MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Romantika Makna .


Sebuah Kisah Tentang Sate MATANG,

Pada saat kelas 6 SD dulu, hampir tiap minggu saya mencuri uang ayah saya , saat itu biasanya saya mengambil sebanyak 10-20.000 saja, biasanya saya mencuri uang ayah saya itu tepat pada hari minggu , saat dimana saya dan teman teman selalu berencana melakukan petualangan- petualangan baru , dan tak lupa pula setiap kali saya mencuri uang ayah saya tersebut, saya selalu datang ke warung yang ber paapn nama”SATE MATANG” yang saat itu letaknya di samping Hotel Mutiara Meulaboh ,

entah kenapa saya sangat menyukai sate di warung itu, tak tahu juga kenapa, tapi mungkin juga karena saya sudah muak dan eneg dengan sate padang yang setiap sore dibelikan oleh bunda saya , saya eneg karena sate nya gak enak, terkadang saya lihat masih berdarah darah (gak matang) dan dagingnya cuma terdiri dari lemak dan jeroan nya saja , saya tidak suka karena ketika membayangkan sate itu pikiran saya selalu terbayang ke tumpukan tumpukan kotoran yang ada di dalam jeroan saat setiap kali saya melihatnya di pembantaian hari raya kurban ……

bagi saya waktu itu “brand” nama warung sate matang sudah mempengaruhi saya, mempengaruhi saya untuk percaya bahwa sate itu memang sangat matang, toh namanya aja sate matang, dan rasanya pun berbeda dengan sate yang biasanya bunda saya belikan ….

setahun rasanya saya larut dalam kenikmatan sate yang disediakan oleh warung sate matang, sampai akhirnya warung itu tutup dan tak pernah buka kembali , saya pun tak tahu kenapa warung itu tutup ….

sejak saat itu dan sampai sekarang saya ndak pernah lagi memakan sate di warung yang namanya sate matang …

dan beberapa bulan yang lalu ayah saya dan beberapa saudara nya lainnya pergi ke lhokseumawe tuk menghandiri acara pernikahan seorang famili kami , mereka perginya cuma sehari saja, karena diburu pekerjaan ,

kebiasaan ayah saya itu, untuk setiap hal yang baru , beliau selalu memberitahukan kepada saya , apapun itu, dan tiap hari kami selalu menjadi teman diskusi yang baik, dari masalah politik, ekonomi, terkadang juga gosip dan hal hal lainnya , untuk hal ini mungkin ayah saya mencoba mengajarkan saya untuk lebih terbuka dan berani tuk menyampaikan semua ide yang dimiliki tanpa ada halangan apapun , toh ndak selalu ayah saya benar dan tak selalu juga saya ini salah ,…

setelah pulang dari lhok seumawe itu, ayah saya menceritakan pengalaman-pengalam an nya dalam perjalanan PP dari banda aceh ke lhokseumawe tersebut , beliau menceritakan kalau mertua paman saya yang juga Abang sepupu ibu saya itu sangat suka makan sate, kata beliau, waktu singgah di matang gelumpang dan makan satee matang mertua paman saya itu banyak sekali makannya, sampe-sampe membuat paman saya malu dan , lucu juga , lucu karena mertuanya itu juga kena komplikasi penyakit , dan makan sate adalah salah satu yang membahayakan baginya

dan ayah saya mengatakan kalau hal itu sangat menyenangkan karena sudah lama rasanya tak pernah melakukan perjalanan seperti itu dengan saudara saudaranya , sewaktu mereka pulang , mereka pun harus membayar 200.000 untuk harga satee matang yang mereka “lantak” dan juga beberapa lagi yang dibungkus tuk dibawa pulang ,

dan saat ayah saya menceritakan tentang santapan sate matang nya itu , saya masih berfikir jika sate matang yang disebutkan oleh ayah saya itu adalah sate matang seperti yang saya nikmati sewaktu saya kelas 6 sd dulu , yaitu jenis sate yang di panggang secara matang , secara benar-benar masak begitu , dan saya juga masih berfikir kalau rupanya satee matang yang ada di meulaboh yang sudah tutup itu adalah cabng dari beberapa warung yang ber-brand satee matang, toh industri francise kan sudah lama berkembang ….

dan beberapa bulan yang lalu sepupu saya yang baru meikah mengajak saya tuk makan mie kocok di daerah beurawe, sesampainya disitu saya cuma memesan mie kocok saja, dan isteri abang saya itu bertanya kepada si kasir nya,

”bang , ada sate matang ?”
dan sikasir menjawab , “gak ada kak , dan si kasir menawarkan sate jawa atau satee padang “
dan kakak ipar saya itu dengan wajah ketus tak menjawabnya, dan mengikuti jejak kami tu hanya memesan mie kocok saja , …
____________________________
sepulang dari itu waktu telah menunjukkan pukul 11.30 malam, dan seperti biasa kebiasaan buruk saya, saya sangat senang jalan jalan dan menikmati kendahan banda aceh diwaktu malam hari, tepatnya tengah malam , karena saya merasa damai, merasa tenang, dan merasa sebagai pemilik satu satunya dari ketenangan ini, dan saya sangat benci dengan banda aceh di siang hari, banda yang berdebu, panas dan berbagai macam ketidak nyamanan lainnya ,…..

dalam perjalanan itu saya berfikir sendiri sebenarnya apa sih yang membuat orang orang suka dengan satee matang , sate matang yang membuat saya sewaktu kecil dulu tiap minggu rela mencuri uang ayah saya tuk bisa mencicipinya, sate matang yang membuat ayah saya merasa menemukan kembali kekerabatan keluarganya, sate matang yang membuat kakak ipar saya menjadi kecut muka nya karena tak bisa menikmatinya …

saya bertanya tanya kembali kenapa mereka suka terhadap sate matang tersebut ? apakah alasan mereka sama seperti saya , tak menyukai “taste” sate konvensional yang masih berdarah-darah, dan penuh dengan jeroan ? tak tahu juga saya , dan saya juga masih berfikir kalau sate matang itu juga menjadi bagian dari keluarga sate-sate lainnya , baik sate padang maupun jawa, dan yang membedakan antara satee matang dengan satee jawa hanya cara memasaknya saja yang lebih MATANG, dan sate jawa ataupun padang yang konvensional itu dimasak dengan kurang MATANG menurut saya ,

untuk umur saya yang baru 12 tahun waktu itu, tentunya lidah kecil saya tak terbiasa tuk menikmati “feel” dari rasa sebuah masakan , toh pak Bondan Winarno dengan wisata kuliner nya belum hadir waktu itu , dan waktu itu kehidupan kecil saya masih terjebak dengan simbolisasi jenis merek , saat itu saya menyukai sate matang karena saya rasa cara masaknya yang matang dan toh saya gak suka dengan sate yang gak matang ….

dan rupanya saya dibohongi oleh itu semua , setelah membaca postingan bang Ozan ini barulah saya tahu , bahwa sate matang itu adalah sate jenis asli dari daerah matang, dinamakan sate matang karena menjadi chiri khas dan memang berasal dari sana , sama seperti sate jawa, yang ber taste kan jawa, dan sate padang yang ber taste kan padang

dan kini saya baru tahu, jenis sate di dunia ini rupanya tidak hanya 2, tidak hanya dimiliki oleh padang dan jawa , tetapi juga dimiliki oleh matang gelumpang dua …. dan saya sngat bodoh karena terlalu telat tuk mengetahuinya …

untuk satee matang ini sungguh saya telah di tipu oleh pengertian bahasa , saya ditipu oleh ketidaktahuan saya yang mengganggap sate matang adalah sate yang benar-benar masak , saya ditipu oleh pengertian ke jawaan dalam memaknai sesuatu kata, karena saat itu saya merasa matang dari kata itu berarti matang mnurut pengertian jawa [karena kata ini sering digunakan oleh orang jawa] ,dan bukan matang menurut pemahaman lainnya …

tapi saya yakin kalau tidak hanya saya yang tertipu dengan
denga kata sate “matang “ini , karena semua orang yang awam akan hal ini pasti tak tahu kalau sate ini sama hal nya sperti sate padang dan jawa yang mewakili sud demografi daerahnya , dan pasti juga tak semua orang Aceh mengetahui akan hal ini , toh sebelumnya saya tak tahu kalau matanggelumpangdua di singkat menjadi matang oleh para warga nya ,

melihat hal ini saya menjadi teringat dengan cultur pengucapan lafal kalimat dalam bahasa Aceh , karena bahasa aceh memiliki struktur kalimat yang singkat dibanding dengan bagasa lainnya dalam memaknai sesuatu , contoh nya saja, ie,u, boh, kah, jak … dan berbagai macam kata kata lainnya yang sangat amat singkat …. dan kebiasaan ini juga menjadi kultur keseharian masyarakat aceh dalam menyebutkan sesuatu hal termasuk nama , saya teringat salah satu nama teman adik saya yang bernama Muhammad Arif, dan oleh teman teman nya ia di panggil “Mak areh”, ataupun teman saya yang bernama Muhammad Nur dipanggil “Mak nu” begitu juga dengan nama Panglima yang disingkat “Pang” ,

dan untuk hal ini di satu sisi terkadang juga bisa menimbulkan implikasi yang baik, yaitu adanya minimalisasi dan penghematan dalam penggunaan kalimat dan suara, akan tetapi sisi tidak baiknya juga ada , yaitu terjadinya “miss” dalam pemaknaan sesuatu hal , ya, contohnya saja dengan pemaknaan saya waktu dulu tentang Sate matang , saya menganggap sate matang adalah sate yang matang menurut bahasa indonesia dan bukan sate ciri khas daerah matang , coba anda bayangkan jika saja kita tak menyingkat nya dengan kata matang dan dengan lengkap menyebutkan matanggelumpangdua , ataupun sate matang gelumpang misalnya , tentu lah orang orang akan langsung berfikir tentang sebuah nama daerah , sehingga tak melahirkan sebuah ambiguitas di kalangan masyarakat ,

untuk orang yang sudah mengetahuinya oke lah disingkat, tetapi untuk yang belum tahu ? untuk yang hidup di luar aceh misalnya ? tentulah ambiguitas itu sangat kentara ,

dan tak bisa disalahkan juga jika nantinya ada orang yang diluar aceh yang juga menamakan brand satenya dengan nama sate matang, karena satenya memang toh sangat matang , kalimat matang yang mengandung ambiguitas menjadikan kata ini tak memiliki kekuatan BRAND yang kuat , orang di jawa ataupun daerah lainnya yang menikmatki sate matang yang benar-benar asli dari aceh tak akan langsung tahu kalau yang meraka nikmati adalah satee matang yang berasal dari daerah matang,beda halnya dengan fenomena Brand seperti mie aceh, dan kopi aceh ,ataupun Ganja aceh , Brand aceh telah menjadi sebuah kekuatan yang kuat dalam menari konsumen PASAR , dan takkala ketika yang disajikan pun bukan mie ataupun kopi ataupun ganja yang benar benar bercita rasa aceh, maka orang pun akan tetap percaya kalau itu adalah kopi aceh ,mie aceh, dan ganja aceh …..

begitu juga contohnya dngan kekuatan BRAND KFC , kita semua pasti tahu jika brand ini menggambarkan brand ke-Kentucky- an, kota tempat industri si ayam goreng ini pertama berasal , tetapi coba kita lihat apa yang terjadi dalam masyarakat dalam memaknai tentang ayam goreng , semua orang mengklaim bahwa ayang goreng yang meraka makan dan yang meraka jual tiap hari di pinggir jalan , walaupun bukan dari outlet resmi KFC, tetap saja meraka mengklaim nya sebagai ayam jenis KFC, jenis ayam goring yang berasal dari Kentaucky ??
saya sering berkelakar dengan teman teman tentang hal ini , kata saya ayam kentucky yang di jual di pinggir jalan itu made in Kuta Alam , karena KFC berarti Kuta alam Fried Chickken ….., dan ayam wong solo itu juga belum tentu punya orang solo lho …

dan kembali lagi ke fenomena sate matang di atas , saya rasa yang perlu di benahi disini adalah tentang kekuatan Brand nya , bagaimana agar makna dari brand matang itu tak ambigu lagi , saya rasa seandai nya saja saya memiliki wewenang tuk mempopulerkan budaya kuliner Aceh, maka saya akan mengubah nama sate matang menjadi sate Aceh , karena sangat sedikit orang yang mengenal matang ataupu n matanggelumpang dan sangat banyak orang yang tergila-gila dengan brand ke acehan

….. dan tentunya para artis keturunan aceh yang ada di jakarta tak bisa bermimpi banyak kalau karir meraka akan meningkat cepat, apa bila meraka tak memiliki nama dengan embel-embel Teuku ataupun Cut , karena Teuku dan Cut merupakan sebuah Brand yang menggambarkan ke Acehan ……dan Brand Aceh itu mahal …

Tentunya kita di didik untuk tidak bersikap pragmatis dalam hal ini …...te

———— ——— ——— ——— ——— ——— —–_____________—

ahhh … kapan ya saya bisa menikmati sate matang yang benar-benar dari matanggelumpang …..

* Sampai sekarang ayah saya ndak tahu kalau dulu saya sering nyuri uang beliau ….. Maafkan aku duhai ayahanda ….

16 comments on “Romantika Makna .

  1. Muda Bentara
    22 Oktober 2008

    Beuhhh …. si gam

  2. gbaiquni
    22 Oktober 2008

    hehehe… nice posting…,

    ternyata dugaan awal saya salah juga..,
    saya duga sate matang itu sate yang dagingnya dimatangkan terlebih dahulu, seperti direbus atau digoreng misalnya, baru kemudian dibakar…🙂

  3. Pakde
    22 Oktober 2008

    Intinya ciri khas tiap sate pasti ditusuk…pengolahannya pasti di bakar…bikin sate goreng laku nggak ya…?
    Sate kambing ado mas? bisa pesen sekarang nggak? laper nih…

  4. Aulia
    22 Oktober 2008

    Nyan link bang ozan bek tuwe post Muda, euntek di comment lom….
    hehehheeee

  5. Johan Suyanto S.Ph
    22 Oktober 2008

    Salam Kenal dr Sby, kunjungi kami n dapatkan bonus E-Book “Jadikanlah Anda Pemimpin Yang Ideal”
    Gratis.

  6. bapakethufail
    22 Oktober 2008

    jadi ngi-ler tuh …..

  7. Mang Kumlod
    23 Oktober 2008

    Waduh ini si abang diam-diam ternyata….
    Udah insyaf kan? hehehe…8x

    Di tulisan itu, saya ga menemukan penegasan apakah Sate Matang itu benar2 dimasak dengan matang? Kalau emang demikian, sebenernya Anda ga terlalu tertipu dong….

  8. Baka Kelana
    23 Oktober 2008

    Wow…sudah lama banget gw gak makan sate kesukaan gw ini..
    Beginilah kalau udah diperantauan
    selalu merindukan makana khas kampung halaman

    “Muda lain kali jangan nyolong lagi ya sayang”

  9. Silo
    23 Oktober 2008

    Wah kebetulan ini mau manggang sate …slurrp…dan ngencess he..he
    Salam kenal

  10. Muda Bentara
    24 Oktober 2008

    @ gbaiquni,
    Kita sama-sama ketipu bang …. salam kenal yah bang …

    @ Pakde,
    Wahhh … pakde rupanya pernah jualan sate yah … ehhee ….. saya lgi off nih pakde , belum buka noh warungnya …

    @ Aulia
    Teunang bos …. ka du update kok … sebelumnya saya tidak tahu …

    @ Johan Suyanto S.Ph
    Salam kenal juga pak dari Aceh ….

    @ bapakethufail
    Sama dunk pak …. saya juga lagi lapar nih …

    @ Mang Kumlod,
    hahaha .. si mang ,… saya udah insyaf dunk … kelas 6 saya bernenti … hehe ….
    tapi saya ketipu juga sama nama tuh satee …

    @ Baka Kelana,
    Beh …. bang baka ka teuingat u gampong …..
    dan kini diriku tak begitu lagi hai cutbang … hehee

    @ Silo,
    klo dah siap bagi yah ….. jadi ngiler nih ….

  11. andy
    25 Oktober 2008

    Lihat foto sate jadi lapar nih!!!!!1

  12. eMo
    25 Oktober 2008

    whuahhh.. jd lapeeeeerrr..hayo tanggung jawab

  13. redesya
    25 Oktober 2008

    Aku juga tadi berpikir satenya itu di bakar sampe matang benar gitu…

  14. Dalila Sadida
    27 Oktober 2008

    nyem….. hhe pasti enak ya! ampe “nyuri” gitu🙂

  15. Ozan
    31 Oktober 2008

    Ntar kota Kopdar ke Matang untuk hunting kuliner Aceh. Saya akan traktir semuanya.. hehehe..
    Btw, sory ya melewatkan postingan yg satu ini. Kmrin2 tu lagi hank, sekarang kambek blogging..

  16. unikzone.com
    5 November 2008

    salam kenal ……….. semoga sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 22 Oktober 2008 by in Aceh, Journey, Opinion, Prime and tagged , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: