Kini sering saya melihat adanya acara-acara televise baru yang berbaukan religi , bisa di tebak jika ini semua hadir dari fenomena booming nya film Ayat Ayat Cendol , sebuah karya manis dari nya Habiburahman , film yang mengisahkan alur percintaan ala Islam .
Dan fenomena wannabe ini tampaknya tak bisa dihindari begitu saja , dari film sampai sinetron , hampir semuanya mencoba meniru alur cerita nya AAC yang bergenre religi , dari satu segi tentu upaya ini merupakan sesuatu hal yang positif , berarti ke-mistik-an dan ke-porno-an dalam dunia seni peran yang sedang nge-trenz belakangan ini telah bertransformasi menjadi lebih beretika , lebih religius tepatnya , walaupun ini semua hanya dalam tuntutan script .
jika fenomena ini dilihat dari segi objektifitas ekonomi , hal ini tentunya merupakan sebuah peluang pasar yang menjanjikan dan menggiurkan , tentunya kejelian dari deputi – deputi Marketing PH ( Production House ) sangat dituntut untuk lebih responsive dalam menanggapi fenomena ini . dunia seni dimana kapitalisasi menjadi sesembahan yang utama .
dan tentunya hal ini tidak hanya dilihat dari segi positifnya saja , fenomena ini juga telah melahirkan sebuah tradisi baru , tradisi untuk bisa mengemas semua hal ( termasuk Agama ) untuk menjadi objek capital yang menguntungkan .
Hal ini terjadi dimana dunia seni peran saat ini telah menjadi kiblat yang menentukan arah pola pikir hampir semua generasi muda , generasi wannabe yang hidupnya dihiasi dengan tontonan panggung seni yang penuh dengan tipu daya .
Dan religi atau bukan , tentunya suatu hari fenomena ini akan menjadi suatu boomerang yang berbahaya , yaitu ketika sebuah religiusitas itu dimaknai dengan persepsi seni ,dan pastinya yang terjadi adalah pengaburan makna .
Ketika Religiusitas yang bermaknakan KETAATAN telah bercampur dengan exsplorasi seni yang bebas dan tanpa batas , tentunya akan melahirkan ketimpangan tersendiri , pastinya ketimpangan dalam bentuk pendangkalan makna sebenarnya .:-?
Dan pastinya yang akan terzalimi dan tertindas dalam hal ini yaitu makna religiusitas itu sendiri , karena fungsi awalnya hanya sebagai pewarna , pewarna akan peran seni .
Makna religiusitas akan mengalami pergeseran besar besaran ketika di campurkan dengan perasan seni yang berdasarkan tuntutan pasar .
Yang paling penting adalah , proses penggaburan makna ini telah melahirkan realitas baru yang berbahaya , berbahaya karena eksistensi penndangkalan nya , jika ditanya Apakah keislaman itu mambolehkan wanita-wanita nya menampakkan aurat , rambut, ataukah ataukah molek nya tubuh , ataupun berpeluk ria dengan pasangan bukan muhrim nya ? dan jawaban pastinya tentu tidak , tetapi apa jadinya jika hal ini jterjadi dalam sinema yang katanya bernafaskan islam , sinema yang dikemas dengan pandangan kebebasan ? apakah gambaran wanita –wanita binal dan pacaran, ataupun kecupan kening di sinema itu tidak melecehkan keislaman itu sendiri ? bukankah itu sebuah pelecehan , karena menjual makna agama sebagai sebuah realitas meraih kekayaan ?:-?
Terlepas dari kontroversi yang masih terjadi antara yang pro dan kontra , tentunya hal ini menjadi sebuah elegi yang harus di amati bersama-sama , agar ke murnian makna agama tidak menjadi permainan mencari uang, dengan menghilangkan nilai ketaatan. Dan pastinya semua ini telah menjadi sebuah kesalahan besar , karena sinema telah menjadi arah tuntunan dalam pergaulan , bisa dibayangkan jika semua anak-anak muda Indonesia yang hari-harinya dihiasi dengan suguhan kebohongan sinema ini , pemikiran mereka pastinya menjadi terkontaminasi ole h ide-ide religiusitas palsu sinema , bukankah pengkaburan makna agama menjadi lebih nyata ? dan tentunya hal ini akan memperngaruhi polapikir anak-anak muda akan eksistensi agama yang seharusnya, nilai agama yang lahir dari pemikiran mendasar akan pembenaran akidah , sebuah nilai yang hadir dari kebenaran hakiki , dan bukan basa-basi seni yang malah menghianati .
Tentu fungsi agama disini ( Sinema) hanya sebagai pemanis belaka , pemanis saat pelacur-pelacur seni itu menjadi sok alim ketika berparodi , dan menjadi lalim kembali di ketika di dunia nyata . dunia dimana mereka bisa bebas ber-dugem ria dengan iringan irama disco yang lazy dan gelas-gelas minuman exstrak yang basi .;):-?
DIarsipkan di bawah: menulis, opinion | Ditandai: agama, sinema, tv















Apalagi musim bulan puasa gini bang! Lagu2 dan sinetron religi bisa bikin
kitamereka kaya n pop!hmm,
tadi pas blogwalking, tiba-tiba rem tangan ditarik kenceng…srettt…..
abis ngeliat fahri didempet 2 orang yang, hmmm…
jadi menghayal nich…
(hehe, kok ngga ngebahas isi tulisan sih??)