Solong, Sehari Sebelum Pemilukada


SolongSiang itu, setelah mengikuti perkuliahan di kelas, saya memilih duduk di kantin yang ada di belakang fakultas saya. Saat itu saya memesan kopi hitam, dengan banyak gula. Hari itu kantin fakultas saya dipenuhi oleh puluhan mahasiswa. Di sudut kantin duduk seorang lelaki muda yang berumur 30 tahunan. Ia menggunakan kemeja lengan panjang yang tanpa motif, mengenakan celana kain dan di bahunya ada sebuah tas etnik. Dari kejauhan saya perhatikan ia sedang menikmati jus yang baru ia pesan. Ia duduk sendirian, hanya ditemani oleh jus yang ada di depannya.

Melihat hal itu, akhirnya saya memberanikan diri untuk mendatangi dan menyapa lelaki tersebut. Saya sudah lupa obrolan apa yang saya layangkan sebagai pembuka pembicaraan kala itu. Kalau tak salah, saya membuka obrolan dengannya mengenai komentarnya terhadap Sidney Jones yang ia layangkan saat menghadiri bedah buku; ACEH Dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki yang editornya Murizal Hamzah pada 2008 yang dibuat oleh BEM fakultas saya di kantin yang sama.

Obrolan mengenai Sidney pun berlanjut, saya mengajukan beberapa pertanyaan santai. Read the rest of this entry

Antara Pemilukada dan Bencana Dalam Bilik Warnet


anfrel
anfrel

Malam ini saya ingin berucap; Persetan dengan Politik Pemilukada! Tadi siang saat mengupdate berita dari lapangan untuk website www.fisip-aceh.com mengenai Pemilukada di Aceh Timur di salah satu warnet yang ada di kampung Rukoh, saya menemukan dalam bilik warnet beberapa anak kecil yang sedang menggunakan satu PC (Personal Computer) untuk online bersama teman-temannya.

Ketika saya bertanya mereka sedang apa, mereka menjawab jika mereka sedang mencari code untuk game Point Blank. Di sdepan PC itu ada 4 orang anak kecil, ketika saya bertanya berapa umur dan dimana mereka bersekolah, satu persatu mereka menjawab; “Saya kelas 2 bang, saya kelas 3, saya kelas 1,” dan yang paling mengejutkan adalah yang menjawab paling akhir, si anak kecil yang gigi depannya ompong itu menjawab jika dia masih TK dan berumur hampir 5 tahun. Saya tidak ingat nama TK yang dia lafalkan, TK nya kalau tak salah bernamakan Islam. Read the rest of this entry

Media Kampanye, Masyarakat Simbolik dan Strategi Politik.


Calon Gubernur

Selama masa tahapan pelaksanaan Pemilukada Aceh kali ini, terutama Pilkada Gubernur, kini banyak atribut-atribut kampanye yang mulai bertebaran di penjuru kota dan pelosok-pelosok kampung. Sebelum putusan sela MK (Mahkamah Konstitusi) yang dikeluarkan pada tanggal 2 November lalu, ada tiga pasangan yang menjadi calon kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-1017, yaitu pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan, Muhammad Nazar-Nova Iriansyah dan Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah.

Kini, rupa ketiga pasangan ini dengan mudah bisa ditemui dalam wujud spanduk-spanduk dan baliho besar yang ada di persimpangan jalan ataupun perempatan pusat kota. Dalam bulan ini, para kandidat berlomba mempublikasikan spanduk/baliho mereka dengan isi pesan mengenai Ibadah Haji dan ucapan selamat hari raya Iedul Kurban.

Dari ketiga pasangan ini, ada satu calon pasangan yang desain model media kampanye luar ruangnya menurut saya begitu baik , yaitu milik pasangan Irwandi Yusuf dan Muhyan Yunan. Media kampanye luar ruang mereka di dominasi oleh warna latar putih dan merah. Dengan penggunaan pakaian adat dan Kopyah Meukeutop khas Aceh yang berwarnya kuning/oranye. Read the rest of this entry

Darni, Sang Rektor dan Obsesinya.


Leader?

Kamis lalu (10/11/2011), di sore yang mendung, Prof.Dr. Darni M. Daud. MA selaku Rektor Universitas Syiah Kuala mendatangi kantor KIP Aceh (Komisi Independen Pemilihan) untuk mendaftarkan diri sebagai calon Gubernur Aceh periode 2012-2017 melalui jalur perseorangan (independen). Konvoi iring-iringan kendaraan yang kebanyakan terdiri dari becak motor mengiringi perjalanan Proffesor yang akrab disapa Darni ini menuju ke kantor KIP. Tak hanya iringan becak, anak-anak muda pun banyak tampak mengikuti konvoi itu, umur mereka rata-rata berada di rentang 20-an tahun. Menurut khabar, anak-anak muda itu adalah mahasiswa Unsyiah yang datang karena ada iming-imingan berupa insentif kehadiran.

Dalam pencalonannya ini, Darni menggandeng Dr. Ahmad Fauzi sebagai wakil. Ahmad Fauzi tercatat sebagai dosen aktif di Fakultas Tarbiyah IAIN Ar-Ranirry.

Beberapa bulan lalu, ketika pendaftaran calon kepala daerah mulai dibuka oleh KIP, Pak Rektor ini begitu bersemangat. Dalam beberapa forum ia sering mengutarakan secara langsung (tanpa ditanya) keinginannya untuk maju sebagai kandidat calon Gubernur Aceh. Dalam rentang waktu pendaftaran itu, ada beberapa pendekatan dan seleksi dari partai politik yang ia ikuti, sehingga secara personal ia begitu yakin jika nantinya akan ada partai politik yang akan meminangnya untuk dijadikan calon sebelum tenggat waktu penutupan pendaftaran tiba. Hingga tibanya masa penutupan, harapan Pak Rektor ini akhirnya pupus. Kenyataannya, tak ada satupun lamaran yang datang di akhir pendaftaran. Beberapa partai politik besar tak mendaftarkan calon. Ini menjelaskan jika tak ada satupun partai politik yang tertarik kepadanya. Read the rest of this entry

Melupakan Khadafi? Melupakan GAM.


Women soldiers of the Free Aceh Movement

Image via Wikipedia

Kamis (20/10/2011), Muammar Abu Minyar al-Qaddafi atau yang lebih populer dengan sebutan Muammar Khadafi menghembuskan nafas terakhirnya. Ia ditangkap ketika bersembunyi dalam saluran drainase setelah iring-iringan konvoi 15 kendaraan pasukannya dibombardir oleh pasukan udara Prancis yang tergabung dalam pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sang Kolonel meninggal di tangan pasukan Dewan Transisi Nasional (NTC) saat dibawa dari Sirte, kota kelahirannya ke Misrata. Khadafi meninggal di umur 69 tahun setelah 42 tahun menjadi penguasa libya sejak 1 September 1969 hingga 2011.

Reaksi atas kematiannya pun beragam. Beberapa pemimpin negara Uni Eropa menyambut gembira atas tewasnya Khadafi. Begitu juga reaksi pemimpin Amerika Serikat, Barrack Husein Obama. Tak terkecuali sekjen PBB, Ban Ki Moon. Di Tripoli, Sirte, Misrata dan kota-kota lainnya di Libya, masyarakat pendukung NTC tumpah ruah ke jalan merayakan atas tewasnya Khadafi. Euforia hadir dimana-mana di tanah kaya minyak Afrika, Libya.

Di belahan bumi lain, di Caracas Venezuela, Hugo Chaves yang merupakan sahabat Khadafi menyatakan kemarahannya atas aksi pembunuhan itu. Chaves menyebut Khadafi sebagai pejuang, martir dan seorang revolusioner besar dari Timur Tengah. Bagi Chaves, Libya adalah Khadafi dan ia tetap akan menolak mengakui keberadaan Dewan Transisi Nasional (NTC) pimpinan Mahmoud Jibril yang kini berkuasa di Libya sepeninggal Khadafi. Ini adalah wujud dari beberapa reaksi penguasa dunia atas meninggalnya Khadafi, kamis lalu. Read the rest of this entry

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 460 pengikut lainnya.