MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Dari Sara hingga Didit Prabowo. Riwayat Keluarga Elit Indonesia


Salah satu program acara yang begitu menarik di Metro TV adalah Talk Indonesia, yang ditayangkan saban Ahad pagi. Program televisi ini biasanya menghadirkan Dalton Tanonaka, Jepang berkebangsaan Amerika dan Rahayu Saraswati, gadis Indonesia yang menetap lama di Amerika-Inggris sebagai pembawa acara.

Acara ini menjadi menarik karena mengulas isu terkini dengan santai, namun tak melupakan sisi kritis.

Di Indonesia, salah satu perempuan “komentator” politik dan isu-isu sosial yang ulasannya begitu menarik adalah Sara, nama panggilan Rahayu Saraswati. Dalam tiap edisi Talk Indonesia, Sara mampu mengimbangi kesenioran Dalton, atau juga bintang tamu mumpuni lainnya yang kerap diundang sebagai pembanding sekaligus narasumber.

Sara tentu tak hanya populer sebagai pembawa acara Talk Indonesia bersama Dalton, di film trilogi Merah Putih, ia juga menjadi salah satu bintang utama dan berperan sebagai gadis manis bernama Senja, bersama Lukman Sardi, Darius Sinatria dan Teuku Rifnu Wikana.

Di film itu, dengan bermodal warna kulit tubuh yang coklat (atau mungkin dicoklatkan), wajah yang jawani, Sara sukses meramu bakat yang ia miliki dengan ilmu akting yang ia petik dari International School of Screen Acting, London, Inggris, sehingga dalam aktingnya itu, Sara mampu menghadirkan sosok perempuan Jawa zaman dahulu nan begitu “hidup” yang ikut berkontribusi dalam perjuangan zaman kemerdekaan.

Tapi, di Talk Indonesia, Sara tak sedang berakting. Di program itu, ia sebagai pengritik, penentu alur idealnya diskusi sebuah isu, dan juga berdiri sebagai wanita pada umumnya, berbakat pandai dan lancar berbicara.

Tentu bincang-bincang mengenai Sara tak hanya sampai disitu. Dibalik kemampuan aktingnya yang baik, daya kritis yang ia punya, dibalik itu semua, ada hal lain yang sama menariknya dengan membicarakan kualitasnya.

Sara ini adalah anak dari Hasjim Djojohadikusumo, pengusaha nasional pemilik Arsari (Aryo, Sara, Indra) Group yang menurut George Junus Aditjondro memiliki hampir 100 ribu hektar lahan konsesi hutan di Aceh dan bahkan menyentuh angka satu juta hektar lahan konsesi hutan di tanah Papua. Selain pengusaha besar, Hasyim juga merupakan adik kandung dari Prabowo Subianto, “empunya” Partai Gerindra dan juga anak dari begawan ekonomi Indonesia, yaitu Soemitro Djojohadikusumo, putra Margono, pahlawan kemerdekaan yang juga pendiri BNI 46.

Selain lumayan pintar, Sara juga memangku nama besar keluarganya di pundaknya, keluarga Djojohadikusumo, salah satu keluarga elit negeri ini yang tetap bertahan sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga kini.

***

Tentu di keluarga Sara, keberadaan generasi pelestari keluarga elit Djojohadikusumo tak hanya Sara semata, dan tentu saja masih ada yang lain.

Beberapa hari yang lalu, channel TV One, TV yang menjadi saingan tempat Sara bekerja saban Ahad pagi menayangkan suasana open house Iedul Fitri di Istana Negara, kediaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Banyak tokoh yang hadir di ajang silaturahmi rakyat dan para pembesar itu. Diantara ramainya tokoh itu, terlihat seorang anak muda berambut cepak yang menggunakan setelan jas lengkap berwarna hitam yang juga ikut mengantri untuk bersalaman dengan pemilik hajatan.

Anak muda itu adalah Didit Hadi Prasetyo, sepupu Sara, perempuan yang jago bicara dan kritis itu. Didit, sepupu Sara ini tak hadir sendiri, didepannya ada seorang pria paruh baya yang memiliki postur sama dengannya dan juga bersetelan jas berwarna sama. Lelaki paruh baya didepan sepupu Sara itu adalah paman kandung Sara, Prabowo Subianto, Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra.

Dan Didit Hadi Prasetyo adalah anaknya, anak satu-satunya dari pernikahan Prabowo Subianto dengan Siti Hediati Haryadi, atau lazim dikenal dengan sebutan Titik Soeharto, putri kedua sang penguasa Orde Baru, Jenderal Besar H.M. Soeharto.

Selain dikenal sebagai Didit Hadi Prasetyo, sepupu Sara ini juga dipanggil dengan sebutan Didit Prabowo, dengan nama belakangnya menggunakan nama ayahnya, Prabowo Subianto.

Ada yang menarik dengan kehadiran sepupu Sara ini. Sebab, sepertinya baru kali ini pertama kalinya Prabowo Subianto, sang mantan Danjen Kopassus dan Pangkostrad ini menghadiri acara publik bersama anak semata wayangnya dan terekam dalam bidikan kamera awak media. Sebelumnya, nyaris tak pernah terlihat Prabowo menghadiri sebuah forum bersama Didit.

Pun, dalam keseharian, ayah dan anak ini memiliki watak yang begitu berbeda dan saling bertolak belakang. Jika Prabowo sang Jenderal menghabiskan hari-harinya di vila dan kediamannya yang ada di bukit Hambalang, Bogor, yang tempat tinggalnya itu di setting bak kamp militer yang dijaga dengan pengawalan amat ketat, maka lain halnya dengan Didit.

Didit memilih hal yang 180 derjat berbeda dengan ayahnya. Ia lebih memilih menetap di Paris untuk menekuni profesi sebagai perancang busana. Di Paris, Didit menjadi salah seorang perancang busana muda yang diperhitungkan. Pakaian rancangannya kerap dikenakan oleh artis kenamaan Indonesia, juga pesohor luar.

Kontrasnya dunia yang ditekuni Didit dan ayahnya, Prabowo, menjadikan tayangan berita mengenai Didit yang bersama ayahnya menghadiri acara silaturahmi di Istana Negara menjadi menarik.

Kehadiran Didit bersama ayahnya melahirkan beberapa pertanyaan. Apakah Didiet sudah mampu berkompromi dengan dunia keras milik ayahnya? Dunia militer, dunia politik?

***

Jika berbicara mengenai Didit, dalam trah dinasti keluarga elit di Indonesia, Didit bisa dikata adalah wujud dari “paket komplit” penerus trah keluarga elit Indonesia yang paling kuat. Didit adalah generasi penerus keluarga elit negeri ini yang memiliki resource politik yang begitu kuat, resource sejarah yang tak mungkin dilupakan, dan resource sumber dana yang begitu menggurita.

Sepupu Sara ini adalah titik temu persilangan “penyatuan” kekuatan trah Soeharto dan Djojohadikusumo. Dari ibunya, ia adalah penerus trah keluarga kakeknya, Jenderal Besar H.M. Soeharto, penguasa republik ini paling lama. Dari ayahnya, ia adalah penerus trah Sumitro Djojohadikusumo, sang begawan ekonomi peletak dasar ekonomi modern negara ini.

Itu baru dalam bentuk romantika masa lalu generasi orang tua ibu-bapanya. Dalam tataran pengaruh kedua orang tuanya, Didit kini merupakan anak dari dua politisi yang begitu kuat. Di partai Golkar, ibunya, Titiek Soeharto adalah pengurus teras DPP partai beringin itu. Di Partai Gerindra, ayahnya adalah “pemilik” partai berlambang kepala Garuda itu.

Tentu Didit tak hanya mewarisi pesona historis dan resource politik para kakek dan ayah-ibunya. Selain itu, Didit juga pewaris dari resource modal finansial yang begitu besar. Di Jakarta, Plaza Indonesia dan Mall Taman Anggrek adalah contoh sebagian aset usaha milik ibunya, Titiek Soeharto. Sedangkan ayahnya, Prabowo Subianto, berkongsi dengan adiknya, Hasjim Djojohadikusumo. Ia memiliki puluhan perusahaan skala besar, dari perusahan tambang batubara, perusahaan minyak, perusahaan penghasil bubur kertas, kelapa sawit, karet, hingga perusahaan perambah hutan.

Di Indonesia, tak ada generasi pewaris tahta yang memiliki resource selengkap Didit. Kini di Indonesia, kita mengenal keluarga elit Bakrie, Soekarno, Sarwo Eddhie (SBY). Akan tetapi, ketiga keluarga ini tak memiliki rosource selengkap yang dimiliki oleh Didit.

Keluarga Bakrie hanya memiliki resource modal kapital, tapi dalam riwayat kesejarahan dan politik, keluarga ini tak memiliki prestasi dan belum terbukti. Begitu juga dengan keluarga Soekarno. Generasi ketiga keluarga Soekarno seperti Puan Maharani hanya memiliki riwayat kesejarahan dan resource politik yang kuat, tapi dalam hal modal kapital mereka minim.

Sedangkan untuk keluarga Sarwo Edhie, generasi ketiganya seperti Edi Baskoro Yudhoyono, resource yang dimiliki hanya resource politik, sedangkan riwayat kesejarahannya tak begitu bersinar, dan secara kapital pun mereka tak besar.

Di kalangan masyarakat Jawa, di kenal sebuah istilah yang disebut “Wahyu keprabon (ke-prabu-an)”. Dalam kosmologi Jawa, Wahyu Keprabon adalah wahyu yang diberikan kepada calon pemimpin.

Hampir 1000 tahun lalu, Ken Arok, penguasa kerajaan Singasari membunuh Tunggal Ametung untuk memperistri istri Ametung, Ken Dedes, agar menjadi istrinya. Aksi “kudeta” Ken Arok terhadap Ametung ini diyakini dikarenakan Ken Arok percaya terhadap ramalan mengenai Ken Dedes akan menghasilkan keturunan yang akan menurunkan raja-raja tanah Jawa.

Dalam sejarah Indonesia modern, terma-terma wahyu keprabon ini masih tetap berlaku dan dipercaya. Hal ini lazim disebut terjadi dalam trah keluarga Sarwo Edhie Wibowo. Keberadaan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai presiden negara ini adalah wujud dari wahyu keprabon yang ada dalam trah keluarga dan keturunan Sarwo Edhie. Selain di keluarga Sarwo Edhie, wahyu keprabon juga disebut ada pada Megawati Soekarno Putri saat ia menjadi presiden negara ini, sebuah jabatan yang juga pernah diemban oleh ayahnya, presiden pertama negara ini.

Kini, di zaman yang lebih modern, mengandalkan wacana aspek spiritual semisal wahyu keprabon tentu tak cukup. Dunia modern yang menghadirkan mekanisme suksesi kekuasaan yang membutuhkan perhitungan tingkat tinggi tak cukup hanya mengandalkan aspek spiritual semata. Lebih dari itu, dunia modern membutuhkan integrasi menyeluruh setiap resource sumber daya yang ada, baik kesejarahan, politik hingga uang.

Dan di zaman Indonesia modern ini, jika ia mau dan mampu, maka Didit bisa dikatakan adalah pemilik semua resource itu. Ia penerus trah dua dinasti keluarga paling kuat di negara ini, Dinasti Soeharto dan Djojohadikusumo. Ia punya riwayat romantisme sejarah pendahulu yang begitu kuat, punya power dan resource politik yang mumpuni, dan punya sumber dana yang menggurita. Sebab, ia adalah pewaris tahta satu-satunya dari rimbunnya rekening bank yang dimiliki dua orang tuanya yang super kaya, Titiek dan Prabowo.

Kini Didit bisa jadi masih tetap ingin menekuni dunia adibusana yang selama ini diselaminya. Tapi, dalam ruang-ruang”artistik” yang lain, dia tak hanya sebagai perangcang busana biasa, jika ia mau dan mampu, maka ia bisa menjadi “perancang” dan penentu gerak-gerik dunia politik negara ini, nanti.

Sebab, terlalu rugi jika ia menyia-nyiakan dua potensi besar yang dimilikinya. Penerus potensi kepemimpinan trah keluarga Soeharto dan Djojohadikusumo.

***
# Kampung, ditulis dengan ponsel.

# Muda Bentara,
# 11 Agustus 2013.

35 comments on “Dari Sara hingga Didit Prabowo. Riwayat Keluarga Elit Indonesia

  1. Vandres Joehanes
    9 Februari 2014

    Maju terus ,.. bung Dit ..
    Lbih baik b’krya drpd b’bcra ..

    • Airsoft gun murah
      11 Mei 2015

      Tidak ada salahnya banyak bicara, asalkan seimbang dengan karyanya😀

  2. Stenly Cicero Takarendehang
    16 Februari 2014

    ulasan menarik bung. (y)
    anda berhasil melihat sudut pandang yang unik dari suasana politik bangsa ini, dengan ulasan yang menurut saya “sangat berkelas”🙂

    keep up the good work bung.

  3. Menarik yang ditulis di sini. Saya kenal saudara sepupu saya, dan sepertinya mohon maaf memang darah seninya sebagai perancang busana adalah pilihan sekaligus jalan hidupnya dari dulu hingga kini, dan walaupun bagi saya pun mustahil saya terjun ke dunia politik tapi akhirnya terjun juga, namun saya rasa lebih mustahil lagi bagi seorang Didit Hediprasetyo. Namun, hanya Tuhan yang tau masa depan kita semua.🙂 Salam, RSD

    • spinner
      5 Juni 2014

      Is he gay?

  4. azizramadani
    5 April 2014

    Coretan menarik. Menyajikan persepsi yang berbeda. Patut kita tunggu “who are the winner”.

  5. Jepri Naibaho
    8 April 2014

    Itu yang diatas Rahayu Saraswati (Sara) Djojohadikusumo beneran atau KaWe2an ya? Kalau beneran, kayaknya rajin searching nama sendiri nih di google :p Balik soal Didit, mungkin ini yang namanya anomali dalam keluarga, tidak semua buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Tapi dibalik itu, sebenarnya Didit sudah mewariskan sifat dari orangtuanya, berpendirian. Kalau memang sudah yakin sama pilihan bidangnya, yah saklek aja dengan pilihan itu. Walaupun semua masih mungkin sih, siapa yang tahu. Salam, dan bagi pemilik blog ini, tulisan anda enak untuk dibaca, runut dan tidak bikin pembacanya bosan hingga ingin langsung ke bagian terakhir. Bagus!!

  6. Monza Aulia
    12 April 2014

    paten kali penjabarannya😀

  7. sipjare
    21 April 2014

    Mantap tulisannya.. Enak untk dibaca..! monggo dilanjut urek2nya gan.. Saya yg mau baca..he2😀

    http://www.iniseru.cf

  8. terimakasih sudah menuliskan ini utk saya dan semua kader terbaik partai GERINDRA. Semoga jendral 08 mmenjadi pemimpin Indonesia ke depan utk mengembalikan harga diri bangsa ini. salam Indonesia Raya. cc: @RahayuSaraswati

  9. Ziad
    27 April 2014

    Ulasan yang sangat menarik.

  10. fredy baransano
    29 April 2014

    mantapppp……….puas untuk dibaca..

  11. Angel
    2 Mei 2014

    sangat bagus ulasannya, walaupun orang tua mereka super kaya tapi anaknya berusaha sendiri dan jadi mandiri dibidang mereka masing2, ngga melulu harus ikut kemauan orang tuanya. sukses selalu buat Sara dan Didit!!

  12. anwarsamiran
    12 Mei 2014

    Artikel yang mudah di pahami oleh Aku ( yang lulusan SMA di Pedalaman Kalimantan). Selamat atas prinsip yang di pilih Mas Didiet… semoga bisa memberi inspirasi warga Indonesia….

  13. nuzulularifin
    21 Mei 2014

    Referensi yang dapat dipercaya. Saya suka.

  14. Etty Purbasari
    22 Mei 2014

    ulasan yang dibahas secara menarik oleh penulisnya, dan berita yang tidak kacangan.

  15. niken wardhani
    24 Mei 2014

    Bagus tulisannya. saya suka

  16. omgozali
    26 Mei 2014

    tulisannya bagus top bgt…

  17. ilien
    27 Mei 2014

    Ulasan yang sungguh sangat menarik untuk di baca, dengan gaya tulisan yang mudah di fahami.. Tanpa harus di imingi kata2 yang bersifat negatif utk mereka yg ada dlm tulisan ini hanya utk menarik para pembaca. Saya suka dg tulisan anda. Semoga bisa menghasilkan tulisan2 / ulasan2 yg berbobot seperti ini lagi. Great!!

  18. Gentong Kuat Panjang
    27 Mei 2014

    mantap,, tulisan berkelas namun tetap ramah lingkungan =D

  19. heri
    30 Mei 2014

    tulisan yang “berkelas” top banget

  20. haryo
    30 Mei 2014

    turunan merupakan faktor penunjang,harta jg.tp prestasi pribadi yg penting krn akan menurunkan k generasi berikutnya.slmt & sukses.

  21. dian
    30 Mei 2014

    Aku suka keluarga ini

  22. ita gunawan
    31 Mei 2014

    ya ya ya

  23. riandymariskaroefyan
    5 Juni 2014

    excellent..

  24. young
    8 Juni 2014

    Reblogged this on Young and commented:
    ………………………

  25. Adriati
    9 Juni 2014

    Next Prediksi

  26. zu muzayan
    11 Juni 2014

    Ini tulisan yang sangat berkelas, keren sekali. Semoga makin banyak penulis seperti anda. Great work

  27. Ping-balik: TesSoftwares Indonesia | Softwares Indonesia

  28. Aday Sigamani
    2 Oktober 2014

    Gak salah nich….tulisan ini kenapa harus menghubungkan sosok didiet yang jauh dari realitas….sepertinya mengkaitkan sesuatu yang tidak jelas dan dibuat buat…orang yang bersangkutan…pasti akan tertawa dan merasa bahwa mereka sedang disanjung sanjung….

  29. Ping-balik: didit prabowo subianto | Radhen Bhoncel Tips & Trik

  30. detiik $ema$a
    4 November 2014

    nice blog,
    Lanjutkan.!

  31. amaliatriaa
    8 November 2014

    Tulisan Anda bagus dan berbobot.

  32. abdul halim perdana
    23 April 2015

    ayo bro satukan Indonesia

  33. ILYAS AFSOH
    10 Mei 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: