MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

“Pembatikan” Indonesia.


Culture?

Acara Expo Aceh Fair sudah enam hari berlangsung. Expo yang berlangsung di lapangan Blang Padang Banda Aceh ini merupakan ajang pameran dan promosi produk-produk kerajinan, jasa andalan daerah, program sosial perusahaan swasta, BUMN, juga Instansi pemerintahan.

Setelah lima hari berlangsung, sore kemarin saya baru sempat berkunjung ke arena expo Aceh Fair. Saya berkunjung kesana bersama seorang teman. Sesampainya disana, kumpulan masa sudah sangat ramai memenuhi dua tenda raksasa yang menampung puluhan stand. Saya dan teman berkeliling melihat-lihat stand yang ada di arena expo itu, dari stand instansi pemerintahan provinsi, perusahaan dan stand milik pemerintahan kabupaten/kota.

Jumlah pengunjung yang begitu ramai menyulitkan saya dan pengunjung lainnya untuk menikmati tampilan produk dan layanan yang dipamerkan oleh tiap stand. Di saat mengelilingi stand itu, saya banyak melihat stand milik umkm ataupun lembaga binaan instansi pemerintah yang menjual produk textile, kebanyakan adalah kain bermotif batik. Di box penjelasan tertera jika kain-kain itu ialah kain batik khas Aceh, ada unsur motif keacehan disitu, misalkan seperti motif Pintu Aceh, Pucok Reubong, Bungong Jeumpa dan Cakra Donya.

Stand yang menampilkan produk batik ialah stand seperti milik Dharma Wanita, Dekranas  , Deperindag dan umkm. Puluhan lembaran batik dipamerkan di etalase dan  juga manequin. Puas mengelilingi stand binaan instansi pemerintahan, lalu saya memilih berkeliling ke stand milik kabupaten dan kota. Tidak semua kabupaten/kota di Aceh ikut hadir memeriahkan expo Aceh Fair ini, hanya sebagian dari total 18 kabupaten dan 5 kota yang ada di Aceh ikut memeriahkan expo ini. Setiap stand kabupaten/kota menghadirkan keunggulan dan keunikan tersendiri yang mereka  miliki. Dari bentuk kerajinan tangan, tenunan, cendera mata dan profil objek-objek wisata.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah stand salah satu kabupaten dari daerah kawasan Gayo. Stand kabupaten itu berbeda dengan stand lainnya. Stand mereka begitu unik dan memiliki ciri khas. Didominasi oleh motif karawang/kerawang yang rata-rata bercirikan warna latar hitam dengan jahitan motif menyerupai bentuk geometri. Jahitan dan bordirannya  didominasi warna merah, hijau dan kuning.

Ada seorang bapak-bapak berumur 50-an tahun yang menjaga stand itu. Saya bertanya ke beliau beberapa hal tentang motif itu. Saya bertanya, apakah motif karawang/kerawang antara Gayo Lues dan Gayo Takengon dan Gayo Alas itu sama, dan si bapak menjawab bahwa motif dari kerawang yang ada di tiga daerah Gayo itu sebenarnya sama, cuma ada perbedaan sedikit saja. Lalu ketika saya bertanya ke si bapak dari mana asalnya motif itu, si bapak mengatakan kepada saya, jika saya ingin mengetahui tentang asal usul motif kerawang, nanti di bulan Juli akan diadakan seminar bedah motif dan nanti akan ada pemberitahuannya  secara umum sehingga saya bisa secara jelas tahu dari mana asal usul motif ini berasal dan apa saja filosofi yang ada dibaliknya.

Salah satu contoh motif kerawang ini adalah seperti corak motif yang ada pada pakaian penari Saman.

Saya mengakhiri pembicaraan dengan si bapak dan melangkahkan kaki ke stand kabupaten lain. Satu persatu stand kabupaten saya datangi dan lewati. Bisa dikatakan semua properti yang ditampilkan cukup tidak menggugah rasa ingin tahu saya dan para pengunjung lainnya untuk menikmati sejenak tampilan keunikan hal hal yang mereka hadirkan.

Selesai mengunjungi stand, saya dan sang teman berkeliling mengitari pinggiran arena expo. Dan hadirlah rupa-rupa bentuk pasar rakyat yang sesungguhnya. Berbagai macam jenis barang dijajakan di pinggiran arena pameran. Dari sendal jepit hingga jam tangan, dari makanan hingga pakaian dalam. Di pinggiran arena pameran itu, jumlah orang yang lalu lalang sama banyaknya dengan yang ada dalam arena expo pameran. Pedagang pakaian juga banyak disitu, dan hampir semuanya menjual pakaian bermotif sama, yaitu batik. Batik dari ukuran balita hingga tua.

_______________________

Kini, popularitas batik sepertinya sedang pada masa puncak-puncaknya. Diklaimnya batik oleh pihak Malaysia, lalu  diakuinya batik oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia. Pada akhirnya  melahirkan euforia tersendiri dalam dunia batik itu sendiri.

Jika ada orang luar Aceh yang nantinya berkunjung ke Banda Aceh dan menyempatkan diri datang ke arena PKA (Pekan Kebudayaan Aceh), mungkin mereka akan tercengang ketika melihat fenomena yang ada di tempat itu. Di arena tempat eksebisi terbesar kebudayaan Aceh yang diselenggarakan tiap lima tahun sekali itu, kini hanya ada satu bentuk klinik sentra kerajinan yang ada di sana, dan itu adalah sentra kerajinan kain batik. Dan menurut para pekerja dan pengelolanya adalah sentra batik khas Aceh. Sentra produksi batik ini dikembangkan oleh Dekranasda Aceh dan diketuai oleh istri kepala daerah.

Tentu tak hanya di Banda Aceh saja, di daerah lain misalnya, seperti di Kabupaten Aceh Utara, pihak Dekranaskab juga serius mengembangkan  batik motif Aceh. Dan kini, produk batik Aceh telah menjadi komoditas utama andalan mereka. Batik yang mereka produksi bahkan mengalahkan keunggulan dari produk kerajinan lainnya yang notabene merupakan produk asli Aceh.

Kini, pihak Dekranas, Dharma Wanita dan UMKM kecil binaan pemerintah cenderung menjadikan batik sebagai komoditas kerajinan utama andalan daerah dan cenderung mengenyampingkan produk budaya asli khas daerah mereka. Tentu hal ini tidak hanya terjadi di Aceh, tapi juga hampir di seluruh wilayah Indonesia lainnya. Karena kini, setiap daerah juga mengklaim memiliki motif batik khas daerah mereka.

Saat ini, euforia akan batik terjadi dimana-mana. Seperti halnya dalam keseharian yang saya jalani. Saat ini saya kuliah di dua jurusan yang berbeda dalam satu kampus yang sama. Di jurusan pertama, jumlah satu angkatannya sebanyak 60-an orang, dan untuk leting satu angkatan itu, kami memiliki pakaian seragam angkatan dan itu merupakan pakaian berjenis batik. Pakaian itu akan kami gunakan ketika memenuhi undangan acara tertentu. Misalnya pernikahan teman, acara wisuda dan bentuk seremonial lainnya.

Di salah satu jurusan lain tempat saya kuliah juga begitu. Beberapa orang teman membuat inisiatif agar kelas kami ketika setiap perkuliahan di hari jumat, kami sekelas dianjurkan untuk menggunakan pakaian batik. Saya tidak tahu alasan apa yang mendasarinya, mungkin ini hanya untuk pembeda. Saya tidak mengikuti inisiatif ini.

Seminggu yang lalu, beberapa teman saya mengeluh di akun jejaring sosial mereka. Mereka mengeluh karena untuk menghadiri acara dies natalis fakultas mereka (Fakultas Kedokteran), maka setiap mahasiswa diwajibkan menggunakan pakaian batik. Beberapa teman saya yang tidak memiliki pakaian batik, dengan terpaksa harus mengeluarkan dana untuk membeli pakaian batik. Jika tidak, maka mereka tidak bisa menghadiri acara dies natalis itu.

Ini sekelumit hal tentang batik yang ada di sekeliling saya. Jika dilihat, selain dari efek kebanggaan  terhadap disahkannya batik menjadi warisan budaya dunia asli Indonesia oleh UNESCO. Sebenarnya, penyebaran besar-besaran terhadap penggunaan batik juga disebabkan oleh adanya klaim Malaysia terhadap batik beberapa tahun yang lalu. Malaysia mengklaim batik adalah produk asli mereka, sehingga klaim ini melahirkan kemarahan massa di Indonesia.

Publikasi media masa Indonesia yang begitu kuat berkenaan dengan klaim Malaysia itu, pada akhirnya melahirkan perasaan “memiliki” terhadap batik yang begitu tinggi pada masyarakat Indonesia. Saat itu batik telah menjadi sarana pemersatu masyarakat dalam melawan klaim sepihak Malaysia.

Klaim Malaysia ini pada akhirnya berdampak baik bagi perkembangan batik itu sendiri, sehingga melahirkan gerakan masyarakat sadar batik dimana mana. Pasca klaim Malaysia tersebut, kampanye penggunaan batik di Indonesia mulai digalakkan secara massif. Banyak kantor yang sebelumnya tidak mewajibkan karyawannya menggunakan batik pada akhirnya mewajibkan pekerjanya menggunakan batik dalam kegiatan aktiitas kerja sehari-hari. Mereka menyebut ini sebagai bagian dari kepedulian akan nasionalisme dan identitas kebangsaan.

Awalnya saya menganggap penggunaan batik adalah sebagai hal yang biasa. Bagi saya batik hanyalah bentuk dari motif pakaian biasa. Tapi, kini ketika batik memenuhi pameran  kerajinan yang ada di daerah saya, menjadi satu-satunya produk yang dikembangkan di arena pekan kebudayaan daerah saya, menguasai dan menggeser produk kreasi seni tenun asli daerah saya, maka tentulah kini saya harus melihat batik dalam perspektif lain.

Bagi saya, ada sesuatu yang salah disini. Pemerintah seperti melakukan pemaksaan terhadap suatu produk budaya. Pemerintah secara sadar mencoba melakukan “pembatikan” Indonesia.

________________________

Bunda saya adalah seorang ibu rumah tangga dan hobi beliau adalah menjahit. Di lemari beliau ada beberapa jenis koleksi kain tenunan, dari Songket, Kerawang, Ulos dan juga batik. Dulu saat saya masih kecil, ketika bunda saya merapikan lemari beliau, kadang -kadang saya ikut memperhatikannya. Sambil bertanya yang beliau pegang itu jenis kain apa? kapan dibeli? dan siapa yang membeli?

Bunda saya dengan senang hati akan menjawab, biasanya bunda saya akan menjawab jika kain itu dibeli saat saya belum lahir ataupun saat saya masih kecil. Dan biasanya saya akan meminta satu dari puluhan kain itu untuk saya kenakan. Saya senang melihat motif kain Ulos, ataupun Songket koleksi bunda saya. Kainnya indah, warna dan tenunanya begitu apik dan rapi, tidak seperti kain batik yang menurut saya sangat biasa. Ulos maupun Songket yang dimiliki oleh bunda saya adalah produk tenunan tradisional, kainnya dipintal dari bahan baku benang dengan menggunakan alat pemintal tradisional dan dalam  pembuatannya memakan waktu berbulan bulan hanya untuk menyelesaikan selembar kain.

Ada unsur seni, keuletan, ketekunan dan kedalaman nilai budaya disitu.

_______________________

Saya adalah orang Aceh, yang ketika saya besar, konflik bersenjata sedang berada pada masa puncanya. Ketika saya SD, beberapa teman saya bercerita kenapa nama belakang dari nama mereka memakai nama agak ke jawa-jawaan. Contohnya seperti nama Rudy Novrianto dan Dedi Harianto. Mereka berdua adalah keturunan Aceh tulen. Mereka bercerita jika kenapa nama mereka menggunakan nama yang agak ke jawa-jawaan karena menurut kakek  dan orang tua mereka, orang-orang yang menggunakan nama yang ada unsur jawanya nantinya akan dimudahkan mendapatkan pekerjaan ketika kelak mencari kerja.

Ketika saya SMP, saya memiliki seorang teman Cina yang bernama Wilianto, nasipnya sama dengan WNI keturunan lainnya yang harus menanggalkan nama Cina mereka dan mengunakan nama pribumi yang agak men-jawa untuk nama mereka.

Bagi saya, “pembatikan” Indonesia dan “jawanisasi” nama merupakan “pemaksaan” yang dilakukan oleh institusi pemerintahan. Pemerintah melakukan penyeragaman dengan mematikan keragaman.

Kadang saya terpikir, apakah ini semua terjadi karena lima dari enam presiden Indonesia adalah orang Jawa?

Dulunya saya berpikir jika bentuk penyeragaman seperti ini seperti halnya yang dialami oleh teman SD dan SMP saya itu tidak akan ada lagi ketika rezim Soeharto tidak berkuasa lagi. Karena pada masa pemerintahan Soeharto, pola pemerintahannya memang sentralistik. Semuanya diatur seperti arahan garis komando yang terpusat. Tapi kini, setelah era reformasi lahir, adanya otonomi daerah dan perkembangan globalisasi . Rupanya pemikiran-pemikiran penyeragaman seperti itu juga masih ada, walaupun dalam bentuk yang berbeda, contohnya saja “pembatikan” Indonesia ini.

Saya pikir, pemerintah berdiri pada posisi tidak adil disini. Mereka berat sebelah dalam mempopulerkan dan mengadopsi suatu identitas kebudayaan. Pemerintah menyerukan institusi dalam lingkup mereka untuk menggunakan batik, menyerukan kepada sekolah-sekolah, kampus-kampus dan sebagainya. Tapi, pemerintah menutup mata dari kekayaan keragaman lainnya yang juga memiliki akar budaya begitu kuat dalam kehidupan masyarakat.

Bagi saya, seni tenun indonesia yang memiliki kualitas paling rendah adalah batik (maaf), karena batik hanya merupakan seni motif corak warna dan bukannya kesatuan tenunan yang utuh. Tidak seperti kain tenun lainnya yang ada di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi maupun daerah Nusa Tenggara.

Terkadang saya berfikir apakah ini semua adalah bentuk dari sisa-sisa “Jawanisasi” Indonesia? Sama seperti halnya yang dilakukan oleh Soeharto terdahulu. Sama seperti yang terjadi pada pengangkatan Kartini sebagai icon perlawanan perempuan Indonesia yang patut dijadikan panutan. Bisa jadi, Ini jelas-jelas bentuk dari “Jawanisasi”.

Pemerintah seharusnya adil dalam hal kebudayaan, tidak berat sebelah, tidak melakukan peyeragaman dan mematikan keseragaman.

Jika pemerintah kita  masih memiliki pola pikir seperti ini, dapat kita bayangkan kedepannya apa yang akan terjadi. Mungkin kedepannya anak-anak Aceh beberapa tahun kedepan tidak tahu lagi bentuk motif Kerawang itu seperti apa, anak anak Medan tidak tahu lagi bentuk Ulos, anak-anak Melayu tidak kenal lagi mana yang namanya Songket. Tapi yang mereka kenal nantinya hanyalah batik, batik dan batik. Bagian budaya Jawa yang dipaksakan menjadi identitas yang harus mereka kenakan.

Yang paling menyedihkan, kini pun, sebagian batik yang dikenakan oleh kita masyarakat Indonsia ini, yang katanya pemilik sah nama batik adalah produk batik buatan Cina. Pemaksaan keseragaman yang dilakukan oleh pemerintah pada awalnya melahirkan histeria kebanggaan tersendiri, tapi lambat laun melahirkan masalah baru.

Kini pedagang batik asli jawa kewalahan menghadapi serbuan produk batik buatan cina yang secara harga jauh lebih murah. Dan kini juga, para pedagang tenunan tradisional Indonesia juga kewalahan karena tenunan mereka menjadi kurang laku dikarenakan dominannya publikasi terhadap batik. Dan yang lebih menyedihkan adalah, bahwa batik yang menggeser penjualan tenunan khas daerah mereka bukanlah batik asli buatan Indonesia, melainkan batik Cina.

Saya heran, di era zaman yang sudah maju begini, disaat semua negara mencoba mengumpulkan identitas kebudayaan dan secara bersamaan dikembangkan, tapi kita di Indonesia malah cenderung berusaha mematikan bentuk-bentuk kebudayaan itu sendiri.

Globalisasi budaya, mengharuskan tiap negara untuk mampu bertahan dengan cara melahirkan berbagai macam bentuk keragaman baru, dan bukannya bentuk keseragaman baru. Ini contohnya yang dilakukan oleh Malaysia. Malaysia secara serius melakukan pendataan dan penciptaan terhadap produk budaya baru, salah satunya juga dengan mengklaim beberapa budaya milik Indonesia untuk menjadi budaya mereka. Malaysia tahu, kedepannya, negara yang akan bertahan dalam era globalisasi adalah negara yang memiliki identitas budaya yang paling beragam dan paling kuat. Keragaman adalah kunci untuk menarik kunjungan wisatawan di masa yang akan datang.

Seperti halnya di Indonesia maupun Aceh, nantinya kita bisa bayangkan ketika gelombang globalisasi mendatangi indonesia, dan para turis secara massif mendatangi setiap daerah secara bebas, ketika mereka mendatangi gerai-gerai kerajinan produk daerah, dan disetiap gerai yang mereka temui semuanya menghadirkan sesuatu yang sama, semua daerah memamerkan batik khas daerah mereka. Bisa dibayangkan, betapa keragaman yang kita miliki saat ini nantinya akan mati.

Pemerintah tidak perlu membatikkan Indonesia untuk melahirkan nasionalisme dan kecintaan terhadap negara. “Pembatikan” Ini sama halnya dengan “Jawanisasi” Indonesia. Kami orang Aceh, sudah sering menikmati kepahitan hasil pemaksaan ide “jawanisasi” yang menyedihkan. Penipuan sana sini oleh pemimpin pertama Indonesia, operasi militer pleh Soeharto, pengambil alihan sumberdaya alam, semuanya itu cenderung menindas.

Pemerintah harusnya lebih terbuka dan adil dalam budaya. Bagi saya, Cut Nyak Dhien dan Laksamana Malahayati jauh lebih hebat dari Kartini, yang membuat kartini hebat hanya karena ia seorang Jawa. Jika kita ke kuburan Belanda (Kherkhoff) yang ada di Banda Aceh, ataupun membaca sejarah dengan sumber data yang minus manipulasi . Maka kita akan ketahui jika dulunya para marsose Belanda adalah para pribumi yang dikirim dari Jawa untuk memerangi Aceh. Banyak nama-nama marsose yang merupakan nama jawa yang ada di dinding kuburan belanda itu.

Jika dulu pada masa pra kemerdekaan marsose dari jawa menyerbu Aceh, lalu pada masa awal kemerdekaan terjadinya penipuan-penipuan terhadap orang Aceh oleh semangat “jawanisasi” ala Soekarno, lalu dilanjutkan oleh  diskriminasi ala Soeharo. Kini, selayaknya, pola-pola pemaksaan seperti itu hendaknya tidak terulang kembali. Biarkanlah kami orang Aceh menikmati kekayaan budaya tenunan kami tanpa ada pemaksaan dari bentuk budaya lain. Biarkanlah arena PKA kami dipenuhi oleh sentra kerajinan seni dan tenunan tradisional asli Aceh. Biarkanlah semua daerah menjadi bangga dengan identitas yang mereka semat sejak lama tanpa ada kudeta budaya dari seni kain batik Jawa.

2 comments on ““Pembatikan” Indonesia.

  1. sigantengramdan
    12 September 2014

    LOE JANGAN ASAL BACOT….. SEMUA BOLEH ANGGAP HEBAT PAHLAWAN MASING-MASING… CUMA WARGA ACEH NYA AJJ YG GGA TAU BERTERIMAKASIH SAMA WARGA SUMEDANG… MASIH MENDING MAKAMNYA KAMI URUSIN

    • anakfirdaus
      3 Oktober 2014

      semua boleh anggap hebat pahlawan masing-masing,itu betul. tapi yang selama ini boleh dianggap paling hebat cuma kartini. yang lain cuma dianggap figuran. adil? seharusnya gak pernah ada hari kartini tapi hari pejuang wanita. semua pejuang wanita yang banyak jauh lebih hebat dari kartini, semua sama2 dirayakan dan diperingati.
      kalau gara-gara urus makam orang aceh harus nyembunyiin kebanggaanya ke pahlawan2 wanita dari daerahnya sendiri sebagai tanda terima kasih, kalian orang2 sok paling nasionalis di indonesia harus cium kaki orang2 aceh satu persatu! gak tahu diri!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 14 Mei 2011 by in Aceh, Journey and tagged , , , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: