MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Dahlan Iskan dan Kuasa Media


fox, cbc, abc, cbs--don't trust the corporate mediaBelakangan ini pemberitaan media masa seputar prediksi siapa calon presiden Indonesia kedapan semakin massive. Terakhir, selain tentang pemberitaan rencana duet Aburizal Bakrie-Puan Maharani, Prabowo dan Sri Mulyani, ada seorang figur lagi yang menjadi sorotan pemberitaan media masa. Figur baru itu adalah Menteri BUMN, Dahlan Iskan.

Di beberapa berita disebutkan jika Dahlan dapat menjadi calon kuat untuk maju di arena Pilpres 2014. Bahkan beberapa pengamat berasumsi, boomingnya figur Dahlan bisa jadi akan mengalahkan Hatta Rajasa yang belakangan ini menjadi figur yang diprediksi paling kuat untuk mengganti kepemimpinan SBY di 2014.

Lalu apakah figur dahlan memang sehebat apa yang dikatakan dan diberitakan media massa?. Saya secara pribadi memiliki pandangan lain dalam hal ini, tentang riuhnya isu pesona Dahlan, dan tentang Dahlan yang diisukan untuk menjadi Presiden negara dengan jumlah penduduk nomor 4 terbanyak di muka bumi ini.

Pertama, kita harus melihat keberadaan Dahlan yang kini sedang booming di media massa. Apakah ini memang lahir karena pesona original ataupun lahir dari hebatnya kuasa pemberitaan?

Dalam hal ini, sebelum melihat figur Dahlan yang memesona menurut media itu, tentu kita harus melihat sepak terjang Dahlan terlebih dahulu. Sebelum dahlan bergabung kedalam struktur kabinet Indonesia Bersatu Jilid II, Dahlan adalah Pemilik dan CEO dari Jawa Pos Grup. Jawa Pos Grup adalah salah satu grup media terbesar di Indonesia. Jawa Pos memiliki jaringan 151 surat kabar (koran) se-Indonesia, puluhan tabloid serta majalah dan 10 jaringan televisi lokal. Ini baru dalam hal media, belum lagi industri power plant dan pabrik kertas yang dimilikinya..

Point penting yang ingin saya tulis ialah kenyataan bahwa Dahlan adalah manusia indonesia yang memiliki jaringan media terbesar, yaitu 151 surat kabar. Ini mengalahkan jumlah total media yang dimiliki oleh Kompas Grup yang hanya memiliki 70 surat kabar se-Indonesia.

Pertanyaannya adalah, bagaimana kita bisa mempercayai booming publisitas yang dimiliki oleh orang yang menjadi penguasa media di negeri ini? Apakah kita bisa menganggap ini adalah sesuatu hal yang natural? Berlangsung secara sendiri tanpa campur tangan jaringan media yang ia miliki?

Dalam kajian komunikasi media, ada teori yang bernama Agenda Setting. Teori ini berbicara bagaimana media massa memiliki kemampuan untuk mentransfer hal yang menonjol yang dimiliki sebuah berita dari news agenda mereka kepada public agenda. Pointnya adalah bagaimana media massa mampu membuat apa yang penting menurutnya, menjadi penting pula bagi masyarakat. Sesuatu yang dianggap penting oleh media maka akan dianggap penting oleh masyarakat.

Ada dua kemungkinan yang lahir dari implikasi adanya teori ini. Pertama, Media agenda akan menjadi Public agenda. Kedua, Media agenda akan menjadi Voter agenda. Nah, melihat keberadaan boomingnya pemberitaan tentang Dahlan, kedua implikasi ini sama-sama muncul.

Kini masyarakat begitu tersihir dengan keberadaan Dahlan, menganggap ia sebagai messiah, menganggap ia sebagai seorang pioner perubahan yang akan menyelamatkan Indonesia dengan terobosan-terobosan lihainya yang banyak diberitakan media. Apakah keterpesonaan masyarakat ini lahir dengan sendirinya? Tentu tidak. Pesona Dahlan dalam pikiran masyarakat lahir dari pemberitaan ratusan jaringan media yang ia miliki. Pemberitaan mengenainya diberitakan oleh ratusan media yang ia miliki, lalu ratusan media itu ikut mempengaruhi media-media lainnya untuk memberitakan hal yang sama.

Pertanyaan lain yang muncul, kenapa media semisal Detik yang dimiliki oleh Chairul Tanjung, bos Para Group juga memberitakan perihal boomingnya pesona Dahlan? Dalam hal ini ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, Keberadaan Dahlan sebagai Meneg BUMN, Kementrian yang membawahi 140-an BUMN negeri ini. Posisi sebagai Meneg BUMN menjadikan ia sebagai figur public yang mau tidak mau tetap harus diberitakan. Kedua, adanya pengaruh dari trend pemberitaan yang dihadirkan oleh media lain, sehingga suatu media akan ikut serta membeli dan memeriahkan trend tersebut.

Kemungkinan lain dari ikutnya media selain media milik Jawa Pos Group memberitakan keberadaan Dahlan adalah tentang adanya implikasi lain dari fenomena Agenda Setting itu sendiri. Pemberitaan media non-Jawa Pos bisa jadi dikarenakan adanya kecendruangan lain dari teori ini, yaitu Public Agenda yang mempengaruhi Media Agenda.

Media milik Group Jawa Pos memberitakan secara massiv perihal keberadaan Dahlan dan pesona-pesonanya, lalu ketika pemberitaan ini diadopsi oleh mesyarakat menjadi pesona kekaguman atas figur Dahlan, maka mau tidak mau media lainnya yang berada di luar Jawa Pos Group juga akan terpengaruh untuk ikut memberitakan perihal Dahlan, karena melihat betapa lakunya dan baiknya respon masyarakat atas pemberitaan mengenai Dahlan Iskan.

Jika kita perhatikan bagaimana Dahlan menggunakan jejaring medianya dalam mencitrakan dirinya, maka hadirnya booming figur Dahlan adalah sesuatu yang amat rapih direncanakan.

Tahun lalu, Ketika Dahlan datang ke Aceh Tengah sebagai Direktur Utama PLN, dalam rangka kunjungan kerja mengawasi rencana proyek pembangunan PLTA Peusangn. Beberapa hari setelah kedatangan Dahlan ke Aceh Tengah itu, beberapa media milik Jawa Pos Group yang ada di Aceh, yaitu Koran Rakyat Aceh dan Metro Aceh menyuguhkan dalam pemberitaan koran mereka tentang kesan Dahlan saat berkunjung ke Aceh tengah itu. Tulisan mengenai Dahlan dalam korannya itu berisi kesan manis bak seorang pelancong.

Ini menjadi kebiasaan Dahlan. Setiap pergi ke suatu daerah, media-media yang ia miliki akan memberitakan secara massive pemberitaan mengenainya. Jaringan media JPNN (Jawa Pos National Network), Kelompok jaringan media yang ia miliki akan selalu memberitakan setiap aktifitas sang pemilik.

Jadi, tak perlu heran jika setiap gerak langkah Dahlan selalu mendapatkan porsi pemberitaan yang lebih, dibanding tokoh manapun di Indonesia ini. Tak perlu heran jika setiap gerak Dahlan selalu ditemani oleh pewarta dari jejaring media yang ia miliki. Kita tak perlu terkejut tentang berita yang mengatakan Dahlan hampir diusir oleh PASPAMPRES beberapa waktu lalu di istana Bogor hanya karena mengendarai ojek untuk menghadiri Rapat Kabinet.

Jika beberapa waktu lalu ada lembaga survey yang merilis penelitian mengenai Analisys Content mengenai pemberitaan media terhadap calon Presiden di beberapa media nasional dalam rentang tahun 2011 yang menyebutkan jika pemberitaan mengenai Hatta menduduki peringkat pertama mengenai calon Presiden 2014. Maka kedepan bisa jadi penelitian lembaga survey itu akan memiliki hasil yang lain. Kedepan, bisa jadi Dahlan lah yang akan menduduki posisi pertama mengenai pemberitaan siapa calon terkuat President Indonesia 2014.

Kini, di Indonesia maupun dunia, media adalah instrumen politik yang paling baik. Sistem politik mempengaruhi sistem media. Dan keberadaan media mempengaruhi aspirasi politik public. Media agenda saat pemilu berubah menjadi Voter agenda. Apa yang dianggap oleh media baik, akan dainggap baik oleh masyarakat dan akan mempengaruhi rasio mereka dalam menentukan pilihan akan sesuatu hal, terlebih dalam dunia politik.

Kini, di Indonesia, semua kalangan politisi berlomba-lomba untuk menguasai industri media. Jika Dahlan memiliki Jawa Pos Group, maka Aburizal Bakrie memiliki Viva Media Group. Group media milik Bakrie membawahi TV One, An Teve, portal berita Viva News dan beberapa media cetak, baik lokal maupun nasional.

Surya Paloh, selain menjadi pemilik Media Group yang membawahi Metro TV dan Media Indonesia dan Lampung Post, untuk mendongkrak citra Ormas dan Partai NasDem-nya, kini menggandeng Taipan media, yaitu Hari Tanoesudibjo, sang pemilik Global Mediacom yang membawahi MNC Group, group yang memiliki MNC TV, RCTI, Global TV, Indovision , portal berita Okezone, jaringan Global Radio dan koran Seputar Indonesia.

Di kubu SBY, kini ada dua grup media, yaitu Jarnal Nasional dan jejaring media milik Para Group, yaitu Tans Corp yang dimiliki oleh Chairul Tanjung. Chairul kini tercatat sebagai Ketua Komite Ekonomi Nasional pada pemerintahan SBY. Jejaring media Trans Corp-nya kini adalah pemilik Trans TV, Trans 7, dan jaringan portal berita online terbesar di Indonesia, yaitu Detikcom yang tiap hari diakses oleh hampir 40 juta rakyat Indonesia.

Ke-semua politisi elite ini menggunakan media masa sebagai alat substitusi senjata politik. Bertujuan hanya untuk menciptakan dan mengarahkan opini masyarakat dalam pemberitaan. Tapi hal ini tak berlaku bagi Dahlan. Dahlan adalah seorang wartawan senior yang paham betul bagaimana memamfaatkan media sebagai senjata mempengaruhi pikiran publik. Ia adalah profesional di bidang ini. Bukan profesional yang membeli dan mendirikan media sebagai bagian dari sayap pemenangan tujuan politik.

Kenyataan pun berpihak pada Dahlan. Sekuat apapun kekuatan politik lain menggunakan media massa mereka untuk tujuan politik, tetap keberadaan Dahlan tak bisa dipinggirkan. Dahlan adalah pemilik jaringan 151 surat kabar di Indonesia dan puluhan media lainnya. Jaringan inilah yang saban hari menyerbu mata dan pikiran masyarakat dengan pemberitaan yang bertubi-tubi, yang sekali-kali disisipi pemberitaan mengenai Dahlan dan lambat laun pemberitaan itu mempengaruhi pikiran masyarakat untuk selalu terpesona dan selalu bisa dipengaruhi oleh pemberitaan mengenai pesona Dahlan.

Ada satu petuah bagus. Pembuat opini jauh lebih hebat dibanding pembuat hukum. Dan untuk menciptakan opini maka kita harus menguasai media. Di Indonesia, Dahlan Iskan adalah raja medianya.

Muda Bentara

January 21, 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 21 Januari 2012 by in Prime and tagged , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: