Tanggapan tentang Comment Bang Alex
Ulasan bagus
![]()
Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu peduli dengan segala pembelahan ideologi demikian, apakah dengan dasar religi atau bukan.
Karena sering sekali semua itu cuma jargon dan simbolisasi belaka, yang gampang didompleng oleh siapa saja. Maka, jangan heran kalo ada para sekular mendompleng atau bahkan memang mencampur sosialisme itu sendiri utk pembenaran ke-”tidak-suka”-an mereka pada agama.
Ya, saya cenderung pada apa yang disebut sosialisme Islam itu. Tapi maaf, bukan modelnya Fuad Mardhatillah atau Kemal Pasya itu. Saya tidak memiliki persetujuan konsep dengan mereka.
Dalam banyak hal, saya lebih condong pada metode Ali Shariati (please….. don’t judge him just because SYIAH) yang diperluas dengan gagasan Noam Chomsky dan Hasan Al Banna.
Intinya: siapa yang butuh labelisasi ideologi ketika ide ada di benak setiap orang?
BTW, saya memang tidak suka dengan pola pikir Sulaiman Tripa, tapi juga tidak mendukung modelnya Kemal Pasya ce-es itu. Bagi saya, Islam itu agama pertengahan yang tidak kiri dan tidak kanan. Sebaik-baik umat yg menjadi penyeimbang
Saya ingin menanggapi lagi isi komentar bang alex di tulisan jelek saya yang berjudul “ kesesatan itu ? ” yang menarik bagi saya dalam komentar bang alex ini adalah tentang kalimat :
“Dalam banyak hal, saya lebih condong pada metode Ali Shariati (please….. don’t judge him just because SYIAH) yang diperluas dengan gagasan Noam Chomsky dan Hasan Al Banna. “
Yang menjelaskan kecenderungan beliau dengan ide pemikir-pemikir hebat ini ,
dan juga tentang statement terakhir beliau di tulisan saya itu , yaitu pada kalimat :
“BTW, saya memang tidak suka dengan pola pikir Sulaiman Tripa, tapi juga tidak mendukung modelnya Kemal Pasya ce-es itu. Bagi saya, Islam itu agama pertengahan yang tidak kiri dan tidak kanan. Sebaik-baik umat yg menjadi penyeimbang
Dan yang menjadi fokus saya adalah tentang kata-kata ini :
Bagi saya , Islam itu agama pertengahan yang tidak kiri dan tidak kanan. Sebaik-baik umat yg menjadi penyeimbang
Dan kalimat inilah yang ingin saya komentari
Saya sendiri kurang setuju dengan pendapat terakhir bang alex ini , karena menurut saya Islam itu adalah Agama kebenaran yang bersifat pasti , bukan perwujudan dari sebagian-sebagian ataupun pertengahan , bagi saya moderat/pertengahan itu adalah sesuatu yang kurang benar , bermakna ke tidak konsistenan kepada ide dasar , karena sesuatu itu diciptakan denga sub-sub rivalitas-nya masing-masing dan tidak ada yang berbau dan berwujud pertengahan .
Dan , mengatakan Islam itu sebagai Agama pertengahan , tidak kiri dan tidak kanan adalah esensi dari masalah ini semua , memang , kiri dan kanan hanya merupakan simbolisasi belaka dalam penjabaran ke-bahasaan , akan tetapi kiri dan kanan juga mewakili makna inti yang sebenarnya , mengatakan Islam sebagai agama pertengahan atau moderat telah menandakan keterjebakan kita terhadap opini-opini anti ke Islaman , opini yang melahirkan keraguan terhadap eksistensi makna kebenaran Islam .
Seperti yang saya katakan tadi , saya sangat tidak setuju dengan paham moderat ataupun pertengahan , karena menurut saya suatu makna substansi itu yang ada hanya nilaii benar atau salah dan tidak ada yang namanya setengah setengah . dan memaknai ke-moderatan itu berarti memaknai sesuatu yang masih mungkin mengandung kesalahan , dan islam adalah sebuah kebenaran pasti menurut saya .
Jika dikatakan islam itu tidak Kapitalis ataupun Sosialis maka saya sangat setuju , tetapi jika disebut Islam mewakili kedua-duanya karena ke-moderatan-nya maka saya sangat tidak setuju .
Karena setahu saya , Islam itu bukanlah penjabaran dari nilai persamaan Sosialis dan islam juga bukan perwakilan dari kekayaan Kapitalis, karena prinsip dasar utama dari ideologi itu adalah tentang pandangan akan dasar kehidupan , suatu penjabaran dari mana kehidupan itu berasal , yang semua itu mewakili setiap pemikiran individu penganutnya.
pandangan kapitalis yang memandang manusia sebagai objek capital menjadi penyebab utama kehancuran peradaban manusia di abad ini, maupun pandangan sosialisme yang bersifat kesejahteraan juga menjadi penyebab kehancuran akan perbedaan kemampuan manusia yang disebabkan atas penindasan terhadap fitrah manusia yang mampu berkarya , bukankah manusia selalu hidup dengan naluri , dan pastinya bukan sekumpulan benda mati .
Dan yang paling penting untuk kita ingat adalah , semua konflik yang terjadi di dunia ini adalah perwujudan langsung dari pertentangan ideologi, ideologi menjadi basis utama dari semua hal , perang dingin antara blog barat dan blok timur menjadi cuntoh utama perperangan ideologi , maupun upaya Amerika menguasai dunia semua itu juga merupakan proses dari budaya penerapan suatu ideologi .
Tidak bisa dipungkiri jika itu semua menjadi landasan utama pertentangan di dunia ,
Begitu juga dengan si Yahudi Comsky , Al banna maupun Ali syari’ati , meraka adalah manusia-manusia yang hidup dengan landasan pemahaman ideologi yang kuat , Al banna memjadi militan karena pemahaman nya yang kuat atas eksistensi kebenaran Islam , maupun Al syari’ati yang hidup dengan pergumulan filsafat dan kebencian terhadap pemerintahan yang diktatorian, semua itu merupakan wujud dari eksistensi ideologi dalam perubahan manusia .
Dan mengenai Comsky , menurut saya Comsky adalah manusia yang eksis dari ketidak percayaannya terhadap kapitalisme yang menjadikan nya seoran Sosialis libertarian , pemahaman tentang persaman hak , kebebasan manusia menjadi inti utama dari pemikiran sosialis libertarian-nya Comsky , dan yang paling penting adalah , kedua ideologi ini ( Kapitalis dan Sosialis ) tak pernah menyentuh inti utama dari setiap masalah yang di alami manusia , karena persoalan utama-nya bukanlah pada persamaan itu , maupun kekayaan itu , melainkan problem utama itu terletak pada pemahaman mendasar tentang kehidupan , tentang sumber eksistensi manusia dan menurut saya hal itu hanya dimiliki oleh Islam.
Dan dalam pemahaman islam, ideologi itu merupakan pemahaman dari Aqidah aqliyah yag memiliki ide dasar dan metode pelaksanaan aturan ,pemahamannya seperti ini :
“Ideologi (Mabda’) adalah Al-Fikru al-asasi al-ladzi hubna Qablahu Fikrun Akhar, pemikiran mendasar yang sama sekali tidak dibangun (disandarkan) di atas pemikiran pemikiran yang lain. Pemikiran mendasar ini merupakan akumulasi jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa dan mau kemana alam, manusia dan kehidupan ini yang dihubungkan dengan asal muasal penciptaannya dan kehidupan setelahnya?”
Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa Ideologi adalah pemikiran yang mencakup konsepsi mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode untuk merasionalisasikan pemikiran tersebut dalam bentuk berupa fakta dan realita , metode menjaga pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari pemikiran-pemikiran yang lain dan metode untuk menyebarkannya.
Sehingga dalam Konteks definisi pemahaman ideologi inilah tanpa memandang sumber dari konsepsi dasar Ideologi, maka Islam adalah agama yang mempunyai kualifikasi sebagai Ideologi dengan padanan dari arti kata Mabda’ dalam terminologi ke-Araban.
Apabila kita telusuri, seluruh dunia ini, maka yang kita dapati hanya ada tiga ideologi yang eksis ,meliputi Kapitalisme, Sosialisme ( Komunisme ) dan Islam. Dan untuk saat ini dua ideologi pertama, masing-masing diemban oleh satu atau beberapa negara. Sedangkan ideologi yang ketiga yaitu Islam, saat ini tidak diemban oleh satu negara manapun , melainkan diemban oleh individu-individu dalam masyarakat . walaupun demikian , ideologi ini tetap ada dan eksis di seluruh penjuru dunia.
Dan yang paling penting adalah , Sumber konsepsi inti dari ideologi kapitalisme dan Sosialisme yaitu berasal dari buatan akal manusia , sedangkan Islam berasal dari wahyu Allah SWT .
Ibnu Sina mengemukakan masalah tentang ideologi dalam Kitab-nya ” Najat “, beliau berkata:
“Nabi dan penjelas hukum Tuhan serta ideologi jauh lebih dibutuhkan bagi kesinambungan ras manusia, dan bagi pencapaian manusia akan kesempurnaan eksistensi manusiawinya, ketimbang tumbuhnya alis mata, lekuk tapak kakinya, atau hal-hal lain seperti itu, yang paling banter bermanfaat bagi kesinambungan ras manusia, namun tidak perlu sekali.”
Dan terakhir menurut saya , yang paling penting adalah , bagaimana agar ideologi itu tidak hanya menjadi pemahaman yang absurb belaka tanpa penyelesaian masalah yang pasti , sehingga ideologi itu tidak hanya menjadi bualan-bualan manis yang menjadikan hidup makin tidak berarti .
Jika ditanya ideologi yang bagus itu yang mana , maka saya akan menggambarkannya seperti ini :
Apakah Sosialisme ciptaan Karl Marx yang engkau inginkan ? sebuah Ideologi yang lahir dari pemikiran seorang anak Yahudi , manusia yang terlalu kecewa dengan keberadaan dirinya ?? ataukah Demokrasi Kapitalisme yang lahir dari pemikiran laisez faire-nya pemikir-pemikir Agnostik Renaisance Prancis yang timbul karena kekecewaan mutlak meraka terhadap eksistensi Gereja Katolik Roma .
Pilih yang mana ?
Apakah kedua ideologi ini yang di inginkan oleh manusia-manusia penghuni bumi ini ? sebuah system Ideologi yang lahir karena ketidak jelasan !
atau ,
Ideologi yang pasti . yang lahir dari wahyu Illahi … ???
DIarsipkan di bawah: menulis, opinion, primelista | Ditandai: adeology, alexa, comsky, debate, islam, kapitalisme, pemahaman, sosialisme, tanggapan.














Buset, diulas segitunya?
Saya kaget lho, kalo ideologi menjadi sebuah dikotomi demikian rupa. Ya.. tidak terlalu kaget juga sih, dalam artian saya pernah membelah-belah demikian juga.
Tapi intinya di sini: Apa kamu menganggap Islam sebuah ideologi? Kalo iya, prinsip-prinsipnya kamu mesti tahu dan bisa jabarkan.
Kalo saya, Islam itu panduan yang diatas ideologi apapun. Dalam artian, segala nama-nama coro semacam Syariati, Chomsky, Tripa, Muda Bentara, Alex, etc etc etc…. itu cuma pengetahuan belaka. Untuk perbandingan saja. Saya juga dari pesantren, dan ndak bisa lepas dari kaidah-kaidah Islam.
Ingat: Kecenderungan. Bukan kepastian. Dalam artian, saya masih melihat itu alternatif saya dalam hal melengkapi khazanah Islam yang sayangnya masih sedikit saya miliki.
Well.. Well…
Kamu tidak sendirian dalam hal menganggap Islam agama yang pasti. Saya tidak akan menjadi orang bodoh utk memilih Islam sebagai agama kalau agama ini tidak pasti. Tapi saya juga tidak mau bersikap menelan mentah-mentah dan tidak mau tahu untuk mempelajari apa-apa yang di luar Islam.
Dan, siapa yang mengatakan Islam itu setengah-tengah. Di bagian mana ucapan saya yang menyatakan demikian?
Saya berbasis pada sikap adil dalam Islam. Sikap yang tidak memposisikan diri sebagai kiri atau kanan. Mau lebih jelas, silahkan saja baca di ulasan ini. Ulasan senada yang membuat saya mencengir ketika Islam dipersamakan dengan Sosialisme. Islam Sosialisme sendiri hanya satu konsep belaka, yang tidak lepas dari kaidah-kaidah hukum Islam saja, AFAIK.
Kalo boleh saya sarankan, jangan terpaku pada label. Ulasan di artikel ini yang jauh lebih religius dari saya, mungkin akan lebih bisa kamu terima kalau kamu sangat suka dengan penjelasan religius. Ada tidak dijelaskan umat pertengahan di sana?
Tolong jelaskan kapan sempat, ideologi yang lahir dari wahyu Illahi itu konsepnya seperti apa?
Jika panduan kamu sama dengan saya: Quran, dan bukan segala buku-buku yang cuma literatur belaka untuk memperkaya wawasan, maka kita sama dalam hal menganggap Islam bukan urusan rukuk, sujud, zikir belaka. Tapi juga berkaitan dengan urusan sosial, seperti zakat yang bertujuan menyeimbangkan pemerataan kekayaan seperti tertulis di Quran;
“…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al Hasyr, 59:7)
See? Itu salah satu konsep keadilan sosial pada Islam yang lebih dari sekedar jargon ala Sosialisme rakitan Marx ce-es
Pada dasarnya saya tidak peduli dengan segala jargon ideologi dan tidak berhasrat meributkannya. Toh, basis saya juga dari muslim
Cuma sayang, ada umat muslim yang cuma bisa OMDO kalo Islam agama terbaik dan mencakup segalanya, gak butuh pemikiran ideologi luar, tapi malah tidak tahu bahwa seperti zakat, misalnya, mampu menjelaskan bahwa Islam bukan cuma ngurusi akhirat belaka atau sekedar takbir dan tahmid. Itu yang membuat saya jengkel dengan ucapan Islam sudah pasti, tapi konsepnya sendiri tidak pernah dijelaskan.
Mohon diingat sekali lagi lho: saya cenderung mempelajari studi sosialisme Islam, tapi tidak menganggap itu kebenaran mutlak. Walau setidaknya saya lihat Hasan Al Banna dan Ali Shariati justru lebih eksis dari mereka yang berwacana khalifah Islamiyah, tapi cuma di bibir. Setidaknya dua figur itu mampu memukau pemikiran sombong Eropa bahwa ideologi cuma mereka yang punya.
Ya, saya cuma belajar untuk memperkaya wawasan saja. That’s it
BTW, bisa-bisanya tag-nya “alex” . Saya jadi sorotan pembahasan ini?
Apakah kedua ideologi ini yang di inginkan oleh manusia-manusia penghuni bumi ini ? sebuah system Ideologi yang lahir karena ketidak jelasan !
atau ,
Ideologi yang pasti . yang lahir dari wahyu Illahi … ???
jangan salah pilih!
kalo gak pinter milih, lebih baik jangan pilih!
golput kali ye…
hahahha…. si syahuri ada-ada aja…
klo gak milih berarti kan bukan manusia..heheh
Lho? Komen saya dimoderasi?
Sempat kaget juga kemarin tiba-tiba komen gak langsung nongol. Tapi ndak muncul. Masuk akismet atau giman?
Saya sudah kasih komentar panjang x lebar juga itu benarnya. Mungkin kali akhir, karena saya agak malas ngurusi dikotomi kiri dan kanan suatu ideologi. Tho, kalo ada yang merasa satu ideologi lebih baik, ya dibuktikanlah dengan fakta jalannya sejarah dan eksistensinya hari ini.
Yang mengklaim ideologi wahyu Illahi bukan satu-dua pihak soale. Dalam banyak agama, trik yang sama juga dipake. Dan itu yang membuat saya enggan mengotori agama cuma untuk kepentingan politik, Lihat saja itu partai-partai yang jualan ayat setiap 5 tahun misalnya.
Sosialisme memang mutunya tidak sempurna. Tahu kenapa? Karena menafikan Tuhan dalam permainan di dunia.
Tapi ideologi yang mengkoarkan wahyu Illahi juga sering cuma OMDO saja. Tahu kenapa? Karena jarang dari aktivis muslim yang kasi format jelas tentang konsep ideologi dari langit itu. Ujung-ujungnya seolah urusan muslim itu cuma ibadah untuk akhirat saja.
Biar sajalah ideologinya mau apa. Kenyataannya mari buktikan sendiri oleh tiap pribadi dalam hidup masing-masing. Saya sudah pernah kok fanatik, setidaknya dengan menganggap logo Ka’bah di PPP lebih baik dari yang lain tahun 1999. Tapi hasilnya sama saja.
Karakter iman masing-masing pribadi saja yang menentukan.
BTW, moga-moga gak dijadikan “tag” lagi. Kehormatan yang terlalu besar buat saya itu
Eh, sudah kebuka komentar saya itu?
Sori.. Sori…
*jadi maluw*
iya pikiran saya juga cenderung mirip dengan bang alex nih, aku ga suka terjebak dengan label2 dalam menentukan suatu ideologi dan itu tidak berarti kita tidak punya ideologi, soalnya ketika kita udah memposisikan kiri dan kanan tersebut kita justru membatasi diri kita dengan suatu batasan konsep yang sebenarnya tidak mutlak, hal ini ditakutkan akan melahirkan penolakan kepada suatu pemikiran secara ekstrim yang pada akhirnya membenturkan islam dengan suatu konsep tersebut secara keseluruhan termasuk poin2 positif yang dimiliki oleh konsep tersebut, saya melihat satu contoh adanya suatu gagasan yang berkembang dengan label berupa penolakan sistem demokrasi dan menggantinya dengan syariat islam karena mereka merasa yang namanya demokrasi secara label berada di dalam penjabaran sistem kapitalisme, nah hal itu kan menjadi tidak revelan dan signifikan (kata wapres rep. mimpi) untuk diperbandingkan karena kalo memang kita sudah melihat kapitalisme itu sebagai suatu paket ideologi dan demokrasi secara label berada didalam kapitalisme justru kapitalisme dan islam memiliki irisan karena demokrasi tidak bertentangan dengan islam, dalam hal ini demokrasi saya definisikan sebagai kebebasan berfikir bukan kekebasan bertindak karena dalam hal bertindak memiliki constrain hukum dan kepentingan orang lain. Begitu juga dengan sosialisme, kalo kita mau berfikir secara objektif pasti ada poin2 dari sosialisme yang tidak bertentangan dengan islam dan tentu saja bila kita sudah memiliki basis islam kita bisa menentukan yang mana yang seharusnya kita serap dan yang kita buang, bahkan untuk pihak2 yang telah mendeklarasikan diri sebagai sosialis contohnya negara berbasis sosialisme atau komunisme sepert china (tolong koreksi kalo salah) sendiri malah mengimplementasikan sistem kapitalisme dalam ekonominya sehingga batasan disini menjadi kabur, saya cenderung melihat batasan2 dalam pelabelan ideologi tersebut hanya kuat pada masa2 perang dunia kedua,untuk jaman skr sudah kurang relevan ketika kita mengatakan ini kapitalis itu sosialis ini bukan islam dll
wah…makasih banyak ulasan islam dan sosialisme berikut semua komen2 nya
baru nyadar klo ilmu n pemahaman saya masih amat dangkal….
salam kenal