MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Imajinasi Asas Tunggal


Imajinasi Pancasila

Dahulu, ketika pemerintah ingin menjadikan Pancasila sebagai ideologi asas tunggal bagi setiap organisasi, di salah satu sidang DPR/MPR, seorang anggota dewan yang berasal dari perwakilan Partai Islam bertanya kepada perwakilan pemerintah yang hadir ke sidang itu. Kurang lebih ia bertanya begini;

“Jika Pancasila ingin dijadikan asas tunggal di Indonesia ini, coba anda sebutkan siapa orang Indonesia yang bisa kita jadikan panutan betapa Pancasilaisnya ia, betapa sempurnanya ia mengamalkan Pancasila?”

Utusan pemerintah dan anggota dewan yang hadir di ruangan itu semuanya terdiam. Mereka seakan tersadarkan jika selama ini imajinasi akan paripurnanya kehadiran Pancasila yang digadang-gadangkan menjadi “way of life” dan identitas harga mati negeri ini sebenarnya hanya ada dalam dunia imajinasi.

Saking diamnya mereka, para utusan perwakilan pemerintah itu tak mampu menyebut satupun nama untuk mendeskripsikan siapa sesungguhnya manusia yang bisa dijadikan panutan akan keberadaan Pancasila dalam dirinya. Mereka bahkan tak sanggup untuk menyebutkan nama para pendiri dan petinggi negeri ini. Mereka tak mampu menyebut nama sekaliber Soekarno yang katanya founding father negara Pancasila ini. Mereka tak mampu menyebut nama Mohd. Yamin yang disebut-sebut sebagai pencetus kemahadahsyatan pesona imajinasi Pancasila. Bahkan merekapun tak mampu menyebut nama Soeharto yang saat itu menjadi panguasa dan begitu mencintai pelabelan Pancasila hingga mengutus mereka untuk hadir di sidang paripurna.

1 Juni nanti, memperingati Pidato Bung Karno 1 Juni 1945, pihak pemerintah dan MPR/DPR berencana akan memperingati Hari Pancasila. Bagi pemerintah, peringatan Hari Pancasila ini disebut memiliki tujuan untuk;

“Menekankan pentingnya revitalisasi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara. Hal ini penting agar rakyat Indonesia tak hanya memahami, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila”

Nah, menyambut tanggal 1 Juni yang tinggal dua hari lagi itu, pertanyaan kita mungkin tetap sama dengan pertanyaan seorang aggota dewan perwakilan Partai Islam di salah satu sidang paripurna beberapa puluh tahun lalu; “Siapa orang Indonesia ini yang bisa dijadikan contoh dan panutan akan Pancasilaisnya ia? Akan betapa ia begitu menghayati Pancasila?”

Banyak yang berkata jika Pancasila adalah dongengan. Bulu-bulu yang dirangkai dengan keterkaitan dan kesesuaian imajinasi angka-angka tanggal kemerdekaan dan adopsi simbology akan betapa Indonesia dahulunya (khususnya Jawa) adalah pengejewantahan dari kejayaan peradaban Hindu purba. Burung Garuda, kendaraan Dewa Visnu dianggap sebagai simbol keberuntungan, simbol dari pemeliharaan kehidupan duniawi manusia sebelum di porak-porandakan oleh Shiwa.

Di daerah yang penuh gejolak seperti Aceh, nama Indonesia ini terkadang diplesetkan menjadi Hindunesia. Ini hal yang tak salah, dan tak ada yang berani menyalahkan julukan plesetan nama sebuah negara kepulauan ini. Toh kenyataan dulunya negara ini memang dibentuk dari filosofi itu, akan eksistensi Hindu, tentang cerita Patih Gajah Mada bermimpi memersatukan Nusantara dari istana Triwulan. Sama seperti Pancasila yang lambangnya juga diadopsi dari baiknya sang dewa pemelihara dalam kepercayaan agama Jawa dahulu kala.

Sepertinya negeri kita ini memang negeri yang imajinatif yang penuh dengan cerita imajiner. Saking imajinatifnya, hingga kini para penguasa dan orang pintar kita hanya mampu melestarikan imajinasi-imajinasi lucu sejenis itu. Hingga suatu ketika saat kita bertanya kenapa dan untuk apa imajinasi itu ia pelihara maka jawabannya tetap sama. Jawaban yang berbentuk diam, karena kenyataannya memang tak ada manusia yang pernah mewujudkan mimpi-mimpi imajinasi sejenis Pancasila.

Bahkan para penciptanya pun tak bisa dijadikan acuan kesempurnaan implementasi ide yang ia cetuskan.

Kalau mereka yang kita puja-puji itu saja gagal dalam menghidupkan Pancasilanya, lalu untuk apa lagi kita sibuk dengan mulut berbisa mengharuskan semua orang menerima dan mengamalkannya?

Selamat datang 1 Juni nan penuh mimpi. Negara kita ini ternyata masih terjebak dalam dunia imajinasi. Atau, mungkin saja negara kita ini memang tak ada dan hanya khayalan imajiner kita saja.

Imajinasi para pendahulu kita terkadang memang sungguh keterlaluan. Mereka membangun kebanggan akan negara kita dari dongengan-dongengan nan penuh kebohogan.

4 comments on “Imajinasi Asas Tunggal

  1. kukuh anjar
    14 Juli 2012

    bg saya rasa penjelasan pancasila masih dipandang secara parsial , seharusnya sebagai mahasiswa kita harus berpandangan secara komprehensif dan dinamis

  2. Ahmad Muhajier
    8 Agustus 2012

    kukuh ke bilang ????πŸ˜€

  3. jenis
    18 Oktober 2012

    Bagus banget ulasannya, blog bagus
    salam kenal

  4. gadinghs
    14 Maret 2013

    Menulis ttg Pancasila tp sebenarnya anda belum begitu memahami Pancasila dan Indonesia. Imajinasi anda melebihi kemampuan anda, sehingga justru anda yg ersudut dgn pandangan imajinatif anda yg melahirkan ilusi itu sendiri.
    Anda merasa lebih pintar dr Soekarno, Hatta, Natsir, Tan Malaka, Buya Hamka, KH. Agus,Salim, KH Ahmad Dahlan, Ali Hasymi, Mr. Mohd Hasan, & pendahulu lainnya.
    Sy prihatin ,,anda menghina imajinasi pendahulu, sementara anda hidup dlm negara hasil imajinasi yg anda hina itu.
    Cobalah tuliskan imajinasi negara versi anda, lengkap dengan falsafah yg bisa anda tawarkan, dari situ sy baru bisa percaya bahwa anda memang hebat dan lebih pintar dari mereka. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 30 Mei 2012 by in Aceh, Opinion and tagged , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: