MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Peunayong dan Eksistensi sejarah kita.


Festival Peunayong/theglobejournal.com

Di suatu sore, saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk datang ke daerah Peunayong. Tujuan kami kesana ialah untuk mengunjungi acara Festival Peunayong yang sedang dilangsungkan di daerah itu selama tiga hari. Festival Peunayong ini adalah festival yang mengambil tema Kampung Cina (Pecinan/China town), ini dikarenakan Peunayong itu sendiri adalah kawasan yang mayoritas penduduknya adalah etnis Cina keturunan.

Saya dan teman-teman datang festival itu pada hari kedua. Ketika kami datang, massa yang mengunjungi festival itu sudah sangat ramai. Setiba di depan arena festival, para pengunjung akan disambut oleh kehadiran sebuah replika pintu gerbang yang mirip dengan pintu gerbang kota pada masa dinasti Cina kuno. Memasuki arena festival, mata saya dan pengunjung lainnya disuguhkan oleh tampilan khas pecinan. Banyak lampion yang bergelantungan di sepanjang jalan yang panjangnya 300-an meter itu. Stand yang ada di festival itu meliputi stand kerajinan produk daerah, dinas pariwisata, stand perusahaan dan selebihnya adalah stand milik komunitas etnis Cina yang terdiri dari sekolah, baik Katolik, Methodist, Budha, dan juga ada beberapa stand Vihara (Tepehkong).

Corak Tionghoa manjadi sangat dominan di arena festival itu. Di stand milik komunitas warga Cina keturunan, mereka menampilkan berbagai macam produk dan ragam karya budaya; dari buku, pakaian khas etnis Cina, seni permainan tradisional, senjata tradisional, makanan, dan benda prosesi keagamaan.

Rata- rata warga Cina keturunan yang ada di stand festival itu adalah warga Peunayong itu sendiri, karena sebagian besar etnis Cina di Banda Aceh memang tinggal di kawasan Peunayong. Pun pusat peribadatan seperti gereja dan vihara juga berada di daerah itu.

Saya dan teman-teman berkeliling ke beberapa stand milik etnis Cina. Kami melihat-lihat benda-benda apa saja yang belum pernah kami lihat secara langsung. Misalkan pakaian tradisional Cina, benda benda ritual budaya keagamaan dan senjata tradisional.

Saat menghampiri salah satu stand, saya mencoba bertanya ke salah satu penjaganya, umurnya kira-kira 16 tahun. Saya menanyakan mengenai barang-banrang yang dipamerkan dalam etalase di stand yang ia jaga. Sambil melihat-lihat, saya menanyakan jenis patung-patung apa saja yang ada di etalase itu. Ia menjawab jika patung kecil yang ada di dalam etalase itu ialah patung Budha dan patung raja cina. Lalu saya bertanya lagi mengenai aliran viharanya, Hinayana atau Mahayana, ia tidak menjawab dan melirik penjaga lain yang ada disitu untuk menjawab pertanyaan saya. Si lelaki yang lebih tua darinya itu menjawab jika aliran vihara mereka adalah Mahayana. Ketika saya menyinggung Dalai Lama dan Tibet, ia langsung menyahut jika itu Budha juga tapi alirannya lain.

Selesai dari stand itu saya mengunjungi stand lainnya, stand beberapa sekolah Kristen yang beraliran Methodist, dan Katolik. Di stand itu tidak banyak hal yang menarik, karena yang dipamerkan di stand-stand mereka adalah barang-barang yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Di stand Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh, saya dan beberapa teman mengambil brosur peta kota. Di brosur itu, tertera peta kota Banda Aceh dan spot objek-objek wisata dan pusat kuliner yang ada didalam kota dan daerah sekelilingnya. Ini semacam peta panduan bagi setiap orang yang ingin mengenal dan menikmati objek  wisata yang ada di Banda Aceh.

Sebenarnya, saat yang tepat untuk berkujung ke festival ini adalah malam hari, karena ketika malam hari, suasana arena festival akan terasa jauh lebih hidup dibanding siang hari. Pun atraksi-atraksi yang dipamerkan juga lebih banyak. Misalkan seperti Barongsai, maupun kehadiran orang-orang yang berpakaian Cina tradisional yang lalu lalang.

Di malam hari, suasana akan lebih hidup lagi ketika ratusan lampion dan pencahayaan stand yang didominasi warna merah berpadu dengan cahaya lampu, sehingga menjadikan tempat itu bak China town sesungguhnya seperti yang ada di daerah lain. Sekilas, mungkin akan terlihat seperti di Singkawang saat perayaan Imlek berlangsung tiap tahun.

Festival Peunayong/kampung Cina kali ini sebenarnya adalah yang pertama kali berlangsung  di Banda Aceh. Ini tahun pertama Barongsai resmi bisa ditampilkan dan dinikmati secara luas oleh masyarakat kota Banda aceh.

Acara Festival Peunayong ini dilangsungkan dalam rangka perayaan ulang tahun kota Banda Aceh yang ke-806 dan juga dalam rangka running event Visit Banda Aceh Years 2011 yang sedang giat-giatnya dikampanyekan oeh pemerintah kota Banda Aceh.

Jika berbicara tentang etnis Cina di Aceh, bagi saya itu adalah hal yang tentunya sudah tak asing lagi. Saya mulai memiliki teman beretnis Cina ketika bersekolah di SMP Negeri 2 di kota Meulaboh. Bisa dikatakan SMP saya saat itu jumlah presentase etnis Cinanya 10 persen dari total keseluruhan siswa/i yang bersekolah disitu. Saat itu saya mulai mengenal beberapa kawan yang beretnis Cina, misalkan Awong, Willy, Edison, Sylvia maupun Yanti. Mereka semua etnis Cina keturunan yang ayah dan ibunya juga berdarah Cina. Awalnya saya berpikir jika semua warga etnis Cina itu beragamakan Budha, tapi setelah saya mengenal mereka lebih dekat, rupanya tak semua etnis Cina itu beragamakan Budha sepeti di visuaisasi film-film yang saya saksikan di tv.

Ketika saya datang ke rumah Awong, saya melihat ada foto lukisan Maria dan Jesus yang dipajang di dinding ruang tamu rumahnya, sedangkan Willy dan Yanti mereka berdua adalah penganut Budhisme. Edison sama seperti Awong, ia seorang Kristen.

Periode saya mulai mengenal teman-teman Cina ini adalah masa ketika Gusdur menjabat sebagai Pemimpin negara ini. Saat itu Gusdur mulai memberikan hak istimewa kepada etnis Cina di Indonesia untuk mengekspresikan bagian dari kebudayaannya. Misalkan pengakuan agama Konghucu, pengesahan perayaan Imlek  sebagai hari libur nasional dan hal lainnya yang berhubungan dengan ekspresi kebudayaan.

Ada hal unik dari teman-teman Cina saya ini. Mereka semua adalah individu-individu yang diikat kuat oleh tradisi. Ketika Imlek misalnya, semuanya ikut merayakan, tidak hanya Willy dan Yanti, tapi juga Awong dan Edison. Mereka semuanya larut dalam merayakan Imlek. Saya teringat saat pertama sekali mendengar kata “angpao”. Seorang teman saya menceritakan jika ia mendapatkan angpao dalam jumlah sangat banyak tahun itu, jumlahnya jutaan, ucapnya bangga.

Tradisi mereka begitu kuat, mereka semua dipersatukan oleh itu dimanapun mereka berada. Ketika Imlek, baik yang beragama Budha, Konghucu, Kristen, Katolik dan Islam semuanya berkumpul. Saya memiliki seorang teman yang ayahnya berdarah asli Aceh dan ibunya berdarah Cina keturunan yang sudah memeluk Islam. Walaupun ia dan ibunya tidak melakukan penyembahan terhadap patung-patung, tapi mereka juga ikut merayakan Imlek, ia juga mendapatkan banyak pemberian angpao. Dan dirumahnya, ibunya juga memasang lampion dan bentuk khas perayaan Imlek lainnya. Awalnya saya berfikir jika Imlek ataupun tradisi cina lainnya adalah bentuk dari bagian agama Budha, walaupu sebagaian isi dari ritual mereka saya pikir juga kesitu arahnya. Tapi setelah lama kelamaan, saya baru tahu jika semua itu adalah bentuk tradisi yang berkembang tanpa adanya latar agama.

Salah satu contoh bagian budaya Cina yang terkenal adalah mengenai perbintangan yang dalam tradisi cina disebut Shio. Shio hampir sama dengan astrology perbintangan yang dimiliki oleh Yunani ataupun konsep Peuraja yang dimiliki oleh masyarakat Aceh. Dalam hal astrolagy, konsep Shio yang dimiliki oleh tradisi Cina dan konsep Peuraja yang dimiliki oleh sebagian masyarakat Aceh sebenarnya hampir sama. Keduanya sama-sama menggunakan hewan sebagai subjek lambang dalam tafsiran-tafsiran makna astrology.

Berbicara tentang Peunayong, orang yang pertama sekali mengenalkan saya terhadap Peunayong ini adalah Ayah saya. Saat itu saya diminta mengantarkan ayah saya ke terminal untuk mengirimkan sebuah paket barang kepada ibu saya yang berada di kota lain. Dalam perjalanan melewati jalanan Banda Aceh itu, ketika melewati situs-situs sejarah atau jalanan tertentu, maka ayah saya akan menceritakan mengenai sejarah dan hal apa saja yang beliau ketahui tetntang tempat itu kepada saya. Beliau akan menjelaskannya satu persatu, dan kepala saya pun setelah itu akan melahirkan puluhan pertanyaan-pertanyaan baru untuk ditemukan jawabannya.

Dalam perjalanan pulang dari terminal, kami melewati daerah Peunayong. Ketika melewati persimpangan dibawah turunan jembatan Peunayong (depan pasar ikan), ayah saya bercerita jika dulunya di tahun 1966, deretan toko yang ada di persimpangan itu dan jalan lainnya dijarah oleh warga. Saat itu adalah masa dimana stigma akan PKI terhadap kaum Cina mulai muncul. Masyarakat menjarah toko-toko di daerah itu, warga Cinanya diusir dan  rata-rata pindah ke Medan. Kata ayah saya, makanya di Medan ada kampung Cina Aceh dan kini banyak Cina kaya disana merupakan Cina Peunayong yang diusir itu.

Di sela-sela cerita beliau, ayah saya berkata jika beliau dulunya juga ikut menjarah toko-toko Cina itu. Kata ayah saya, beliau yang saat itu berumur 15 tahun hanya ikut-ikutan, karena letak rumah kakek saya saat itu adalah di kampung yang berdekatan dengan Peunayong, yaitu kampung Lampriet. Sambil tertawa beliau melanjutkan ceritanya dan mengatakan saat penjarahan itu beliau mendapatkan sebuah pulpen bagus nan mahal.

Dalam perjalanan sepulang dari terminal itu ayah saya juga bercerita tentang sekolah SMA nya, yaitu SMA Negeri 2 Banda Aceh. SMA 2 juga terletak di daerah sekitaran Peunayong. Ayah saya bercerita jika dulu SMA 2 itu awalnya adalah sekolah Cina, lalu diambil oleh pemerintah dan diubah namanya menjadi SMA Darussalam. Lalu diubah lagi namanya menjadi SMA Negeri 2 Banda Aceh. Ayah saya tinggal di Banda Aceh sejak lulus dari SMP di kampung  hingga menyelesaikan perkuliahan. Beliau hijrah ke Banda Aceh tahun 1965, saat kakek saya dipindah tugaskan ke Banda oleh Gubernur saat itu.

Saya dan ayah saya memiliki cerita tersendiri mengenai etnis Cina dalam kehidupan kami. Jika ayah saya memiliki riwayat cerita mengenai sejarah dan sentuhannya dengan kehidupan Cina masa transisi 1966 di Banda Aceh, maka saya memiliki cerita tersendiri ketika memiliki teman-teman yang beretnis Cina yang baik-baik itu saat saat bersekolah di Meulaboh .

Ayah saya memiliki riwayat “kisah” tentang Cina nya saat ia masuk SMA. Dan saya saat masih SMP. Dahulu SMP saya itu pada masa Belanda dinamakan Native school atau sekolah pribumi. Di samping sekolah saya berdiri sebuah SD, saya lupa nama SD tersebut, yang jelas SD itu adalah SD yang mayoritas siswanya adalah etnis Cina keturunan. Dahulu, sebelum berubah menjadi SD, disitu berdiri SPG (Sekolah Pendidikan Guru) dan di masa Belanda sekolah itu dulunya dinamakan Chineese school (Sekolah Cina). Belanda dengan jelas membuat pemisahan antara sekolah Cina dan pribumi.

Sejak dahulu, keberadaan akan entitas Cina sebenarnya sudah begitu kuat di Aceh. Misalkan seperti adanya kampung cina Puenayong, sekolah ayah saya yang dulu sekolah Cina dan  SD disamping sekolah saya yang dulunya juga sekolah Cina.

Kekalahan Belanda, masuknya Jepang, kelahiran Indonesia dan problem politik yang rumit lambat laun mencabut akar eksistensi keberadaan etnis Cina di kedua kota ini. Sekolah-sekolah Cina berubah menjadi sekolah negeri. Mereka distigmakan PKI, sebagian besar dari mereka diusir.

___________________________

Seorang teman menceritakan kepada saya tentang adanya situs yang berisikan koleksi peta kuno daerah koloni Hindia Belanda yang dimiliki pemerintahan Belanda. Saya menelusuri situs peta kuno tersebut dan memasukkan satu persatu nama daerah yang petanya ingin saya lihat. Ketika melihat tampilan peta kuno Banda Aceh yang dibuat Belanda dalam rentang waktu tahun 1880-an hingga 1940-an, saya melihat jika bentuk peta Banda Aceh saat itu dengan peta yang dibuat masa kini tidaklah jauh berbeda. Bentuk wilayah, nama kampung, jalan-jalan protokol, semuanya hampir sama. Cuma yang membedakan peta kuno itu dengan peta saat ini adalah bahwa banyak nama-nama jalannya kini sudah berubah.

Ketika saya melihat peta kuno itu, saya melihat jika komplek tempat KODAM Iskandar Muda kini berdiri dahulunya adalah daerah “military camp” milik Belanda, dan daerah Peunayong yang ada disebelah KODAM itu dulunya dinamakan oleh belanda sebagai Chinesse quarter (daerah Cina). Di peta itu akan jelas terlihat jika dulu nama-nama jalan yang kini telah berubah nama itu dulunya dinamakan dengan nama kota-kota besar yang ada di negara Cina. Misalkan ada jalan di Peuanyong dulunya bernama Peking Weg,  Nanking Weg ataupun Shanghai Weg. “Weg” adalah bahasa belanda untuk menyebut jalan, sedangkan Peking adalah nama lama untuk Beijing, sebelum ejaan tulisan di negara Cina diperbaharui.

Bagi saya, kenyataan Peunayong sebagai wilayah pecinan adalah sesuatu yang tidak terbantahkan. Peunayong adalah saksi bisu betapa multikulturnya pola masyarakat yang hidup di Banda Aceh pada masa lalu. Betapa tolerannya kehidupan masyarakat saat itu.

Tak hanya pada masa Belanda, pada masa Kerajaan Aceh pun eksistensi keberadaan Peunayong sudah kuat berdiri. Pada masa itu, Peunayong adalah tempat nan ekslusive. Ada yang mengatakan jika nama Peuanyong sendiri berasal dari kata “geupayong/dipeupayong” yang artinya dipayungi. Sejak awal kehadirannya, Peunayong merupakan daerah pusat kediaman diplomatik yang disana hidup beragam etnis suku bangsa luar nan beragam. Hal itu didasari oleh betapa luasnya jaringan hubungan diplomatik yang dimiliki oleh Kerajaan Aceh saat itu. Saat itu, kerajaan Aceh sudah memiliki hubungan diplomatik dengan wilayah Eropa dan Kekhalifahan Turki Usmani. Salah satu bentuk betapa kuatnya jaringan diplomasi kala itu ialah saat kerajaan Aceh mengirimkan utusan/konsul ke Eropa yang saat itu diwakili oleh Syah Bandar Abdul Hamid.

Keberadaan Etnis China di Peunayong adalah bagian dari fakta sejarah betapa kuatnya eksistensi Kerajaan Aceh dan jaringan diplomatik yang dimilikinya. Cina-cina keturunan di Peunayong adalah bukti akan hal itu, mereka adalah sisa-sisa betapa di Banda Aceh dulunya pernah berdiri sebuah Imperium kerajaan yang memiliki daulat yang kuat dan memiliki kualitas relasi diplomatik yang tinggi pada masanya.

Berbicara tentang Peunayong tidak hanya berbicara tentang etnis Cina yang mendiaminya, tapi lebih dari itu. Berbicara Peunayong adalah berbicara tentang betapa majunya dahulu peradaban pendahulu kita dalam interaksi hubungan internasional.

Peunayong tidak hanya tentang Cina, bangunan tua, gereja ataupun vihara. Peunayong adalah tentang sejarah hidup eksistensi keberadaan sejarah kita.

________________________________________________________________

Peunayong lama

Peunayong lama

meulabohmeulaboh

Banda aceh lama

Banda aceh lama

5 comments on “Peunayong dan Eksistensi sejarah kita.

  1. Aulia
    15 Juli 2011

    akhirnya masuk ke blog juga🙂

  2. Arif
    20 Juli 2011

    waahh saya tinggal di peunayong ni😀

  3. dhavit
    14 Agustus 2011

    lage nyan rupa jih peunayong

  4. serambi
    1 Oktober 2011

    mantap that lagoooo mantap

  5. buzzerbeezz
    8 Januari 2012

    Kisah masa lalu Peunayong yg diceritakan Ayahnya menarik sekali. Belum pernah tau saya tentang sejarah Peunayong seperti yg diceritakan Ayahnya. Thanks for sharing. Nice article

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Juli 2011 by in Aceh and tagged , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: