MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Quo vadis PKS ?


saya laparTadi saya menonton sebuah acara televisi, format acaranya adalah parodi, pada edisi tayang  kali ini tema acara itu adalah membahas tentang iklan politik salah satu partai yang belakangan ini telah mendulang banyak kontroversi , ya, iklan politik partai yang bernama PKS itu.

Acara kali ini ingin mencoba untuk membahas perihal fenomena iklan ini dari berbagai sisi, dari yang pro atau notabene diuntungkan oleh adanya iklan politik ini, sampai yang kontra, tentunya mereka adalah pihak yang merasa dirugikan ataupun merasa tidak senang, dan tentunya setiap pihak memiliki klaim pembenaran masing-masing terhadap setiap lahgkah yang mmereka ambil . unsur subjektifitas memegang peran yang utama dalam menyikapi hal ini .

Saya memandang hal ini sebagai sebuah masalah yang mengandung kerancu-an, rancu karena para konstituen yang merasa tokoh panutan mereka yang telah wafat itu di perdagangkan untuk kepentingan politik , dan juga rancu karena pihak partai juga merasa memiliki hak yang sama dalam hal mengklaim identitas kehebatan para pahlawan itu .

Memang, para pahlawan merupakan figure public , figure yang bisa dimiliki, dicintai dan dihargai oleh siapa saja, termasuk juga partai, akan tetapi secara etika social, tentunya pencantuman wajah-wajah ataupun figure para pahlawan yang sudah wafat itu menjadi suatu hal yang tidak menyenangkan bagi sebagian orang yang masih memiliki sense of patriot yang tinggi, ataupun sense of “kenetralan” yang tinggi .

Apakah ada orang yang menginginkan pahlawan bangsanya hanya dijadikan objek “dagangan” partai ? tentunya tidak , coba kita bayangkan ketika unsur kepahlawanan yang netral itu berusaha dijadikan bagian ataupun klaim dari pihak tertentu, tentunya ini seakan menghilangkan “Ruh” sebenarnya dari esensi sebuah kepahlawanan, toh nyatanya kepahlawanan hanya digunakan tuk bahan dagangan .

Iya, memang  pihak partai melakukan pembelaan habis habisan terhadap apa yang telah mereka lakukan , budaya survival menjadi unsur utama dalam menyikapi kondisi ini, karena toh kita akan tetap membela apa yang kita yakini, walaupun niat secara eksplsitnya baik, akan tetapi secara ide dan metode, tentunya ini digunakan sebagai pemikat dalam hal perolehan suara.

Siapa yang bisa menafikan jika upaya klaim seperti ini hanya untuk merangkul semua golongan tuk bisa lebih menerima partai tersebut ? jelasnya tuk mendulang suara,  tentunya ini menjadi startegi politik dari partai ini

Tapi belakangan ini seperti yang saya amati, telah terjadi sebuah transformasi ide dalam struktur partai ini, tidak adanya kejelasan dalam ide telah menjadikan partai ini bak kehilangan arah, sekali lagi saya tegaskan ini menurut pandangan saya , saya yang masih muda ini .

Sering saya mendengar perkataan dari perwakilan mereka di televisi ataupun media masa lainnya tentang arah politik partai yang mereka usung, dan semuanya klise, mereka menyebut  partai meraka sebagai partai yang mendukung demokrasi, nasionalis, moderat, tak kiri ataupun kanan, merangkum semua golongan, semua ini menjadi jurus ampuh dalam memantapkan jeratan perolehan suara .

Saya kscewa, sungguh!

Dulunya saya berharap kalau nantinya ada partai yang bisa “benar-benar” percaya diri dengan identitas keislaman yang mereka miliki, nyatanya partai ini masih seperti yang lainnya, tak memiliki ketegasan, tak berani berkata Islam, dan juga terlarut dalam permainan kata  dan demokrasi .

Untuk saat ini saya merasa aneh saat melihat partai-partai yang pada awal berdirinya mengaku diri berbakground-kan islam itu nyatanya kini toh merasa malu dengan identitas ke-islamannya, mereka seakan takut untuk mengklaim diri sebagai partai Islam, karena takut nantinya orang orang akan tidak memilih mereka, bukankah yang paling dibutuhkan adalah konsistensi terhadp ide dasar ? ya, dan kini partai-partai itu hanya menjadi partai-partai “pesakitan” yang tiap tahun memeriahkan ritual yang katanya pesta demokrasi itu.

Dan kelihatannya Pks nantinya juga akan bergabung dalam kelompok ini, ikut menjadi “pesakitan “seperti partai partai  pendahulunya .

Bahkan untuk saat ini saya terkadang “lebih bangga” dengan partai-partai yang katanya nasionalis ataupun  sekuler itu , paling tidak mereka memiliki identias yang nyata, sekali demokrasi tetap demokrasi, sekali sekuler tetap sekuler, sehingga membuat para konstituen lebih mudah menimbang, apabila mereka sekuler, maka mereka akan memilih partai yang sekuler, ataupun jika mereka seorang demokrat mareka akan memilih partai yang akan mengusung ide demokrasi . simple, dan tidak ada pembodohan disini .

Dan ini yang tidak dimilkiki oleh partai ini, bagaikan sebuah institusi yang hermaprodit menurut saya, berkelamin ganda tak tentu arah, bertampilan Islami tetapi juga mengkalaim di sebagai demoktrat dan nasionalis murni , saya tak begitu paham dengan standar ganda ini, inkonsistensi dalam hal platform dasar telah membuat saya menjadi pesimis akan arah tujuan partai ini, akan kemana arah mimpi dan harapan saya ini akan dibawa jika saya gantungkan ke partai ini. Akan dibawa ke arah Islam yang sebenarnya, ataukah ke arah demokrasi nasionalis yang tak tentu kelaminnya itu ?

Saya teringat kembali akan pengalaman saya saat saya masih semester 1 lalu, di suatu hari saya mengikuti rapat alumni rohis di kampus, acara-nya bentuknya adalah pembinaan keislaman, lumayan asik acaranya, akan tetapi tak asik lagi ketika saya tahu kalau ada sesuatu yang disusupi dalam acara ini, ya, penyebaran ide partai , tentunya partai tertentu, untuk saat ini saya sangat tidak setuju dengan hal macam itu , bagi saya kampus merupakan zona putih, area steril dari kegiatan politik apapun, apapun itu, kecuali benar benar Islam, Islam yang kaffah itu .

Memang kita memiliki hak politik, tetapi jangan sampai menggunakan fasilitas zona umum sebagai penentu umpan suara, tentunya ini tidak sesuai dengan standar etika yang saya yakini, etika kita sebagai manusa yang bermoral.

Kebetulan saya aktif dalam pertemuan itu, karena saya mengajukan beberapa petanyaan dalam acara itu, dan disaat akhir acara, si penmateri yang terakhir saya ketahaui sebagai pimpinan salah satu institusi mahasiswa tertingi di kampus saya itu adalah simpatisan partai tersebut, di akhir acara ia menghampiri saya , seraya berkenalan dan saling menyapa.

Orangnya sangat ramah, pembawaannya tenang, penuh wibawa pastinya , lalu ia berdialog sejenak dengan saya , diskusi berlangsung santai, karena toh acara sudah selesai, lalu  saya bertanya kepada dia ,

” bukankah demokrasi tak berasal dari islam ? “

dan ia menjawab,

” memang benar demokrasi bukan berasal dari islam, tapi demokrasi itu dekat dengan islam “

Saat itu saya ingin menyanggahnya, tetapi saya berusaha untuk tidak menimbulkan pertentangan pada kesan pertama, karena kesan pertama biasanya menjadi pembuka yang baik dan harusnya menggoda .

Ya, itu adalah kisah saya beberapa waktu lalu, kisah tentang demokrasi yang katanya dekat dengan islam itu. Kini saya berusaha membandingkan realita yang orang-orang partai itu menyebutnya sebagai sesatu yang dekat dengan islam,

Saya teringat lagi dengan esensi demokrasi, demokrasi yang kedaulatannya di tangan rakyat, dari rakyat oleh rahyat untuk rakyat, vox vovuli vox dei [ kata pepatah latin ], suara rakyat suara tuhan , Demokrasi yang ber-esensikan pada kebebasan berpendapat, kepemilikan, berekspresi, dan beragama .

Saya teringat lagi betapa demokrasi menjadi inti utama dari setiap budaya liberalisasi, toh tak ada yang bisa membantah jika fenomena liberalisme di barat itu di lahirkan oleh tradisi demokrasi, demokrasi yang tak membolehkan orang tua melarang anaknya berzina, melarang kaum homoseksualitas, melarang prostitusi ataupun melarang praktek perjudian .

Toh jika anda benar-benar seorang democrat, maka anda harus menerima semua paket itu, karena toh demokrasi merupakan sebuah paket sistem yang komplit, system liberalisasi tentunya, dan jangan coba anda mengklaim diri sebagai seorang demokrat apabila anda tidak “meng-imani” paket demokrasi itu secara keseluruhan , karena semua orang juga tahu kalau demokrasi itu tak hanya ritual nyoblos saat pemilu .

Lalu seperti yang dikatakan oleh salah satu anak partai tadi, demokrasi yang mana yang dekat dengan islam itu ? ya, demokrasi yang mana ? dalam sistem demokrasi, rakyat dan wakil rakyat adalah raja, mereka sebagai jelmaan dari suara tuhan, mereka yang akan menjadi penentu dari semua level kehidupan,

Lalu bagaimana dengan islam, bukankah islam adalah agama yang menjunjung tinggi kedaulatan di tangan Tuhan, di tangan sang khalik dengan titahnya dalam Al-Quran ?

Lalu kedekatannya dimana, yang satu kedaulatan rakyat sebagai jelmaan tuhan, dan satu lagi mutlak dengan kedaulatan tuhan.

bukankah ini menjadi sangat rancu ? Coba anda bayangkan jika satunya menganggap mahluk sebagai jelmaan tuhan yang sesungguhnya dan yang satu lagi benar-benar terikat dengan aturan Tuhan, lalu kesamaannya dimana ? apakah Al-quran pernah mengemukakan bahwa aturan Tuhan itu boleh di implementasikan secara setengah setengah ? ohh , tentunya tidak, dalam mahzab manapun aturan tuhan adalah sesuatu yang mutlak, kecuali anda adalah seorang liberal, yang berpikiran permissif, tentunya untuk kondisi ini tuhan hanya dijadikan tempat membuang keluh kesah disaat penat .

Ya, tak memiliki kesamaan, yang jelas hanya memiliki ketimpangan, anda bisa membayangkan ketika kita menerapkan demokrasi, maka kita akan menjadi bagian dari orang orang yang harus selalu taat kepada mahluk yang namanya HAM dan kebebasan, kepada aturan-aturan yang tak boleh mengekang manusia, dalam bentuk apapun, tetapi islam tertunya berbeda, semua itu diatur, diatur dengan aturan sang pencipta, aturan yang dibalik ketegsannya mengandung kehidupan, mengandung rahmat Illahi .

Jika melihat deskripsi ini apakah anda melihat jika demokrasi memiliki kesamanan dengan islam ? ataukah demokrasi memiliki kedekatan dengan islam ? jika ia, maka dekatnya dimana ?

Kalau ada yang tahu jawabannya, saya sangat berharap ada yang menyampaikan kepada saya tentang hal itu, karena untuk saat ini saya tak pernah menemukan kedekatan itu, dalam bentuk apapun, apapun … dan dimanapun ….

_____________________________________________________________________

*Sekali lagi saya tegaskan kalau ini adalah pendapat saya , lalu bagaimana dengan pendapat anda ?

27 comments on “Quo vadis PKS ?

  1. Muda Bentara
    25 November 2008

    Apakah anda mempunyai pendapat lain akan hal ini ?

  2. r4ka
    25 November 2008

    Dalam hal ini, aku setuju denganmu,tuan…
    Demokrasi itu berarti menuhankan rakyat.
    Jika aturan sbuah negara b’prinsip pd falsafah2 yg mendewakan rakyat maka sama saja kurang mengakui eksistensi Tuhan, Sang Maha Pengatur..
    Terlalu banyak yg ingin aku sampaikan, kawan

  3. Pakde
    25 November 2008

    Kadang memang menemukan titik temu satu istilah dan sejarah berat. Yang akhirnya kita malah ragu dengan pendirian dan keyakinan kita selama ini.

    demokrasi yang saya lihat masih semu keknya…

  4. -chie-
    25 November 2008

    g mudeng..
    heheh..

  5. mang kumlod
    25 November 2008

    Kalu menurutku, perbaikan itu harus dari semua lini: masyarakat, pemimpin, militer, hukum dll.
    Jika masy baik maka akan memilih pemimpin yg baik juga, begitulah efek demokrasi…
    Sebuah hal yg sulit ketika di Arab dengan aturan Islam tapi masy mereka terkekang dan berbuat hina di luar negeri… Idealnya masy baik jadi dengan sendirinya mendukung pemimpin yg baik…

    Dan akan sangat sulit ketika kita sendiri yang berbuat perbaikan tanpa melibatkan orang lain. Perbaikan bukan milik sebuah partai atau pihak tertentu. Tapi milik semuanya, termasuk nasionalis juga. Ini makanya partai ini mulai membuka diri…

    Udah ah… lieur mikirin politik mah…

  6. Syahuri
    26 November 2008

    Artikel sejenis tapi beda versi pernah sy dapt di belajardarikecil.wordpress.com (bukan punya saya, bhkan sy gak kenal yg pny blog)

    Menurutku, pesan moral dari pada fenomena ini:
    konsistenlah dalam kebenaran😀
    kalo bahasa gaulnya: jangan plin plan
    he he he
    intinya: pilihlah saya
    ha ha ha ha

  7. Syahuri
    26 November 2008

    Oh ya bg, dikit saran, kalo bisa artikelnya jgn tlalu panjang.
    kalo emang panjang, dibagi dua aja bg, trus antar artikel yg berkaitan dikasih trackback😀
    misalnya buat postingan khusus tentang demotrasi demokrasi😉

    just my two cents😀

  8. fachri
    26 November 2008

    itulah, makanya saya tidak pernah suka dengan partai dan segenap perangkat demokratisme nya.
    Ya, liat saja itu, katanya demokrasi dekat dengan Islam. Dari mana?
    Belum lagi esensi demokrasi yg mengatakan suara rakyat adalah suara tuhan. Bagaimana kalo rakyatnya adalah para maling dan preman?berarti suara tuhan adalah suara maling/preman. La haula wala kuwwata illa billah..

  9. sippaganteng
    26 November 2008

    Yang mana sih iklannya? Aku belom pernah liat deh

  10. Muda Bentara
    26 November 2008

    ndak panjang kan tulisannya ?

  11. putri07maulina
    26 November 2008

    begini bung…..!!ini pendapat saya looh,
    sebenarnya demokrasi itu sangat dekat dengan islam,,bahkan semenjak Rasulullah diangkat sebagai Rasul pun dia telah menjalankan demokrasi ini,ingat peristiwa bai’at aqabah gak?nah dri sini para ulama Islam sejak dulu menegaskan bahwa kekuasaan pada asalnya di tangan rakyat, karena itu kekuasaan tidak boleh dipaksakan tanpa ada kerelaan dari hati rakyat. Pernyataan kerelaan itu dinyatakan dalam bentuk “pernyataan setia” atau bai’at.

    bgtu jga saat berlangsungnya perang badar,rasul juga lebih banyak mnerima pendapat para sahabat untuk mnyusun strategi perang,,bkannya ini juga dikatakan demokratis..
    hmm…dalam hal menetapkan piagam madinah juga kita bisa ambil contoh bung!!rasul tidak menetapkan alqur’an sebagai pedoman bagi kaum madinah waktu itu,karna alquran hanya di peruntukkan bagi mreka yg mempercayainya…,makanya rasul menyusun piagam madinah dengan persetujuan kaum2 yg ada di madinah waktu itu,tnpa membedakan asal usul suku…nah dari sinilah rasul telah mengajarkan konsep bernegara atau disebut dngan “al-ummah” pada waktu itu…nah bukankah sikap demokratis itu telah ada dalam islam??

    tapi yg mnjadi permasalahannya adalah,demokratis ini menjadi hilang menjelang rasullullah wafat…
    memang pada masa khulafaurrasyidin rasa demokratis masih ada,tapi hanya sedikit…
    tau knapa????karena para pemimpin islam bgitu haus akan kekuasaan,hingga demokratis dalam islam benar-benar hilang setelah pemerintahan ali bin abi thalib…

    begitu juga dngan partai2 islam yg ada skarang,mereka hanya terhasut dengan nafsu duniawi mereka…tidak ada lagi pola demokratis seperti yg di jalankan rasullah dulu,,hal ini memang patut di sayangkan!!
    mereka hanya mengambil sistem yang dijalan setelah pemerintahan rasul,sepertimasa khulafaurrasyidin,abbasyh,ummayah,aglabiyah dll yg bgtu berhasrat menduduki posisi pemerintahan..

    jadi,,demokarasi itu begitu dekat dengan islam!!tapi…kesadaran dari masing2 individu sangatlah kurang,,hngga demokrasi sesuai ajran islam skarang hilang,tidak lagi murni.demokrasi yg baik bakal muncul jika sesuai dgn sunnahnya rasul…

    syukran….ini juga cuma pendapat saya loo..^^

  12. Muda Bentara
    26 November 2008

    bentar ya buk ….

  13. alex©
    26 November 2008

    @ putri07maulina

    Ada banyak lagi, putri, yang jadi catatan sejarah Islam: pengangkatan Abu Bakar Siddiq sebagai khalifah, rapat enam sahabat menjelang Umar bin Khattab sakit, hingga tahkimnya Ali bin Abi Thalib utk bermusyawarah dengan umat saat perundingan dengan Muawiyah. Apakah mereka salah?

    Saya heran, demokrasi kenapa mesti dipahami sebagai produk barat melulu? Islam katanya universal, tapi kok dipersempit seolah cuma kisaran jazirah arabia saja? Ibnu Sina disanjung, Ibnu Rusdy, Al Khawarizmi dan banyak lainnya, justru mengenalkan peradaban Islam itu karena “bersentuhan” dengan peradaban Barat yang diwakili oleh penaklukan Byzantium dan Alexandria (Iskandariyah, kalo ada yang alergi dengan kata Alex yang konon bukan ciri Islam).

    Barat dan Timur itu kepunyaan Allah. Prinsip curi sandal jepit di mesjid sajalah: ambil baiknya, buang buruknya:mrgreen:

    *kidding*

    Demokrasi ndak salah, kalo patronnya jelas: ketauhidan pada Allah, dan kesadaran bahwa tindakan akan diminta pertanggung-jawaban.

    Lalu, yang disebut sistem Islam yang mana? Monarki macam Arab Saudi? Apakah Rasulullah dulu menyukai gagasan kebangsawanan turun-temurun begitu? Pemilihan khalifah saja melalui perwakilan masyarakat Anshar dan Muhajjirin dalam sejarah.

    Atau, mungkin ada ide utk berkata bahwa para khulafaurrasyidin itu, yang jelas2 sahabat nabi, sudah tersesat dan dijebak konspirasi demokrasi ala zionis? Hehehe… ke Eropa saja mereka tidak:mrgreen:

  14. alex©
    26 November 2008

    Eh, dimoderasi?😕

  15. ikrar
    28 November 2008

    udah deh mendingan komen di blog gw tentang perbedaan hukum fiqih dan syariah mungkin klo udah ngerti w bisa bantu abang dan mbak sekalian.😆

  16. sulpani ahyadi
    30 November 2008

    kalo menurut gue nih ye;
    terlepas dari masih bisa diterima atau tidaknya partai dakwah dan sejenisnya…. alangkah bijak bila kita lebih mengoptimalkan dan merapikan lembaga2 dakwah yang ada dulu, ketimbang saling beradu otak dan otot selain menghabiskan energi juga termasuk perbuatan yang sia-sia saja, karna menurut gue belum ada lembaga2 islam manapun di negeri ini yang sudah sukses dalam dakwahnya…. maka dari itu mas, kang, mbak, teteh cukup debatnya dan mari kita saling dukung dan menghormati setiap Ijtihad sodara2 kita untuk berdakwah dengan ciri khasnya masing2.., toh kalo berhasil kita juga yang merasakan berkahnya ya kan…..
    “Allah tahu apa yang ada di hati setiap manusia…”

  17. aRuL
    30 November 2008

    kata amrozi dan kawan2 demokrasi itu kafir…
    biasa jadi ada benarnya, kalo memang ada yang bertentangan dengan aLQuran.
    Nah sekarang bagaimana sendi2 Islam itu bisa diterapkan di Indonesia? Dan memang aturan Islam tidak akan mengekang penganut agama lain. Kalopun ada ayng bilang mengekang, pasti ada sentimen keagamaan di dalamnya.
    mengenai partai Islam, kita tunggu sampai pemilihan nanti apakah mereka masih tetap berjargon tegas sesuai khittahnya?
    yah.. kita masih dalam tahap meliat dan memutuskan kawan🙂

  18. nun1k04a
    1 Desember 2008

    Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com%3c/a>. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://partai-politik.infogue.com/quo_vadis_pks_

  19. eshape
    1 Desember 2008

    Aku lebih senang kalau PKS tidak usah membawa-bawa orang nonPKS sebagai bahan “jualannya”.

    Tahun depan aku sudah mencanangkan diri untuk mulai membuka mata terhadap PKS, tetapi dengan adanya iklan ini, PKS jadi sama dengan partai lainnya.

    Akupun kembali mundur dan akan menentukan siapa yang kucoblos, tepat di hari H saja.

    Salam

  20. M Hasan Al Banna
    5 Desember 2008

    Menurut saya, kita tidak perlu adu debat sampai sebegitunya, saya setuju dgn pendapat mas suplani, biarkan partai2 melakukan sesuai ciri khasnya sendiri, nanti juga masyarakatlah yg menentukan apakah partai itu tinggalkan oleh masyarakat atau malah menjadi partai yg lebih di sukai masyarakat. Ini pendapat saya lho

  21. amr
    5 Desember 2008

    pks…
    wah, akhir2 ini namanya sering menjadi bahan omongan.
    memangnya ada apa sih dengan pks?
    demokrasi,,, bahasan yang perlu disikapi dengan bijak.
    domokrasi akan membawa kebaikan jika yang mengendalikannya adalah orang-orang yang baik. dan akanmenjadi kebalikannya jika dikendalikan oleh orang-orang yang tidak baik.
    demokrasi dinegara ini menjadi rusak karena orang-orang yang mengendalikanya bukanlah mereka-mereka yang betul2 pro terhadap rakyat, tetapi mereka lebih mementingkan diri mereka sendiri. dan menjadikan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri bukan untuk kesejahteraan rakyat.

  22. yenny
    9 Desember 2008

    hmmm…

    menurut saya jawabanya ; pilih demokrasi ato islam
    Demokrasi tidak ada hubungannya dengan Islam sama sekali.

    so milih islam ato demokrasi?
    1. Demokrasi adalah buatan akal manusia, bukan berasal dari Allah SWT.

    2 Demokrasi lahir dari aqidah pemisahan agama dari kehidupan, yang selanjutnya melahirkan pemisahan agama dari negara.

    3. Demokrasi berlandaskan dua ide :

    a. Kedaulatan di tangan rakyat.

    b. Rakyat sebagai sumber kekuasaan.

    4. Demokrasi adalah sistem pemerintahan mayoritas. Pemilihan penguasa dan anggota dewan perwakilan, serta pengambilan keputusan dalam lembaga-lembaga tersebut diambil berdasarkan pendapat mayoritas.

    5. Demokrasi menyatakan adanya empat macam kebebasan, yaitu :

    a. Kebebasan beragama (freedom of religion)

    b. Kebebasan berpendapat (fredom of speech)

    c. Kebebasan kepemilikan (freedom of ownership)

    d. Kebebasan bertingkah laku (personal freedom)

    dah tau jawabanya khan;)

  23. rosi
    28 Desember 2008

    udah mas……………. ngak baca apa kata kang sulpani….. ribut soal beginian mah udah basi……!!!!!! mending sekarang kita mikir apa yang kita bisa perbuat untuk dakwah islam selain debat mulu…………..
    …:) …………. iye gak?

  24. dodo
    28 Desember 2008

    ehm………..ehm……….. nih biar rame .. Ai tambahin….
    bagi yang suka demokrasi …ikut demokrasi …. yang gak suka cari tempat sendiri sana ……… masuk PKS ikutan berdemokrasi menuju penegakan Syariat……. ato diem aja sambil berharap Syariat akan datang dan terbentuk sendiri tanpa usaha……. ngimpi loh

  25. belajardarikecil
    8 Februari 2009

    Ups…akhirnya…PKS berubah…dulu Partai Keadilan…tapi setelah beberapa orang mereka masuk di Parlemen..menjadi Partai Keadilan Sejahtera…. ha..ha..ha..yang mirisnya lagi…Partai ini mengejar orang-orang yang buta ISlam sekalipun mereka PROfessor Doktor..kalau Islamnya dari buku terjemahannya..ya..selesai dah…. Tolong juga diwaspadai permainan image mereka…contoh…Pada waktu baru naik ke DPR …Rama Pratama sempat gemuk bangets…dan sekarang dah mau pemilu lagi…saya lihat Rama dah kembali Normal….Beruntunglah kita masih punya Zulhamli Al Hamidi…. Terima kasih bang Zulhamli….

    Tuk om pemilik blogs…kita tukaran link ya…link om saya taruh dibelajar darikecil di kategori PKS…tararengkyu

  26. Muda Bentara
    9 Februari 2009

    Ok lah om, tapi tunggu saya ol dulu yah …

  27. wiwi
    19 Februari 2009

    jangan samakan lada dan pala
    berbeda rupa tak sepadan rasa
    sangatlah bijak seorang muda
    bila bicara tidak menggibah….
    ……… salam hangat untuk adik yang baru belajar…..”””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 25 November 2008 by in Journey, Opinion, Prime and tagged , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: