Media Kampanye, Masyarakat Simbolik dan Strategi Politik.

18 11 2011

Selama masa tahapan pelaksanaan Pemilukada Aceh kali ini, terutama Pilkada Gubernur, kini banyak atribut-atribut kampanye yang mulai bertebaran di penjuru kota dan pelosok-pelosok kampung. Sebelum putusan sela MK (Mahkamah Konstitusi) yang dikeluarkan pada tanggal 2 November lalu, ada tiga pasangan yang menjadi calon kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-1017, yaitu pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Muhammad Nazar-Nova Iriansyah dan Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah.

Kini, rupa ketiga pasangan ini dengan mudah bisa ditemui dalam wujud spanduk-spanduk dan baliho besar yang ada di persimpangan jalan ataupun perempatan pusat kota. Dalam bulan ini, para kandidat berlomba mempublikasikan spanduk/baliho mereka dengan isi pesan mengenai Ibadah Haji dan ucapan selamat hari raya Iedul Kurban.

Dari ketiga pasangan ini, ada satu calon pasangan yang desain model media kampanye luar ruangnya menurut saya begitu baik , yaitu milik pasangan Irwandi Yusuf dan Muhyan Yunan. Media kampanye luar ruang mereka di dominasi oleh warna latar putih dan merah. Dengan penggunaan pakaian adat dan Kopyah Meukeutop khas Aceh yang berwarnya kuning/oranye. Baca entri selengkapnya »





Darni, Sang Rektor dan Obsesinya.

15 11 2011

Kamis lalu (10/11/2011), di sore yang mendung, Prof.Dr. Darni M. Daud. MA selaku Rektor Universitas Syiah Kuala mendatangi kantor KIP Aceh (Komisi Independen Pemilihan) untuk mendaftarkan diri sebagai calon Gubernur Aceh periode 2012-2017 melalui jalur perseorangan (independen). Konvoi iring-iringan kendaraan yang kebanyakan terdiri dari becak motor mengiringi perjalanan Proffesor yang akrab disapa Darni ini menuju ke kantor KIP. Tak hanya iringan becak, anak-anak muda pun banyak tampak mengikuti konvoi itu, umur mereka rata-rata berada di rentang 20-an tahun. Menurut khabar, anak-anak muda itu adalah mahasiswa Unsyiah yang datang karena ada iming-imingan berupa insentif kehadiran.

Dalam pencalonannya ini, Darni menggandeng Dr. Ahmad Fauzi sebagai wakil. Ahmad Fauzi tercatat sebagai dosen aktif di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Ranirry.

Beberapa bulan lalu, ketika pendaftaran calon kepala daerah mulai dibuka oleh KIP, Pak Rektor ini begitu bersemangat. Dalam beberapa forum ia sering mengutarakan secara langsung (tanpa ditanya) keinginannya untuk maju sebagai kandidat calon Gubernur Aceh. Dalam rentang waktu pendaftaran itu, ada beberapa pendekatan dan seleksi dari partai politik yang ia ikuti, sehingga secara personal ia begitu yakin jika nantinya akan ada partai politik yang akan meminangnya untuk dijadikan calon sebelum tenggat waktu penutupan pendaftaran tiba. Hingga tibanya masa penutupan, harapan Pak Rektor ini akhirnya pupus. Kenyataannya, tak ada satupun lamaran yang datang di akhir pendaftaran. Beberapa partai politik besar tak mendaftarkan calon. Ini menjelaskan jika tak ada satupun partai politik yang tertarik kepadanya. Baca entri selengkapnya »





Melupakan Khadafi? Melupakan GAM.

12 11 2011
Women soldiers of the Free Aceh Movement

Image via Wikipedia

Kamis (20/10/2011), Muammar Abu Minyar al-Qaddafi atau yang lebih populer dengan sebutan Muammar Khadafi menghembuskan nafas terakhirnya. Ia ditangkap ketika bersembunyi dalam saluran drainase setelah iring-iringan konvoi 15 kendaraan pasukannya dibombardir oleh pasukan udara Prancis yang tergabung dalam pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sang Kolonel meninggal di tangan pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC) saat dibawa dari Sirte, kota kelahirannya ke Misrata. Khadafi meninggal di umur 69 tahun setelah 42 tahun menjadi penguasa libya sejak 1 September 1969 hingga 2011.

Reaksi atas kematiannya pun beragam. Beberapa pemimpin negara Uni Eropa menyambut gembira atas tewasnya Khadafi. Begitu juga reaksi pemimpin Amerika Serikat, Barrack Husein Obama. Tak terkecuali sekjen PBB, Ban Ki Moon. Di Tripoli, Sirte, Misrata dan kota-kota lainnya di Libya, masyarakat pendukung NTC tumpah ruah ke jalan merayakan atas tewasnya Khadafi. Euforia hadir dimana-mana di tanah kaya minyak Afrika, Libya.

Di belahan bumi lain, di Caracas Venezuela, Hugo Chaves yang merupakan sahabat Khadafi menyatakan kemarahannya atas aksi pembunuhan itu. Chaves menyebut Khadafi sebagai pejuang, martir dan seorang revolusioner besar dari Timur Tengah. Bagi Chaves, Libya adalah Khadafi dan ia tetap akan menolak mengakui keberadaan Dewan Transisi Nasional (NTC) pimpinan Mahmoud Jibril yang kini berkuasa di Libya sepeninggal Khadafi. Ini adalah wujud dari beberapa reaksi penguasa dunia atas meninggalnya Khadafi, kamis lalu. Baca entri selengkapnya »





Kol. Husein Yusuf dan Revolusi ala Media.

23 09 2011

“Kok begini ya berita @atjehpost ??? @atjehpost Berapa Lama Waktu Ideal “Foreplay”?: Foreplay memegang peran penting dalam menentukan…”

“Sadur berita dari median lain Prof :) RT@nazarsjamsuddin

“Tapi masih byk cerita or info lain yg bs disadur. @mudabentara@atjehpost Sadur berita dari median lain Prof :) RT@nazarsjamsuddin

“Arwah Kol. Husein Yusuf pasti tdk suka dg @atjehpost yang begini.@mudabentara Saya dulu juga prnh komplain Prof :) .Smga mrka mendengar RT @nazarsjamsuddin

Ini adalah petikan balasan twit saya dengan Prof. Nazaruddin Syamsuddin semalam. Sang profesor mengomentari perihal judul pemberitaan salah satu media online di Aceh yang di feed-kan ke akun twitter media yang bersangkutan. Prof. Nazar mengomentari perihal kenapa media seperti Atjehpost menurunkan berita seperti itu, yaitu mengenai “idealnya waktu ‘Foreplay’ ”. Baca entri selengkapnya »





Peunayong dan Eksistensi sejarah kita.

13 07 2011

Festival Peunayong/theglobejournal.com

Di suatu sore, saya dan beberapa teman menyempatkan diri untuk datang ke daerah Peunayong. Tujuan kami kesana ialah untuk mengunjungi acara Festival Peunayong yang sedang dilangsungkan di daerah itu selama tiga hari. Festival Peunayong ini adalah festival yang mengambil tema Kampung Cina (Pecinan/China town), ini dikarenakan Peunayong itu sendiri adalah kawasan yang mayoritas penduduknya adalah etnis Cina keturunan.

Saya dan teman-teman datang festival itu pada hari kedua. Ketika kami datang, massa yang mengunjungi festival itu sudah sangat ramai. Setiba di depan arena festival, para pengunjung akan disambut oleh kehadiran sebuah replika pintu gerbang yang mirip dengan pintu gerbang kota pada masa dinasti Cina kuno. Memasuki arena festival, mata saya dan pengunjung lainnya disuguhkan oleh tampilan khas pecinan. Banyak lampion yang bergelantungan di sepanjang jalan yang panjangnya 300-an meter itu. Stand yang ada di festival itu meliputi stand kerajinan produk daerah, dinas pariwisata, stand perusahaan dan selebihnya adalah stand milik komunitas etnis Cina yang terdiri dari sekolah, baik Katolik, Methodist, Budha, dan juga ada beberapa stand Vihara (Tepehkong).

Corak Tionghoa manjadi sangat dominan di arena festival itu. Di stand milik komunitas warga Cina keturunan, mereka menampilkan berbagai macam produk dan ragam karya budaya; dari buku, pakaian khas etnis Cina, seni permainan tradisional, senjata tradisional, makanan, dan benda prosesi keagamaan. Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.