MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Ayah Saya. [#1]


Belakangan ini saya sering menghabiskan waktu di rumah. Jika biasanya saya berangkat ke kampus pukul delapan pagi, dan pulang ke rumah menjelang magrib, kini rutinitas itu perlahan-lahan mulai menghilang dari keseharian saya. Kini saya sedang asik-asiknya menikmati keadaan menjadi anak “rumahan”. 

Di hari-hari perkuliahan, saat kelas perkuliahan telah selesai, biasanya saya memilih untuk duduk-duduk sejenak di kantin kampus. Berbicara lepas dengan teman-teman, obrolan ringan tentang apa saja. Setelah obrolan santai itu selesai, lalu saya memilih untuk pulang ke rumah. Saya akan kembali lagi ke kampus jika ada perkuliahan yang jadwalnya pada sore hari.

Kini ada satu hal yang membuat saya betah berada di rumah, satu hal itu ialah, Ayah saya. Saya sedang senang menghabiskan waktu bersama Ayah saya . Ayah saya bekerja sebagai seorang PNS, beliau Widyaiswara Madya [ seorang pegawai negeri yang mengajar ]. Pekerjaan ayah tidak seperti PNS lainnya, sehingga jadwal beliau di kantor tidak sepadat/seketat pegawai lainnya.

Saya menikmati hari-hari penuh interaksi dengan beliau. Beliau itu seperti teman akrab bagi saya. Kami membicarakan semua hal dan banyak hal, dari urusan politik, ekonomi, sejarah, dan sesekali juga menyinggung perihal tetek bengek dunia showbiz.  Dalam sehari, waktu yang tidak akan saya lewatkan untuk berinteraksi dengan ayah adalah rentang pukul 06.00 sore hingga pukul 08.00 malam. Itu adalah jadwal kami menonton tv. Menonton berita dan menikmati drama indah kaum poitisi di layar kaca channel berita.

Banyak pertanyaan yang lahir dalam waktu senggang itu, banyak argumen yang kami munculkan. Biasanya dalam hal tertentu saya dan ayah saling sahut-menyahut. Misalkan kami memiliki persepsi yang berbeda dalam menyikapi kedatangan Obama ke Indonesia. Bagi saya, yang penting harus dicermati dari kedatangan Obama ke Indonesia adalah isi MoU-nya dengan SBY dan bukan isi pidato wah saat di UI, seperti halnya yang di elu-elukan oleh ayah saya. Tapi, dalam hal menyikapi berita-berita perihal SBY versus Sultan Jogja, kami memiliki persepsi yang sama.

“Untuk menyelesaikan sebuah masalah, maka ciptakanlah sebuah masalah”.

Mendengar ungkapan itu keluar dari kata-kata ayah, saya langsung ngeh.

Kami memiliki analisa dan persepsi masing-masing dalam menyikapi setiap masalah. Biasanya ketika ada informasi tertentu, ayah akan memberitahukannya kepada saya, dan ketika saya memiliki informasi tertentu, saya juga mengabarkannya kepada ayah. Ada hubungan timbal balik, budaya sharing informasi telah dimulai sejak saya kecil.

Dalam berinteraksi dengan saya, beliau tidak memberitahukan bentuk informasi secara keseluruhan, hanya sebagian, dan itu menjadi pelecut bagi saya untuk mencari tahu dan semakin mencari tahu tentang permasalahan yang diinformsikan itu.

Sebenarnya ada suatu hal yang melandasi hal itu, kenapa saya betah dirumah dan kenapa saya senang menikmati waktu untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan ayah saya. Beberapa tahun lalu, saat dalam perjalanan menghadiri diskusi di suatu cafe di Banda Aceh, seorang teman yang sangat saya segani bertanya kepada saya.

“Kapan pulang lagi ke Meulaboh Mud?”

“Belum tahu  lagi pak”  jawab saya.

“Bapak gak pulang ke Tanjung Pinang?”

“Saya pulang, udah lama saya gak pulang. Besok beli tiketnya.”

“Saya sudah lama sekali gak ketemu dengan orang tua, gak ketemu dengan keluarga.”

Lalu teman saya itu bercerita sedikit tentang dirinya. Ia menyesal karena saat masih muda dulu tidak menikmati masa-masa bersama keluarga. Lulus smp ia harus berpisah jauh dengan orang tua karena dikirim ke pulau Jawa untuk melanjutkan study. Hingga ia selesai kuliah strata satu maupun strata dua, dan setelah menjadi dosen di Unsyiah, jumlah kepulanganya bisa dihitung dengan jumlah jari sebelah telapak tangan. Dua tahun lalu, ketika ia pulang ke kampung, ia merasa amat canggung. Keluarganya pun juga begitu. Setiba di kampung, ia serasa seperti tamu, adik adiknya pun kini sudah tumbuh dewasa, sudah ada yang menikah malah. Ikatan emosional antara anggota keluarga tidak begitu terasa. Upaya pencapaian pendidikan secara tidak langsung telah “merebut” rasa kekeluargaan dalam diri teman saya itu. Ya, merebut “kedekatan” dan kelucuan adik-adiknya.

“Mud, selagi kamu masih sempat, kamu pulang saja, saya menyesal kenapa dulu gak menikmati saat-saat bersama keluarga.”

Saya diam, dan kami melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju.

Seorang paman saya (adik laki-laki ayah) juga bernasip sama seperti teman saya itu. Ketika tahun 60-an, kakek saya ditarik ke Banda Aceh oleh Gubernur, beliau ditarik menjadi pegawai tinggi di kantor Gubernur. Saat itu ayah saya berumur 15 tahun dan akan memasuki masa SMA dan adik ayah saya akan memasuki masa SMP. Mereka bertiga pindah ke Banda, ayah saya, adiknya dan kakek saya. Nenek tidak ikut  pindah. Kata ayah, dalam setahun biasanya dua kali beliau [nenek] ke Banda. Perjalanan dari kampung [Labuhanhaji] ke Banda saat itu menghabiskan waktu berhari hari, jalan belum sepenuhnya selesai, masih berbatu, hampir semua sungai besar masih menggunakan rakit .

Ketika pindah ke Banda, saat itu paman  berumur 12 tahun. Ia memulai masa SMP dan SMA-nya di Banda Aceh dan akhirnya melanjutkan study kuliah ke Jakarta. Paman saya itu dulunya bandel sekali kata beberapa anggota keluarga kami, kenakalannya khas anak muda.

Ketika liburan sekolah tiba, yang biasanya pulang ke kampung itu hanya ayah saya, paman saya jarang sekali, dan kakek sibuk dengan rutinitas politik dan pekerjaan yang ia tekuni. Paman sangat menikmati kehidupannya di Banda Aceh. Setelah ia lulus kuliah pun masih seperti itu, paman saya menetap di Banda Aceh dan pulang ke kampung hanya beberapa tahun sekali.

Hal itu pada akhirnya mempengaruhi hubungan emosional antara sang paman dengan nenek dan keluarga saya. Entah kenapa nenek menjadi sangat segan dengan paman. Tidak seperti ketika berinteraksi dengan ayah. Ketika paman pulang ke kampung, paman saya itu posisinya seakan seperti seorang tamu, nenek tidak bisa berbicara atau bercerita lepas seperti dengan anak-anaknya yang lain. Begitu juga ketika nenek datang kerumah paman, hal sama juga terjadi, nenek seakan seperti bertamu ke rumah orang lain.

Pada akhirnya saya memahami kondisi itu, kenapa nenek dan paman bersikap seperti itu. Ya, karena paman saya berpisah dengan keluarga dalam usia muda, usia di saat anak-anak masih butuh-butuhnya perhatian orang tua dan keluarga, disaat anak anak masih membutuhkan kasih sayang ibunya secara utuh dan penuh.

Paman dan teman saya itu bernasip sama. Mereka berdua menjadi “korban” dari obsesi pencapaian pendidikan. Di satu sisi, paman dan teman saya itu memang mendapatkan apa yang mereka inginkan dari kualitas pendidikan mereka. Mereka bersekolah tinggi. Teman saya itu, di umur ke-35, ia hampir menyelesaikan gelar doktoralnya dan paman saya pun 13 tahun yang lalu telah menyelesaikan gelar magister-nya dan kini ia punya jabatan bagus dalam karir pemerintahan.

Tapi ada satu yang kurang, seperti yang teman saya ceritakan itu, ada satu hal yang harus mereka korbankann, mereka menjadi asing dan canggung dengan keluarga sendiri, menjadi seperti tamu ketika kembali kepangkuan komunitas keluarga. Saya tidak pernah mendengar pendapat paman saya akan hal itu, tapi dari teman saya itu saya mendengarnya langsung. Ada hal-hal manis yang tidak bisa kita korbankan.

Karena pengalaman-pengalaman seperti itu, maka saya ingin menikmati masa-masa bersama keluarga. Pun dalam satu dua bulan kedepan ayah akan pindah dan tentu kami tak akan bersama lagi dalam waktu yang lama. Saya punya obsesi-obsesi yang menharuskan saya untuk tinggal jauh. Jikapun nanti tidak bersama keluarga lagi, setidaknya keindahan kebersamaan bersama keluarga tidak cepat direnggut, seperi yang dialami oleh teman dan paman saya. Saya tidak ingin suatu saat nanti menjadi seperti orang asing ketika kembali dalam komunitas keluarga sendiri, saya tidak mau hal seperti itu terjadi.

Kini, saya begitu menikmati berkomunikasi dengan ayah, berbicara apa saja yang ingin kami bicarakan, melahirkan argumen argumen kecil yang liar.

Suatu ketika, saat saya masih smp, saya masuk ke kamar ayah saya, mengambil berkas yang ayah minta bawakan. Di salah satu berkas itu terselip kertas angket, tertera nama ayah di depannya, ada pertanyaan seperti tokoh yang dikagumi, kekurangan dan kelemahan, dan hobi/ kegemaran, dibawah pertanyaan pertanyaan itu ada tulisan ayah saya dalam bentuk jawaban, | Soeharto |, | tidak tega kepada bawahan |, dan |membaca |. Dari ketiga jawaban itu, biasanya yang menjadi pertanyaan, kenapa ayan saya mengagumi soeharto.

Suatu ketika, dalam suatu obrolan. Ketika saya berkata ke teman saya  jika ayah saya adalah penggemar soeharto, seorang teman saya mencak-mencak seperti tidak suka. Teman saya menganggap Soeharto tetap sebagai seorang penjahat yang layak dihukum mati. Tidak ada ampun bagi Soeharto. Seorang teman saya yang ustad melerai,  bisa jadi sakitnya soeharto selama hampir 10 tahun itu sebagai balasan dari Allah atas dosa yang selama ini dia perbuat, dan sakit parah bisa menghapuskan dosa, ucap teman saya itu.

Saya memiliki banyak cerita dengan ayah saya, banyak sekali cerita. Saya menikmati semua cerita-cerita itu. Ayah saya selalu mengobati setiap kebuntuan kepala yang saya alami. Berbicara dengan beliau seperti berbicara dengan seorang karib yang sangat pengertian, tak pernah ada pemaksaan ide, harus ini dan harus itu. Sering kali, ketika tidak tahu harus berbicara serius dengan siapa lagi, yang bisa mengobati kekosongan pikiran saya cuma ayah saya.

Tak ada sela dalam pembicaraan, tak ada hal yang kesannya menggurui, semua hal-hal yang coba beliau ajarkan dan berikan di selipkan dalam bentuk kata-kata sharing kami setiap hari. Beliau bercerita tentang Soekarno, tentang pengalaman Soeharto menonton bola, pohon-pohon Pinus yang mereka tanam di Seulawah, nama-nama dan sejarah tempat di Banda Aceh, kebodohan orang Badui di Saudi, cerita nyata dibalik pemberontakan DI-TII, Land Rover-nya Krueng Kalee, Anak ulama besar yang sangat menggilai film India hingga julukan “Phatos” yang dimiliki oleh teman seangkatannya yang kini menjadi PR-3 di kampus saya kuliah, ketika saya bertanya kenapa sang teman ayah saya itu dipanggil “pathos”, ayah saya menceritakan jika dulunya sewaktu orientasi kampus, sang teman ayah saya itu mendadak sakit, dan ia diberikan nama oleh kakak pembina dengan julukan “Pathos” yang berarti sakit atau menderita.

Saya dan ayah saya berkuliah di kampus yang sama, semasa ayah saya kuliah dulu, rektornya adalah Madjid Ibrahim, ayah saya bercerita jika sang Rektornya itu sekuler sekali. Ketika khotbah Jum’at, sang Rektor tidak terlalu memperdulikan isi khutbah dan malah berbicara dengan orang-orang yang ada di dekatnya. Didikan barat kata sang ayah.

Saya menikmati kehidupan bersama ayah saya, sudah lebih dari 20 tahun. Beliau mengajari saya tentang sesuatu tanpa berusaha menggurui. Saya menikmati hari hari ini, menikmati kopi bersama sambil menikmati kegilaan orang-orang pintar di tivi. Saat Indonesia gagal menjuarai piala AFF beberapa waktu yang lalu, ayah saya berkelakar sambil tersenyum “Seharusnya kita tidak perlu serius sekali dalam menonton bola, para pejabat dan politisi yang serius malah terjerumus”. Ratu inggris tak terlalu memperdulikan The Three Lion.

Beliau ayah saya, saya sangat menikmati hari-hari yang penuh dengan interaksi bersama beliau. Sangat menikmati.

_________________________________________________________________.

*Lamnyong, 1 januari.

3 comments on “Ayah Saya. [#1]

  1. princeofgiri
    1 Januari 2011

    really nice.🙂

  2. rizkiaffiat
    1 Januari 2011

    Membaca ini saya jadi ingat dengan hubungan ayah saya. Selama saya tumbuh dewasa, dari saya kecil sampai SMA lah kira-kira, ayah saya adalah satu-satunya orang tempat saya berdiskusi tentang segala macam. Dan keberadaan ayah memang menjadi stimuli intelektual kita. Saya pikir memang semakin kita tumbuh dewasa semakin kita sering lupa akan peran orangtua, atau keluarga, dan seperti yang dituang dalam tulisan ini, sesekali kita perlu meluangkan waktu sejenak dengan mereka. Berbagi cerita lagi. Bertukar kata.

    Senang mengetahui bahwa kita-kita ini, di jaman sekarang yang masif dengan dunia maya, masih diingatkan untuk tetap silaturahim dan menghormati orangtua kita…🙂

  3. mj
    29 Maret 2011

    nice story bg😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 Januari 2011 by in Aceh, Foto, Journey, Kontemplasi and tagged , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: