MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

“The Royal Wedding” Antara Kerajaan Aceh dan Inggris.


Foto Surat Sultan Iskandar Muda untuk King James I yang dijadikan sampul buku "Kerajaan Aceh zaman Sultan Iskandar Muda" karya Denys Lombard.

Foto Surat Sultan Iskandar Muda untuk King James I yang dijadikan sampul buku "Kerajaan Aceh zaman Sultan Iskandar Muda" karya Denys Lombard.

Kemarin, diperkirakan lebih dua milyar pasang mata larut dalam menikmati suguhan tayangan The Royal Wedding yang disiarkan langsung melalui media online dan televisi. Diantara milyaran itu, saya termasuk salah satu diantaranya. Saya memulai menonton tayangan The Royal Wedding itu saat ketika prosesi pengucapan janji pernikahan antara William dan Kate di altar gereja Westminster Abey yang dipimpin oleh Uskup Agung gereja Aglikan berlangsung. Setelah prosesi pengucapan janji, lalu pengantin dengan menaiki kereta kuda melanjutkan perjalanan melalui jalanan Westminster Abbey untuk menuju istana Buckingham. Iring-iringan kereta pengantin dan keluarga kerajaan disambut meriah oleh massa yang sudah lama menunggu di pinggiran jalan.

Itu sedikit gambaran tentang The Royal Wedding yang berlangsung kemarin. Saya mengakhiri tontonan itu disaat prosesi “sakral” yang paling ditunggu-tunggu akhirnya berlangsung. Ya, ciuman perdana pasangan pengantin baru didepan publik yang dilakukan di balkon istana Buckingham.

Ada ratusan ribu pasang mata yang secara langsung melihat dan bersorak-soray di pelataran dan jalanan depan istana Buckingham ketika melihat ciuman yang hanya beberapa detik itu, berlangsung. Ciuman itu berlangsung dua kali, dalam tempo yang amat singkat. Banyak yang berharap jika ciuman yang disuguhkan “sebagai satu-satunya hadiah” yang bisa disuguhkan pihak kerajaan kepada publik tidak sesingkat itu. Ada yang berharap ciuman ala balkon yang disuguhkan William dan Kate ialah seperti halnya frenckiss yang memakan waktu sedikit lama. Tapi yang terjadi tidak begitu, toh ini Inggris bukannya Prancis. Tradisi Versailles dan Buckingham itu berbeda.

Sebelumnya, saya memang sudah berkeinginan menyempatkan diri untuk menonton tayangan The Royal Wedding ini. Bagi saya hal itu perlu dan bermamfaat, karena ini adalah pernikahan termegah dan langka. Pernikahan calon putra mahkota kerajaan yang memiliki daya pengaruh paling besar di dunia, pernikahan calon putra mahkota yang akan mengendalikan 15 negara persemakmuran (commonwealth) yang ada di dunia.

Menarik bagi saya untuk menyaksikan sekaligus mengamati bagaimana prosesi pernikahan berlangsung, bagaimana acara dikelola dengan  begitu rapi tanpa adanya kesalahan. Dan yang paling penting juga adalah bagaimana sebuah kerajaan yang walaupun sudah ratusan tahun berdiri tetapi tetap saja memiliki daya pengaruh luar biasa dalam setiap perhelatan yang mereka selenggarakan. Pernikahan ini merupakan cerminan kolaborasi yang baik antara daya pengaruh, publisitas, public relation, pengelolaan event dan budaya suatu bangsa yang masih mengakar kuat.

Dalam menyaksikan suguhan tayangan ini, saya mencoba mengandaikan dan memposisikan diri saya dalam perspektif lain dengan “mengenyampingkan” ke-indonesia-an  saya sejenak. Saya memposisikan diri saya saat menikmati tayangan ini sebagai bagian dari sebuah institusi pemerintahan yang pernah memiliki hubungan dengan pihak kerajaan Inggris. Menonton tayangan ini adalah sebagai bentuk apresiasi diri saya sebagai seorang  rakyat Aceh yang dahulu negerinya pernah memiliki hubungan diplomatik yang amat baik dengan Kerajaan Inggris yang bermula pada abad ke 16 Masehi.

Bagi saya ini merupakan bagian dari tahapan mencoba untuk mengenang romantisme kejayaan masa lalu atas identitas yang saya semat sejak lahir, yaitu saya sebagai orang Aceh.

Awal mulanya saya tahu mengenai hubungan antara kerajaan Aceh dan Kerajaan Inggris adalah ketika awal tahun 2007 lalu di Banda Aceh diadakan Konferensi ICAIOS (International Conference on Aceh and Indian Ocean Studies), yaitu konferensi internasional tentang Kajian Aceh dan Wilayah Samudera Hindia. Salah satu bagian dari konferensi itu adalah diadakannya pameran dokumen manuskrip surat-surat Sultan kerajaan Aceh (sarakata/tarakata)  kepada sejumlah kepala negara dan raja yang ada di dunia. Surat-surat yang di pamerkan adalah bagian dari keloksi yang berasal dari beberapa negara, seperti Turki, Portugis, Perancis, Denmark dan Inggris. Surat-surat dipamerkan dalam bentuk duplikat, sedangkan yang asli masih tersimpan di perpustakaan ataupun museum masing-masing negara.

Saya datang di hari pertama pembukaan pameran itu, pameran dilaksanakan di komplek Museum Aceh. Memasuki ruangan pameran, mata saya dan para pengunjung lainnya langsung disuguhkan dengan puluhan koleksi surat-surat yang dibingkai dan dipajang di dinding museum. Ini pertama sekali saya mendatangi Museum, sekaligus menikmati keindahan bentuk grafis gaya penulisan manuskrip kuno kerajaan Aceh. Banyak pengunjung yang mencoba untuk memfoto, tapi pihak panitia dan kurator tidak membolehkan hal itu dilakukan.

Diantara puluhan manuskrip surat yang dipamerkan, ada salah satu yang menarik perhatian saya dan pengunjung lainnya. Surat itu dipajang di bagian tengah ruangan, memiliki bentuk dan bingkai paling besar dibanding dengan surat lainnya. Di teks keterangan dijelaskan jika Surat itu adalah surat Sultan Iskandar Muda kepada Raja Inggris James  I pada tahun 1615 silam. Surat yang disebut sebagai “golden letter” itu ditulis dengan menggunakan bahasa  Melayu dengan aksara Arab Jawi. Disebut memiliki hiasan tertua dan terindah, terbesar bahkan paling spektakuler. Sebab, selain panjangnya mencapai satu meter, surat bersampul sutra kuning asli itu ditulis dengan tinta warna emas di atas kertas jenis oriental. Duplikat surat ini dibawa dari perpustakaan Bodlian, Oxford, Inggris.

Surat ini tiga perempat isinya melukiskan tentang keagungan Sultan Iskandar Muda (1607-1636) beserta kekayaan dan keluasan wilayah kekuasaannya, berikut adalah petikan terjemahan mukadimmah  surat Sultan Islandar Muda untuk King James I :

” Surat daripada Seri Sultan Perkasa Alam Johan Berdaulat, raja yang beroleh martabat kerajaan, yang dalam takhta kerajaan yang tiada terlihat oleh penglihat, yang tiada terdengar oleh pendengar, yang bermahligai gading, berukir kerawang, bersendi-bersindura, bewarna sadalinggam, yang berair mas, yang beristana sayojana menentang “-

Surat Sultan Iskandar Muda ini menjadi salah satu bentuk rekaman romantisme hubungan Kerajaan Aceh dan Inggris di masa lalu. Dan relasi seperti ini terjadi jauh-jauh hari sebelum Indonesia ataupun kerajaan-kerajaan di Nusantara memiliki hubungan dengan negara-negara Eropa. Ada yang membedakan antara hubungan antara Aceh dengan Inggris maupun negara  Eropa lainnya dengan kerajaan di luar Aceh. Hubungan yang dibagun oleh Kerajaan Aceh dengan Inggris dan Eropa berbasiskan hubungan diplomatik yang egaliter, bukan dalam bentuk sebagai perwakilan daerah koloni antara tuan dan pihak jajahan.

Surat ini menjadi salah satu bukti adanya hubungan diplomatik antara Kerajaan Aceh dan Inggris. Tentu tak hanya sekadar hubungan diplomatik biasa, karena Aceh dan Inggris pernah menandatangani Perjanjian Persahabatan Abadi (Perpetual Friendship Treaty) antara Inggris dan Aceh di abad ke 17 dan diperbaharui di tahun 1811. Isi perjanjian tersebut menyatakan bahwa kedua negara berkewajiban saling membantu dari serangan pihak lain. Akan tetapi Inggris telah mengkhianati perjanjian ini ketika negara itu menandatangani Perjanjian Sumatra (Sumatran Treaty) dengan Belanda yang mengakui upaya hegemoni Belanda atas Aceh.

Salah seorang mantan juru runding GAM di MoU Helsinki malam kemarin menulis komentar di salah satu akun jejaring sosial yang saya miliki. Ia menuliskan jika penghianatan yang dilakukan oleh Inggris terhadap Aceh ini diprotes turun temurun oleh seorang bansawan Inggris yang bernama Lord Avebury, hingga yang terakhir Lord Eric Avebury yang membawa kasus pelanggaran ini pada tiap sidang House of Lords (upper chambers of parliament Inggris) dan pernah membawanya ke Parlemen Uni Eropa ketika ia menjadi ketua. Ia bersahabat baik dengan Hasan Tiro dan sering berada di Jenewa mengikuti beberapa sesi perundingan GAM dengan RI.

Ini sedikit hal yang menjelaskan kedekatan antara Aceh dan Inggris. Tentu ada banyak hal lain yang jika dituliskan maka akan semakin memperkaya khazanah sejarah antara Kerajaan Aceh dan Inggris.

Kembali lagi ke The Royal Wedding. Kini banyak hal yang membedakan antara Aceh dan Inggris, dan The Royal Wedding ini menjadi puncanya. Dahulu Kerajaan Aceh memang memiliki hubungan diplomatik yang sangat kuat dengan kerajaan Inggris, walaupun akhirnya mengalami keretakan. Kedua kerajaan ini dulunya adalah kerajaan kuat yang berdaulat, sama-sama memiliki armada perang yang tangguh dan menjadi penahkluk yang ditakuti. Seperti halnya Malaysia, bagi Malaysia, dahulu kedua Kerajaan ini merupakan musuh karena sama-sama pernah menjajah daerah mereka.

Tapi, nasip kerajaan Aceh tak seindah Inggris. Kerajaan Aceh hingga kini lenyap tak bersisa berbeda halnya dengan kerajaan Inggris yang walaupun tak sesuperior dulu akan tetapi mereka tetap memiliki 15 negara persemakmuran yang masih setia dan tunduk kepada kerajaan. Aceh memiliki sejarah gemilang, akan tetapi sejarah gemilang itu kini telah hilang.

Jangan pernah berharap kita akan melihat prosesi pernikahan sejenis The Royal Wedding seperti yang dijalani oleh William dan Kate masih berlangsung di Aceh. Kita juga tidak bisa berharap bahwa istana Kerajaan Aceh yang bernama Daruddunnia masih berdiri  megah seperti halnya Buckingham Palace di London sana. Kedigdayaan kerajaan Aceh telah hilang, walaupun belum punah.

Dahulu, ketika datang ke Indonesia November 1989, Putra mahkota kerajaan inggris yaitu Pangeran Charles dan Istrinya Putri Diana menyempatkan diri datang ke keraton Kesultanan Jogjakarta. Mereka datang ke Jogjakarta sebagai perwakilan Kerajaan Inggris yang dalam rangka menjalin relasi dengan institusi kerajaan yang  paling eksis berdiri di Indonesia. Jika kita hubungkan, relasi antara kerajaan Inggris dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat maupun kesultanan/kerajaan Jawa lainnya dahulu, sesungguhnya hal itu terjadi pada tataran antara pihak penjajah dan daerah jajahan.

Hubungan antara Kesultanan dan Kerajaan di jawa dengan Inggris bermula ketika Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Gubernur jenderal Hindia-Belanda pada tahun 1811, ketika itu Inggris mengambil alih daerah jajahan Belanda ketika Belanda diduduki oleh Napoleon Bonaparte. Raffles banyak melakukan hubungan dengan pihak kesultanan dan Kerajaan saat ia-dalam misi pribadi untuk mengumpulkan manuskrip-manuskrip kuno mengenai sejarah budaya Jawa, yang saat itu kebanyakan manuskrip dimiliki oleh pihak kerajaan.  Sepulangnya ia ke Inggris, pada tahun 1817, kumpulan manuskrip itu ia terbitkan menjadi sebuah buku dengan judul History of Java (Sejarah Jawa). Hingga kini, buku rangkuman karya Raffles itu merupakan buku terlengkap yang mampu mengisahkan sejarah Jawa masa lampau secara keseluruhan.

Saat itu, posisi Raffles adalah Gubernur Jenderal Hindia-Belanda, dan menjadi penguasa Jawa. Dan pada tahun Raffles diangkat menjadi Gubernur Hindia Belanda (1811), Kerajaan Aceh dan Inggris memperbaharui lagi perjanjian persahabatan abadi (Perpetual Friendship Treaty). Disini terlihat jelas perbedaan relasi antara Inggris dan Jawa dengan Inggris dan Aceh. Jika hubungan Aceh dan Inggris adalah wujud dari persahabatan kerjasama diplomatik yang resmi (Persahabatan abadi), akan tetapi hubungan Jawa dan kerajaan/kesultanan yang ada disana merupakan hubungan relasi antara Inggris sebagai penguasa dengan daerah yang dikuasai.

Jika saja nanti suatu saat William dan kate yang kini bergelar Duke and Duchess of Cambridge datang ke Indonesia seperti yang dilakukan oleh ayah ibunya pada tahun 1989 lalu. Seandainya saja institusi kerajaan Aceh masih berdiri, dan mereka paham akan betapa baiknya hubungan antara Kerajaan Aceh dan Inggris di masa lalu, bisa jadi William dan Kate akan lebih memilih ataupun hanya  akan mengunjugi Aceh dibandingkan mengunjungi Jogja, toh dengan Aceh kerajaan mereka pernah memiliki perjanjian hubungan  persahabatan abadi, bukan hubungan ala Raffles dengan relasi koleksi manuskrip dengan Jawa dan Jogja.

The Royal Wedding ini bagi saya tidak hanya sekadar pernikahan dongeng ala kerajaan, tapi lebih dari itu. Perhelatan seperti ini menjadi pengingat bagi dunia betapa tradisi suatu negeri mampu bertahan lama dengan sangat baik. Ini menjadi  refleksi betapa  suatu negeri mampu hidup dan mempertahankan kegemilangan sejarah dan budaya mereka dengan begitu indah.

Perjuangan manusia adalah proses melawan lupa, kejayaan suatu negeri boleh saja hilang, akan tetapi itu tak berarti harus dilupakan. The Royal Wedding ini mengingatkan kembali saya akan kejayaan Aceh yang oleh saya dan Rakyat Aceh lainnya kami menyebutnya sebagai Bangsa.

___________________________.

Banda Aceh. 2 mai+robusta.

4 comments on ““The Royal Wedding” Antara Kerajaan Aceh dan Inggris.

  1. mellysukses
    7 Mei 2011

    NUMPANG INFO YA BOS… bila tidak berkenan silakan dihapus:-)

    LOWONGAN KERJA GAJI RP 3 JUTA HINGGA 15 JUTA PER MINGGU

    1. Perusahaan ODAP (Online Based Data Assignment Program)
    2. Membutuhkan 200 Karyawan Untuk Semua Golongan Individu (SMU, Kuliah, Sarjana, karyawan dll yang memilki koneksi internet. Dapat dikerjakan dirumah, disekolah, atau dikantor.
    3. Dengan penawaran GAJI POKOK 2 JUTA/Bulan Dan Potensi penghasilan hingga Rp3 Juta sampai Rp15 Juta/Minggu.
    4. Jenis Pekerjaan ENTRY DATA(memasukkan data) per data Rp10rb rupiah, bila anda sanggup mengentry hingga 50 data perhari berarti nilai GAJI anda Rp10rbx50=Rp500rb/HARI, bila dalam 1bulan=Rp500rbx30hari=Rp15Juta/bulan
    5. Kami berikan langsung 200ribu didepan untuk menambah semangat kerja anda
    6. Kirim nama lengkap anda & alamat Email anda MELALUI WEBSITE Kami, info dan petunjuk kerja selengkapnya kami kirim via Email >> http://lowonganterbaik2011.blogspot.com/

  2. Ikkyu_san
    7 Mei 2011

    wah tidak disangka ternyata sudah ada hubungan bersejarah anatara Aceh dan Inggris di jaman dulu ya. TFS

    EM

  3. Author
    24 Mei 2011

    saya baru tau kalo ada surat yang dikirim oleh sultan aceh ke inggris, aceh memang mantapppppp

  4. febi
    30 Mei 2011

    Saya jadi belajar sejarah Aceh. Ada buku bagus, judulnya Imperium III, zaman kebangkitan besar oleh Eko Laksono. Menurut saya buku ini bagus, membahas sejarah peradaban dan karakter unggul suatu bangsa untuk menjadi maju.
    tabik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 7 Mei 2011 by in Aceh and tagged , , , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: