MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Gie dan Relasi-relasi.


Finally, diskusi buku perdana yang sudah lama saya dan kawan-kawan rencanakan pada akhirnya dapat terlaksana juga. Kami menamakan forum diskusi ini dengan nama; “Kelompok Diskusi Kutu Buku”. Seorang kawan menelurkan ide ini saat kami sedang duduk-duduk santai di suatu sore di sebuah warung kopi di sudut Banda Aceh. Si kawan melemparkan ide, satu-persatu dari kami menyahutinya. Akhirnya disepakati jika nama forum diskusi buku yang akan kami buat adalah Kelopok Diskusi Kutu Buku. Kelompok diskusi ini membahas perihal mengenai buku dan setiap hal yang terkandung didalamnya. Untuk diskusi perdana, kami memilih buku Catatan Harian Seorang Demonstran sebagai buku yang akan kami diskusikan. Buku ini adalah kumpulan catatan harian milik Soe hok gie yang dibukukan.

Awalnya, kami merencanakan diskusi perdana ini akan dilaksanakan pada tanggal 25 Juni. Tapi karena ada satu dan lain hal, akhirnya diskusinya diundur menjadi 7 July. Acaranya kami jadwalkan dimulai pukul 16.30. Dalam diskusi perdana kali ini, ada sekitar 10 orang yang hadir. Beberapa dari kami sebelumnya sudah membaca isi buku ini, dan sebagiannya lagi hanya membaca sebagian isinya. Setidaknya, siapapun yang belum membaca buku ini, tentu kemungkinan besar sudah pernah menonton film Gie yang diperankan oleh Niicholas Saputra.

Diskusipun dimulai, forumnya terbuka dan santai. Saya dan kawan-kawan mulai membahas satu persatu mengenai isi buku itu. Tentang Gie dan kompleksitas yang ia miliki. Diantara 10 orang yang hadir, hanya dua orang yang membawa buku tersebut, salah satunya adalah saya.

Obrolan mengenai Gie dan bukunya mengalir santai. Saling sahut-menyahut pun terjadi. Ada yang berperan sebagai mediator, penanya dan yang beropini. Semuanya memiliki penilaian tersendiri mengenai Gie.

______________________

Secara personal, saya adalah orang yang menganggap Gie dan bukunya sebagai sesuatu yang biasa. Obrolan mengenai Gie, pernah saya bicarakan dengan kawan-kawan saya yang lain di awal 2007, saat ketika filmnya sedang hangat-hangatnya diperbincangkan.

Sebagian besar mahasiswa akan jatuh hati dan terpesona terhadap sosok Gie setelah membaca buku ataupun menonton visualisasi kehidupannya dalam film arahan Riri Riza yang juga berjudul Gie itu. Sebagian dari mereka  mungkin akan menjadikan Gie sebagai seorang isnpirator dalam hal melakukan aktivitas pergerakan. Saya sering sekali mendengar teman saya yang sesama mahasiswa, yang dalam perkataan ataupun tulisannya acap kali menjadikan Gie sebagai contoh tauladan idealnya seorang mahasiswa.

Obrolan saya dan kawan di awal 2007 itu sedikit menyimpulkan jika Gie adalah sosok yang bagi kami cenderung biasa saja. Bahwa Gie adalah seorang tokoh yang menurut kami memang sengaja dimunculkan. Sama seperti kemunculan penokohan Ahmad Wahib yang juga mati muda seperti Gie. Menurut kami saat itu, pemunculan ini adalah upaya untuk menciptakan sebuah icon tokoh muda yang dianggap ideal, sehingga bisa menjadi patron figur yang bisa diikuti oleh generasi muda setelahnya.

Kedua tokoh ini, baik Gie maupun Wahib, bisa dikatakan beraliran sama. Yang memunculkan kutub yang berlainan tapi berhaluan sama. Gie dikenal sebagai seorang Kristen yang sekuler. Wahib hadir dengan wajah seorang intelektual muda Islam yang liberal dan humanis. Kedua tokoh ini dimunculkan, dibukukan catatan hariannya, difenomenalkan kehidupan dan ide-idenya. Jika Gie hadir dalam bentuk visualisasi film, maka Wahib hadir dalam bentuk award tahunan salah satu lembaga sosial yang memerjuangkan ide demokrasi dan liberalisme.

Kedua tokoh ini sama-sama mati muda, dan hadir dalam perspektif liberal sekularis. Perspektif anak muda yang dalam visualisasinya adalah anak muda yang pintar, gemar baca buku, kritis dan humanis. Mereka hadir untuk menjadi pengenal ataupun pioner akan ide-ide baru yang memang sedang berkembang pesat saat ini. Ide dimana melihat agama bukanlah sebagai sesuatu hal yang menurut mereka dapat menjadi solusi permasalahan manusia di zaman moderen ini.

Saya tidak ingin berlama lama membicarakan Wahib disini. Wahib itu hal lain.

Bagi saya, melihat Gie tidak cukup hanya dengan melihat visualisasi film, membaca buku dan membedah ide-ide dan perjalanan hidup yang ia miliki dalam rangkuman tulisan catatan hariannya. Itu tidaklah cukup.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya menganggap Gie sebagai sosok yang biasa. Saya mengenal beberapa orang yang menurut saya jauh lebih hebat dari Gie. Orang-orang yang saya kenal itu adalah orang-orang yang tidak hanya memiliki idealisme, tapi juga ber-ideologi. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pola pikir yang jelas, terkonsep dan tau bagaimana cara melaksanakan setiap hal yang ada dipikiran mereka.

Bagi saya, Gie jauh tertinggal dari orang-orang yang saya kenal itu. Katakanlah Gie adalah seorang yang idealis, seorang anak muda yang pintar, kritis dan humanis. Tapi, Gie secara sadar dalam catatan-catatan hariannya mengakui jika ia tidak tahu mau dikemanakan akhirnya ide-ide yang ada dikepalanya dan selama ini ia perjuangkanitu . Gie menjadi buta akan kondisi ideal seperti apa yang dia inginkan, sistem seperti apa yang ia yakini akan membawa perubahan.

“Onani” yang sia sia. Ya, itu yang ia lakukan. Menjadi deviant, berbeda, opposan hanya untuk menentang arus mainstream yang berkembang pada ahirnya tidak menyelesaikan masalah itu sendiri. Saya pikir, jika Gie kini masih hidup, ia juga akan seperti teman-teman seangkatannya. Ia akan seperti Marsilam Simanjuntak yang ikut menjadi cecungguk pemerintah, ataupu seperti Rahman Tolleng yang menjadi cendekiawan konyol dalam industri media yang ia tekuni.

Kini, dalam keseharian, saya banyak melihat orang-orang yang bercorak seperti Gie. Orang-orang yang ketika adanya ketidakadilan maka mereka akan turun ke jalan, menentang dan memaki pemerintah ini-itu, memaki kebijakan ini-itu. Mereka  bikin aksi dan berdemonstrasi. Dan, ketika isu tidak ada, mereka diam. Ketika ada pola kondisi politik yang berubah, mereka akan terseret arus.

Ini adalah jenis idealisme yang tanpa ideologi. Ketika seseorang memiliki ideologi, maka dalam aksinya, ia tidak hanya menjadi orang yang lihai menangkap isu dan memperjuangkannya, bukan hanya menjadi orang yang suaranya akan keluar jika ada persoalan, bukan orang yang nantinya akan mau membantu masyarakat jika jerih payah keringatnya dibiayai oleh lembaga donor dalam bentuk gaji bulanan.

Ideologi menjadikan manusia memiliki kesatuan antara pikiran dan perbuatan. membuat mereka memiliki konsep dan cara implementasi setiap hal yang diperjuangkan. Bukan penjual isu, bukan penghamba donor, tapi pendobrak sistem.

_______________________

Di sisi lain, terkadang saya melihat Gie berperan sebagai korban. Ia adalah korban dari  kapitalisme ide. Ketika kita melihat sampul dan isi bukunya, maka yang muncul adalah foto aktor tampan, potongan gambar scene film, dan visualisasi film yang aduhai. Lantas relasi idenya dimana? Ya. ide itu terbungkus rapi dalam dunia yang cenderung kapitalis. Saya tak heran, toh ini hanya Gie yang sudah mati, Gie yang menjadi bagian dari industri. Agama saja kini dijadikan industri, apalagi hanya seorang Gie.

Jika dilihat dari segi boomingnya pesona Gie, ini tak lepas dari peran saudaranya; Arief Budiman. Saya berkata kepada seorang kawan, jika nasip Gie sebenarnya sama seperti Marx. Marx yang tak akan hidup idenya jika Engels tak ada. Pembukuan ide-ide Gie adalah bentuk dari subjektifitas seorang Budiman yang sebagai abang. Terlepas dari kualitas catatan harian Gie itu sendiri.  Terlepas lagi dari testimoni dan pengatar Budiman di awal-awal tulisan yang ada dalam buku Gie.

Dalam hal lain, kehadiran Gie juga tak bisa dilepaskan dari identitas aslinya yang merupakan WNI keturunan. Gie memiliki relasi dengan Ojong.P.K, dengan Jacoeb Oetama. Semua juga tahu jika Jacob dan Ojong adalah pendiri Kompas. Salah satu media besar nan kuat yang pada akhirnya melahirkan ketokohan akan diri Gie. Saat itu, tulisan-tulisan Gie juga tak hanya muncul di Kompas, tapi juga di media lainnya. Relasi yang bisa ditarik disini adalah bahwa Gie dan beberapa pimpinan media masa itu adalah orang-orang yang ber-etnis sama. Semangat akan ras yang sama tak bisa dilepaskan dari kemunculan tokoh Gie secara intens dalam media-media besar tersebut. Ini sedikit memaparkan jika kehadiran Gie tidak serta-merta murni sebagai penentang, ataupun sebagai kritikus yang ulung dalam penyampaian ide dalam bentuk tulisan.

Jika melihat periodeisasi kemunculan tokoh Gie, kita juga bisa melihat jika pasca 1965-1969 adalah masa dimana stigma “PKI” yang dimunculkan terhadap etnis Cina sedang gencar-gencarnya berlangsung. Sebagian besar orang Cina keturunan dianggap dan distigmakan ber-afiliasi dengan PKI. Di beberapa daerah, termasuk di Aceh, pada rentang waktu itu, etnis Cina di usir, sekolah-sekolah Cina dinasionalisasikan.

Hal ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan negara RRC yang saat itu  merupakan negara terbesar penganut ideologi komunis. Ada anekdot yang lucu dalam hal ini, Konon dikisahkan jika nama AIDIT itu adalah akronim dari “Anak Indonesia Didikan Tiongkok”. Ini stigma yang dihadirkan untuk menghubungkan relasi antara komunisme negeri Cina dengan PKI yang berafiliasi dengan etnis Cina keturunan di indonesia.

Secara pribadi, Gie adalah pendukung asimilasi etnis Cina di indonseia. Ia tidak menentang perihal himbauan agar waga Cina keturunan untuk mengubah namanya menjadi nama yang berbau Indonesia, seperti halnya yang dilakukan oleh saudara kandung Gie, Budiman. Sampai kematian menjemput, Gie tetap menggunakan nama Cina-nya.

Kemunculan Gie dalam rentang waktu tahun 1965 hingga masa kematiannya tidak lepas dari relasi-relasi yang bisa jadi tidak kebetulan muncul. Stigma akan etnis Cina yang terlibat PKI, penguasaan media oleh orang-orang Cina keturunan, semuanya bisa secara subjektif disimpulkan sebagai bagian dari upaya memperbaiki citra etnis Cina  dalam kacamata keindonesiaan yang saat itu dicurigai dan distigmakan oleh elit penguasa. Gie hadir dalam relasi-relasi subjektif itu. Diluar kualitas ide yang dimilikinya saat itu.

Publikasi menegnai Gie adalah ekspresi kecermelangan ide, kemalangan, perbaikan citra dan kapitalisasi penokohan. Kehadiran penokohan Gie saat ini, bisa dilihat dari sisi masa kahidupan Gie dan masa setelah ide-idenya dibukukan. Kehadiran Gie hidup dalam dua dimensi yang jauh berbeda. Dimensi yang ie usahakan sendiri dan usaha orang lain yang punya kepentingan akan ide-idenya.

______________

Gie itu biasa saja. Tapi secara personal, sosok Gie mendiami ruang-ruang penerkaan yang dimiliki oleh siapapun yang melihat kenyataan kehadirannya secara luas baik secara  objektif maupun subjektif.

_____________________________________________________________________________________________________

Banda Aceh. 8 July. Di tengah keramaian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 Juli 2011 by in Prime and tagged , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: