MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Quis custodiet ipsos custodies ?


Siapa yang akan mengawasi sang pengawas ?

manusiaJam 4.30 tadi saya mengikuti acara diskusi tentang ” korupsidi birokrasi ” yang diadakan oleh PEMA UNSYIAH, ini adalah acara pertemuan “ilmiah” ketiga yang saya ikuti hari ini, setelah tadi pagi saya mengikuti presentasi di kelas, siang nya saya mengikuti kuliah umum dengan tema “Sistem Politik di Indonesioa” yang pemateri nya adalah Prof .DR.Nazarudin Syamsudin,MA ( mantan Ketua KPU 2004) dan terakhir adalah acara diskusi tentang korupsi ini.

Suasana sore tadi begitu dingin, maklum hujan telah “menggoda” raga saya tuk tetap bercumbu ria dengan guling dan selimut yang berbau kecut itu , ya, dekapan sang alam membuat saya sempat membius saya tuk terlelap walau untuk sesaat, paling tidak hujan kali ini bisa membuat saya menjadi tak terlalu gundah lagi, gundah akan keadaan hati saya yang sedang dilanda suatu gelora beberapa waktu ini.

Untuk kali ini tentunya saya tak boleh kalah lagi, tadi saya telah mempunyai niat , apapun rintangannya saya akn tetap datang , tentunya hujan kali ini tak bisa membatalkan niat saya tuk hadir di acara diskusi itu, sebuah tradisi yang sudah beberapa bulan lama nya saya tinggalkan, saya acuhkan karena ke picikan otak saya ini, diskusi yang sebuah sarana untuk menjemput ilmu tentunya .

Jarang saya begini, rela berbasah diri tuk hadir dalam sebuah acara , tapi ya, semua itu harus di awali, harus dimulai, dan dan semoga saja ini adalah awal yang baik .

Sampai di tempat itu acara sudah dimulai selama 15 menit, setelah mengisi blangko absensi peserta, saya masuk ke ruangan itu, PTC [ PEMA Training Center ] namanya, semua pesertanya duduk lesehan, dan hanya sang pemateri dan moderator yang duduk di kursi, maklum mereka memang kelihatan lebih gagah jika duduk di kursi.

Saat masuk keruang itu, saya melihat sebuah kejanggalan, karena di pengumuman-nya dikatakan pematerinya ada dua, satu dari Kejaksaan, dan satunya lagi dari organisasi anti korupsi,

Yang datang cuma perwakilan dari organisasi anti korupsi, perwakilan kejaksaan nya tidak datang, mungkin ia sedang berselimut ria bersama istrinya dalam satu dipan, ahh tak tahu juga, mungkin ini suatu yang lumrah, karena mereka takut tuk menghadapi “predator-predator liar” yang bernama mahasiswa itu, predator yang siap melahap mereka dengan pertanyaan pertanyanaan yang membuat muka mereka tentunya berubah masam .

Acara berjalan dengan lumayan asik, pemateri yang masih muda itu, kisaran umurnya masih 26 tahun , ia kelihatannya sangat menguasai materi, itu pasti karena wajah melayu-nya nan eksotik itu sering terpampang di media local, rintik-rintik hujan yang sedang bercumbu dengan rerumputan bumi seakan makin menguatkan setiap getaran yang keluar dari mulutnya .

Waktu terus berjalan, sedikit sedikit pembicara itu telah memikat saya, tentunya bukan secara sexual, karena saya masih sangat normal sebagai keturunan Adam, fakta yang dikemukakannya tentang dilemma korupsi di birokrasi Aceh menjadikan mata saya sedikit terbuka, paling tidak terbuka dari penipuan-penipuan media dan keakuratan berita yang sehari-hari saya dapati, ya, berita yang sering keluar dari mulut para jaksa atupun polisi yang kebanyakan memang bejat-bejat itu .

Dari korupsi para Pupati, pejabat, angota dewan yang terhormat, dinas-dinas pemerintahan, institusi pendidikan, aparatur hukum, semua nya bagai fakta yang terpampang nyata, ironisnya semua ini terbentuk dari kesalahan sebuah system, system yang mengendalikan negeri ini,

Siapa yang bisa membuktikan jika KUHP, ataupun UUD ataupun juga Undang Undang racikan para anggota dewan yang katanya terhormat itu benar benar murni untuk kemaslahatan rakyat, toh nyatnya mereka kerjanya cuma menjadi penolong dan corong para kapitalss, toh mereka juga yang korupsi, toh mereka juga yang kolusi.

dan siapa juga yang bias membuktikan kalau jaksa , polisi ataupun uinstitusi yudikatif lainnya itu aman, toh mereka banyak juga yang terbukti bersalah, dan bahkan mafia peradilan ada dimana mana….

Untuk hal ini saya teringat kembali dengan salah satu kata-kata bijak dari Dan Brown yang ia sisipkan dalam slah satu novel nya yang berjudul Digital Fortress, tentunya melalui peran seorang kriptografer yang ada di rekan nya itu, sebuah cerita yang sangat menarik, tentang eksistensi lembaga pengawasan.

Dalam salah satu dialog di cerita itu, seorang kriptografer mengucapkan kata-kata ini kepada seorang rekannya :

Quis custodiet ipsos custodies ?

Siapa yang akan mengawasi sang pengawas ?

Sebuah pepatah latin ini menjadi kan saya bertanya tanya kembali tentang eksistensi sebuah pengawasan, betapa rumitnya problematika realitas kehidupan yang harus diawasi.

Seperti saya katakan tadi, siapa yang bisa mengawasi lembaga pengawas seperti DPR, Kejaksaan ,Mahkamah Agung, lembaga peradilan, ataupun Kepolisian ? toh nyatanya mereka sendiri juga corrupt ? lalau siapa lagi yang harus dijadikan sandaran dalam hal pengawasan, bukankah kini tak adalagi institusi pengawasan yang murni, yang jelas kini semua hal perlu di awasi, bahkan para pengawas sekalipun, karena toh kenyataannya kejahatan banyak dilakukan oleh orang orag yang nyatanya dianggap bersih, dianggap bebas dari dosa, atau orang-orang yang nyatanya dianggap suci.

Dilemma memang, disaat sang pengawas menjadi makluk yang harus diawasi, disaat yang dianggap paling benar menjadi penjahat yang sebenarnya, disaat yang dianggap putih rupanya paling ternoda, lalu diama kita akan bisa menggantungkan harapan akan keadilan itu ? apakah tetap menggantungkannya kepada mereka ? kepada kiaum kaum picik itu ? kaum kaum pengkianat itu ? ataukah patung manequin yang memegang timbangan itu ?

Tuhan itu maha tahu, tapi ia menunggu , tentunya ini semua kembali lagi kepada kesadaran awal, kesadaran kita sebagai manusia, manusia yang sebelumnya tiada , lalau ada, dan kembali lagi menjadi tiada, karena hidup ini adalah live circle, tapi bukan reinkarnasi , kita semua memiliki beban tangung jawab kepada Tuhan, kepada ALLAH SWT, tanggung jawab yang sebenarnya, tentunya bukan format pertanggung jawaban laporan keuangan akhir tahun ala birokrator yang busuk kepada rakyat, ataupun janji janji kampanyae sang calon pemimpin demi mengkibuli rakyat.

Tapi adalah sebuah pertanggung jawaban kehidupan, kehidupan yang memiliki catatan, baik buruk, hitam putih, dn semua itu dimintai pertanggung jawaban oleh allah swt .

ya , sampai kapanpun pengawas itu harus diawasi, tentunya dengan menggunakan aturan Tuhan tentunya, aturan sang pemilik alam, alam yang bahkan memberikan semut sebuah keadilan , dan bukannya aturan hasil persenggamaan kaum rohaniawan gereja dengan raja-raja nya, ataupun para birokrat dengan lintah darat yang kaya .

Tuhan itu tak seperti anggapan Nietzhe, Aristoteles, Marx ataupun pemikir lainynya , Tuhan yang bagi mereka tak pernah ada , karena tak pernah nyata …. karena patung-patung sesembahan mereka itu cuma batu .

tapi Tuhan itu adalah pencipta, ALLAH SWT, ia menciptakan semesta, lengkap dengan isinya, dan lengkap pula dengan aturannya …. aturan yang termaktub dalam AL-Quran , Al-Quran yang berisikan garis-garis aturan kehidupan, aturan hidup anak cucu Adam dari mereka bangun di pagi hari sampai terlelap di malam yang sunyi .

Ya, aturan Tuhan merupakan sebuah Kebenaran yang paling mendasar.

________________________________________________________

*Sekali-kali serius ndak papa kan ?

*Tapi ndak serius-serius kali lahh …

12 comments on “Quis custodiet ipsos custodies ?

  1. Muda Bentara
    22 November 2008

    struktur emosi coretan ini agak kacau, maklum lagi berusaha untuk serius kembali …..

  2. Muda Bentara
    22 November 2008

    olalala …. banyak kata-kata dan ejaan yang salah rupanya …….

  3. r4ka
    22 November 2008

    great start, brother. cukup berisi kok.
    semoga di postingan selanjutnya gk kacau lagi ya๐Ÿ˜‰

  4. a3u5z1i
    22 November 2008

    Ucapan Ensei Tankado di Digital Fortress..
    Memang keren sekali ucapannya, karena kejadian seperti itu banyak terjadi dunia.
    Jadi, siapakah pengawas yang tidak harus diawasi?

    Bagus kok makna tulisannya๐Ÿ˜€

  5. Yusuf
    23 November 2008

    kembali pada pribadi masing2 kali ya….
    mental2 korup timbul karena agama yang tipis…….

  6. gbaiquni
    23 November 2008

    great Posting…!

    siapa yang mengawasi para Pengawas…?
    adalah Dia Yang Maha Mengawasi/Menyaksikan

    Allah AsySyahiid AsSamii’ AlBashiir…

    [senyum]๐Ÿ™‚

  7. Odie
    23 November 2008

    Siapa yang akan mengawasi sang pengawas ?

    benar benar pertanyaan menari yang mengusik telinga kanan ane…๐Ÿ˜€

  8. redesya
    23 November 2008

    Pengawas yang baik harus adil dalam memandang setia kasus, tapi nyatanya belum ada yang seperti itu, ya mungkin hanya beberapa saja..

  9. s H a
    23 November 2008

    Hooo. . .yang mengawasi adalah Tuhan . Betul ? ?๐Ÿ™‚

  10. nono
    24 November 2008

    di-awas-i yah…

  11. alid abdul
    24 November 2008

    Kabooor…….
    Puyeng bacanya om

  12. putri07maulina
    29 November 2008

    “Dan janganlah kamu memakan harta orang lain dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (Q.S. al-Baqarah ayat 188).

    mungkin ayat ini yang sangat cocok untuk mendeskripsikan keadaan yang sedang kita alami sekarang ini.begitu banyak pejabat yg tak bisa menjadi “uswatun hasanah”nya rakyat,bahkan mereka mungkin hidup bergelimpangan harta di atas penderitaan kaum duafa yg sebenarnya patut di beri perhatian itu.
    Dimanakah kesadaran mereka???
    sudah selayaknya mereka bertanggungjawab atas kekuasaan yg didudukinya,tdak menjadi penjahat di atas bangku kekuasaannya itu sendiri..

    Mungkin inilah suatu bukti dari perkataan Nabi di mana suatu ketika akan datang masa dimana orang-orang tidak akan memperdulikan lagi darimana asal sesuatu itu datang,tidak perduli halal maupun haram.
    kalau begitu,siapa yg akan menjadi pengawas bagi pengawas???
    jawabannya mudah,Allahu ya’rifu mayyasya’…wa huwa ya’lamu ma ya’maluun….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 November 2008 by in Aceh, Journey, Prime and tagged , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: