MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Dunia Melayu , Aburizal Bakrie & Pintu-pintu rumah yang berlumpur .


Beberapa malam kemarin saya pergi ke arena Taman Ratu Safiattuddin, dalam rangka pembukaan Pekan Dunia Melayu Raya, sebuah pekan dimana tokoh-tokoh dunia melayu berkumpul untuk membicarakan perkembangan dunia melayu saat ini .

Pembukaan acaranya lumayan melorot waktunya , karena persiapan yang kurang matang sampai pukul 09.00 WIB panitia masih melakukan pembenahan disana sini, para undangan pun belum datang semuanya , acara ini direncanakan dibuka oleh Menko KESRA Aburizal Bakrie, manusia terkaya di ASEAN menurut report tahunan The Globe Asia .

Beberapa saat setelah itu, yaitu setelah finishing terakhir selesai, akhirnya pihak MC memberi tahukan kalau pihak tamu VVIP ( rombongan Menteri ) akan segera tiba di tempat , beberapa saat setelah itu akhirnya rombongan pun sampai , ada beberapa rombongan mobil yang berjalan beriringan , yang paling depan adalah mobil patroli polisi yang yang dimasing-masing body sampingnya bertuliskan higway patrol , di ikuti dibelakang nya sebuah mobil Mercedes-Benz seri E-200 kompresor warna hitam metalik , dan dibelakangnya ada sebuah Toyota Fortuner juga berwarna hitam .

Saat rombongan itu berhenti , keluar dari mobil Mercy dua orang anak manusia yang bertubuh agak pendek , kira-kira 164-an cm , dengan pakaian adat Melayu berwarna biru serta lengkap dengan tenunan songket melingkar di pinggang , dan juga dengan kopiah hitam menghiasi kepala mereka yang sudah semakin menipis rambutnya , dan mereka berdua adalah orang-orang yang paling dinanti saat itu , yang satunya adalah Muhammad Nazar, Wagub NAD, dan satunya lagi Aburizal Bakrie, si muka panjang dari Lampung.

Dan dari mobil Fortuner keluar Mustafa Abubakar , selaku Dirut BULOG dan juga mantan PJ Gubernur NAD, dan juga wakil Presiden DMDI . dibelakang Mustafa ada seorang Ustad saya yang berjalan mengikutinya , ia adalah Ustad Faisal Halimi (Abu Farik ), orang kepercayaan Mustafa yang juga adik dari Bupati ABDIYA Akmal Ibrahim , ustad Faisal ini adalah orang yang dulunya pertama kali menceritakan kepada saya pada tahun 2004 kalau pelaku sebenernya bom Bali itu bukannya Amrozi cs , tapi ada yang lain , kebetulan saat itu beliau menjadi pengisi pengajian di Mushalla SMA saya .

Para tamu istimewa ini duduk di meja paling depan dari tribun tamu , Aburizal dan Muhamad Nazar duduk di posisi paling tengah , di depan mereka terbentang karpet merah ala theater Kodak Holiwood , yang memanjang sampai ke pentas utama …..

Setelah mereka duduk , para hadirin semua nya bertepuk tangan atas kedatangan si pria 9.2 billion dollars ini ,

Bebrapa saat setelah para tamu VVIP datang, lalu saya melihat dua orang anak manusia datang berjalan beriringan , satu orang dengan tampang tua tetapi ranbutnya belum beruban, ia berjalan dengan gagahya , ia menggunakan baju batik etnic khas Solo dengan setelan celana putih yang ujungya agak kuncup, dan berjalan disamping nya seorang anak manusia yang penampilannya cukup urakan, gaya rambutnya menandakan ia sebagai seorang seniman , persisnya seperti rambut Ki Joko Bodo dan tampangnya mirip Alm actor film Ratno Timor pemeran si buta dari gua hantu , ia menggunakan pakaian adat daerah dataran tinggi Gayo, dengan setelan sarung tenun melekat di pinggangnya , cukup seram juga penampilannya , pastinya mereka berdua adalah seniman hebat , yang tua adalah WS. Rendra , si burung merak , dan satunya lagi adalah Fikar.W.Eda seniman kondang asal Aceh yang kini berdiam di Jakarta .

Dan acara pun resmi dimulai , dimulai dengan penyampaian kata sambutan dari wakil presiden DMDI datuk apa ( yang namanya saya sudah lupa ) yang mewakili presiden Dunia Melayu Dunia Islam , setelah wakil presiden DMDI memberikan kata sambutan, lalu tiba giliran Wagub NAD yang memberikan kata sambutan , setelah itu tiba giliran peresmian acara yang dibuka secara resmi oleh Aburizal Bakrie selaku Menko KESRA ( penjahat Lapindo-red ) yang mewakili pemerintah Indonesia , pembukaan DMDI ini di tandai dengan pemukulan beduk yang dilakukan oleh Aburizal .

Setelah upacara seremoni pembukaan selesai lalu disambung dengan acara pentas musik, ada tiga jenis musik yang ditampilkan, yang pertama lagu aceh, dan dua lagu lainnya merupakan lagu nostalgia Melayu yang sudah cukup dikenal pastinya , seperti Nirmala yang dipopulerkan oleh siti nurhaliza , dan satun ya lagi saya sudah tak ingat lagi judulnya .

Acara pentas musik beralangsung agak sukses , dan tepuk tangan para kaum aristocrat pun bercampur riuh dengan deringan suara rakyat jelata yang kebanyakan berdiri .

Dan akhirnya kejutan itu pun terjadi , kini giliran pentas puisi , dan yang mendapatkan giliran pertama adalah Fikar W Eda , dengan diiringi tarian saman Gayo ia membacakan sebuah puisi ,kalau tidak salah judulnya “ Sajak untuk negeriku “,

Sungguh luar biasa pastinya , kelantangan vocal fikar membuat semua orang yang hadir di taman Ratu Safiatuddin menjadi bergetar , bergetar akan pesan-pesan yang disampaikan secara menggelegar , deru senjata , penindasan , makna ketuhanan , menjadi sesuatu yang ampuh untuk menyihir orang-orang yang hadir , para penghuni taman itu malam itu .

Ada satu petikan dari kata-kata puisi yang dibacakan Fikar yang membuat saya menjadi tertawa dan tersenyum geli , potongan sajak itu berbunyi begini :

“ rakyat dengan pintu-pintu rumah yang berlumpur “

Saya rasa semua orang yang hadir di tempat itu pasti tahu akan arti dari kata ini, walaupun tak secara langsung , tetapi maknanya cukup mengena , mengena bagi orang yang merasa dirinya sebagai pencipta pintu pintu berlumpur itu , suara Fikar sangat menggelegar pada saat membacakannnya, seperti ekspresi Achilles yang sedang bersedih atas kematian saudaranyasaat perang di kota Troy , suara itu menggema bagai tak mempunyai batas ruang maupun waktu , saya tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah Aburizal Bakrie saat mendengar salah satu kalimat puisi ini, apakah cuma terdiam kaku, ataukah tersenyum , ataukah bangga, atau juga bahagia ? yang jelas ia tak perlu lagi memikirkannya karena pemerintah Indonesia telah membelanya dengan senang hati , membelanya dengan melindunginya agar tetap kaya , kaya akan pundi-pundi harta yang tak ternilai , pastinya kaya diatas pendiritaan orang-orang jelata yang pintu-pintu rumahnya berlumpur itu .

Puisi dari Fikar pun selesai dibacakan, dan ia pergi begitu saja meninggalkan panggung, betul-betul Ki Joko Bodo dia…hehe /..

Setelah pementasan puisi oleh Fikar, lalu MC memberi tahukan jika yang tampil selanjutnya adalah salah satu seniman terpenting di Indonesia , perlu diketahui jika puisinya yang berjudul “Unsyiah guru kami” kini menjadi lagu mars resmi Unsyiah , yang tiap tahun diahafal oleh ribuan mahasiswa baru , mahasiswa lugu yang ingin menimba ilmu.

Rendra pun hadir naik keatas pangung , fisik pria yag lahir di Solo, 7 November 1935 ini masih segar , sesegar karya-karya nya , saya sampai tak percaya jika umurnya telah mencapai 73 tahun, pastinya lebih tua dari nenek saya yang kini telah renta .

Pada saat itu Rendra membacakan salah satu puisi anyar nya yang berjudul “ Demi Orang-Orang Rengkasbitung ” sebelumnya puisi ini pernah dibacakan Rendra di depan anggota DPR pada Januari 1991. yang membeut beberapa anggota DPR sampai menitikkan air mata (tak tau air mata keharuan atau air mata putus asa atau air mata durjana ).

Teks puisinya begini :

Demi Orang-orang Rangkas Bitung

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
Salam sejahtera!
Nama saya Multatuli,
datang dari masa lalu,
dahulu abdi Kerajaan Belanda,
ditugaskan di Rangkas Bitung,
ibu kota Lebak saat itu.
Suatu pengalaman yang penuh ujian
Rakyat ditindas oleh bupati mereka sendiri
Petani hanya bisa berkeringat,
tidak bisa tertawa,
dan hak pribadi diperkosa,
Demi kepentingan penjajahan.
Kerajaan Belanda bersekutu dengan kejahatan ini.
Sia-sia saya mencegahnya
Kalah dan tidak berdaya.

Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka
dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat
Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.

Ya, semuanya dilakukan
sebagai suatu kewajaran.
Dan bangsa kami di negeri Belanda
pada hari Minggu berpakaian rapi,
berdoa dengan tekun,
sesudah itu bersantap bersama,
menghayati gaya peradaban tinggi,
bersama sanak keluarga.
Menghindari perkataan kotor,
dan selalu berbicara
dalam tatabahasa yang patut,
sambil membanggakan keuntungan besar
di dalam perdagangan kopi,
sebagai hasil yang efisien
dari tanam paksa di tanah jajahan.
Dengan perasaan mulia dan bangga
kami berbicara
tentang suksesnya penaklukan dan penjajahan.
Ya, begitulah.
Kami selalu mencuci tangan sebelum makan
dan kami meletakkan serbet di pangkuan kami.
Dengan kemuliaan yang sama pula
kami memerintahkan para marsose
agar membantai orang-orang Maluku dan orang-orang Java
yang mencoba mempertahankan kedaulatan mereka!
Ya, kami adalah bangsa
yang tidak pernah lupa mencuci tangan.

Kita bisa menjadi sangat lelah
apabila merenungkan gambaran kemanusiaan
dewasa ini.
Orang Belanda dulu
juga mempunyai keluh-kesah yang sama
apabila berbicara tentang keadaan mereka
di jaman penjajahan oleh Spanyol
Mereka memberi nama yang buruk
kepada Pangeran Alba yang sangat menindas.
Tetapi apakah sekarang mereka lebih baik
dari Pangeran yang jahat itu?
Tentu tidak hanya saya
yang merasa gelisah
terhadap dawat hitam
yang menodai iman kita.
Pikiran yang lurus menjadi bercela
karena tidak pernah tuntas
dalam menangani keadilan.
Sementara waktu terus berjalan
dan terus memperlihatkan keluasan keadaannya.
Kita tidak bis seimbang
dalam menciptakan keluasan ruang
di dalam pemikiran kita.
Memang kita telah bisa berfikir
lebih canggih dan kompleks,
tetapi belum bisa lebih bebas
tanpa sekat-sekat
dibandingkan dengan keluasan waktu.
Bagaimana keadilan bisa ditangani
dengan pikiran yang selalu tersekat-sekat?
Ya, saya rasa kita memang lelah.
Tetapi kita tidak boleh berhenti di sini.

Bukankah keadaan keadilan di sini
belum lebih baik dari jaman penjajahan?
Dahulu rakyat Rangkas Bitung
tidak punya hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati Lebak.
Sekarang
apakah rakyat kecil
sudah punya hak hukum
apabila mereka berhadapan kepentingan
dengan Adipati-adipati masa kini?
Dahulu
Adipati Lebak tidak bisa lolos dari hukum
Sekarang Adipati-adipati yang kejam dan serakah
apakah sudah bisa dituntut oleh hukum?
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara Anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?
Apakah bangsa tanpa hak-hak hukum
bisa disebut bangsa yang merdeka?
Para pemimpin negara-negara maju
bisa menitikkan air mata
apabila mereka berbicara tentang demokrasi
kepada para putranya.
Tetapi dari dalam kolam renang
dengan sangat santai dan penuh kewajaran
mereka mengangkat telpon
untk memberi dukungan
kepada para tiran dari negara lain
demi keuntungan-keuntungan materi bangsa mereka sendiri.

Oh, ya, Tuhan!
Saya mengatakan semua ini
sambil merasakan rasa lemas
yang menghinggapi seluruh tubuh saya.
Saya mencoba tetap bisa berdiri
meskipun rasanya
tulang-tulang sudah hilang dari tubuh saya
Saya sedang melawan perasaan sia-sia.

Saya melihat
negara-negara maju memberikan bantuan ekonomi
Dan sebagai hasilnya
banyak rakyat dari dunia ebrkembang
kehilangan tanah mereka,
supaya orang kaya bisa main golf,
atau supaya ada bendungan
yang memberikan sumber tenaga listrik
bagi industri dengan modal asing.
Dan para rakyat yang malang itu, ya Tuhan,
mendapat ganti rugi
untuk setiap meter persegi dari tanahnya
dengan uang yang sama nilainya
dengan satu pak sigaret bikinan Amerika.

Barangkali kehadiran saya sekarang
mulai tidak mengenakkan suasana?
Keadaan ini dulu sduah saya alami,
Apakah orang seperti saya harus dilanda oleh sejarah?
Tetapi ingat:
sementara sejarah selalu melahirkan
masalah ketidak-adilan,
tetapi ia juga selalu melahirkan
orang seperti saya.
Menyadari hal ini
tidak lagi saya merasa sia-sia atau tidak sia-sia.

Tuan-tuan, para penguasa dunia,
kita sama-sama memahami sejarah,
Senang atau tidak senang
ternyata tuan-tuan tidak bisa
meniadakan saya.
Nama saya Multatuli
saya bukan buku yang bisa dilarang dan dibakar.
Juga bukan kentang yang bisa dihancur-leburkan
Saya Multatuli
sebagian dari nurani tuan-tuan sendiri.
Oleh karena itu
saya tidak bisa disama-ratakan dengan tanah.

Tuan-tuan, para penguasan dunia,
apabila ada keadaan yang celaka,
apakah perlu ditambah celaka lagi?
Pada intinya inilah pertanyaan sejarah
kepada anda semua.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
yang hadir di sini,
setelah memahami sejarah,
saya betul tidak lagi merasa sepi.
Dan memang tidak relevan lagi bagi saya
untuk merasa sia-sia atau tidak sia-sia,
sebab jelaslah sudah kewajiban saya,
Ialah: hadir dan mengalir.

Tuan-tuan dan nyonya-nyonya,
terimakasih.

________________________________________________________________________

Begitulah bunyi teks puisi Rendra itu , Sebuah puisi yang sangat anggun , mengisahkan tentang ketertindasan rakyat di jaman penjajahan , jaman dimana keadilan merupakan sesuatu hal yang mahal , tetapi puisi ini tak hanya berhenti dalam cerita penjajahan saja, tetapi juga sesuai untuk waktu kekinian, waktu dimana rakyat jelata ditindas dengan belenggu peraturan kaum-kaum elite pemerintahan , aturan-aturan yang disuguhkan demi beberapa orang , mungkin puisi ini lebih mengena lagi dibanding puisi yang dibacakan oleh Fikar sebelum nya , lebih merakyat ,lebih mudah dicerna dan lebih anggun cara penyampaiaannya ,

Tentunya Aburizal menjadi panas lagi telinga nya mendengar puisi ini , karena ia menjadi salah satu orang yang digambarkan oleh Multatuli dalam sajak Rendra ini ,

“Saya telah menyaksikan
bagaimana keadilan telah dikalahkan
oleh para penguasa
dengan gaya yang anggun
dan sikap yang gagah.
Tanpa ada ungkapan kekejaman di wajah mereka
dengan bahasa yang rapi
mereka keluarkan keputusan-keputusan
yang tidak adil terhadap rakyat

Serta dengan budi bahasa yang halus
mereka saling membagi keuntungan
yang mereka dapat dari rakyat
yang kehilangan tanah dan ternaknya.

Karena ia menjadi penjahat utama bagi rakyat jelata di Porong , yang kata Fikar pintu pintu rumahya berlumpur . orang-orag yang kehilangan tanah rumahnya , anak-anak balita yang kehilangan dunia kecilnya ,atau anak-anak yatim yang kehilangan kuburan bapaknya, yang telah tersapu dan menyatu menjadi Lumpur yang tak bertuan .

Megingat hal ini , sungguh ngeri nasip negeri ini, jeritan jeritan orang-orang kecil itu yang saban hari merintih demi keadilan , hanya menjadi mainan kaum pemerintahan mencari simpati , dansampai saat ini pun tak pernah ada solusi , jeritan orang-orang Lumpur itu hanya menjadi bisikan kosong , sekosong hati para penguasa yang telah membeku , membeku akan kebenaran dan pastinya selalu lunak demi uang.

Tak tahu juga, mungkin ini realita yang harus dihadapi , ketika yang kaya menjadi semakin kaya, dan yang miskin makin menderita , bukan menderita karena tak mau berusaha, tetapi menderita karena sebuah usaha yang telah menciptakannya, hemmm … pedih rasanya melihat semua ini , tak tahu lagi keadilan itu harus dicari dimana , apakah keadilan hanya menjadi semburan Lumpur yang tak berguna? Ataukah tertumpuk di dalam rekening-rekening bank yang isinya triliunan ?

Dan pastinya Rendra sangat bener, karena keadilan itu selalu tak berpihak, ia selalu bisa dikendalikan , pastinya jika keadilan itu ada , maka Aburizal tak berada di acara itu , pastinya ia sedang asik-asiknya melayani pembayaran ganti rugi harta warisan bagi orang-orang Porong, orang-orang yang pintu rumahnya ditenggelamkan ke dalam Lumpur .

Setelah pembacaan puisi Rendra itu, saya pun bergegas berangkat pulang ke rumah , karena waktu telah menunjukkan jam 11.30 malam , pastinya Ayah saya dirumah sedang asik menonton TV, Metro TV , tv kepunyaan teman si Ical , yang saban hari menyiarkan kampanye Golkar .

Dalam perjalanan pulang, saya melihat plat nomer polisi kendaraan yang di naiki Ical dan Nazar , di plat nya tercantum nomer polisi :

BL.506.QQ

Dalam hati saya tertawa sendiri , hebat sekali ya si Muhammad Nazar , ia telah menjamu orang terkaya di ASEAN itu dengan tumpangan sebuah sedan Mercy bekas buangan Singapura , kendaraan yang telah menjadi sampah di negeri asalnya .

Dalam hati saya berfikir , apa ya yang di fikirkan Aburizal Bakrie jika seandainya ia tahu jika pemerintah Aceh menjamunya dengan tumpangan mobil mercy bekas yang telah dibuang ?

Ahh…. Tak tahu saya , biarlah si Ical yang memikirkannya sendiri , karena saya harus pulang dulu .:D;)

4 comments on “Dunia Melayu , Aburizal Bakrie & Pintu-pintu rumah yang berlumpur .

  1. Wahyu Reza Prahara
    26 Agustus 2008

    nice opinion…🙂
    artikelnya dimasukin ke tajuk koran aja…

  2. senopatiarthur
    27 Agustus 2008

    Artikel anda di

    http://nasional.infogue.com/dunia_melayu_aburizal_bakrie_pintu_pintu_rumah_yang_berlumpur_

    promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati

    fitur info cinema untuk para netter Indonesia. Salam!

  3. Mudabentara
    27 Agustus 2008

    Terima kasih bang ,😀
    tulisannya tidak bagus kok , cuma coretan biasa yang masih dangkal, kalau dijadiin tajuk koran, pastinya koran nya jadi gak laku ..hehe:D

  4. Muhamad Nur
    31 Mei 2010

    Tulisanya bagus, cuman apa perlu tokohnya diposisikan terlalu ekstrim. Segi positipnya mana ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Agustus 2008 by in Aceh, Opinion, Prime and tagged , , , , , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: