ini selalu dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago tulisan,” sedangkan kalimat ini sendiri merupakan bagian dari produk tulisan?

Dari kenyataan ini, saya berpendapat jika kalimat Hitler ini tak bisa dilihat maknanya secara literal tekstual. Tak bisa menyimpulkan langsung jika apa yang ditulis oleh Hitler ini adalah sesuatu yang ia adopsi atau percayai. Ada kemungkinan jika apa yang ditulis oleh Hitler tentang setiap gerakan dunia selalu dikebangkan oleh ahli pidato adalah sebuah fakta kenyataan real yang ia amati.

Kalimat Hitler ini, jika dilihat dari makna literalnya, bisa berakibat adanya anggapan bahwa Hitler adalah penganut Fonosentrisme yang terlalu mengutamakan bahasa lisan dibandingkan tulisan. Atau dalam pengkategoriannya, Hitler bisa disebut orang yang terlalu mengagumi kemampuan pengaruh ilmu retorika dalam membentu sebuah gerakan besar.

Bagi saya, Hitler tak bisa disebut sebagai seorang penganut Fonosentrisme. Jika ia penganut Fonosentrisme, tentu ia tak menjadikan bukunya sebagai buku wajib di era Nazi, atau tak mungkin ia menuliskan Mein Kampf, karena penganut Fonosentrisme adalah orang-orang yang mengutamakan bahasa lisan, bahasa rhetoric, bahasa komunikasi public.

Banyak orang yang beranggapan, jika esensi bahasa membutuhkan eksistensi. Bahasa membutuhkan wujud untuk menegaskan keberadaanya. Dan satu-satunya cara mewujudkan eksistensi keberadaan bahasa adalah dengan menjadikannya sebagai produk tulisan. Bahasa lisan tak memiliki eksistensi, esensinya akan hilang ketika sudah diucapkan. Menjadikannya sebagai bentuk tulisan adalah cara untuk mengabadikan esensi dari bahasa itu sendiri.

Mengenai Fonosentrisme maupun retorika, keduanya memiliki fungsi penting dibandingkan perwujudan eksistensi teks dalam bentuk bahasa tulisan. Misalkan dalam membandingkan Propaganda dan Agitasi.

Dalam propaganda, sarana yang digunakan untuk melakukan penyebaran ataupun pencapaian tujuan daya pengaruh adalah dengan menggunakan medium tulisan. Tulisan memiliki daya sebar yang massiv ketika didistribusikan. Tulisan memiliki bentuk.

Sedangkan dalam agitasi, upaya untuk mengajak dan mempengaruhi memiliki daya cakupan pengaruh yang lebih kecil. Karena keterbatasan jangkauan bahasa lisan dalam mempengaruhi orang banyak.

Tentu Hitler tak menyebutkan agitasi dalam kalimatnya tentang “sesuatu hal yang mengembangkan gerakan besar” itu. Hitler hanya menyebutkan tentang keberadaan “Ahli pidato” dan “jago tulisan”. Dalam hal ini, kata-kata ahli pidato bisa dilihat sebagai perwakilan keberadaan unsur retorika dalam sebuah gerakan besar dan kata-kata ahli pidato sebagai perwakilan keberadaan unsur propaganda.

John Dewey, di dekade 20-an, untuk mengubah pikiran masyarakat Amerika yang saat itu begitu damai dan anti perang, ia menggunakan metode propaganda dalam memengaruhi psikologi masyarakat Amerika dan mengubah haluan pikiran mereka dalam melihat sesuatu hal. Selama berbulan-bulan ia dan teman-temannya melahirkan tulisan-tulisan di media massa yang memuat cerita tentang betapa bengisnya Jerman. Upaya propaganda melalui media yang begitu sistematis ini pada akhirnya melahirkan hasil yang luar biasa. Masyarakat Amerika yang sebelumnya anti perang, berubah menjadi masyarakat yang begitu bengis dan haus akan perang dan benci kepada Jerman. Propaganda melalui media massa yang menggunakan medium tulisan telah menciptakan masyarakat yang berubah pola pikirnya.

Jika Dewey, seorang Amerika yang mewakili musuh Hitler menggunakan metode propaganda, maka Hitler sendiri lebih menggunakan metode retorika dalam menciptakan ikatan emosi masyarakat Jerman terhadap ide-idenya. Pidato-pidato Hitler di depan public jerman menjadi pelecut dalam menciptakan hubungan emosional untuk mendukung gerakan ideologi politik Nazi yang ia anut. Walaupun dalam struktur pemerintahannya sendiri, Hitler juga tak mengenyampingkan arti penting propaganda. Hitler memiliki kementrian Propaganda yang berfungsi sebagai media penerangan dan think-thank atas penyebaran ide-ide facsis Nazi.

Akan tetapi, secara personal, Hitler lebih mengutamakan kemampuan retorika, yang ia sebut sebagai “ahli-ahli pidato” dalam Mein Kamph. Kenyataan membuktikan jika Hitler adalah seorang orator yang begitu ulung. Seorang yang mampu menciptakan histeria dan emosi massa untuk tetap mendukung apa-saja yang dipercayainya.

Hitler membuktikan jika dengan kemampuan retorikanya, ia sanggup mempengaruhi masyarakat Jerman untuk tetap mendukung ide fascis Nazi hingga kejatuhannya yang disebabkan oleh perang yang dilakukan oleh para musuhnya secara bersamaan.

Pada akhirnya, sehebat apapun ahli-ahli pidato, mereka tetap juga membutuhkan jago-jago tulisan. Begitu juga dengan sebaliknya. Bagi seorang Hitler, walaupun ia mengatakan ahli-ahli pidato lebih penting dari jago tulisan, mau tidak mau orang-orang harus mengakui jika Hitler adalah seseorang yang memiliki kedua kemampuan itu. Hitler adalah seorang ahli pidato yang jago tulis. Ia membuktikan hal ini dalam Mein Kampf dan orasi-orasi anyarnya didepan konstituen fanatik Fascis Nazi di alun-alun Berlin.

Muda Bentara

January 22, 2012

3 comments on “Hitler dan Pesona Retorika

  1. Fazlun Hasa
    21 April 2014

    Luar Biasa

  2. lintasanpenaku
    21 April 2014

    Great….😀

  3. AL
    24 Desember 2015

    Opininya bagus. Tapi dari opini si artikel penulis ini, saya juga memunculkan opini mengenai tanggapan hitler tersebut.

    Saya setuju dengan kata-kata dari hitler. Yaitu “Setiap gerakan besar di dunia ini selalu dikembangkan oleh ahli-ahli pidato dan bukan oleh jago-jago tulisan.”

    Ada 2 hal yang ingin saya sampaikan kenapa saya setuju.
    Pertama, berpidato/beretorika adalah hal yang paling ampuh dalam mempengaruhi dan membujuk audience. Hal ini lebih efektif dan efisien apabila dilakukan persiapan dan propaganda seperti layaknya hitler. Inilah yang disebut retorika politik. Karna segala sesuatu kegiatan di awali dengan komunikasi, seperti komunikasi interpersonal, trasedental, dan komunikasi interpersonal. Diamana orang akan mudah berkomunikasi lewat mulutnya.

    Kedua, perlu diingat bahwa tulisan atau seperti buku dan media tulis lainnya hanyalah sebagai penyambung mulut. Tulisan ini hanya digunakan seperti sejarah dari masa silam, mengirimkan informasi yang jauh dari wilayahnya, memperjelas, memberi opini dan mempropaganda. Tapi kelemahan dari tulisan adalah untuk orang-orang yang tidak mempunyai waktu yang banyak. Orang-orang yang buta huruf/illiterate. Orang-orang yang hanya ingin tau saja dari suatu tulisan Dan kebanyakan orang-orang lebih suka mendengar dari pada membaca. Apalagi dalam buku tersebut tulisan semua, tidak ada gambarnya. Membosankan bukan? Makanya anda menulis opini artkelnya memakai gambar hitler dan anak-anaknya di kolom atas. Bernarkah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Januari 2012 by in Prime and tagged , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: