Pagi itu, SPMB, dan Aku

Tadi pagi ayah ku datang dari meulaboh, beliau datang dengan adikku, maklum, anak smp sekarang lagi libur panjang, sekalian aja dia datang kesini untuk jalan2.

Dalam perjalanan ini beliau tiba agak telat, sewaktu aku telpon jam 6.20, posisi beliau masih di lambaro, baru tiba dirumah jam 7 pagi,

Setiba ayahku dirumah, aku membantu beliau menurunkan barang-barang bawaan beliau, ada tanaman, beberapa kotak, seperti biasa, ayahku adalah penggemar tanaman, terutama yang bermamfaat, harmoni alam merupakan unsu terpenting dalam kehidupan beliau, begitu pikirku,

setelah menurunkan semua barang ayahku duduk di bangku malas didepan rumah kami, bangku itu bangku kayu, bersandar serasi dengan pohon ubi kayu yang memayunginya, menjadi tempat yang asyik untuk berteduh, ditengah panas nya banda aceh yang sudah beberapa bulan tak diguyur hujan, setelah duduk, seorang tetanggaku yang juga saudara datang menghampiri ayahku , namanya bang john, pria paruh baya berdarah jawa medan yang tegar meurutku, hidup baginya adalah pengorbanan, paling tidak pengorbanan bagi anak-anaknya yang berjumlah 5 orang, dan bang jon pun menyalami ayahku, apa kabar pakceh ? dengan logat medan ia menyapa ayahku, diiringi salaman yang khas, dari seorang yang beretika, iya pun ikut duduk di kursi malas tersebut,

setelah kedatangan bang jon , datang pula sepupuku yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku, ban troh chek katanya dalam bahasa aceh, seperti biasa, penampilan sepupuku ini kalau lagi dirumah yaitu selalu ditemani celana boxer setianya yang berwarna pink, yang katanya dia beli di puncak saat liburan sewaktu ia bekerja di bogor, sepupuku yang satu ini orang nya santai, penuh humor, tapi terkadang keras, walau menurutku keras nya ia berarti ketegasan , ia kini beralih menjadi pekerja freelance, dari agen sampai toke kayu, sebenarnya ia tak mempunya latar belakang dalam hal itu ,

setahuku dulunya ia adalah seorang penulis yang produktif, pada masa awal harian serambi Indonesia dulu, ia sering menulis puisi dan dimuat di harian itu, puisinya sangat sering dimuat, kemampuan mengolah katanya mengalir deras, mengambarkan pengatahuannya , hobinya adalah membaca, membaca apasaja katanya padaku , termasuk koran2 yang terbuang di jalan, katanya inspirasi itu tak bertepi, ia hadir kapan saja, dimana saja, tergantung kita , apakah mau memungutnya atau tidak, kata-kata-nya itu ku ingat sampai sekarang,

aku teringat sewaktu awal masuk sma dulu aku pernah meminta kepadanya untuk membuat puisi untukku, katanya, mana buku kosang, puisi apa yang kamu mau, cinta, kehidupan atau apa, terserah kataku, keesokan nya sepulang sekolah , aku melihat buku itu telah penuh dengan puisi di tiap lembarannya, timbal balik, seingatku buku itu setebal 50-an halaman, aku terkejut melihhatnya, apakah ini yang namanya karya, gumamku dalam hati, puisi yang ditulisnya persis seperti yang kuinginkan, tentang cinta, penghianatan dan kehidupan, puisi ini bagus2 sekali bang , kataku padanya, lebih bagus dari punya rendra kataku, jangan bandingkan dengan punya rendra katanya, ia berkata seperti itu karena aku tahu kalau rendra itu idolanya dalam sastera puisi, mengingat kata rendra ia lalu menceritakan tentang kritikan yang dikirimkan rendra dan emha ainun najib terhadap puisinya yang dimuat di salah satu majalah nasional, saat itu ia mengirimkan puisi yang berisikan kritikan terhadap pemerintah , tanggapan rendra dan emha begini katanya : “dik, sekarang ini zaman edan, kamu sebagai anak muda harus berhati-hati dalam menulis, bisa-bisa kita bisa hilang ” begitulah sebagian ungkapan yang diingat abangku terhadap isi kritikan mereka.

tapi sayang katanya…. semua arsip-arsip tulisannya telah dijual oleh ibu-nya ke kios untuk menjadi kertas pembungkus cabe, berhubung ibu-nya seorang yang awam…, yang lucu katanya, dalam tumpukan kertas yang dijual ibunya tersebut juga termasuk ratusan lembar surat cinta yang pernah dikirim dan dituliskan untuk puluhan kekasihnya yang tersebar di seluruh aceh ….. malu sekali katanya, sampe semua orang kampung tahu dan membaca surat cintanya yang menjadi pembungkus cabe mereka … katanya lg sambil tertawa …

Setelah itu ia bercerita tetang pengalamannya menulis , ia menceritakan tentang kebetulan puisinya dimuat diserambi, klau tidak salah saat itu tahun 1995 abangku itu masih kelas 2 sma waktu itu, saat itu ia mengirimkan puisi yang bertemakan tentang seseornag yang telah pergijudulnya “KAU YANG TLAH TIADA”, kebetulan moment tersebut pas dengan meninggalnya artis top Indonesia saat itu yaitu nike ardila katanya, katanya pihak serambi memikir abang menulis puisi itu untuk mengenang kepergian sang biduan nike ardila, padahal katanya, ia mengirimkan puisi itu yaitu untuk mengenang kepergian kakekku yang baru wafat,

kakekku sangat berarti baginya, disaat kampung kami di labuhanhaji aceh selatan masih diterangi lampu minyak, kakekku telah mengenalkannya nama-nama seperti Khomeini, saddam husein, yaseer Arafat , george bush kepada abangku katanya, padahal nama-nama itu tak pernah terpikirkan oleh siapapun di kampong kami, kakekku mengenal itu semua dari radio dan surat kabar, ia adalah icon politik bagi kami, abangku juga bercerita tentang bagaimana mereka telah berlangganan Koran serambi Indonesia sejak pertama kali terbit di tahun 90-an, setiap sore, Tgk nacara selalu mengantar Koran serambi kerumah kakek, dengan mengendarai motar astra nya, dari situlah permulaan ketertarikan abangku itu terhadap sastreta dan dunia,

Tentang kakekku, beliau adalah manusia sederhana, umurku 6 tahun ketika beliau meninggal, ingatanku masih tersimpan rapi akan memori kenangan tentang beliau, pada saat masih kecil, sewaktu beliau tidur, aku selau mengendus2 dibawah tempat tidur beliau untuk “mencuri” pisang ayam beliau , perbuatanku ini kulakukan karena mak-ngoh (kakak ayahku) menyuruhku, semula aku takut, naluri kecilku seakan tertusuk belati ketika beliau memergokiku, entah berapa kali hal itu kulakukan, yang jelas hal itu sangat menyenagkanku, pikiran kecilku seakan di awang-awang, kenangan kecilku akan beliau hanya sebatas itu …….. memang ada yang lain tetapi hanya cukup diriku sendiri yang mengetahuinya,

kakeku itu seorang uleebalang di labuhanhaji, beliau biasa disenut orang dengan nama uleebalang usman, beliau kelahiran tahun 1917, lahir di labuhan haji , dengna ayah juga seorang uleebalang, beliau menjadi uleebalang pada umur 22 tahun, menggantikan ayahnya yang mangkat, berhubung beliau adalah anak laki-laki yang paling tua, maka beliau yang mengaantikan ayahnya menjadi uleebalang .

beliau menjadi uleebalang dengan waktu yang sangat lama, kira-kira 20 tahun sapai ketika pemerintah menciptakan struktur pemerintahan baru yang bernama kecamatan, beliaupun menjadi camat selama 10 tahun, seperti kebiasaan uleebalang , beliau juga menikmati masa mudanya dengan kehidupan yang agak “bandel”, candu , judi merupakan mainan yang lumrah bagi para penguasa pada masa tahun 30-an sampai 50-an, sewaktu menjadi camat yaitu di awal 60-an , kebiasaan itu juga masih berulang ,walaupun telah berkurang .jaringan relasi beliau yang sangat luas dan kuat membuat orang takut kepadanya,

ayahku pernah bercerita, sewaktu ayahku kecil , kakekku pernah membuat tempat seperti kasino di labuhanhaji, tempat itu terbesar di barat selatan, sehingga banyak orang2 kaya letting tua di meulaboh yang mengenal kakekku dengan sebutan uleebalang usman, sewaktu membuka kasino tersebut, gubernur aceh pada saat itu yang namanya nyak adam kamil, klau tidak salah beliau adalah seorang militer asal bakongan yang juga teman kekaekku, beliau memutasikan kakeku yang saat itu camat, untuk pindah tugas di banda aceh dan ditempaytkan di kantor gubernur sebagai seorang pegawai tinggi, kata ayahku hal itu dilakukan untuk menghentikan usaha kasino di acah barat selatan,

sesampainya di banda aceh, kakekku memilih untuk aktif di organisasi partai, saat di banda aceh ini lah karir politik kakekku berkembang pesat, kakekku menjadi pemegang mandat pertama pendirian partai perti (persatuan tarbiyah islamiyah) di aceh , posisi kakekku di perti saat itu sangat kuat , berhubung beliau di backup dengan 8 orang anggoita dewan yang ada di parlemen aceh, yang pada saat itu anggota-nya masih kira-kira22-an orang ,

beliau juga didukung oleh kekuatan ulama di barat selatan yang mendukung beliau, syaikh muda waly adalah suami keponakan beliau, setelah muda waly meninggal anak-anak beliau sering datang ke rumah kakekku yang saat itu di lampriet, saat itu ayahku masih smu, kata ayahku makanya ayah tahu semua akal mereka, ayahku bercerita bagaimana seorang anak abuya, yang kini sudah menjadi ulama yang sangat terkenal di aceh, setiap malam minggu mengajaknya menonton film India di garuda bioskop, kata ayahku juga dua anak abuya yang lainnya yang kini telah menjadi ulalama-ulama hebat juga sering pergi ke rumah kakekku ,biasanya untuk konsultasi ,berhubung dua dari mereka ada yang telah menjadi anggota dewan .

kembali lagi ke ayahku,

setelah asyik-asyik ngobrol dengan bang jhon dan bang radjab, ayahku bertanya kepadaku …

na ie gam ?

hana yah , jawabku

na kupi gam ?

hana cit yah

na saka gam ?

hana cit yah

ahhh… kiban agam nyoe, meusapeu hana

gimana ni jhon , semua gak ada …. Mana cek belum minum kopi ni….. kelakar ayahku sambil tertawa…

setelah itu ayahku menyuruhku membeli air dan kopi….

Setelah sekembali dari membeli kopi, aku bergegas mengambil tas di dalam kamar…. Karena buru-buru hendak berangkat …sesampai di pintu, ayahku bertanya…

Mau kemana gam ?

Agam ikot spmb juga ya ?

Gak kataku dengan wajah pucat …. Karena sebenarnya aku memang mau pergi ikot spmb..

Ayahku berkata lagi …. Banyak kali kendaraan di jalan jhon, maklum hari ini spmb, anak-anak kampong yang baru ke banda aceh, lalu lalang kayak semut di jalanan…

Kadang gam ikot spmb juga ya… kata ayahku sekali lagi ….

Dengan wajah pucat aku berkata..

Gak…aku gak ikot spmb, kami lagi ujian sekarang ,kan lusa kemaren baru bayar spp…lalu aku pergi ,mengendarai motor menuju tempat tes spmb

Dalam perjalanan aku bergumam dalam hati,

aku memang tak mengikuti spmb,

karena sekarang aku mengikuti tes snmptn,

spmb tak ada lagi …… bukankah aku tak berbohong kepada ayahku ……. Semoga aku lulus karena itu, walaupun tak berani jujur .