MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Media Kampanye, Masyarakat Simbolik dan Strategi Politik.


Calon Gubernur

Selama masa tahapan pelaksanaan Pemilukada Aceh kali ini, terutama Pilkada Gubernur, kini banyak atribut-atribut kampanye yang mulai bertebaran di penjuru kota dan pelosok-pelosok kampung. Sebelum putusan sela MK (Mahkamah Konstitusi) yang dikeluarkan pada tanggal 2 November lalu, ada tiga pasangan yang menjadi calon kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-1017, yaitu pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Muhammad Nazar-Nova Iriansyah dan Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah.

Kini, rupa ketiga pasangan ini dengan mudah bisa ditemui dalam wujud spanduk-spanduk dan baliho besar yang ada di persimpangan jalan ataupun perempatan pusat kota. Dalam bulan ini, para kandidat berlomba mempublikasikan spanduk/baliho mereka dengan isi pesan mengenai Ibadah Haji dan ucapan selamat hari raya Iedul Kurban.

Dari ketiga pasangan ini, ada satu calon pasangan yang desain model media kampanye luar ruangnya menurut saya begitu baik , yaitu milik pasangan Irwandi Yusuf dan Muhyan Yunan. Media kampanye luar ruang mereka di dominasi oleh warna latar putih dan merah. Dengan penggunaan pakaian adat dan Kopyah Meukeutop khas Aceh yang berwarnya kuning/oranye.

Menarik untuk melihat kembali perihal faktor dibalik kemenangan Irwandi Yusuf pada Pilkada Gubernur tahun 2006 yang kala itu berpasangan dengan Muhammad Nazar. Saat itu, dari beberapa calon yang ada, hanya pasangan Irwandi-lah satu-satunya calon yang menggunakan pakaian adat Aceh sebagai pakaian yang digunakan dalam publikasi kampanye dan foto di lembaran pemilihan di hari penyoblosan.

Penggunaan pakaian adat Aceh dan Kopyah Meukeutop (Kopyah Teuku Umar) menjadi pembeda yang khas disaat para calon lain memiliki kemiripan yang sama dari segi kostum. Tampilan pasangan yang lain sama halnya seperti pasangan-pasangan calon kepala daerah lainnya di Indonesia, menggunakan jas, peci hitam dan beberapa ada yang menggunakan dasi.

Dalam hal berpakaianan, di kampung-kampung, penggunaan dasi ataupun jas masih dilihat sebagai sesuatu yang lain. Di kampung yang masih begitu tradisional, ada anggapan jika pengguna dasi adalah “orang lain” atau “bajee ureung kaphee (pakaian orang kafir)”. Kemunculan stereotype ini mencuat disebabkan oleh pernah adanya statement ulama lokal atau tokoh masyarakat yang menjadi patron mereka sehari-hari. Para ulama kampung adalah ulama yang cenderung berfikir tradisional, sehingga mereka sering mengasosiasikan jika unsur tertentu dari pakaian (yang sebenarnya netral) merupakan bagian dari peradaban ataupun agama lain. Masyarakat kampung adalah tipe masyarakat yang begitu mengikuti pendapat ulama yang mereka percayai.

Di pilkada tahun 2006 itu, alasan utama terpilihnya Irwandi selain alasan bahwa ia mewakili aspirasi eks-kombatan GAM ialah penggunaan pakaian adat yang ia kenakan. Di pemilihan tahun 2006, dalam masyarakat tercipta sentimen-sentimen tertentu ketika memilih untuk mendukung calon peserta Pilkada. Di masyarakat kampung, lahir sentimen jika yang menggunakan pakaian adat Aceh adalah “awak tanyoe (orang kita),” dan yang menggunakan pakaian selain itu adalah “kon awak tanyo (bukan orang kita)”. Tim kampanye memamfaatkan sentimen ini untuk menggiring massa untuk memilih, mereka menggiring sentimen ini untuk mengajak masyarakat memilih kandidat yang mereka dukung, yaitu kandidat pasangan Irwandi Yusuf yang menjadi satu-satunya pasangan yang menggunakan pakaian adat Aceh.

Mekanisme transfer informasi paling sederhana yaitu word of mouth menjadi begitu ampuh dalam hal ini. Ketika salah seorang masyarakat ditanya oleh anggota masyarakat yang lain ia akan memilih siapa saat pilkada nanti, maka ia akan menyebutkan “pileeh awak tanyoe nyang sok bajee Aceh (pilih orang kita yang menggunakan pakaian Aceh)”. “Pileeh nyang sok Kupiyah Teuku Umar (Pilih yang menggunakan Kopyah Teuku Umar)”. Sentimen-sentimen simbolik seperti ini bergulir terus menerus hingga menjelang hari-H pemilihan. Ketika keluar dari bilik suara, saat ada yang bertanya kepadanya ia memilih siapa, maka anggota masyarakat akan menyebut “pileeh awak tanyoe”. Kalimat-kalimat seperti itu menjadi media kampanye yang begitu kuat dalam merebut masa.

Bagi saya, kemenangan Irwandi Yusuf pada tahun 2006 disebabkan oleh kemampuan ia dan timnya dalam membaca potensi kecenderungan masyarakat Aceh yang amat simbolistis dalam mengkonsumsi sesuatu. Baik isu politik maupun hal lainnya. Ini terlihat dari strategi mereka yang menggunakan pakaian adat Aceh dan kopyah meukeutop sebagai identitas diri untuk dikenal oleh pemilih.

Hal itu terjadi pada tahun 2006. Kini, saya tertarik mengamati gaya kampanye media luar ruang mereka dalam pilkada periode ini, 2011. Seperti yang saya sebutkan di awal, kali ini Irwandi Yusuf yang berduet dengan Muhyan Yunan menggunakan gaya yang sama seperti saat tahun 2006 dahulu. Di Pemilukada kali ini mereka tetap menggunakan pakaian ada Aceh dengan Kopyah Meukeutop menyertai kepala mereka.

Tapi, ada hal yang berbeda dari tampilan Irwandi dan pasangannya kali ini dengan saat ia maju di tahun 2006. Di tahun 2006, Irwandi dan Muhammad Nazar menggunakan pakaian adat Aceh yang berwarna hitam dan kopyah meukeutop yang didominasi warna kuning/oranye. kali ini, Irwandi yang berduet dengan Muhyan Yunan menggunakan pakaian adat berwarna kuning/oranye dengan kopyah meukeutop yang juga berwarna sama. Kali ini mereka berdua secara keseluruhan menggunakan instrumen warna kuning/oranye sebagai warna pakaian dalam publikasi media kampanye mereka.

Secara psikologis, penggunaan warna kuning/oranye dalam psikologis warna dikaitkan dengan kecerdasan, ide baru serta kepercayaan terhadap potensi diri. Warna kuning/oranye disimbolkan sebagai warna matahari yang memberikan kehidupan bagi dunia. Warna kuning/oranye begitu sering dugunakan sebagai publikasi, seperti halnya yang digunakan dalam rambu-rambu lalu lintas yang selalu menggunakan warna oranye dan kuning.

Ini baru dari bagaimana warna kuning/oranye ditejemahkan dalam dimensi pengaruh psikologis. Tapi, selain aspek psikologis, ada hal lain yang menurut saya menarik untuk diamati, yaitu bagaimana pola budaya masyarakat Aceh menerjemahkan dan memaknai warna kuning/oranye.

Dalam budaya, penggunaan warna tertentu memiliki makna simbolisasi tersendiri. Contohnya saja bagaimana masyarakat Indonesia memaknai warna putih sebagai simbol kedaiaman dan kesucian, warna merah sebagai simbol keberanian dan hijau sebagai asosiasi terhadap sesuatu yang bernafaskan Islam. Ini baru dalam lingkup Indonesia, lalu bagaimana dengan Aceh?

Dalam budaya masyarakat Aceh, penggunaan warna kuning/ oranye bermakna sebagai sesuatu yang bersimbolkan kerajaan. Sering masyarakat Aceh menyebut warna kuning dengan sebutan warna para raja. “Nyan kuneng wareuna Raja (Kuning warna raja)”. Kuning dalam bahasa Aceh disebut Kuneng. lalu bagaimana dengan warna oranye? Setahu saya, dalam pola masyarakat Aceh melihat warna, bagi mereka warna oranye adalah warna kuning. Mereka akan menyebut oranye juga dengan sebutan “Kuneng”. Pun, jika dilihat dari segi turunan gradasi warna, oranye adalah bagian dari warna kuning. Jadi pengasosiasian dan generalisasi yang dilakukan oleh masyarakat Aceh terhadap oranye yang disebut kuning sudah tepat.

Dari hal ini kita bisa melihat bagaimana Irwandi Yusuf dan pasangannya yang menggunakan warna kuning/oranye dalam tampilan publikasi kampanye dapat meraup simpati masyarakat. Dari penggunaan pakaian adat Aceh, mereka telah meraup simpati masyarakat yang cederung simbolistik dalam mengkonsumsi sesuatu. Dari segi psikologi warna, mereka menggunakan warna yang paling sering digunakan untuk meraih perhatian yaitu kuning dan oranye. Dari segi budaya, mereka menggunakan warna yang bagi masyarakat Aceh adalah warna dengan kasta tertinggi dari pranata kehidupan sosial masyarakat yang masih berbau tradisional yaitu kuning yang diasosiasikan sebagai warna para raja.

Dari semua ini, sederhananya bisa disimpulkan jika instrumen kampanye media luar ruang yang digunakan oleh pasangan Irwandi amat efektif dalam menarik simpati massa. Penggunaan pakaian dalam media kampanye mereka mencakup nilai-nilai yang terkandung dalam aspek psikologis, sosial dan budaya yang ada dalam kehidupan mayarakat.

Terlepas apakah hal ini memang sesuatu yang benar-benar direncanakan secara matang ataukah hanya kebetulan-kebetulan belaka. Ini setidaknya menandakan jika instrumen kampanye politik memerlukan kajian yang mendalam dari berbagai sisi. Tak hanya kajian dalam hal strategi politik, marketing ataupun komunikasi. Tapi juga kemampuan dalam menerima dan melihat kecenderungan-kecenderungan tertentu di dalam kehidupan suatu mayarakat.

__________________________________

*Malam dingin dan kopi.

2 comments on “Media Kampanye, Masyarakat Simbolik dan Strategi Politik.

  1. hidayat
    8 Januari 2012

    apa kabar blogger aceh..wah lama tak nulis nih

  2. Aulia
    29 Maret 2012

    saya belum review tulisan tiga calon ini masih jadi draft di blog😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 18 November 2011 by in Aceh, Prime and tagged , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: