MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Kol. Husein Yusuf dan Revolusi ala Media.


“Kok begini ya berita @atjehpost ??? @atjehpost Berapa Lama Waktu Ideal “Foreplay”?: Foreplay memegang peran penting dalam menentukan…”

“Sadur berita dari median lain Prof🙂 RT@nazarsjamsuddin

“Tapi masih byk cerita or info lain yg bs disadur. @mudabentara@atjehpost Sadur berita dari median lain Prof🙂 RT@nazarsjamsuddin

“Arwah Kol. Husein Yusuf pasti tdk suka dg @atjehpost yang begini.@mudabentara Saya dulu juga prnh komplain Prof🙂.Smga mrka mendengar RT @nazarsjamsuddin

Ini adalah petikan balasan twit saya dengan Prof. Nazaruddin Syamsuddin semalam. Sang profesor mengomentari perihal judul pemberitaan salah satu media online di Aceh yang di feed-kan ke akun twitter media yang bersangkutan. Prof. Nazar mengomentari perihal kenapa media seperti Atjehpost menurunkan berita seperti itu, yaitu mengenai “idealnya waktu ‘Foreplay’ ”.

Saya sedikit memberi komentar atas isi twit Prof. Nazar tersebut, karena sebelumnya saya juga pernah mengalami hal seperti beliau, yaitu menanyakan kenapa pemberitaan Atjehpost banyak yang tidak berbau Aceh dan kesannya terlalu banyak menyadur berita dari pihak luar.

Dari balas-balasan twit yang hanya beberapa kali itu, balasan twit terakhir Prof. Nazar membuat saya manjadi berpikir lain. Saya tersenyum saat membacanya. Isi balasan twit singkat yang berbunyi “Arwah Kol. Husein Yusuf pasti tdk suka dg @atjehpost yang begini ”, tentu memiliki banyak arti.

Bagi saya, balasan twit terakhir Prof. Nazar ini bercerita banyak hal. Bagaimana peranan media menjadi tonggak penting penentu eksistensi suatu negara.

Sebagian orang pasti tahu siapa yang dimaksud oleh Prof. Nazar sebagai Kol. Husein Yusuf itu. Bagi saya, Kol. Husein Yusuf adalah salah satu tokoh penting penentu kemerdekaan “sebenarnya” Indonesia ini. Kol. Husein Yusuf adalah pimpinan Komando Tentara Republik Indonesia Divisi Gajah I yang berkedudukan di Aceh. Beliau adalah orang yang berperan penting dalam pengusahaan berdirinya radio Rimba Raya pada tahun 1948 di tanah Gayo, yang sebelumnya radio itu berkedudukan di Bireueun.

Peranan Kol. Husein Yusuf dan anggota kesatuannya sangat besar bagi eksistensi keberlangsungan negara ini. Di saat Belanda kembali melancarkan invasi dan penahklukkan ke banyak wilayah Indonesia, Aceh menjadi satu-satunya daerah yang belum dan tak bisa ditaklukkan.

Kol. Husen Yusuf yang menyadari hal itu, menggunakan sarana media radio Rimba Raya ini untuk mengabarkan kepada dunia tentang keberadaan Indonesia yang belum jatuh dalam serbuan Belanda dan pasukan sekutu. Radio Rimba Raya menyiarkan berita tentang keberadaan Indonesia dalam beberapa bahasa; Bahasa Indonesia, Inggris, Belanda, Arab, Cina, Urdu, India, Pakistan dan Madras. Keberadaan radio ini membuat masyarakat international menjadi tahu jika eksistensi indonesia sebagai suatu negara masih utuh dan masih tetap berdiri, bahkan hingga kini.

Balasan twit terakhir dari Prof. Nazar ini menjelaskan banyak hal. Membuka mata jika dahulunya orang-orang seperti Kol. Husein Yusuf ini menggunakan media massa dalam bentuk radio sebagai media perjuangan, media yang bertujuan untuk menciptakan perubahan dan meraih cita-cita kemerdekaan.

Orang-orang seperti Kol. Husein Yusuf dan pasukannya adalah orang-orang yang berpikiran visioner, mereka adalah orang-orang yang berpikiran lebih maju dari zamannya. Mereka adalah orang yang paham bagaimana sebuah media bisa memberikan pengaruh besar dalam menciptakan sebuah perubahan dan menciptakan kemerdekaan.

Pikiran saya mencoba menjelasakan jika apa yang ditulis di balasan twit Prof. Nazar itu adalah harapannya akan keberadaan sebuah media. Harapan bagaimana cita-cita media di Aceh ini tetap mengikuti semangat yang dibangun dan dimiliki oleh orang-orang seperti Kol. Husein Yusuf yang menggunakan media sebagai sarana perjuangan dan tak hanya menjadi media hiburan yang hanya mampu melahirkan berita perihal sejenis “idealnya foreplay” seperti yang dikeluhkan oleh Prof. Nazar.

Apa yang diupayakan oleh Kol. Husein Yusuf beberapa puluh tahun lalau itu hingga saat ini masih menjadi sesuatu yang sangat berpengaruh di dunia ini. Mungkin hal itu kini hadir dalam medium yang berbeda.

Dulu radio, kini internet.

Beberapa waktu lalu kita mendengar bagaimana pengaruh Facebook dan Twitter yang digunakan oleh anak-anak muda Mesir untuk menggalang aksi massa di Tahrir Square yang pada akhirnya dapat menjatuhkan rezim Hosni Mubarak.

10 tahun lalu, hanya dengan bermodalkan sms yang saling disebarkan, masyarakat Manila Filipina bisa berkumpul bersama di pusat kota untuk melakukan aksi yang pada akhirnya mampu menjatuhkan rezim korup pimpinan Joseph Estrada, aksi people power ini dinamakan Revolusi EDSA II. Contoh lain adalah seperti yang terjadi beberapa hari lalu di Universitas Indonesia. Dimana dosen dan mahasiswa menggalang aksi massa untuk mengkritisi kepemimpinan rektorat UI yang menurut mereka tidak efektif dan korup. Upaya kampanye penggalangan opini mereka lancarkan melalui sosial media, baik blog, facebook maupun twitter yang pada akhirnya sedikit banyak melahirkan perubahan paradigma dalam internal UI itu sendiri.

Itu beberapa contoh bagaimana penggunaan media menjadi efektif sebagai sarana perubahan. Sarana untuk mengubah sesuatu agar menjadi lebih baik. Dan di Aceh ini, hal seperti itu sudah lebih dahulu dipraktekkan oleh orang seperti Kol. Husein Yusuf lebih dari 60 tahun yang lalu. Tak ada internet apalagi sosial media. Ia menggunakan fasilitas sederhana yang melahirkan pengaruh yang tentu tidak sederhana.

Seperti harapan di twit terakhir Prof. Nazar, media seharusnya memang harus menghadirkan pemberitaan yang bermamfaat  dan mendidik bagi khalayak dalam hal konsumsi pemberitaan. Melahirkan berita yang mampu membuat para pembacanya berpikiran lebih baik, lebih maju dan lebih mengerti atas apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Orang-orang seperti Kol. Husein Yusuf selayaknya menjadi orang yang paling ditiru semangatnya dalam bermedia, dimana ia menggunakan media sebagai sarana perjuangan demi mempertahankan kemerdekaan negerinya dari keterjajahan kaum kolonial.

Semangat seperti itu dibutuhkan kembali dalam komunitas media di Aceh ini, hingga akhirnya yang hadir bukannya pemberitaan yang abal-abal dan membodohkan. Tak hanya menghadirkan pemberitaan yang hanya mampu mengangkat informasi perihal “idealnya foreplay” saja tapi juga menghadirkan pemberitaan yang mampu mengubah dan memperbaiki paradigma pikiran masyarakat dalam melakukan perubahan untuk lebih pintar dan kritis.

6 comments on “Kol. Husein Yusuf dan Revolusi ala Media.

  1. Aulia
    24 September 2011

    semoga jadi masukan yang berarti bagi medan dan segenap perannya bagi masyarakat🙂

  2. Lambertus
    24 September 2011

    Saya rasa jika kolonel tersebut masih hidup, mungkin ia tak bakal “gatal” atau terganggu dengan “foreplay” tersebut karena Anda menyebut ia seorang “visioner”, bahkan lebih maju.

    Orang maju tak malu membaca “foreplay” karena ia lebih bijak menilai sebuah berita.

  3. lazuardi
    28 September 2011

    gak fair nih pemilik blog. katanya mau ngajak diskusi, begitu tulisannya membantah opini yang ditulis, eh, gak diaprove. Gimana mau diskusi???

  4. serambi
    1 Oktober 2011

    mantap that lagoooo

  5. SazkiaGhazi
    17 Agustus 2015

    Salam.

    Sebagai cucu Kol Husein Yoesoef, saya mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Perlu diketahui media online @atjehpost beda dengan koran Atjeh Post milik kami. Tidak ada kaitannya sama sekali.

    Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 23 September 2011 by in Aceh and tagged .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: