MUDA BENTARA !

#KITA MELAWAN KARENA HAK KITA DILANGGAR !

Kangen Band dan migrasi selera .


Kemarin , kira – kira jam 08.00 pagi , sambil makan pagi saya nonton tv , kebetulan ada acara musik di salah satu stasiun tv , yang menarik bagi saya dari beberapa penampilan band tamu yang hadir pada acara itu adalah penampilan dari-nya KANGEN band yang membawakan hits andalannya yang berjudul “ doy ” . komposisi lagu dan liriknya cukup easy listening dan mudah dipahami , tidak hanya itu , antusiasme penonton yang hadir pun tak kalah heboh , hampir semuanya bisa menghafal lirik lagu –doy-ini

walaupun mendapatkan brand image kampungan, perusak selera seni atau apalah … , yang jelas seperti yang saya amati , saat ini sedang terjadi budaya transisi konsumsi selera musik di masyarakat , transisi perpindahan selera , dari yang dulunya dihiasi dengan keribetan dan kedalaaman makna sebua komposisi musik , kini berubah menjadi keinginan untuk menikmati sesuatu yang sederhana , sesuatu yang mudah dan ganpang dipahami .

Tentang kangen band , mereka adalah salah satu kelompok pemenang yang mampu membaca dan mencuri peluang itu , dimana saat yang lain masih terlalu larut dengan keseriusan dan kemewahan-nya sedangkan mereka sendiri hadir dengan brand identtas kampungan mereka , dengan keserdehahnaan apa adanya , sehingga membuat penikmat music dapat dengan mudah mengerti tentang arti dan kandungan makna sebuah seni musik ..

Saya teringat , sewaktu band ini masih hangat-hangat-nya dengan kesuksesan album pertama , saya yang saat itu ternmasuk salah satu orang yang paling membenci band ini , pernah di jaringan jejaring sosial Friendster, saya bergabung dengan group afiliasi pembasmi kangen band , yang anggota nya merupakan orang-orang penikmat music yang hi-class dan membenci selera music kangen band yang ber genre-kan kampungan . entah mengapa hal itu bisa terjadi , yang jelas , karena saat itu selera musik saya masih diliputi dengan hal-hal yang ruwet dan susah di mengerti , karena saya juga seorang yang sok hy-class.

Saya salut dengan kejelian dan kemampuan mereka membaca peluang ,

menurut saya , kini mereka telah menjadi trandsetter di jalur musik alternativ ( musik apa adanya ) yang kini lagi di gandrungi banyak anak muda , mereka telah membuka peluang kepada band-band lain untuk berani eksis di jalur ini , sehingga mengakibatkan band-band lain yang masih mengandalkan keruwetan makna , menjadi terseingkir secara sendirinya . dan mereka telah melahirkan sebuah fenomena kejujuran di jalur musik alternative , paling tidak berani jujur dengan eksistensi gayamu sendiri , tak penting orang berfikir kampungan .

Dan menurut saya , pelajaran penting yang bisa diambil dari fenomena kangen band ini adalah , tentang pentingnya menghargai diri sendiri , semua orang harus bangga terhadap dirinya , be your self , jangan jadi yang lainnya , jangan menjadi mereka , tetap teguh dengan kemampuanmu dengan apa adanya dirimu , karena masyarakat bukanlah mnusia yang mencari kepalsuan , tetapi pencari keserdehanaan ynag lahir dari identitas manusia , identitas apa ada nya , tak peduli kampungan atau ingusan .

Notifikasi :

  • Sampai saat ini saya masih tergabung dalam group jejaring Friendster ” Pembasmi Kangen Band ” , belum tau kapan akan keluar .
  • Sampai saat ini saya masih suka musik yang agak Hi-class .
  • Sampai sekarang saya belum menjadi fans nya Kangen band atau band-band apapun.
  • Tulisan ini bukan untuk promosi Kangen band .
  • Kini bagi saya Kangen band tidak lagi menjadi band kampungan , melainkan band RURAL , walaupun artinya sama , tetapi gengsinya berbeda .

10 comments on “Kangen Band dan migrasi selera .

  1. isfiya
    1 Agustus 2008

    Dangdut yang dulu dibilang kampungan juga sekarang banyak diminati kok. Masalah musik memang bukan masalah kampungan atau kota, tapi masalah selera ritmik dan pesannya. Jika kau bisa digerakkan dengan alunan melodynya napa nggak. Nggak perlu ngejudge selera orang, lebih asyik nikmatin apa yang kita suka.

  2. Aulia
    1 Agustus 2008

    gak ngangenin

  3. Ferza
    1 Agustus 2008

    tapi gimanapun kangen band tetap merusak pasar…

    setuju bang , selera masyarakat lg rusak sekarang ..heheh

    • noven
      18 Juli 2009

      Kangen Band ngerusak pasar? Inilah komentar paling dangkal yang pernah ada. Tidak ada yang bisa merusak pasar. Pasar adalah sebuah kejujuran yang tidak bisa disembunyikan. Kalau pasar menyukai Kangen Band itu karena ada pangsanya yang seperti itu. Cuma selama ini pangsa itu tidur karena tidak ada yang membangunkannya. Dan ketika Kangen Band muncul, pangsa yang selama ini tidur terhentak, terbangun, dan menemukan vitalitasnya kembali. Jadi kalau pangsa pasar itu begitu kuat, memang dasarnya dia sudah kuat sedari dulu.

  4. syahuri
    3 Agustus 2008

    test….
    bang…ni ada penyedia website gratis…
    dapet wordpress gratis…
    kita cuma tinggal pake aja…
    lumayan buat iseng ato serius…
    silakan mendaftar melalui link berikut:
    http://tinyurl.com/websitegratis

    trus isi aja formulirnya bang…
    ntar kita dikirimin email notifikasi…🙂

  5. Agoes
    13 Agustus 2008

    Hey jangan melihat orang hanya dari penampilannya aja. memang kalian yang bisanya hanya menghina Kangen Band lebih mulia dari mereka. Sesungguhnya kalian lebih hina. Bagaimana kalau kalian di posisi mereka.
    Apapun yang terjadi lagu Kange Band tetap nomer 1 dan satu-satunya.
    Mereka punya Skill yang tinggi, dalam mencipta lagu dalam berkreasi. Dan aku sangat yakin gak semua grup Band di Indonesia yang bisa menyamai kemampuan dan Skill Kangen Band dalam mencipta Lagu dan bermusik….
    Meskipun Band-band besar sekaligus.

  6. Kreshna Iceheart
    14 Agustus 2008

    Test Bold Italic [b]Bold[/b]. Apakah comment ini dapat menampilkan HTML atau PHPBB code?

  7. Kreshna Iceheart
    14 Agustus 2008

    Kangen Band here. Kangen Band there. Kangen Band, Kangen Band, Kangen Band. Well, sepertinya sudah cukup banyak heboh di internet mengenai Kangen Band, dari mulai yang mencaci-maki sampai dengan yang membela dengan penuh semangat.

    Secara subyektif, menurut saya musik genjreng-genjreng semacam itu JELEK. Ya, dan ini termasuk band-band seperti Peter Pan, Ungu, The Rock, dan sejenisnya (Heh). Sayangnya band-band yang (menurut saya) bagus seperti Warna, The Groove, dan T-Five semakin menghilang, sehingga saya semakin jarang mendengarkan musik-musik lokal. Sekarang ini paling hanya Andezz atau Maliq n D’essentials

    Tapi secara obyektif, Kangen Band itu adalah fenomena marketing yang luar biasa, dan cukup menarik untuk diamati.

    Salah satu fenomena yang terjadi di Indonesia adalah “peningkatan kemakmuran” untuk lapisan masyarakat tertentu. Memang secara umum kondisi ekonomi Indonesia bertambah buruk (this country is going down to hell, really), tetapi beberapa produk tertentu malah semakin murah dan semakin mudah diperoleh. Sepeda motor semakin murah, barang-barang elektronik semakin murah, dan hampir tidak ada orang yang tidak memiliki cellular phone. Kemakmuran semu? You bet.

    Nonetheless, lapisan masyarakat yang dulunya hanya bisa puas dengan radio AM sekarang bisa dengan mudah membeli DVD player, boombox, dan portable media player. Dan jangan bother membahas tentang walkman karena saya pernah melihat walkman yang harganya lebih murah dari segelas (yep, segelas!) Johnnie Walker Red Label. RRC memang negara yang ajaib, bisa memproduksi barang-barang semurah itu.

    Tapi perangkat pemutar media saja tidak cukup tanpa content media yang dimainkan. Percuma memiliki MP3 player atau walkman kalau tidak ada lagu-lagu untuk diputar. Maka terjadi suatu gap. Suatu peluang pasar.

    Dan Kangen Band berhasil mengisi gap ini dengan sukses. Tentunya ini terlepas dari bagus atau tidaknya musik yang dimainkan.

    Dan ini adalah pasar yang sangat BESAR. Kalau mau jujur, baru berapa persen sih masyarakat Indonesia yang sudah bisa menikmati indahnya gamelan Bali? Berapa banyak yang sudah bisa mengapresiasi kreativitas Claude Challe (Buddha Bar) dalam memadukan elemen-elemen musik elektronik dengan musik Oriental? Berapa banyak yang sudah pernah mendengaran Smoma atau Cafe del Mar? Sekarang bandingkan dengan “musik genjreng-genjreng” yang gampang dicerna itu: dari mulai pengamen sampai warnet sampai supermarket, semuanya memutar musik-musik semacam itu. Mungkin penggemarnya ada puluhan juta. Suatu pasar yang sangat Besar dengan B kapital.

    Seperti sinetron-sinetron Raam Punjabi, Kangen Band adalah “marketing product”, suatu komoditi untuk memuaskan pasar yang sangat besar itu.

    Image kampungan yang ditampilkan oleh Kangen Band bisa jadi merupakan selling point mereka. Saya pernah melihat iklan dari suatu acara reality show berjudul “Fans Kangen Band”, disertai dengan cuplikan-cuplikan dari reality show tersebut. Pada cuplikan itu ditampilkan profil para penggemar Kangen Band, yang ditampilkan secara blak-blakan bahwa mereka berasal dari lapisan masyarakat yang sama dengan para personil Kangen Band.

    Tanpa pretensi dan tanpa malu-malu, Kangen Band mengakui bahwa mereka memang kampungan, dan mereka berhasil menerapkan strategi marketing yang sangat efektif dengan cara merangkul para penggemar mereka yang juga, for lack of better term, kampungan (kalau ada terminologi yang lebih sopan tolong sebutkan). Dengan demikian, penggemar akan “merasa dekat” dengan mereka.

    Pendekatan marketing semacam ini belum pernah dilakukan band-band lokal lainnya seperti The Rock, Ungu, Samsons, atau Peter Pan. Dan dalam hal ini Kangen Band sudah unggul satu langkah. Para pengamen yang sering memainkan lagu-lagu Samsons akan susah untuk “merasa dekat” dengan band idola mereka. Pembantu rumah tangga di rumah orangtua saya sangat suka Ungu, tetapi dengan pendekatan marketing semacam ini, dia mungkin akan segera beralih ke Kangen Band.

    Saya memang benci kepada musik Kangen Band, tapi saya harus mengakui kejeniusan tim marketing mereka.

    Tapi bagaimanapun juga, eksploitasi pasar semacam ini tidak akan bertahan lama, apalagi strategi marketing di Indonesia cenderung mengikuti “budaya latah”. Saya tidak akan heran kalau nantinya akan banyak tiruan-tiruan Kangen Band (atau mungkin sudah? Like I said, I don’t listen to local bands anymore). Pasar adalah medan perang, dan dalam hal ini tim marketing Kangen Band harus bisa mempertahankan teritori mereka.

    Pada akhirnya, terlepas dari kesuksesan marketing Kangen Band, secara subyektif saya tetap menganggap bahwa band itu JELEK. Now excuse me, I’m going to listen to a Cafe del Mar album to clear out my mind.

  8. hamba Allah ..
    6 Oktober 2008

    ha..ha..ha……..
    cpe dwh sm yg nm’a KANGEN BAND!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!……………………..
    apaan tuh kangen band,,n0rak mampuzzzzz……………….
    mw gaya tp g bsa….
    numpang nanya,,,klo k0nser ato lg jln bs ngliat g ciii..
    cz mta’a g kliatan gtu,,di culek kucing ya….?????????????????????????????????????/……………………………….
    hahaha….
    g ush mcm2 deh,,jd 0rg byk gaya,,mending pantes inimah kaga……………………!!!!!!
    hohoho…
    DLM..!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  9. OOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO.................
    8 Oktober 2008

    najizzzzzzzzzzzzzzzz LLLLLLLLLLLLLwwwwwwwwwwwwwwwww!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    woywoywoywoywoy kl pny rmbut urus dund…………………………..

    hahahahahahahahahahahhahahahahahahhah!!!!!%%%%%

    gw Tw psti yg moTonG rmbUt Lw amatIRan kHAn,,,,,,,,,,,,,,,
    Laen x,,,,,,,,, kLo maO Konser rm but tuh di JEPIT okai……..okai…………………….
    biaR bisa lYat kLO GW///////////////////////////////////

    MUV Y………………………!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    HUHUHUHUHUH???????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 Agustus 2008 by in Journey, Opinion, Prime and tagged , .
Fisip Aceh
visitor stats

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Bergabunglah dengan 3.676 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: