MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Punk, HAM dan Masa Depan


136770_pembinaan-anak-punk-di-aceh_663_382Di salah satu forum seminar nasional yang bulan lalu dilaksanakan oleh FISIP Unsyiah. Prof. Riyas Rasyid selaku salah satu pembicara bercerita tentang Edward Kennedy yang seumur hidupnya tidak bisa mencalonkan diri menjadi presiden Amerika Serikat. Edward Kennedy adalah tokoh yang paling berpengaruh di keluarga Kennedy setelah John F Kennedy. Edward adalah senator yang paling disegani di Capitoll Hill Amerika. Prof. Riyas menceritakan jika sebab terkendalanya Edward dikarenakan oleh tiga kesalahan kecil yang dilakukannya sehingga secara aturan etika politik yang dianut oleh Amerika Serikat,  ia tak bisa mencalonkan diri sebagai presiden.  Kesalahan pertama Edward adalah bahwa ketika ia menempuh study semasa muda, ia pernah ketahuan mencontek. Kesalahan kedua, Edward pernah kedapatan mabuk di pub.  Kesalahan ketiga, Edward pernah mengemudikan mobil dan tercebur ke danau sehingga menyebabkan salah satu sekretarisnya yang ada di mobilnya itu meninggal dunia.

Ini tiga dosa kecil Edward yang membuatnya tak pernah bisa mencalonkan diri sebagai president Amerika, walaupun ia adalah senator yang paling berpengaruh dan berasal dari trah keluarga yang paling berkharisma di Amerika. Amerika yang terkenal sebagai negara paling bebas di dunia ini, negara yang paling mengakui kebebasan, negara yang paling mengagungkan kebebasan individu. Nah, bayangkan dengan Indonesia? Apakah Indonesia seperti Amerika yang begitu detail dan seksama melihat track record seseorang yang akan dijadikan calon pemimpin? Lalu, bagaimana dengan Aceh? Apakah Aceh menerapkan standar etika yang mengharuskan seorang calon pemimpin mestilah seseorang yang terbebas dari isu asusila semisal tak pernah khalwat atau kedapatan berzina?

Dalam hal ini, yang ingin saya jelaskan disini bukanlah perihal betapa hebatnya Amerika yang mengagungkan kebebasan.  Tapi, mengenai betapa hebatnya Amerika yang sangat detail menghargai nilai-nilai etik dalam menentukan kriteria calon pemimpin yang akan memimpin negara yang berjuluk Novus Ordo Seclorum itu.

Titik poinnya adalah ETIKA. Betapa negara adidaya yang begitu moderen sangat menghargai keberadaan Etika, sehingga seorang senator yang begitu berpengaruh, hanya karena tiga kesalahan yang begitu kecil tapi tetap tak bisa mencalonkan diri menjadi President The United State Of America.

***

30 menit yang lalu saya membaca koran Serambi Indonesia edisi hari ini yang ada di meja saya. Di halaman utama koran itu tertera foto beberapa anak muda berkepala plontos dan menggenakan baju koko berwarna putih dan kuning. Penampilan mereka begitu rapi. Saya yakin, setiap orang yang melihat foto itu pastilah bangga, apalagi bagi orang tua anak-anak muda itu. Caption di foto itu menjelaskan jika anak-anak muda itu adalah anak punk yang baru selesai melaksanakan Shalat Jumat di Sekolah Polisi Negara Seulawah.

Nah, lalu jika ada yang berkata anak-anak muda yang sebaya dengan saya itu dikatakan Hak Asasi Manusia-nya (HAM) dilanggar, saya ingin bertanya balik, HAM yang mana yang dilanggar dari mereka? Apakah orang yang berkata adanya pelanggaran HAM itu orang yang buta ataukah tuli? Apakah mereka tak bisa melihat betapa indahnya aktifitas mereka yang dipenuhi dengan pembinaan dan sharing perihal ilmu agama? Apakah yang mengatakan HAM mereka dilanggar itu tidak melihat bagaimana indahnya ketika mereka berdoa bersama-sama dengan bintara polisi dan masyarakat Seulawah dalam keadaan rapi, bersih dan wangi? Apakah yang mengatakan HAM anak-anak muda itu dilanggar tak menyadari jika anak-anak muda itu juga harus diselamatkan untuk menikmati hak asasi mereka agar dapat menikmati ilmu agama yang mengharuskan setiap orang berkapaian sopan, rapi dan wangi? Apakah yang mengatakan HAM anak-anak muda itu dilanggar tak tahu jika dengan penampilan yang kumal, urakan, maka masa depan mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak akan sirna?

Yang mengatakan HAM anak-anak muda pengikut aliran Punk sebaya saya itu dilanggar bagi saya adalah orang-orang yang melanggar HAM itu sendiri. Betapa sedihnya ada manusia yang membiarkan manusia lainnya hidup dengan keadaan kumal, kumuh, urakan dan tak sopan. Anak-anak muda Punk itu mestinya harus menuntut orang-orang yang mengharuskan mereka tetap tertinggal, yang mengharuskan mereka tak bisa mendapatkan kehidupan yang layak, yang mengharuskan mereka tak menikmati keindahan menjalankan perintah agama. Anak-anak Punk itu harus menuntut mereka-mereka yang katanya membela mereka tapi secara nyata mencari muka untuk dilirik oleh para donor demi mendapatkan kucuran dana bantuan proyek sosial tahunan. Anak-anak Punk itu harus menuntut orang orang yang katanya membela mereka itu tapi secara nyata hanya untuk menjual isu dan mencari pundi dengan aksi keprihatinan sosial.

Bagi saya, keberadaan Anak Punk yang dibina di Seulawah itu, yang dibina dengan ilmu agama itu adalah bentuk bekal bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik. Untuk menjemput kembali cita-cita masa kecil mereka, masa SD mereka yang penuh dengan keinginan untuk menjadi seseorang yang habat. Saya yakin, banyak yang dari mereka dulunya memiliki cita-cita untuk menjadi seorang presiden, menjadi seorang dokter atau bahkan polisi. Tapi apakah dengan keadaan kumal, tidak rapi, urakan, maka cita-cita mereka akan terwujud? Tentu saja tidak.

Dengan adanya pembinaan spiritual dan etika ini, saya pikir apa yang terjadi pada kasus Edward Kennedy seperti yang saya ceritakan di awal tulisan ini tak akan terjadi pada mereka. Mereka nantinya tak perlu lagi mabuk, tak perlu lagi bergaya rambut mohawk dan tak perlu lagi menjadi urakan. Dengan adanya pembekalan ini, betapa banyak anak-anak muda yang akan terselamatkan masa depan hidupnya, terselamatkan semangat dan harapan orang tua mereka yang bermimpi untuk melihat anaknya kelak menjadi pemimpin ataupun usahawan besar. Dengan adanya pembekalan ini, akan ada ribuan anak-anak yang awalnya berencana untuk menjadi Punk, tetapi mengurungkan niatnya untuk menjadi seperti mereka.

Anda-anda bisa membayangkan, jika saja suatu saat nanti Indonesia mendapatkan ilham dan menerapkan sistem aturan etika politik seperti yang ada di Amerika yang menjegal Edward Kennedy untuk mencalonkan diri sebagai president hanya karena tiga kesalahan kecil. Apakah anak-anak Punk ini akan terselamatkan hak politiknya? Apakah anak-anak Punk ini bisa mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin negeri semisal menjadi presiden? Apakah bisa? jawabannya tentu saja tidak.

Dengan menjadi kumal, urakan dan mabuk-mabukan, harapan dan hak politik anak-anak Punk itu tak bisa tersalurkan. Aturan etika politik tak membenarkan orang yang pernah kedapatan mabuk-mabukan untuk menjadi President, tak membenarkan pelaku vandalisme menjadi pemimpin negeri.

Lalu pertanyaan terakhir dari saya. Apakah Menyelamatkan hak politik anak-anak Punk untuk bisa suatu saat nanti mencalonkan diri menjadi pemimpin negeri ini adalah sesuatu yang salah?

Jika nantinya di Indonesia ini ada anak Punk yang tak bisa mencalonkan diri menjadi calon anggota legislatif ataupun president, maka orang-orang yang harus disalahkan adalah mereka-mereka yang katanya para aktivis pembela HAM itu, para aktivis yang sebenarnya adalah pekerja yang digaji oleh lembaga donor mengenai setiap kata yang keluar dari mulutnya yang berbusa.

Ayolah, jangan anda sok berkoar-koar perihal HAM, sedangkan anda sendiri yang melangggar HAM anak Punk untuk mendapatkan hak politik dan kehidupan yang layak.

Satu lagi pertanyaan terakhir. Anda tahu kan apa itu Amerika? Negara seperti apa Amerika itu, negara seliberal apa Amerika itu? Anda tahu kan? Nah, sekarang saya bertanya lagi, apakah anda menganggap aturan Etika Politik yang diterapkan Amerika sehingga menjegal Edward Kennedy untuk mencalonkan diri sebagai President itu melanggar HAM?

Jika anda mengatakan itu melanggar HAM, berarti anda sama tololnya dengan Dubes Prancis yang menelpon Kapolda itu.

Ayolah, jangan mau dibodohi selalu. Ada pepatah Inggris yang berbunyi begini: WHEN MONEY TALK AND MONKEY WALK !.

Muda Bentara

December 17, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 17 Desember 2011 by in Aceh.
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: