MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Claim Imajinasi !


Belakangan ini dunia sinema Indonesia sedang mengalami gejala “kelatahan” , tentunya gejala latah dalam mengadopsi sebuah kesuksesan karya sastera untuk di angkat menjadi wujud visualisasi sinema , pastinya hal ini menjadi alasan tersendiri dari para producer untuk tetap eksis di dunia sinema yang makin lama makin berkembang pesat ini.

visualisasi karya sastera dalam bentuk film menjadi alasan mereka untuk mencari alternative baru dalam penyajian sebuah karya seni, apakah untuk memperbaiki selera dan menghilangkan kejenuhan para penonton yang sudah muak dengan ke garingan sinema cinta , atau ketidak percayan akan ke-porno-an sinema dewasa , dan yang paling penting adalah bahwa fenomena ini telah menjadi sebuah solusi instant untuk menambah pundi-pundi uang yang mereka miliki , kekayaan yang menjadi sumber dari semua alasan akan sesuatu hal kenapa dilakukan .

Dan tentunya banyak juga hal positif yang dilahirkan oleh trend ini , proses generalisasi makna dan generalisasi ketenaran menjadi alasan penting dalam upaya adopsi jenis ini , karena yang diangkat untuk di film-kan toh juga bukan sebuah karya sastra yang tidak laku , tetapi merupakan karya sastra yang telah menginspirasikan banyak manusia akan makna kehidupan . dan tentunya juga telah terbukti mampu menghasilkan banyak uang baik untuk penulis maupun penerbit , disini pemikiran instant itu berjalan beriringan secara konstan , yaitu untuk mengkuti jejak langkah kesuksesan bukunya terdahu , jejak langkah yang sebelum nya telah sukses besar itu .

Psoses visualisasi terhadap sebuah karya sastra telah menjadi begitu kuat makna nya , tentunya telah memudahkan penyebaran ide karya sastera tersebut untuk diterima secara massiv, tentunya hal ini diperlukan untuk menjangkau manusia-manusia yang tidak tersentuh oleh akses buku karya sastera , ataupun ini diperlukan untuk memudahkan masyarakat untuk menyerap apa yang disampaikan , ataupun untuk men jembatani manusia-manusia yang tidak senang dengan tipe imajinasi yang dihadirkan dalam bentuk buku teks dan lebih memilih menyetujui imajinasi yang dihadirkan dan “dipaksakan” oleh sang sutradara .

Tapi apakah semua komponen masyarakat menyukai hal itu ?

Terkadang juga tidak , dan bagi peminat karya sastra yang menyukai interpretasi imajinasi personal terhadap setting plot sebuah cerita , pastinya ini menjadi sebuah dilemma tersendiri , karena proses kreatif dari pembuatan film berarti penyetujuan akan kerangka imajinasi yang dihadirkan oleh Producer, Director, dan si Pembuat script , dan pemaksaan itu menjadi sangat tidak menyenangkan jika para penikmat yang sebenarnya itu telah memiliki standar imajinasi sendiri dalam mengartikan sebuah makna akan karya sastera itu , pemaksasan terhadap penafsiran telah menjadikan ketimpangan tersendiri dari ketetapan hati nurani , ketetapan hati nurani akan keunikan manusia, tentunya manusia yang memiliki film sendiri di kepalanya .

Kemampuan imajinasi manusia yang berbeda-beda telah menjadikan penafsiran makna yang berbeda pula, apakah itu secara imajinatif ataupun nyata , tetapi pemaksaan terhadap interpretasi ini terkadang telah membunuh karakter kepercayaan akan makna yang sesungguhnuya, walaupun untuk level penikmat visual ( hanya film ) hal ini merupakan sesuatu yang mengasyikkan, karena mereka hanya mellihat hasil karya yang dibuat perdasarkan hasil pemahaman sang sutradara, dan tentunya mereka akan sangat mudah untuk larut dalam “pemaksan” imajinasi itu . dan mereka tidak harus repot-repot lagi menggunakan kemampuan pikirannya untuk menafsirkan sesuatu, karena semuanya telah disediakan .

Jika subjek nya adalah pembaca maka hal ini berbeda lagi , pembaca yang telah mempunya kerangka imajinasi tersendiri dalam sebuah karya telah menjadi sangat tersakiti akan peruses visualisasi itu , proses yang membuat nurani mereka manjadi berontak, tentunya melawan hasil dari interpretasi personal dari sutradara ,

Jika dilihat dari trend proses pengadopsian visualisasi karya sastera itu , tentunya memiliki perbedaan pemahaman tersendiri antara pemahaman akan karya sastera yang dimiliki oleh penulis yang mewakili aspirasi pembaca dan pemahaman visualisasi yang dimiliki oleh sutradara ( para penikmat film ),

Interpretasi yang berbeda telah menjadikan pendangkalan akan makna karya sastera itu ,

Proses produksi yang cenderung harus setia terhadap selera pasar dan cenderung menghianati makna yang sebenarnya telah men cabik-cabik esensi yang ituh ,tentunya ini menjadi ironi tersendiri , dan pastinya setiap pihak memiliki domain nya tersendiri untuk melakukan hal itu , dan pihak pembuat film tentunya yang paling memiliki domain utama , karena semua proses produksi merupakan wewenang mereka dan mereka menjadi penentu akan ending dari visualisasi itu sendiri , dan dalam hal ini penulis hanya menjadi penonton yang setia .

Dan ujung-ujung nya pihak yang tersakiti adalah para penikmat sastera yang sebenarnya itu , para penikmat yang hidup dalam limitasi imajinasi tanpa batas , dan tentunya mereka tidak ingin jika imajinasi nya dibatasi , tidak seperti penikmat film yang memang memliki limitasi .

Beberapa proses visualisasi terhadap film juga telah membuktikan adanya perbedaan interpretasi terhadap imajinasi ini , fenomena Ayat Ayat Cinta di Indonesia dan fenomena Tha Davinci Code telah menjadi fakta yang nyata akan keterbatasan interpretasi itu , bagi penikmat kedua karya sastera ini, proses visualisasi terhadap film ini Cuma menjadi bentuk penipuan terhadap makna yang dikandung oleh kedua karya sastera ini , proses ketudak setiaan menjadi alas an yang sangat pahit , alasan yang bisa menjadikan para penikmat menjadi muak akan karya sastera itu .

Dan yang paling penting adalah, bahwa proses visualisasi tak akan pernah bisa memuaskan imajinasi interpretasi yang tak terbatas itu , karena pemaksaan akan sebuah imajinasi pemikiran manusia cuma akan melahirkan sebuah dilemma penafsiran yang sempit , sempit dan cenderung menyakitkan .

Dan dalam dunia kapitalisasi sinema , tentunya selera pasar menjadi tuhan yang sebenarnya , sebuah tradisi kapitalisasi yang tak mengenal kemerdekaan imajinasi .

____________________________________________________________________________________________________

Ah… si muda asem …. Apa yang kamu katakana Mud ?

27 comments on “Claim Imajinasi !

  1. aRuL
    13 September 2008

    makanya kadang, ada semacam interpreter dari sang empunya karya untuk diketahui maknanya.
    Tapi kadang juga karya sastra itu sengaja dibuat ambigu, biar penikmat makin penasaran aja😀
    sipz, postingnya bebobot bro… gudlak selalu🙂

  2. Muda Bentara
    13 September 2008

    Iya juga ya daenk …. Ambiguitas itu telah melahirkan tradisi berfikir yang baru , walaupunterkadang juga melahirkan pertentangan …. tapi entah kenapa saya lebih senang dengan bentuk imajinasi tekstual dibandingkan dengan visual …..
    ini mah postingan yang Asem daenk ….heheh

  3. Abeeayang™
    13 September 2008

    agaknya duit telah mengalahkan kreatifitas bang…..

  4. Muda Bentara
    13 September 2008

    Betul mas , kini duit telah menjadi penentu dari standar apapun , standar dari semua kehidupan manusia , dan pastinya duit tak bisa mengekang imajinasi .

  5. nenyok
    13 September 2008

    salam
    yang penting komersial bukan? idealisme entah nomor berapa atau bahkan ga masuk itungan tuh🙂

  6. Rayyan Sugangga
    13 September 2008

    Setuju kadang kreatifitas orisinal pun tidak muncul karena terpaksa meladeni kemauan yang mengeluarkan dana …

  7. ma2nn-smile
    13 September 2008

    heheheh….pokoknya indonesia itu beragam banget……bervariasi lagi…

  8. hedi
    14 September 2008

    Kebebasan berkreasi kadang di belengu oleh pemilik dana, dengan dalih lebih mengikuti jaman dan akirnya keluar dari alur cerita sebenarnya

  9. ageleng
    14 September 2008

    Memang g kreatip bngsa kita ini?
    Apakah ad yg bsa dbanggakan?
    Salam kenal. .=D

  10. redesya
    14 September 2008

    aku juga nggak mau imajinasi yang dibatasi..

  11. edratna
    14 September 2008

    Sebetulnya menarik jika karya sastra bisa difilmkan…biasanya penulis skenario sudah ketemu dan diskusi dengan penulisnya. Pasti ada perbedaan, karena tak semua yang ditulis dalam bentuk tulisan dapat dengan mudah dituangkan dalam bentuk film. Namun ada juga yang filmnya lebih bagus (saya lupa judul film nya), karena penulisnya sendiri mengatakan bahwa dia malah tak berpikir dapat dilakukan eksplorasi seperti itu, dan eberikan salut kepada penulis skenario dan sutradara…..

  12. Muda Bentara
    14 September 2008

    @ nenyok
    kalau dalam dunia kapitalisasi hal itu 100% benar .

    @ Rayyan Sugangga
    Iya mas , terkadang originalitas telah lenyap ditelan standar pasar .

    @ ma2nn-smile

    Iyah man , dan keragaman itu adalah rahmad …

    @ hedi
    betul mas, dan ujung ujungnya adalah pengekangan terhadap kemurnian ide …

    @ ageleng
    Salam kenal juga ageleng , tapi bagi saya indonesia tetap kreatif kok …

    @ redesya
    Setuju , karena imajinasi itu adalah keindahan yang tak bisa di batasi ..

    @ edratna
    Iya juga buk , tetapi kebanyakan yang tampak adalah bahwa film nya telah mencedrai makna sebenarnya dari karya sastera itu ….

  13. hananan
    15 September 2008

    Setuju Da…SEtiap pembaca sebuah karya sastra maupun yang nonsastra pasti mereka sudah menciptakan gambaran di kepala mereka masing-masing. Ketika kata-kata dituangkan ke dalam gambar-gambar maka tentu saja perubahan media ini juga ikut mengalami perubahan sesuai dengan konteks dan “gambaran” si pembuatnya. Kreativitas memang sangat berpengaruh dalam hal ini. Tentu saja.

  14. Muda Bentara
    16 September 2008

    @ hananan
    Setuju juga bang …. gak enak kali rasanya kalau imajinasi kita di batasi …

  15. Odie
    18 September 2008

    “bingung Mode On”
    lagi o’on nih..
    hehehe

  16. Mang Kumlod
    18 September 2008

    Kebebasan menuangkan imajinasi dari sebuah karya sastra juga dimiliki oleh insan pelm. Mereka pun berhak menentukan imajinasinya atas sebuah karya sastra. Mereka ga memaksa setiap orang wajib menonton pelmnya. Tapi ya… bebas aja, yang mau nonton ya silakan… ya ngga ya… terserah.

    Pelm yang diangkat dari sebuah novel juga selalu mengajak si penulis untuk berpartisipasi. Sehingga masih ada “pengawas” walaupun emang masih disadari Production House menyelaraskan dengan selera penonton yang kita tahu masih seperti itu. Tapi kalau mikir2 lagi, bukankah si penulis novel populer juga mempertimbangan selera pembaca dalam karyanya?

    Kalau buat saya, dengan hadirnya pelm dari novel, saya bisa menilai sebagus apakah imajinasi saya daripada si sutradara…? Kalau bagusan saya, ya al-Hamdulillaah, kalau bagus sutradara ya subhanallaah.

  17. goncecs
    18 September 2008

    intinya yg punya duit itu yang punya kuasa !!!

  18. det
    19 September 2008

    memang begitu, pasar yang menentukan karena pasarlah yang membayar biaya produksi dan penayangan di tv melalui iklan yang dibayarkan😉

    sekedar info, paket THR masih dibuka hingga tanggal 27 september. domain + hosting 100 mega hanya 100rb! baca selengkanya di http://deteksi.info/2008/09/thr-untuk-semua/

  19. gajah_pesing
    19 September 2008

    kapan ya…aku punya duit banyak biar isa meramaikan dunia perfileman biar gak latah-latah amat…
    *mengkhayal di bulan ramadhan*

  20. Yari NK
    19 September 2008

    Ngga apa2 deh kelatahan seperti itu, asal jangan plagiarisme aja seperti yang sering terjadi dalam sinema2 Indonesia. Mulai dari poster sampai jalan cerita terkadang jelas2an menampakkan unsur plagiarisme dari sinema2 sukses di luar negeri. Sungguh menyedihkan…..😦

  21. Edi Psw
    19 September 2008

    Wah, aku nggak punya referensi tentang cinema nih.

  22. ahsinmuslim
    19 September 2008

    tulisan yang berbobot mas,
    good luck!!!

  23. Muda Bentara
    19 September 2008

    @ Odie
    Lhaaa … gak kebayang nih kalau Si mister kuarangkerjan lagi bingung ….

    @ Mang Kumlod
    “Kalau buat saya, dengan hadirnya pelm dari novel, saya bisa menilai sebagus apakah imajinasi saya daripada si sutradara…? Kalau bagusan saya, ya al-Hamdulillaah, kalau bagus sutradara ya subhanallaah.”

    Saya sangat setuju sekali dengan petikan ini mas , saya mau ngetest juga ahh … mana tau imajinasi saya lebih kuat dari punya nya si sutradara …

    @ goncecs
    Iya ya mas …. Wong mereka yang punya duwit …. Dan duwit pasti selalu menjadi raja …

    @ det
    Setuju dengan mas det …ekonomi pasar telah menjadi penentui utama dalam segala hal …

    Eh mas ded , annti kalau saya udah punya duwit dan dapat thr, saya piker piker dulu tuh beli tuh domain …

    @ gajah_pesing
    Kalo habis lebaran gimana mas … saya yang akan menjadi produsernya , judul film nya “gajah pesing mencari cinta ”
    Gmana mas ?

    @ Yari NK
    Setuju dengan mas Yari … mudah-mudahan aja plagiatisme itu gak terjadi lagi ya …. Jangan ngikut jejak Malaysia deh ….

    @ Edi Psw
    Pasti punya dunk …. Mas ini yang main di film ayat ayat cinta kan ?

    @ahsinmuslim
    Ahhh … si mas bias aja , jadi maluh nih saya dikatakan tulisan nya tidak berbobot ….
    Terima kasih mas …. Suksek selalu yah …

  24. katie4zee
    21 September 2008

    yah,
    kalo gak difilm-in,
    novel ga laku deh di Indonesia.

    Jadi inget waktu baca golden compass,
    ga ada yg mu minjem.
    begitu jadi film, rame.
    spiderwick jadi waiting list.
    padahal itu novel yang sangat gampang,
    novel remaja.

    bangsa kita masih belum membudayakan membaca.
    yang paling takjub,
    kemaren gue baca komik,
    diliat tante gue yg anaknya seumuran gue,
    dia bilnga “rajin yah, belajarnya”

    ternyata anaknya SANGAT ga suka membaca,
    jadi nyokapnya,
    yang meskipun kaya raya ruah melimpah
    tapi ga lulus SMA,
    mengira bahwa semua kegiatan membaca adalah belajar.
    demikian juga anak muda.

    temen gue aja pernah komen,
    “hobi untuk ngisi waktu luang koq baca buku,
    apa ga stres?”

    mereka lebih suka dicekokin intepretasi yang jauh dari karya asli…

  25. ikrarestart
    21 September 2008

    wah itu sih namanya aji mumpung ya ???
    salam kenal dari orang bogor

  26. ririnwulandari
    21 September 2008

    Betul….seharusnya sastra tdk diidentikkan dunia bisnis..sastra ya…sastra..terbang bersama imajinasi…terima kasih sdah mengunjungi dan bersilaturahmi via blog saya…

  27. nyurian
    21 September 2008

    halah, pilem indonesa kapan si bisa kreatip. ngikuting lah…
    guwe rasa bukan cuman indonesia lah…

    emang jenuh ituh suka nyamperin ajah kalo udah waktunya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 September 2008 by in Journey, Opinion, Prime and tagged , , , , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: