Pagi ini saya termasuk cepat pergi ke kampus , kira-kira jam 08.30 pagi , hari ini style pakaian saya juga agak berbeda dengan biasanya , karena dominan warna hitam , dari celana , jaket ( punya adik saya pastinya ) sampai tas , semuanya berwarnakan hitam , paling yang beda cuma sepatu sama baju , sepatu convers yang saya pakai sebenarnya sih warna aslinya merah maroon , tapi karena sudah butut dan saban hari terkena radiasi sinar ultraviolet maka warna nya pun berubah menjadi pink ….hehehhe ….pinky boy , kalau bajunya saya memakai oblong merek rider warna abu-abu .
Setiba di kampus, jam menunjukkan pukul 08.40 , setelah motor pusaka tsunami saya parkirkan di dpr ( di bawah pohon rindang ) saya langsung menuju ke lab . dan setibanya di lab ternyata lab-nya belum dibuka , karena yang me-megang kunci nya kawan saya juga , tapi saya maklum saja, karena tradisinya mereka bangunnya selalu kesiangan .
Balik dari lab saya menuju ke kantin , rencana nya sih ingin mencicipi robusta hangat di pagi hari , tapi dalam perjalanan menuju kantin ada salah seorang teman saya yang menegur , ia bertanya kepada saya dimana letak lab integrated , dan saya katakan jika lab itu letaknya di depan gedung fakultas Teknik , tempat gedung baru itu kata saya padanya .dan rupanya ia tetap tidak tahu juga , akhirnya ia mengajak saya untuk menemani nya ke tempat itu dan saya pun mengiyakan , dan saya langsung menaiki Honda supra X milik nya itu menuju lab integrated . dalam perjalanan ia mengatakan kepada saya kalau ia ingin vakum kuliah , dan ingin mengambil cuti akademik dan sekarang dalam pengurusan , dalam hati saya berfikir , kalau ngurus cuti akademik kenapa perginya ke lab integrated ? kenapa bukan ke fakultas saja ? ah , tidak ngerti saya .
Sesampainya di lab integrated , yaitu dipintu belakang , kami pun memarkirkan kendaraan , lalu saya pun berjalan duluan , saya sudah familiar dengan gedung ini , karena saya sering nge-rental internet disini, dan saat mau masuk ke gedung lab integrataed , saya melihat yang keluar dari pintu itu salah seorang dosen saya , tepatnya ketua prodi kami , yaitu Pak Nazar , dan sayapun langsung manyapa beliau ” pak ” kata saya , sambil mempraktekkan tradisi orang Jepang yang suka saya tiru , yaitu membungkukkan badan kepada orang yang saya hormati saat bertrmu mereka .dan beliaupun membalasnya dengan senyuman , karena setahu saya bapak ini orang nya cukup ramah.
Saat setelah saya menyapa bapak itu , teman saya juga menegur beliau , pertama-tama saya pikir jika teman saya ini cuma menegur saja, akan tetapi lama kelamaan obrolan mereka menjadi panjang , dan saya pikir pastipertemuan dengan bapak ini yang menjadi tujuan teman aya itu untuk datang ke sini .
Dan saya pun agak mendekat dengan mereka. Pertamanya saya tidak ikut berbicara , saya cuma senyum-senyum saja , biasa , demi menghormati orang yang lebih tua .
Dan dalam percakapan itu , akhirnya kebohongan teman saya itu terungkap juga , rupanya pertemuan itu dilakukan untuk menindak lanjuti surat pindah nya yang sebelunya telah di reject oleh pak Nazar , karena teman saya ini berencana ingin pindah ke salah satu universitas swasta.
Dan akhirnya penolakan pak Nazar saya rasa cukup beralasan , karena dalam permintaan yang dibubuhkan di surat pindah nya itu teman saya ini tidak mengungkapkan secara logis dan gamblang alasan utama kepindahannya , ia hanya mencantumkan , kalau biaya kuliah di tempat kuliah nya yang baru itu lebih murah dibandingkan tempat sekarang ( MIPA ), dan itulah alasannya .
Dan pak Nazar tidak bisa menerima alasan seperti itu , karena alasannya tidak logis bagi formalitas perpindahan mahasiswa , karena menurut beliau alasan itu tak bisa digunakan untuk melengkapi syarat akan kepindahan mahasiswa , berhubung juga sebagaimana yang beliau ketahui , jika spp di sana ( tempat kawan saya ingin pindah itu ) biayanya lebih mahal dan buaknnya lebih murah .
Dan teman saya itu pun tetap bersikukuh dengan pendapatnya , bahwa itu adalah alasan yang benar menurut ia , dan yang saya tidak suka dari teman saya ini , yaitu dalam menyampaikan pendapatnya ini, teman saya ini berlaku agak keterlaluan , penggunaan bahasa dan ekspresi perilakunya sungguh tidak mencerminkan sikap santun sebagai seorang mahasiswa , dengan gaya menunjuk-nunjuk , nada bicara yang tinggi dan seperti membentak ia berusaha menbela diri , membela diri dengan alasan yang tak masuk akal.
Dan melihat hal ini , pastinya pak Nazar menjadi agak marah juga , beliau pun ikut menaikkan power nada bicaranya , walaupun nada kemarahan tampak dimukanya , akan tetapi beliau tetap beretika dalam menyampaikan pendapatnya , dengan tenang dan santai pastinya .
Dalam perbincangan ini saya melihat ekspresi muka dosen saya ini tidak hanya tertuju pada teman saya itu , tetapi juga pada saya , tentunya dalam hal pembenaran pendapat beliau, dan pastinya saya cenderung menjadi penengah dalam hal ini , walaupun saya lebih condong kepada pendapat pak Nazar , karena pendapat-pendapat beliau memang lebih logis dan masuk akal dibandingkan dengan gaya teman saya yang tak karuan itu .
Dan akhirnya debate itu berakhir juga , karena ada kemauan dari dua pihak, teman saya akan membperbaiki memo alasan kepindahannya , dan pak Nazar akan mennyetujui nya dengan syarat alasannya diperkuat lagi .
Setelah semuanya selesai dan deadline suratnya telah mereka sepakati , akhirnya teman saya mohon ijin untuk pamit danbegitu juga dengan saya , dengan membungkukkan badan , dan pak Nazar pun buru-buru karena katanya ia ada rapat di biro rektorat , karena beliau juga bekerja di sana .
Saat pamitan dan ketika teman saya telah menuju motornya , pak Nazar menyapa saya ” gimana ” kata beliau kepada saya , saya tak mengerti dengan kata “gimana ” itu , dan langsung saya jawab dengan kata ” baik “-pak , sebenarnya saya tahu jika sapaan ini hanya basa basi saja , karena tadi beliau terlanjur dibuat malu dengan perilaku teman saya tadi .
Dan bukan hanya karena hal itu saja beliau menjadi menyapa saya, tetapi juga karena saya pernah “bermasalah” degan beliau karena saya pernah mengkritik beliau di depan ibuk Koordinator prodi , yaitu saat rapat kuliahan , biasalah , tentang masalah dosen yang hampir tak pernah masuk , dan sejak saat itu , jika saya bertemu beliau , sapa menyapa itu selalu ada .
Setelah bertanya “gimana” lalu beliau memberitahukan kepada saya kalau Insyaallah tahun depan akan dibuka program S-1 Ilmu Komputer di MIPA Unsyiah , dan kata beliau untuk mahasiswa angkatan saya yang IPK nya bagus, maka akan ditarik langsung ke program S-1, karena prosedur kerjanya sudah ada , dan dalam hati saya merasa sedih dan malu, karena pastinya orng-orang seperti saya tak akan bisa ditarik untuk lanjut ke S-1, karena IPK saya yang selalu jeblok , maklum saya terlalu bodoh jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang pandai-pandai dan cerdik-cerdik itu , tetapi tidak hanya itu saja alasannya , alasan saya mulai mengambil dua study di tahun ini juga menjadi kendala , betapa letih dan sibuknya nanti jika saya mengambil study S-1 dua sekaligus, bukankah sangat menyita tenaga ? Pastinya akan ada ketipangan di salah satu .
Setelah beliau mengabarkan tentang pembukaan S-1, beliau menambahkan jika ada yang tidak langsung direkrut untuk melanjutkan ke S-1, nantinya mereka bisa mengambil program ekstensi untuk S-1 nya.
Setelah itu beliau bertanya , apakah ada mahasiswa angkatan saya yang sudah bekerja tetap ? , dan saya menjawabnya tidak ada , kalau kerjaan freelance ada pak , tapi tidak menggangu kuliahan , lalu beliau melanjutkan lagi , kalian sebentar lagi lulus kan ? iya pak jawab saya , karena sekarang mau kp .
Lalau pak nazar menyambung , kok dia pindah ya ? dengan ekspresi muka tersenyum bercampur marah beliau menanyakan hal itu ke saya , dan setelah itu beliaupun berangka t menuju rektorat menaiki Honda Supra fit warna hitam , tampaknya Toyota Rush silver-nya sedang dirumahkan hari ini …heheh .
Saya sangat terkesan dengan bapak ini , kesan saya itu dimulai ketika saya masih semester II , saat itu kebetulan istri beliau menjadi dosen tidak tetap di jurusan kami , istri beliau mengajar matakuliah Akuntansi , kebetulan juga dalam matakuliah yang diajari oleh istri beliau itu saya mendapatkan nilai A , pastinya bukan karena saya pintar akan Akuntansi , melainkan kerena kenyataannya akuntansi-lah yang mengantarkan saya sehingga menjadi pesakitan di kelas IPA sewaktu SMA, karena adanya Akuntansi lah yang menjadikan saya tidak jadi memilih jurusan yang saya gemari yaitu IPS .
Dan nilai A itu sebenarnya saya peroleh dari kebiasaan “buruk” saya yaitu suka bertanya , kebiasaan yang ditularkan oleh ayah saya , dari kecil sampai sekarang , yang apabila saya tak bisa menjawab pertanyaannya maka saya pasti akan dimarahi .
Saat itu tepatnya saat permulaan kuliah, dalam kuliahan mingnggu yang kedua pastinya, dalam salah satu session diskusi , saya menolak dan tidak menyetujui argumen yang di kemukakan oleh ibuk itu , yaitu tentang nilai harga saham, yang menurut beliau semuanya berharga diatas ribuan rupiah per-lembarnya, dan menurut saya kalau hal itu belum tentu benar , karena ada juga harga saham yang perlembarnya dijual seharga ratusan rupiah , dan akhirnya beliau menunda jawabannya dan akan menanggapi argumen saya ini di minggu depan .
Dan dalam pertemuan minggu depannya itu , beliau mengakui akan kesalahannya dan mengakuai jika pendapat saya yang benar , dan sejak saat itulah saya menjadi agak kurang terebani dengan matakuliah ini , karena setiap kali ada session diskusi saya selalu bertanya , dan kebetulan nilai ulangan saya pun selalu baik diberikan oleh istri pak Nazar ini ,
Alasan saya mengapa tidak suka dengan Akuntansi sebenarnya sederhana saja, karena saya merasa orang-orang akuntan itu adalah manusia-manusia yang kehidupannya dipenuhi dengan aturan-aturan pencatatan yang baku dan kaku , dan tak mengenal kompromi dan belas kasih , dan pastinya pelit … hahaha …. , ini cuma pendapat subjektif saya , pendapat yang “salah” yang saya anut sejak saya kelas tiga SMP .
Kembali lagi kepada kesan pertama saya kepada pak Nazar, yaitu terjadi saat akhir semester II tepatnya , disaat saya sibuk mencari nomor kontak istri beliau , karena teman saya sedang membutuhkannya untuk perbaikan nilai tunda-nya .
Saat saya mencari nomrr hp istri beliau di sekretariat jurusan, kakak sekretaris jurusan mengatakan kalau ia tidak tahu nomer kontak ibuk itu , berhubung beliau bukan dosen tetap di sini , dan kakak itu memberikan kepada saya nomer kontak suaminya, yaitu pak Nazar, dan ia menyarankan kepada saya untuk mencoba bertanya saja pada suaminya .
Setelah itu sayapun menelepon nomer hp bapak itu, dan menanyakan nomer hp istrinya, saat saya telepon itu kebetulan beliau sedang rapat, dan ketika saya bertanya ” boleh tahu nomer hp ibuk pak ? ada perlu pak ” karena ada keperluan kampus lanjut saya lgi , beliaupun menjawabya dengan sopan , begini kira-kira jawaban beliau , ” sebentar lagi ya , saya sekarang sedang rapat, nanti saya kirim nomernya “
Beberapa saat setelah itu , nomer hp yang saya cari akhirnya dikirimkan , lucu juga pikir saya , ada seorang dosen yang melayani permintaan nomer hp dari mahasiswanya….
Sejak itu lah kesan saya tentang dosen ini menjadi baik, yaitu seseorang yang santai , dan sopan pastinya, walaupun terkadang terlalu sibuk, sampai-sampai tak datang untuk mengajar kami , pastinya karena kesinbukannya itu .
Kembali lagi ke integrated , saat dalam perjalanan pulang dari lab integrated menuju MIPA , saya pun bertanya kepada teman saya itu ,
“Kamu mau pindah ya ? “
“Pindah kemana ?”
“Apa juga tadi kamu bilang kalau kamu mau ambil cuti ?”
Dan teman saya itupun menjawab ,
“Gak, saya tidak enak saja kuliah di sini ,”
Dan ia memberikan alasan jika masalah keuangan menjadi masalah utama , dan ia ingin kerja part-time dan kalau ia kuliah disana , ia akan langsung kuliah di S-1 dan dalam dua tahun lagi kuliahnya pasti akan selesai .
Dan saya bertanya lagi , kamu mau pindah kemana ?, dan ia kembali berabasa-basi lagi tak mau menjawab.
Saya sebenarnya paham akan alasannya itu , masalah keuangan selalu menjadi alasan utama dalam menuntut ilmu di negeri ini , apalagi saat sekarang ini, dimana pendidikan telah menjadi objek kapitalisasi , akan tetapi ketidak terbukaannya dan ketidak sopanannya membuat saya manjadi lebih tak paham lagi , apakah ini yang disebut sebagai tradisi perilaku etika seorang mahasiswa ?
Dan terakhir, sesampainya di MIPA, ia meminta saya untuk berjanji agar tidak menceritakan kepindahannya ini kepada teman-teman yang lain , dan jika ditanya, bilang saja jika dia sedang ambil cuti akademik, dan saya bilang iya saja.
Karena saya mulai suntuk dengan ketidak terbukaannya .
DIarsipkan di bawah: curhat, kuliah, menulis, primelista, unsyiah | Ditandai: dosen, kuliahan, teman














salam kenal..
salam kenal ya ..
smoga kita nggak jadi seperti itu… amiienn
oia, aku suka ma gambar itu, smua anggota badannya lebih, mulai dari bibir, hidung, dll. tapi 1 yang sangat kurang, otaknya
tukeran link ya mas ..
@ ai
slam kenal juga .
@ Agung agriiza
amien juga mas , keluarga simpson memang otaknya ditakdirin segede gitu ..hehhee:D
Ok, kita tukean link ya .
panjang bner critanya!
hehehehe….
salam knal dari semarang..
@ beebob
Gak juga sih mbak… cuma coretan biasa saja …
terima kasih mbak atas kunjungannya
salam kenal juga dari Aceh.