MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Tak butuh Nasionalisme di perbatasan.


nasionalismeSemalam, disalah satu berita televisi, seorang ibu mengeluh. Ia mengeluhkan perihal kesulitan yang ia dan orang sekampungnya hadapi. Belakangan ini, mereka sulit untuk mendapatkan pasokan bahan kebutuhan sehari-hari. Pasalnya, satu-satunya akses jalan yang menghubungkan desa mereka dengan pasar terdekat telah diputus. Kini akses mereka untuk menuju kesana putus total.

Keluhan mereka akhirnya direspon oleh pejabat terkait yang saat itu mengunjungi tempat mereka. Sang pejabat dengan bersemangat dan penuh rasa simpatik nan dalam  menjanjikan beberapa hal kepada penduduk setempat. Banyak janji-janji manis yang keluar, tapi dari tahun ke tahun sepertinya semua itu hanya berupa janji, tak akan serius untuk direalisasi.

Janji-janji itu diliput oleh banyak media. Banyak tape recorder yang tampak didepan muka sang pejabat. Beberapa camera televisi juga tampak terangkat di depan mata kepalanya. Setelah memberikan berbagai rupa janji dan ini itu kepada rakyat. Sang pejabat lalu mulai angkat bicara lagi. Dengan nada tegar dan penuh kepercayaan, ia menyesalkan adanya pemutusan akses jalan ke pasar yang disebutkan. Seharusnya tak terjadi, katanya. Dan ia ikut menyayangkan. Nada bicaranya tersirat ada rasa simpati yang begitu dalam.

Saya hanya bisa tersenyum menyaksikan berita seperti ini. Pasalnya, sang pejabat adalah pemegang mandat dari negara yang bertugas mengurusi macam urusan yang ada di perbatasan Indonesia dan Malaysia di kalimantan. Si ibu yang berkeluh kesah adalah masyarakat Indonesia yang tinggal disana. Dan yang memutuskan akses ke pusat perbelanjaan diduga adalah pihak Malaysia. Tempat masyarakat membeli bahan baku keperluan sehari hari itu adalah pasar milik Malaysia yang letaknya ada di dekat tapal batas perbatasan.

Menyimak berita seperti ini, saya tidak tahu harus menyikapinya seperti apa. Apakah harus ikut menertawai ataukah prihatin. Yang jelas, kedua hal itu bergabung di kepala saya dalam bentuk umpatan yang kuat namun tak terucap. Tak ada guna berucap umpat di depan tv yang hanya benda mati.

Bagi saya, mungkin ini adalah salah satu kado “terindah” yang bisa diberikan untuk memperingati perayaan 103 tahun Hari Kebangkitan Nasional yang kemarin diperingati.

Pun kemarin, seharian, orang-orang yang dikatakan pintar, menyemat gelar nan wah, yang di sebut tokoh ini dan tokoh itu, bapak ini bapak itu, pahlawan ini pahlawan itu. Mereka semua, dengan mulut berbusa, giat memberi kuliah dan sejenis ceramah bagi siapa saja yang mereka sebut sebagai anak bangsa. Ini semua katanya dilakukan untuk memupuk kembali rasa kecintaan pada negeri, agar menjadi nasionalis kembali.

Mungkin, bagi ibu warga perbatasan yang berkeluh kesah di berita televisi yang saya saksikan tadi malam. Dalam kepalanya, ia dan puluhan koleganya lainnya secara bersama mengumpat dengan penuh kekesalan dan rasa marah yang membuncah kepada pendahulu mereka. Kenapa dahulu kakek-nenek mereka mau memilih untuk bergabung dengan Indonesia dibanding dengan malaysia. Kenapa dengan begitu bodohnya mereka mau menerima bujuk rayu mulut berbusa para pendiri bangsa yang katanya sangat nasionalis itu. Kenapa tapal batas wilayah Malaysia tak melewati perkampungan mereka walau hanya beberapa meter sehingga mereka bisa mengecap kemakmuran seperti halnya yang dinikmati oleh warga Malaysia kini.

Kini, mungkin mereka hanya bisa berandai dan mengeluh. Sembari meratapi kebodohan tingkah laku para pendahulu.

_______________________

Tanpa rasa bersalah, sang pejabat dengan bijaknya menyesalkan ketidak simpatian Malaysia. Menyalahkan malaysia karena tidak memberikan akses jalan. Lalu dengan rasa percaya diri yang begitu besar menjelaskan kepada masyarakat dan mass media jika kedepannya akses transportasi ke daerah mereka akan ditingkatkan hingga tidak ada lagi ketergantungan dengan akses publik negara jiran.

Mari kita bicara objektif dalam hal ini. Apa pasal kesalahan terletak pada Malaysia? Apa urusan menyebut malaysia tidak bisa bekerja sama?

Dalam hal ini, tak ada sedikitpun kesalahan yang dilakukan oleh Malaysia. Malaysia punya kedaulatan. Mereka menutup akses jalan dikarenakan setiap barang pokok yang diperjualbelikan disana rata-rata disubsidi oleh negara. Dan subsidi itu hanya diperuntukkan bagi  warga negara Malaysia dan bukan Indonesia.

Masyarakat perbatasan memilih berbelanja ke Malaysia karena disana bahan pokok yang mereka butuhkan harganya lebih murah di banding di Indonesia. Sarana akses jalan pun lebih baik. Mereka memilih melakukan hal itu karena di indonesia, mereka tidak memiliki akses semudah menginjakkan telapak kaki ke tanah Malaysia. Barang-barang yang bisa mereka akses di indonesia cenderung mahal, membutuhkan biaya tinggi untuk memperolehnya dan tidak sesuai dengan standar pendapatan Indonesia yang mereka miliki.

Ini sekelumit kecil kisah di perbatasan. Jika sebelumnya beberapa tahun lalu kita disibukkan dengan pemberitaan mengenai Askar Wataniah Malaysia yang mempekerjakan warga Indonesia perbatasan sebagai tentara sewaan.  Lalu ketika melihat berita ini tadi malam, saya dalam tingkat kesadaran yang paling dalam akhirnya membenarkan laku seperti itu. Toh mereka juga butuh makan.

Kita bisa melihat, saban hari, ketika berbicara tentang kemerdekaan, kebangkitan nasional, patriotisme dan nasionalisme. Orang-orang besar dan berpengaruh akan berkata jika negara kita tercinta ini kini sedang mengalami krisis multidimensi. Kriris nasionalisme dan rasa kebangsaan.Ketika dihadapkan pada situasi di perbatasan, mereka menghimbau agar orang-orang di perbatasan untuk sedikit bersabar, lebih menjadi nasionalis lagi dan bangga dengan menjadi Indonesia dan ideologi Pancasilanya.

Mereka orang-orang besar dengan mudah bisa berkata seperti itu. Mereka berucap perihal nasionalisme saat perut mereka dipenuhi kekenyangan, saat hidup mereka dilimpahi kemewahan, saat akses terhadap dunia bisa mereka dapatkan dalam sekejap mata. Tapi, bagi orang orang di perbatasan? Nasionalisme itu tak begitu ataupun memang tak perlu.

Mereka tidak membutuhkan ucapan filosofis dan semboyan wah ini itu. Yang mereka butuhkan hanya tindakan nyata dan bukan omong-kosong  birokrasi khas kaum negarawan. Bagi orang perbatasan, yang penting bukan apa yang telah mereka lakukan, tapi apa yang telah negara ini berikan untuk menghargai kemauan mereka yang tetap masih mau bergabung dengan negara seperti Indonesia ini. Buang segera janji manis betapa indahnya nasionalisme. Letakkan manisnya ungkapan kebangsaan pada orang-orang yang sudah berperut kenyang.

Ketika berbicara perihal nasionalisme di perbatasan, ini sungguh seperti sebuah bentuk nyata penipuan. Ada Papua, Nusa Tenggara Timur,  Aceh dan perbatasan Kalimantan. Semua daerah ini adalah wilayah perbatasan. Lalu, apakah orang-orang yang ada di daerah ini tidak nasionalis? Apakah orang-orang di daerah ini tidak cinta kepada Indonesia?

Bagi saya, mereka tidak perlu lagi diajari bagaimana cara untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Indonesia, tidak perlu!. Mereka telah memberikan lebih dari apa yang seharusnya mereka berikan. Mereka telah memberikan lebih dari sekedar ungkapan kecintaan yang dinamakan nasionalisme yang nyatanya absurb itu.

Kini, di Atambua dan daerah Nusa Tenggara Timur lainnya, ada 104.436 jiwa pengungsi eks Timor Timur yang menjadi pesakitan. Mereka disana sudah lebih dari satu dekade. 12 tahun yang lalu mereka dijanjikan akan mendapatkan keuntungan jika memilih bergabung dengan Indonesia. Mereka dijanjikan kemakmuran. Buaian dan bualan janji manis membuat mereka rela memberikan harta bahkan nyawa untuk bergabung dengan pasukan pro integrasi.

Atas nama rasa cinta kepada Indonesia, mereka rela berperang dan menjadi lawan sesama orang-orang sebangsa sendiri. Tapi, 12 tahun berlalu dan apa yang kini mereka dapatkan? Mereka tidak mendapatkan apa-apa. Yang mereka dapatkan hanya berupa identitas sebagai penghuni barak pengungsian yang anak-anak mereka kemungkinan besar akan bermasa depan suram. Padahal kini di nagara Timor, setiap rumah sudah menggunakan rekening listrik pra bayar. Selangkah lebih maju dari Indonesia.

Di tanah Papua yang penduduknya hanya 4 juta jiwa, nasip yang mereka terima juga sama. Mereka dulunya juga dijanjikan kesejahteraan jika mau turut bergabung dengan kebhinekaan Indonesia. Operasi Trikora dan janji kaum tiran membawa mereka dalam rengkuhan teritori Indonesia.

Tapi kini, setelah 50 tahun bergabung? Mereka toh juga tidak mendapatkan apa-apa.  Padahal, di tanah mereka terkandung sumber daya alam yang begitu kaya. Perusahaan raksasa tambang seperti Freeport McMoran dengan bebas bisa mengeruk hasil alam mereka hanya dengan bermodalkan izin konsesi usaha yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1967.

Perusahaan pertambangan asal Amerika Serikat itu menghasilkan emas terbanyak di dunia, dan itu dari tanah Papua. Tentu tak hanya emas, tapi juga tembaga, besi dan berbagai hasil mineral lain. Beberapa puncak gunung tinggi kini berubah menjadi danau buatan besar. Gunung batu yang dulunya menjulang tinggi bak piramida kini menjadi danau dengan kedalaman bak piramida pula.

Lalu dengan kekayaan alam yang sebegitu besar, apa yang didapatkan oleh rakyat Papua? Apakah mereka sejahtera? jawabannya tentu saja tidak. Freefort Indonesia pada tahun 2010 membukukan pendapatan sebesar USD 5,9 milyar dolar, dengan setoran pajak ke pemerintah Indonesia sebanyak 11,8 triliun rupiah pada tahun itu. Ini baru pendapatan tahun 2010, belum lagi hitungan pendapatan puluhan tahun sebelumnya.

Dan apa yang didapatkan oleh Papua?. Papua jelas tidak mendapatkan apa-apa dari kekayaan alam yang mereka miliki. Walaupun tanah mereka begitu kaya, tapi Human Development Index rakyat Papua merupakan yang paling rendah di Indonesia, walaupun nyatanya mereka adalah Provinsi penghasil pundi uang terbesar bagi Indonesia.

Penghasilan 5,9 milyar dolar per tahun yang dimiliki Freeport semuanya dibawa terbang ke Amerika. Diperjudikan di pasar saham Dow Jones di jalanan Wallstreet Manhattan. Setoran ke pihak Indonesia dijadikan modal subsidi untuk pembangunan daerah lain dan bukannya Papua. Dana tanah Papua disubsidi ke provinsi lain yang miskin dan minim sumber daya, tanpa memikirkan dan menutup mata bahwa itu uang adalah milik dan hak penuh rakyat Papua.

Jika saja kita melakukan pengandaian, dari penghasilan milyaran dolar yang dikeruk dari tanah papua pertahun, lalu dikalikan puluhan tahun dan dibagi rata dengan jumlah penduduk papua yang hanya 4 juta. Bisa dipastikan per individu rakyat Papua memiliki kekayaan ratusan juta. Jika hasil kekayaan tanah Papua diberikan secara adil kepada mereka, tentu tak ada lagi  suku-suku yang menggunakan koteka. Tak ada lagi penipuan yang berkedok atas nama pemeliharaan dan perlindungan terhadap unsur budaya nasional. Itu semua wujud pembodohan agar yang masih berkoteka tak sadar-sadar juga jika setiap detik kekayaan tanahnya dikeruk oleh perusahaan asing yang di backup oleh penguasa.

Aceh adalah daerah yang bernasib sama seperti Papua. Berbatasan dengan beberapa negara Asia. Bertetangga dengan Thailand, Malaysia, Sri Langka dan India. Nasib Aceh tak ubahnya dengan Papua ataupun daerah di perbatasan lainnya, atau malah lebih parah.

Di Aceh, Arun dan Exxon Mobile mendapatkan hak konsesi pertambangan sejak tahun 1968. Pada tahun 2008, tahun itu pendapatan Exxon mencapai 40 milyar dolar. Pada masa dekade 70 dampai 90-an, blok minyak dan gas di Aceh merupakan salah satu penyumbang keuntungan terbesar bagi pendapatan Exxon per tahun secara global. Exxon adalah perusahaan dengan penghasilan tertinggi di dunia. Sejak masa awal pengeboran, Exxon telah menghasilkan ratusa milyar dolar keuntungan dari hasil bumi Aceh.

Tapi kini, apa yang didapatkan oleh rakyat yang ada disekitar area penambangan? Sama seperti rakyat Papua, rakyat Aceh juga tidak mendapatkan apa-apa. Jika kita datang ke area sekitaran tempat yang menghasilkan uang ratusan milyar dolar bagi perusahaan Amerika tersebut, maka kita akan melihat jika masih banyak rumah yang tak layak huni yang masih ditempati masyarakat. Masih banyaknya anak yang putus sekolah, jalanan berbatu dan wujud ketertinggalan lainnya.

Dalam statistik ekonomi, bahkan Aceh Utara kini merupakan salah salah satu kabupaten dengan jumlah penduduk miskin terbesr di Aceh. Walaupun dari kemiskinan penduduknya itu, uang yang dihasilkan dari tanah mereka mampu membangun puluhan pencakar langit di Jakarta dan Amerika.

Lalu, melihat fenomena seperti ini, lantas  bagaimana kita bisa mencerna dan secara sadar menerima bentuk-bentuk pemaksaan nasionalisme yang didengungkan oleh orangorang pintar yang ada di ibukota sana kepada orang-orang yang ada di daerah perbatasan ini?. Nasionalisme seperti apa lagi  yang harus mereka tampakkan kepada para penguasa negara itu? Nasionalisme mana lagi yang mereka harus berikan?

Bukankah mereka telah memeberikan semuanya? Memberikan lebih dari apa yang seharusnya diberikan. lebih dari sekedar rupa kecintaan yang hanya jadi obrolan panggung opera kaum negarawan. Lebih dari sekedar retorika omong kosong. Lebih dari sekadar sumbangan nyanyian dendang semangat dan doa.

lalu, apa lagi yang patut diminta dari mereka? Pemberian apalagi yang harus dipersembahkan untuk sang tuan? Apakah harus digolakkan kembali pemberontakan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Juni 2011 by in Aceh and tagged , , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: