Semalam kira-kira jam 08.30 saya pergi ke rumah salah satu sepupu saya , rasanya sudah lama juga saya tidak ke rumah si abang , tidak berbulan-bulan pastinya, tapi Cuma beberapa minggu saja , sampai di rumah itu seperti kebiasaan perilaku saya , saya selalu duduk di muka pintu , entah kenapa kebiasaan itu tampaknya tak bisa dihilangkan . ataukah mungkin trauma akan gempa itu masih belum juga hilang .
Seperti biasa , aktivitas malam hari di rumah abang saya ini selalu dihiasi dengan tontonan tv , pastinya acara dangdutan menjadi menu utama dalam dunia malam mereka , dunia palsu yang pastinya selebar kotak itu .
Beberapa saat menonton , lama kelamaan saya jadi bosen sendiri , acara dangdutan yang tak bermutu itu membuat kepala saya jadi penat , saban malam acara itu tampil menipu manusia-manusia Indonesia yang haus akan hiburan dan gila akan ketenaran .
Sebetulnya saya sangat tidak suka dengan hal yang berbau dangdutan, tapi karena gak enak sama si abang , ya akhirnya dipaksa aja tuk ngelihat tuh acara ….
Karena bagi saya , kini dangdutan itu hanya menjadi ritual binal yang tak karuan, seni yang disuguhkan dengan belahan dada , desahan nafas menggoda , selangkangan paha yang menampakkan anus ataupun tubuh ranum yang pastinya tak berjamur .
Saya aneh melihat perubahan perilaku para pelaku musik jenis ini , perilaku musik yang selalu ber-trasformasi , bukankah biasanya setiap trasformasi itu selalu menjurus ke arah yang lebih baik ? ke arah kedalamam makna etika , tetapi hal ini mungkin tak berlaku dalam dunia dangdut-ers ini , kini fenomena kualitas dangdut telah berbeda jauh , dangdut yang dulunya sangat mengandalkan kualitas suara , kini berubah menjadi pemujaan besar-besaran terhadap kebinalan , aneh dan pastinya cukup nyeleneh .
Dangdut yang identik dengan musik rakyat itu kini menjadi sebuah dilemma yang menyakitkan , dilemma eksplorasi kebinalan ..
Tak salah jika orang-orang yang “sadar” mengatakan ini sebagai sesuatu hal yang murahan, karena inilah kenyatannya , apakah sebuah seni bisa menjadi berarti jika hanya mengandalkan ke vulgaran ? bukankah kevulgaran sangat bertentangan dengan nilai dasar seni itu sendiri , seni yang bermaknakan etika keindahan , dan apakah kevulgaran para perempuan banal itu menjadi benar dan dibolehkan ? apakah ini sebuah keindahan ?
Terasa aneh juga, jika seni yag merupakan konsepsi etika dijabarkan dalam pemahaman yang bebas akan sebuah karya , dan pastinya yang salah adalah para pelaku itu sendiri yang menjadi perusak utama nilai seni , tetapi mungkin juga hal ini tidak hanya berhenti pada subjek pelaku saja, tetapi juga dalam hal perilaku masyarakat , perubahan perilku masyarakat telah membuat seni binal jenis ini berkembang tak terkendali , dan dikonsumsi saban hari .
Jika ini benar, bukankah ini semua mencerminkan sedang terjadinya kesalahan perilaku dalam komunitas masyarakat , mencerminkan masyarakat yang tak lagi memiliki filter dalam hal etika, etika yang seharusnya dijunjung tinggi .
Mungkin ini Cuma salah satu permasalahan yang sedang dialami oleh masyarakat kita , masayarakat yang sudah gamang, tak memiliki standar penilaian ,tentunya masalah-masalah lain masih berjibun dan masih tersusun dalam perkara-perkasa masalah negeri ini , negri yang makin binal , yang tak lagi menjunjung tinggi kesadaran akal .
Ah , lagi-lagi dangdut …… jani tambah pening saya .
DIarsipkan di bawah: curhat, opinion | Ditandai: dangdut, perilaku, seni















sekali lagi ! Lindungi aku Metal , dari godaan Dangdut yang terkutuk .
Hahaha… baca quotenya *ngakak guling2*
setuju……….musik syaithan…………….
hidup satu kali jaga diri masing 2 agar tidak menyesal di kemudian hari berbuat positif jalan mengatasi kesulitan hidup.