MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Kontra Kultur


550px-Become-a-Person-of-Culture-Step-1Sub culture yang ramai diperbincangkan beberapa waktu ini bisa dikatakan sebagai new culture. Umurnya baru beberapa dekade. Kelahirannya disebut dan diakui sebagai antithesa dari mainstream culture yang ada. Jika dikatakan sub culture yang juga sebagai contra culture itu sebagai bagian mainstreame culture, ini sepertinya kurang tepat. Dalam satu sisi, angapan kelahiran sebuah sub culture ataupun culture baru yang contra culture disebut menginduk ataupun dilahirkan dari rahim mainstream culture, walaupun ia contra. Di sisi lain, kehadiran sub culture yang menjadi contra culture dikatakan berbeda dan tak dilahirkan oleh mainstream culture karena keberadaanya sebagai antithesa/contra.

Masalahnya menjadi besar ketika ada bagian dari komponen culture lain yang mencoba menerjemahkan kehadiran dan posisi dari sub culture yang menjadi antithesa itu. Komponen culture lain itu secara gamblang mengeneralisasikan jika keberadaan contra culture dari mainstream culture itu sebagai bagian dari mainstream culture. Bagi komponen culture lain itu, walaupun contra culture tersebut adalah lawan, tapi akibat kelahirannya berada pada teritori mainstream culture, maka sub culture itu mau tidak mau tetap menjadi bagian dari mainstream culture tersebut.

Jika dilihat dari sejarah perkembangannya, culture di tempat sub culture yang menjadi contra culture itu lahir telah mengalami banyak perubahan dan pembaruan. Culture mainstream disana terbentuk dari pengadopsian culture-culture lainnya yang hadir baik dari invasi ilmu pengetahuan ataupun invasi militer. Hal ini dinamakan transfer culture.

Tak hanya di tempat sub culture itu lahir. Di tempat sub culture itu kini menjadi pertentangan juga terjadi hal seperti itu. Keberadaan sebuah culture digantikan oleh culture lainnya yang diyakini dan dirasa lebih baik. Culture yang berbasis religion memiliki tempat tersendiri, dalam hal ini religion culture tak hanya meliputi unsur culture itu sendiri, tapi juga religion sebagai kepercayaan.

Dimana saja, sebuah culture ataupun sub culture yang dilahirkan bukan dari rahim religion culture akan selalu bertentangan dengan arus religion culture. Religion culture memiliki tingkat filtering yang teramat tinggi, sehingga setiap keberadaan culture ataupun sub culture baru yang memasuki ranah teritori culture yang berbasiskan religion, walaupun secara filtering culture dapat diterima, tapi sering terhalang dengan filtering yang dilakukan dan diterapkan oleh religion.

Setiap orang mestinya harus bisa membedakan bagaimana ciri religion culture dengan culture mainstream yang bebas dari campur tangan kepercayaan tertentu, walaupun faktanya setiap culture tak mungkin lepas dari kedekatannya atau irisan dari sebuah religion culture.

Muda Bentara

December 24, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 24 Desember 2011 by in Aceh and tagged , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: